
Martha sudah merangkai bunga untuk Lexa. Bunga mawar merah yang harumnya mengisi seisi ruangan lantai dasar milik Martha. Dia terlihat antusias merangkai bunga tanda cinta untuk Lexa yang walaupun raganya sudah tidak bersama dengannya, tapi tetap memberikan kontribusi yang besar dalam hidup Erick.
Erick baru turun dari tangga. Dia sudah siap untuk berkunjung ke tempat Lexa, memakai kaos oversize berwarna putih bersih dengan celana jeans dan sepatu sneakers. Erick tampak gagah dengan setelan itu.
"Mana bunganya, Ma?" Tanya Erick kepada Martha yang sedang asyik mengobrol di ruang tamu bersama Angga.
"Itu, Nak!" Balas Martha yang menunjuk sebuah kantong kertas yang di dalamnya sudah ada bunga yang Martha rangkai.
"Erick pergi dulu, ya Ma, Om!" Ucap Erick yang menyalami keduanya dan bergegas keluar rumah dan menuju tempat yang ingin dia kunjungi.
Tatapan Martha dan Angga mengiringi langkah Erick sampai ke ambang pintu rumah Martha.
"Kak... Kita ajak Ratih ke Swalayan ya?" Usul Angga yang menunjukkan wajah malu kepada Martha.
"Iya....." Kata Martha dengan tegas langsung menyetujui usul Angga.
Angga pun tampak sumringah, karena dia akan bersama dengan wanita kesayangannya hari ini.
****
Erick baru saja sampai gerbang tempat peristirahatan Lexa. Dia masih mendekap kantong berisi bunga hasil rangkaian tangan Martha, ibunya. Wajah Erick tampak suka cita. Dia pasti merasa bahagia karena akan mengunjungi Lexa.
Belum sempat Erick sampai di blok makam Lexa, langkahnya sedikit terhenti. Matanya tajam tertuju ke arah makam Lexa. Erick tahu ada sosok yang sudah dia kenal sedang berada di sana, dekat dengan pusara Lexa.
Erick agak ragu untuk melangkah. Tapi kembali dia bulatkan tekad untuk tetap melangkah maju ke tempat Lexa. Erick juga ingin tahu sedang apa sosok yang dia kenal ada disana.
Erick sudah berada dekat dengan pusara Lexa, dimana ada sosok yang dia kenal masih belum menyadari keberadaanya.
Erick masih mengamati sosok di depannya, yang memakai topi cokelat dengan kemeja berwarna hitam yang dipadukan dengan celana jeans sepertinya.
"Apa aku mengganggu?" Kata Erick menyapa Adhit.
Ya, sosok yang dilihat Erick sedari tadi adalah sosok Adhit yang sedang mengunjungi Lexa.
Adhit melirik asal suara yang menyapanya. Dari raut wajahnya, mata Adhit sedikit sendu. Erick agak terkejut melihat wajah Adhit yang tidak seperti biasanya, tapi mata tajamnya masih tertuju pada Adhit yang tepat berada di depannya.
"Saya hanya ingin menyapa Lexa. Apa kamu yang merasa terganggu karena kedatangan saya?" Jawab Adhit ketus.
Erick hanya tersenyum sinis atas jawaban Adhit. Dia menatap punggung Adhit yang masih saja tetap di tempatnya, tak ingin beranjak rupanya. Akhirnya Erick terpaksa mengalah untuk membiarkan Adhit tetap di tempatnya.
Cukup lama Erick menunggu Adhit yang tak kunjung pergi dari tempat Lexa. Jenuh dan kesal tergambar jelas di wajah Erick. Rasanya dia ingin menyeret minggir Adhit dari sana, dan membuatnya lekas menyapa Lexa. Tapi Erick masih cukup sabar. Dia masih menunggu lagi, dan membiarkan Adhit nyaman di tempatnya.
Waktu semakin terasa panas. Tapi Adhit masih belum bergeming, dia masih saja duduk nyaman dekat pusara Lexa. Sepertinya Adhit memang tidak mengizinkan Erick untuk singgah dan menyapa Lexa.
Erick semakin frustasi oleh kelakuan Adhit. Dia yang sudah menahan emosi sedari tadi akhirnya memberanikan diri untuk maju mendekati pusara Lexa. Niat Erick dia hanya akan menaruh rangkaian bunga yang sudah susah payah Martha buat untuk Lexa di dekat pusara Lexa.
Erick bergerak maju ke samping kanan posisi Adhit. Dari posisi ini, Erick lebih dekat ke tempat pusara Lexa. Dengan segera Erick meletakkan rangkaian bunga mawar merah di depan pusara Lexa. Dia hanya memberi secuil senyum ke arah Lexa, dan segera berbalik untuk pergi meninggalkan Lexa dan Adhit yang masih betah di sana.
"Aku akan sering datang untuk mengunjungi Lexa. Aku tidak perlu izin darimu kan?!" Ucap Adhit kepada Erick.
Seketika langkah Erick mendadak berhenti. Wajahnya memerah mendengar pernyataan Adhit barusan. Tangannya juga sudah mulai mengepal kuat. Ada emosi yang ingin meluap dari dalam lubuk hati Erick yang dalam. Tapi masih coba dia tahan.
"Apa sekarang kamu sudah mulai merasa bersalah kepada Lexa?" Tanya Erick ketus.
Wajah Erick dan Adhit masih saling membelakangi. Keduanya sama-sama memendam perasaan yang kuat. Tapi masih mereka tahan kuat-kuat.
