
Earphone milik Lexa masih memperdengarkan lagu kesukaan Lexa. Keduanya mendengarkan lagu dengan berbagi earphone. Sama-sama memejamkan mata, menikmati irama yang berdendang merdu di telinga mereka dengan latar suasana hujan.
Erick sedikit mendengungkan sebuah lirik lagu yang dia dengar. Suaranya tak kalah merdu rupanya. Lexa terpejam dengan senyum manis terukir di wajahnya, mendengar suara Erick yang bersahut dengan suara vokal sang penyanyi dari balik earphone yang dia dengar.
"... Tears stream, down your face..."
"... When you lose something you can not replace..."
"... Tears stream, down your face and I..."
"... Tears stream, down your face..."
"... I promise you i will learn from my mistakes..."
"... Tears stream, down your face and I..."
Lirik itu begitu lekat di telinga Lexa yang sudah berkali-kali memutar lagu tersebut di telinganya. Kini jauh terasa lebih dalam maknanya, jika dinyanyikan oleh orang lain. Ternyata menyenangkan berada dekat dengan seseorang yang bisa membuat bahagia. Perasaan yang lama sekali rasanya bisa dia rasakan. Lexa sudah merasa hancur lebur, tak berharga, rasanya seperti kebahagiaan sengaja menjauh darinya. Tapi ternyata dia sadar bahwasannya dia sendirilah yang menjaga jarak dengan kebahagiaan itu.
'Ya Tuhan.... Berikan aku kesempatan untuk bisa memaafkan keadaan... Berikan kesempatan untuk bisa berbuat lebih untuk tante Ratih...'
Gumam Lexa dalam hati. Tangannya mencengkeram kuat jaket jeans Erick yang menutupi tubuhnya sebagai tanda permintaan yang dalam kepada yang Maha Besar.
****
Rintik hujan mulai melemah semakin lirih di telinga. Erick membuka matanya, hari sudah gelap rupanya. Dia melirik Lexa dengan sedikit senyum bahagia bercampur haru karena kepala Lexa sudah bersandar di pundaknya. Sepertinya mereka terlelap, terbuai suasana hari itu. Erick hanya bisa pasrah, tak kuasa membangunkan Lexa yang pulas di dekatnya. Perasaannya campur aduk, dia tidak bisa menjelaskan apa saja yang dia rasakan karena dia sendiri bingung mengartikan perasaannya. Dia hanya mencoba memberanikan diri mengelus rambut Lexa yang wangi. Erick mengambil napas panjang. Mendekatkan kepalanya ke rambut Lexa yang hitam. Sedikit nakal karena siap mengecup rambut wangi Lexa yang membuatnya candu. Dan berhasil. Erick menelan ludahnya, mengatur napasnya yang sedikit memburu. Langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain untuk mengatur emosinya.
Lexa sedikit menggeliat, matanya mulai sedikit terbuka. Erick berpura-pura terpejam. Pipinya terlihat memerah. Dia mengutuk dirinya sendiri karena melakukan tindakan bodoh. Lexa sudah terbangun dengan wajah yang menunjukkan keterkejutan. Dia tak sadar mengapa kepalanya dia sandarkan di pundak Erick. Jantungnya berdebar pula, melihat raut wajah Erick yang tegas tapi menghangatkan. Tanpa pikir panjang, Lexa langsung mengambil sikap jaga jarak sambil berusaha menguasai emosinya, membuang napas panjang.
Erick pura-pura terbangun.
"Sudah malam rupanya." Jelas Erick.
Lexa mengangguk cepat dan sengaja merapikan pakaiannya. Terlihat salah tingkah.
Erick juga tampak salah tingkah, sedikit merasa bersalah.
Disekitar sudah sepi. Pasangan muda-mudi yang tadi berada di gazebo depan mereka sudah tidak ada. Rasanya sedikit sunyi. Jika cuaca cerah, pasti langit akan memancarkan cahaya jingga yang menawan. Sayangnya, cuaca masih mendung akibat hujan tadi.
"Dek..." Sapa seorang laki-laki yang menggendong seorang anak balita yang nyaman terlelap di pelukannya. Di sampingnya ada seorang perempuan menenteng sepatu sang anak.
"Iya, Om.." Jawab Erick.
"Mau pulang? Mumpung udah terang." Ajak sang lelaki.
"Oh ya, Om.." Erick melirik Lexa untuk segera bangun dan mengikutinya.
Mereka bersiap-bersiap merapikan perlengkapan mereka. Karena keluarga laki-laki tersebut menunggu mereka.
Mereka berjalan bersama mengitari taman daisy yang tetap bersinar walaupun dalam gelap. Tak lupa mereka saling memperkenalkan diri.
"Saya pemilik lahan ini. Dulunya ini hanya sebuah bukit semak belukar tak terawat. Tapi saya berusaha mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati." Ucap laki-laki yang diketahui sebagai pemilik taman bunga.
