Don't Leave Me

Don't Leave Me
Hari-hari Bersama



Sinar matahari sudah mulai masuk mencari celah di setiap sudut ruangan tempat tinggal Lexa. Menyapa sang penghuni rumah agar segera bangun dan bersiap memulai hari.


Martha sudah bangun, sedang menyibukkan diri di dapur milik Ratih. Sementara Ratih masih nyenyak tidur di samping Lexa. Martha sedang menyiapkan omlet, roti bakar, sandwich, susu dan jus buah yang akan disuguhkan sebagai sarapan mereka pagi ini. Setelah siap, Martha mengambil sebuah kain bersih dan sebuah cawan besar yang diisi air hangat. Martha sudah siap lagi untuk mengelap tubuh Lexa. Dia bawa cawan air tersebut ke kamar Lexa. Mencoba membangunkan Ratih agar dia bisa leluasa mengelap tubuh Lexa, dan akhirnya berhasil.


"Bu Ratih tidur saja di karpet itu." Perintah Martha yang menunjuk sebuah karpet bulu milik Lexa yang bisa dijadikan alas tidur untuk Ratih seperti dirinya semalam.


Ratih menurut, hawa kantuknya masih sangat jelas di matanya. Martha memakluminya, karena dia tahu Ratih sedang merasa teramat lelah.


Martha membawa mangkuk besar berisi sebuah air hangat dan selembar handuk, dia hendak membersihkan badan Lexa.


Martha sudah duduk di samping tubuh Lexa yang masih seperti kemarin, pucat dan sayu.


Dia peras handuk yang sudah dibasahi sebelumnya, kemudian mulai mengelap tangan Lexa. Dengan lembut Martha mengelap tubuh kurus Lexa. Tangannya sudah lihai, dengan cermat Martha membersihkan beberapa bagian tubuh Lexa.


Handuk basahnya sudah akan mengelap wajah Lexa, sampai kemudian mata yang tersembunyi dalam kelopak Lexa sedikit bergerak. Sepertinya Lexa mau bangun. Martha segera menghentikan aktivitasnya, menunggu Lexa membuka matanya perlahan. Benar sekali. Lexa berhasil membuka matanya walaupun dengan perlahan. Mata Lexa langsung bertemu dengan wajah Martha yang sudah mengembangkan senyum hangat menyapa Lexa. Dengan setulus hati, Lexa juga membalas senyum Martha.


"Selamat pagi, Lexa.." Sapa Martha.


Lexa masih membalas dengan senyuman.


"Bagaimana tidurmu, nyenyak Nak?" Tanya Martha.


Lexa menjawab dengan menganggukkan kepalanya perlahan.


Dia mulai mengamati sekeliling.


"Tantemu sedang tidur. Dia ada disana." Jawab Martha yang sepertinya tahu apa yang sedang dicari Lexa.


"Om Angga dan Erick juga disini. Mereka sepertinya sedang sarapan." Imbuh Martha.


Lexa hanya bisa mengulum senyum sambil mencoba menggerakkan tubuhnya.


Martha segera menaruh mangkok besar di meja kecil di samping ranjang Lexa, dan bergegas membantu Lexa yang sepertinya ingin duduk.


"Pelan-pelan ya.." Ucap Martha yang berhasil mendudukkan Lexa dan bersandar dengan bantalnya.


"Terimakasih tante..." Balas Lexa dengan lirih tapi masih bisa terdengar oleh Martha.


"Sama-sama." Jawab Martha.


"Tante ambilkan sarapan ya?!" Martha segera beranjak dari tempatnya kemudian melenggang keluar ruang makan untuk mengambilkan Lexa sarapan. Martha sudah membuatkan bubur hangat spesial untuk Lexa.


Lexa masih merasa pening. Dia terlihat payah menguasai kesadarannya. Matanya sesekali masih terpejam menahan kesakitan yang hanya dia sendiri yang bisa merasakan. Lexa mengamati sekeliling ruang kamarnya, dia melihat Ratih tertidur di kursi bantal merah muda miliknya sangat pulas. Ratih pasti sangat kelelahan.