"Kalau begitu silahkan. Menyesalah selama mungkin. Aku doakan Lexa akan memaafkanmu!" Tegas Erick yang langsung mengambil langkah menjauh dari Adhit yang mulai membalikkan badan.
Adhit menatap Erick lekat. Perkataan Erick sungguh menghujam ke palung hatinya, sehingga tanpa sadar ada airmata yang terlihat mulai menetes di pipinya. Wajah sendu Adhit semakin kelabu. Hawa panas yang diberikan mentari hari itu tak bisa mengusir awan gelap dan mendung dalam matanya.
****
Dia melangkah tak tentu arah. Yang dia pikir, hanya ingin segera pergi dari tempatnya sekarang.
Lama Erick berkelana tanpa tujuan. Melangkahkan kakinya mengikuti jalanan yang tak berujung. Tapi tiba-tiba Erick berhenti. Dia memikirkan sesuatu. Kemudian dengan pasti, dia lanjutkan langkahnya ke tempat yang tadi dia pikirkan.
Tempat dimana dia dan Lexa melihat ujung dunia. Merengkuh langit dan semesta di tangan. Ya, tempat ketika Lexa jatuh berlumuran darah dalam dekapannya. Ujung jalan dekat komplek rumah Erick.
Erick berdiri di ujung tebing yang hanya berpagar bongsai. Dari tempatnya berada, Erick bisa melihat pegunungan yang megah dengan mega yang masih terlihat. Hamparan langit biru yang mampu membuat dia ingin terbang bersama burung-burung. Lembah yang hijau bak permadani. Dan lereng-lereng bukit yang penuh dengan tumbuhan hijau yang menyejukkan mata.
Erick mengambil napas panjang. Merengkuh semua udara yang sedang berterbangan di sana. Menatap awan yang bergelayut manja di angkasa. Kemudian memuji kebesaran-Nya.
Perlahan Erick menutup matanya. Merasakan hembusan angin yang semilir menyapanya. Merasakan udara sejuk yang masuk ke hidungnya, bersatu dengan aliran darah dalam tubuhnya. Dan dengan perlahan mulai membuka mata.
Erick tersenyum senang, melihat Lexa sudah berada di sampingnya. Senyum Lexa yang menawan selalu meluluhkan hatinya. Kegalauan yang dia rasakan semua menjadi sirna.
"Ada apa? Kamu lagi gak sedih kan?" Tanya Lexa lembut.
Suaranya mengalahkan kekuatan hembusan angin yang bergerak sepoi-sepoi. Menyentuh hati Erick yang kosong.
"Ada apa??" Tanya Lexa penasaran.
Erick hanya menggeleng. Dia hanya membalas tanya Lexa dengan senyuman penuh arti. Dan betapa beruntungnya Erick, senyum penuh makna miliknya dibalas senyuman menawan dari Lexa.
Wajah Lexa tampak berseri. Aura cantiknya mengalihkan kekaguman Erick pada semesta. Apalagi Lexa hadir dengan balutan kaos hitam polos yang dipadukan dengan rok jeans dibawah lutut. Rambutnya pun tergerai indah, sehingga angin dengan leluasa bisa memainkan rambutnya yang wangi.
"Apa kamu bertemu dengan Adhit?" Tanya Lexa lagi.
Erick yang tadi berbinar mendadak lesu setalah nama Adhit disebut.
"Kenapa?? Kok jadi mendadak BeTe gitu?!" Tanya Lexa lagi. Nadanya sedikit mengintimidasi perasaan Erick. Sehingga Erick agak cemberut dan bersikap seperti anak yang sedang merajuk. Lexa tertawa kecil melihat sikap Erick. Dia bahkan sampai menepuk lengan Erick lirih.
Erick yang tadi merajuk pun akhirnya luluh melihat tawa Lexa yang semakin menunjukkan kecantikannya.
"Adhit hanya datang berkunjung. Dia tampak sedih disana. Aku jadi gak tega." Ucap Lexa.
Erick melirik Lexa. Dia melihat Lexa yang memang menunjukkan rasa tak enak hati.
"Apa Adhit juga bicara denganmu sepertiku??" Tanya Erick penasaran.
Lexa menoleh ke arah Erick. Kemudian dia menggelengkan kepalanya cepat.
"Berarti hanya aku saja yang bisa berbicara denganmu?" Imbuh Erick.
Kali ini jawaban Lexa mengangguk.
Erick tersenyum senang. Rasa penasarannya terjawab sudah. Dia merasa lega karena Adhit tidak bisa berkomunikasi dengan Lexa seperti dirinya.
"Tapi kenapa hanya aku yang bisa berbicara denganmu?" Tanya Erick lagi. Rupanya rasa penasarannya masih belum hilang.
"Mmmm.. Entahlah." Jawab Lexa singkat.
Tapi jawaban Lexa malah membuat hatinya bangga. Erick merasa menjadi orang yang beruntung bisa sedekat ini dengan Lexa.
"Lalu apa yang Adhit bicarakan disana? Apa kamu mendengarnya?" Erick masih tak berhenti bertanya.
"Adhit hanya mengatakan kalau dia meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Dia juga tak lupa untuk mengucapkan terimakasih kepadaku. Kata Adhit, dia bangga karena sudah pernah mengenalku." Jawab Lexa.
Lexa melempar pandangan ke hamparan semesta di depannya. Rambutnya sedikit terkibas. Raut wajah ayunya tergurat jelas dari sisi samping, yang menjadikan Erick semakin tertegun karena keindahannya. Erick jadi tak menghiraukan ucapan Lexa tentang Adhit, dia hanya fokus mengagumi Lexa yang berada dekat dengannya.