"Oh jadi Om yang menanam semua bunga ini?" Tanya Erick.
"Bukan saya yang tanam, tapi istri saya." Jawab sang lelaki sambil melirik wanita di sebelahnya.
"Dia yang suka tanaman, katanya dia bosan lihat teh terus Jadi dia berinisiatif untuk menanam bunga." Tambahnya sambil sedikit terkekeh.
"Sayangnya belum banyak yang tahu tentang daerah ini ya, Om?! Kendaraan menuju kesini saja susah, Om." Keluh Erick.
"Benar. Daerah ini mungkin sedikit terisolir. Karena istri saya menyukai privasi." Imbuhnya.
Erick dan Lexa bersamaan melirik wanita yang disebut sebagai istrinya.
"Awalnya saya hanya ingin membangun ini sebagai hiburan untuk istri saya. Tapi ternyata banyak yang mengetahui tempat ini dari mulut ke mulut, jadi saya tidak bisa menahannya." Ucap sang pemilik menjelaskan.
"Kalau boleh tahu, kenapa istri Om menyukai privasi?" Tanya Erick penasaran.
Lelaki tersebut melirik istrinya, sepertinya meminta persetujuan sang istri untuk menceritakannya.
"Dulu sebelum kami menikah, istri saya memiliki kejadian traumatis yang membuat dirinya agak terguncang. Beliau jadi takut keramaian. Sering merasa histeris dan menutup diri. Jangan tanya kejadiaannya ya? Ini adalah cerita pribadi.Pinta sang pemilik dengan nada santai.
Erick mengangguk, sementara Lexa sedikit mengamati istri sang pemilik hendak melihat ekspresinya. Ternyata istri sang pemilik mengukir senyum kecil di wajahnya.
Erick masih mencoba mencerna kisah sang pemilik kebun. Dia masih serius menanggapi kisah berikutnya yang akan diceritakan oleh sang pemilik.
"Kami memulai hubungan dengan tidak mudah. Banyak orang yang memandang hubungan kami sebelah mata. Mereka pikir istri saya hanya memanfaatkan saya saja. Padahal saya lah yang selalu mengejar dia. Saya menerima dia dengan segala yang melekat dalam dirinya. Saya tidak peduli dengan kata orang. Bisa dibilang saya adalah orang yang keras kepala." Sang pemilik berkata jujur dengan mudahnya.
Erick tersenyum.
"Waktu itu saya hanya ingin dekat dengan beliau. Tapi setelah beliau memberi saya kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh, saya semakin tidak bisa keluar. Saya semakin takjub dengan sifatnya." Kata sang pemilik kebun dengan bangganya.
Erick sedikit melirik Lexa yang terlihat diam menyelami pikirannya sendiri. Erick tidak tahu apa yang dipikirkan Lexa, ingin sekali Erick membuka isi kepala Lexa agar dia tidak perlu menebak-nebak isi kepalanya dan tidak membuatnya frustasi memikirkannya.
Lama mereka berbincang. Sang Pemilik kebun ternyata orang yang menyenangkan. Bukan hanya kisah romansa saja yang dia ceritakan, tapi pengalaman hidup yang dia lalui sampai bisa sesukses inipun dia ceritakan. Sangat menginspirasi. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana bertema kayu dan terlihat antik. Mereka mempersilahkan Erick dan Lexa untuk masuk menjamu mereka makan malam.
"Masuk, dek... Makan malam dengan kami. Hari sudah hampir gelap. Kalian juga tidak akan menemukan kendaraan pulang kan? Makanlah masakan istri saya, selagi masih disini." Ucap sang pemilik kebun dan pemilik rumah tersebut.
Lexa dan Erick saling menatap. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Ayolah! Saya sudah berat ini, dari tadi menggendong Yura." Perintah sang pemilik.
Sang istri menggandeng lengan Lexa agar mau masuk, sehingga membuat Erick tidak memliki pilihan lain selain mengikuti Lexa.
Rumahnya sangat bersih dan rapi. Barang-barang antik tertata rapi di setiap sudut ruangan. Dari mulai lampu, kursi, jam dinding, dan ornamen antik lain yang terlihat padu dengan konsep rumahnya. Lexa digandeng menuju area tempat makan, Erick berjalan di belakangnya. Sementara sang pemilik menidurkan anaknya di kamar, sang istri langsung menuju dapur untuk memasak. Rumahnya begitu hangat, menggambarkan pemiliknya yang juga sangat hangat perilakunya. Membuat Erick dan Lexa kerasan dekat dengan mereka.
"Om, boleh saya pinjam telepon rumahnya?" Tanya Erick kepada sang pemilik kebun yang baru bergabung dengannya.
"Tentu. Teleponnya di dekat ruang televisi." Tunjuk tuan rumah.