Lexa menyalami lamunannya sendiri. Berkhayal seandainya dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, dia pasti akan segera merangkul Ratih dan mengucapkan beribu kata sayang untuknya. Dia akan mengajaknya tidur di sampingnya, bercerita tentang sekolah, teman, keinginan dan harapannya.


Tanpa terasa lamunannya menghasilkan airmata yang meleleh di pipinya. Betapa khayalan yang tidak bisa diwujudkan adalah sebuah rasa sakit yang sangat menyesakkan.


Lexa mulai mengutuk dirinya sendiri, tapi langsung terhenti ketika sebuah sentuhan hangat menyeka airmatanya yang berjatuhan di pipi. Lexa perlahan membuka matanya, ada sosok menyejukkan ternyata di hadapannya. Menggeleng perlahan mengisyaratkan kepada Lexa agar berhenti untuk menangis.


"Mama buatkan sarapan ini untukmu." Ucap sosok yang menyeka airmata Lexa.


"Mau aku suapi?" Tanya Erick dengan seutas senyum mengembang di wajahnya yang sudah terlihat segar karena sudah membersihkan tubuhnya dengan air.


Lexa menggeleng pelan.


Tapi Erick tak peduli, dia mengambil satu sendok kecil untuk dia suapkan ke mulut Lexa.


"Ayo 'Aaa'" Perintah Erick.


Lexa sedikit mengerucutkan mulutnya, pertanda dia sedang tidak ingin makan.


Tapi Erick tetap saja melafalkan huruf 'a' kepadanya.


Ekspresi Erick terlihat lucu bagi Lexa. Sehingga dia tak sengaja sedikit tertawa, dan akhirnya luluh kepada perintah Erick dan membuatnya membuka mulutnya untuk menerima satu suapan dari Erick.


"Yes, berhasil!" Sorak Erick yang kegirangan ketika Lexa mau menerima suapan darinya.


Beberapa sendok bubur hangat sudah Lexa telan dengan baik. Wajah yang tadinya pucat kini sudah mulai sedikit memancarkan rona merah. Lexa dan Erick menikmati pagi itu, Erick dengan telaten menyuapi Lexa dengan suguhan cerita-cerita lucu khas Erick yang membuat Lexa tersenyum.


Satu suapan lagi sudah mendarat di mulut Lexa, tapi Lexa sedikit tersedak sehingga membuat Erick sedikit panik. Ditaruhnya mangkuk berisi bubur tersebut dan dia ganti dengan segelas air yang dibubuhi sedotan. Erick meminumkan air tersebut untuk Lexa yang meminumnya dengan perlahan.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Erick khawatir.


Lexa menggeleng, walaupun masih dengan terbatuk-batuk karena rasa tersedak tadi.


"Cukup, Rick. Aku kenyang." Pinta Lexa kepada Erick agar menyudahi memberikan suapan bubur kepadanya.


"OK." Jawab Erick menyetujui.


Ternyata Lexa yang tersedak tadi, membuat Ratih terbangun dari tidur lelapnya dan segera menghampiri Lexa dan Erick.


"Kamu kenapa?" Tanya Ratih tak kalah khawatir.


Erick segera menyingkir dari hadapan Lexa dan mempersilahkan Ratih untuk duduk di samping Lexa menggantikan posisinya.


"Lexa hanya tersedak tante." Jawab Lexa sambil menggeleng perlahan.


Ratih tetap saja merasa khawatir, dia mengelus rambut Lexa dan memperhatikan kondisinya dengan seksama.


"Bagaimana keadaanmu, Lexa?" Tanya Ratih lagi.


"Lexa baik-baik saja tante." Jawab Lexa masih dengan suara yang pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Ratih bahkan Erick yang terlihat sedikit tegang.


Lexa melempar senyum ke arah tantenya, berusaha meyakinkan tantenya agar tidak usah merasa khawatir akan kondisinya.


****


Matahari sudah berada di puncaknya. Sinarnya amat terik. Untung saja Ratih, Erick dan Angga tak merasakan sengatan sinar matahari siang itu secara langsung. Mereka masih terlindungi oleh atap rumah Ratih yang kokoh.


Mereka bertiga sedang berada di ruang makan, menikmati santap siang masih buatan Martha yang izin pamit untuk pergi bekerja dari pukul delapan pagi tadi. Sebelumnya berangkat dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keluarga Ratih bahkan untuk Lexa sudah dia siapkan juga. Erick masih saja membolos. Tapi Martha sudah meminta izin kepada Irma selaku wali kelasnya agar mengizinkan Erick untuk tidak ke sekolah hari ini.


Hidangan sup, rendang telur dan sambal sudah tinggal sedikit. Sepertinya Ratih dan Angga sangat menikmati masakan buatan Martha. Sementara untuk Lexa, makanan bubur masih setia dihidangkan setelah tadi Ratih panaskan terlebih dahulu.


Bubur buatan Martha akan dia tambahkan dengan sup, agar asupan untuk Lexa tetap terjaga. Walaupun Lexa masih sedikit menghabiskan makanannya, tetapi dia masih bisa menelan makanan dengan baik sehingga membuat Ratih bersyukur akan hal itu.


Lexa masih terpejam di ranjangnya, setelah sarapan tadi dia langsung tertidur akibat obat yang Angga berikan lewat selang infus di tangannya. Karena untuk obat utuh, Lexa masih menolak. Sehingga Angga harus menyuntikkan obatnya lewat infus.


"Lexa..." Sapa Ratih hangat.


Mencoba membukakan mata Lexa yang terpejam untuk sedikit makan hidangan yang Ratih bawa untuknya.


Agak lama Ratih berusaha membangunkan Lexa, sampai akhirnya Lexa berhasil membuka mata dan membalas tatapan Ratih dengan sempurna.


"Makan dulu ya?!" Pinta Ratih.


Lexa menunjukkan ekspresi sungkan untuk makan. Tapi apalah daya, Lexa selalu luluh dengan permintaan Ratih yang selalu menunjukkan raut muka yang penuh kasih sayang.


Sedikit demi sedikit bubur berkuah sup itu, tertelan dengan baik di mulut Lexa. Sesekali Ratih menyeka air kuah yang sedikit menetes di sudut bibir Lexa dengan tisu. Segala macam sayuran yang ada di mangkuk buburnya perlahan juga Ratih sendokan satu persatu, mulai dari wortel, kentang dan lainnya tanpa Lexa tolak sedikitpun.


"Lagi, Nak?!" Tanya Ratih.


Lexa menggeleng. Mulutnya sudah terasa tak bisa menelan makanan lagi. Perutnya sedikit mual. Lexa menunjukkan ekspresi mau memuntahkan makanan dalam mulutnya. Tapi dia tahan sekuat tenaga agar tidak keluar, karena pasti Ratih akan kecewa. Sebisa mungkin dia telan, tentunya dengan raut wajah yang tak sedap dipandang.


Ratih paham. Segera dia hentikan aktivitasnya menyuapi Lexa, menyuruh Lexa untuk minum dan beristirahat.


"Tante.. Bolehkan jendela kamar Lexa dibuka saja. Lexa ingin duduk disana." Pinta Lexa sambil melirik jendela kamarnya yang tertutup rapat.


"Tentu boleh. Tante panggilkan Erick ya untuk membantu kamu duduk." Jawab Ratih.


Lexa mengangguk perlahan.