Erick bergegas ke tempat yang dimaksud. Dia pasti akan menelpon Martha untuk mengabarkan keadaan dirinya dan juga Lexa. Dia juga tak lupa memberi tahu lokasi dimana mereka berada.
****
Mereka sudah selesai makan malam dan sedang berada di teras untuk menunggu Martha menjemput mereka. Terlihat ada percakapan serius di antara mereka.
"Maaf, tante.. Apa tante baik-baik saja saat melalui masa-masa sulit tante?" Tanya Lexa memberanikan diri untuk mencari tahu.
Istri sang pemilik tersenyum. Kemudian melirik suaminya, berusaha menjawab pertanyaan Lexa. Tapi dengan bahasa isyarat.
Erick dan Lexa agak terkejut. Tapi mencoba bersikap sopan, dengan memperhatikan isyarat dari istri sang pemilik kebun yang sedang menjawab pertanyaan Lexa.
"Kata tante, dia baik-baik saja.. Awalnya dia takut tidak ada yang bisa menerimanya. Tapi melihat ketulusan dari suaminya, dia berubah menjadi berani. Dia tidak takut lagi. Karena dia tahu, bahwa masih ada orang yang mempercayainya dan masih mau menerimanya." Terang sang pemilik kebun yang melempar senyum bahagia kepada sang istri.
Lexa pun tersenyum mendengar jawaban istri sang pemilik kebun.
Kisah mereka mungkin berbeda, tapi ada satu hal yang bisa diambil dari kisah mereka berdua. Yaitu keberanian dan kepercayaan diri. Semua orang punya kekurangannya masing-masing, tapi selama napas mereka masih ada di dalam tubuh, pasti ada maksud dari yang Kuasa. Entah itu untuk memperbaiki diri atau untuk membahagiakan diri.
Mobil Martha sudah mulai terlihat. Erick paham corak mobil yang biasa dia tunggangi. Tapi ada satu mobil lain yang tidak dia kenal dan ternyata mobil itu membawa tante Ratih. Ada Angga juga keluar dari mobil yang ditumpangi Ratih.
Ratih berlari merangkul Lexa. Tangisnya pecah. Ratih tak berhenti meminta maaf kepada Lexa atas segala kekesalannya. Lexa mencoba menghibur Ratih dengan menepuk punggung Ratih yang berbalut sweater warna krem.
"Mereka baik-baik saja, Bu. Kami hanya mengajak mereka untuk singgah karena tadi hujan. Sebenarnya mau saya antar, tapi mereka menolak. Mereka hanya ingin menunggu orang tua saja katanya." Jelas sang pemilik kebun kepada Ratih dan Martha.
Mendengar ucapan laki-laki itu, dia menghentikan tangisnya dan menyapa sang pemilik kebun dengan ramah.
"Maaf merepotkan kalian, Pak dan Ibu.." Ucap Ratih.
"Jangan sungkan, Bu. Ini tempat kami, berarti mereka tamu kami. Sudah sepatutnya kami menyambutnya. Oh ya, kami juga sering kedatangan tamu seperti Lexa dan Erick. Setelah sampai di rumah, mereka menjadi bahagia." Gurau sang pemilik kebun.
Mereka yang ada disana tersenyum sebagai bentuk rasa hormat mereka kepada sang pemilik kebun.
"Ayo, Lexa.. Pulang!" Pinta Angga.
Lexa mengangguk, menuruti Angga dan Ratih yang menggandengnya masuk ke mobil. Lexa melirik ke tempat Erick berada. Terlihat menahan sesuatu di mata, hati dan mulutnya. Sesuatu itu seperti tercekat tak bisa dikeluarkan dari mulutnya. Begitupun dengan Erick yang bibirnya sama-sama kelu. Mereka hanya berbalas pandang dengan perasaan yang kalut.
Erick melihat Lexa menaiki mobil, menghilang dibalik pintu mobil. Sorot mata Lexa yang teduh masih jelas terbayang di pelupuk Erick. Ada rasa marah dan kecewa tersirat di wajahnya. Martha segera menarik lengan Erick yang seperti menjadi patung saat Lexa menghilang, melaju dengan kendaraannya. Tapi sebelum masuk.ke mobil, tangan Erick ditarik oleh istri pemilik kebun yang menyerahkan 2 kantong polybag kepada Erick.
"Tolong dibawa, Rick. Sebagai kenang-kenangan. Dan jangan lupa dirawat." Kata sang pemilik kebun menerjemahkan isyarat sang istri.
"Terimakasih Om dan Tante..." Ucap Erick seraya mengucapkan salam perpisahan.
Rasa kepercayaan dan keberanian sudah digariskan pada setiap manusia yang berpikir. Tinggal bagaimana kita menunjukkannya dalam hidup kita. Akankah dengan mengumbar kesana kemari? Ataukah dengan cara yang bijaksana? Akankah keluar dengan sendirinya atau malah sengaja dipendam agar tak terlihat?