Tak lama Erick, Angga dan Ratih sudah masuk ke kamar Lexa. Angga membantu Lexa untuk duduk, Erick menata kursi roda yang kemarin sempat dia ambil untuk diletakkan dekat jendela. Erick juga perlahan membukakan jendela kamar Lexa. Bunyi decitan jendelanya begitu familiar di telinga Erick. Begitu terbuka lebar, Erick jadi mengingat saat dia melihat Lexa dari balik jendela. Sungguh ingatan yang tak terlupakan untuknya.


Angga menggotong tubuh Lexa, sementara Ratih membawa botol infus Lexa yang masih setia dengan selangnya yang berada di tangan Lexa kemudian Angga dudukkan di kursi roda yang sudah disiapkan Erick. Menata duduk Lexa agar Lexa merasa aman dan nyaman duduk disana. Setelah dirasa pas, Angga mengajak Ratih untuk membiarkan Lexa menikmati keinginannnya itu.


"Boleh Erick menemani Lexa disini tante?" Tanya Erick kepada Ratih.


Ratih mengangguk yakin. Merelakan Erick yang menemani Lexa menikmati keinginannya itu.


Erick mengambil kursi belajar milik Lexa untuk dia tempatkan di samping kuris roda milik Lexa yang dia beri jarak sedikit agar Lexa merasa leluasa.


"Bunga Lavender milik Tante Martha semakin lebat." Ucap Lexa yang sudah melayangkan pandangannya ke arah bunga berwarna ungu itu.


Erick melirik ke arah tatapan Lexa, kemudian hanya menjawab dengan senyum kecil tanpa suara.


"Bagaimana dengan tanaman di kebun belakang? Apakah sama?" Tanya Lexa.


Erick mengangguk.


"Maukah kamu mendengarkan lagu denganku?" Pinta Lexa yang mengarahkan matanya ke arah Erick berada.


Erick sedikit kaget dengan permintaan Lexa.


"Kamu ingin mendengarkan lagu?" Tanya Erick memastikan.


Lexa mengangguk perlahan.


"Aku menyimpan MP3 player di laci meja belajar." Tunjuk Lexa.


Erick menuruti permintaan Lexa. Diambilnya benda yang Lexa maksud dan segera menyerahkan kepada Lexa.


Lexa mempersiapkan earphone, menyalakan alat tersebut dan mulai berbagi earphone dengan Erick. Erick pun tak sungkan menuruti permintaan Lexa tersebut. Tanpa canggung mereka mulai menikmati alunan musik yang sudah mulai Lexa putar.


"... I'm so tired of being here ..."


"... Suppressed by all my childish fears ..."


"... And if you have to leave ..."


"... I wish that you would just leave ..."


"... 'Couse your presence still lingers here ..."


"... And it won't leave me alone ..."


"... These wounds won't seem to heal, this pain is just too real ..."


"... There's just too much the time cannot


erase ..."


Alunan musik itu jelas memekik di telinga Erick. Rasa dalam hatinya bercampur aduk, mungkin terbawa suasana lagu yang tercipta dengan sendirinya.


Sementara Lexa tak bersuara. Lexa terlihat terpejam tak berkutik sedikitpun. Erick mengamati Lexa dalam-dalam, raut mukanya sedikit menegang. Wajah Lexa kembali memucat. Mata Lexa seperti terpejam sangat dalam. Tak sadar earphone di telinga Erick jatuh, terlepas dari telinganya. Erick sudah berdiri kokoh di samping Lexa yang diam bak patung.


"Lexa......" Suara Erick sedikit tegas bercampur emosi yang dalam.


Lexa masih terdiam, tak bergeming sedikitpun.


"Lexa....." Tegas Erick lagi.


Keringat jelas mengucur di pelipis Erick. Dia hampir tak bisa bernapas sedikitpun.


"Lexa...." Tegas Erick lagi.


"Aku masih bernapas, Rick."


Akhirnya ada suara yang keluar dari mulut manis Lexa. Membuat Erick lega. Napasnya kembali teratur. Hampir saja Lexa membuat jantungnya berhenti berdetak.