
Ratih tampak ragu-ragu, saat melangkah ke rumah Martha. Dia hendak meminjam telepon selular milik Martha yang akan dia pakai untuk menghubungi Angga di Kota.
Ratih berjalan dengan kaku, seperti memikul beban dalam hatinya. Bagaimana tidak, dia akan menghubungi cinta pertamanya. Wajah Ratih terlihat sangat gusar. Sudah lama dia tidak menghubungi Angga. Dia memutuskan sepihak hubungan dengan Angga sejak Ratih di tolak mentah-mentah oleh orang tua Angga di Rumah Sakit.
"Permisi Bu Martha..." Ucap Ratih sambil mengetuk pintu rumah Martha yang terbuka.
Dan tak lama kemudian Martha keluar dari dalam rumah menyapa Ratih dan memintanya masuk.
"Maaf, Bu Martha. Saya boleh minta tolong?!" Pinta Ratih halus.
"Oh... Boleh. Tentu Bu Ratih. Ada apa?" Tanya Martha penasaran.
"Begini, Bu.. Saya mau minta izin menggunakan telepon selular Bu Martha untuk menghubungi kenalan saya "
"Oh... Tentu boleh, Bu Ratih. Sebentar ya, saya ambil dulu." Tukas Martha yang segera mengambil benda yang diinginkan Ratih.
Ratih berbicara dengan Angga lewat telepon di luar rumah Martha. Martha yang paham, ikhlas meninggalkan Ratih berbicara dengan temannya di telepon. Sementara dirinya kembali ke dapur untuk membuatkan menu makan siang untuk Erick.
" Halo..." Lirih Ratih.
"Iya halo, dengan siapa ini?" Balas orang yang Ratih ajak bicara lewat seluler.
"Dokter Angga, ini saya Ratih." Suara Ratih terdengar parau.
Dia seperti berusaha menguasai diri sendiri untuk berbicara dengan orang yang masih dia sayangi.
"Ratih?? Kamu dimana sekarang?? Aku cari kamu kemana-kemana. Gimana keadaan Lexa??" Tanya sang dokter dengan suara cemas.
"Aku... Aku dan Lexa baik-baik saja, Ngga."
"Kami dimana sekarang? Biar aku susul. Tolong, Tih... Aku ingin bertemu". Suara Angga melemah.
Tiba-tiba hatinya menjadi sakit. Perih rasanya. 'Ingin bertemu', kata-kata ini benar-benar meruntuhkan perasaannya yang sudah dia siapkan. Ingin rasanya, dia membalas dengan kata yang sama. Benar. Ratih pun menahan rindu. Rindu untuk Angga yang sudah lama dia pendam sendiri.
Ratih menyeka airmatanya yang tak sengaja dia teteskan. Kemudian kembali fokus untuk berbicara dengan Angga.
"Aku hanya ingin menanyakan dokter yang dulu merawat Lexa, Apakah masih bekerja di rumah sakit yang sama?" Tegas Ratih mengalihkan rasa rindunya untuk Angga.
Lama Angga terdiam tak menjawab pertanyaan Ratih.
"Halo, Dokter Angga?" Ucap Ratih memastikan orang yang dia ajak telepon masih berada di sana.
"Iya..." Jawab Angga lirih.
"Dokter Heryawan masih berkerja disini. Apakah Lexa baik-baik saja?" Tanya Angga pelan tapi pasti.
Ratih terdiam sejenak.
"Aku ingin memeriksakan kondisi Lexa. Akhir-akhir ini dia sering pingsan. Dan beberapa kali Lexa sempat mimisan." Jawab Ratih.
"Kamu harus segera membawanya ke Rumah Sakit, Tih..." Tegas Angga.
"Kamu dimana? Biar aku jemput." Tegas Angga.
"Tidak perlu, aku akan membawa Lexa dengan kendaraan umum." Kata Ratih tak kalah tegas.
Angga menyerah, dia tahu betul sifat Ratih.
"Baiklah, tapi aku yang akan menjemputmu setelah sampai di kota. Aku akan atur jadwal Lexa untuk bertemu dengan Dokter Heryawan." Jelas Angga.
Ratih tak menolak. Dia mengakhiri telepon tanpa menjawab pertanyaan Angga yang ingin tahu lebih tentangnya.
Ratih kembali masuk ke dalam rumah Martha, setelah selesai meminjam telepon selular milik Martha.
"Maaf, Bu Martha saya lancang masuk. Terimakasih atas teleponnya Bu.." Ucap Ratih hangat.
"Oh ya, Bu Ratih... Ayo kita makan siang bersama. Saya masak banyak loh!" Pinta Martha.
"Tidak usah, Bu. Jangan repot-repot! Saya akan mengunjungi keluarga saya di kota hari ini." Kilah Ratih.
"Oh ya? Apa ada hal yang serius?" Cemas Martha.
"Tidak, Bu. Saya... Hanya ingin berkunjung saja." Jawab Martha masih menyangkal.
****
Ratih sudah berkemas. Menata barang-barang yang dia perlukan selama di kota dalam sebuah koper. Barang yang dia bawa tak banyak, hanya beberapa baju ganti, baju hangat dan beberapa helai pakaian dalam.
Lexa masih tertidur di kamarnya, setelah bersantap siang bersama. Akhir-akhir ini Lexa terlihat cepat lelah. Wajahnya juga semakin pucat dan semakin kurus. Hal ini yang meyakinkan Ratih untuk membawa Lexa ke rumah sakit agar mendapat perawatan dari dokter.
Hari sudah sore, Ratih sudah mengepak baju-baju Lexa di dalam koper Lexa. Semua sudah siap, tinggal menunggu Lexa bangun dan segera pergi.
Tak lama Lexa bangun, matanya masih terlihat sayup-sayup. Ratih menyapanya dengan senyuman hangat. Lexa pun akhirnya sudah dalam keadaan sadar penuh.
"Apa ini tante?" Tanya Lexa heran ketika melihat koper miliknya sudah rapi di lantai.
"Nak..." Pelan Ratih sambil berjalan perlahan menyambangi Lexa yang masih terduduk di ranjang.
"Kita akan ke kota sebentar. Kita perlu memeriksa sesuatu di sana." Jawab Ratih lembut.
"Apa yang harus diperiksa?" Tanya Lexa curiga.
Ratih mengelus lembut rambut Lexa yang halus dan hitam.
"Nak... Tante ingin kamu pergi ke rumah sakit untuk check up kesehatanmu." Jawab Ratih pelan tapi pasti.
Lexa terlihat melotot ke arah Ratih, seperti orang yang sedang marah.
"Buat apa tante??" Tanya Lexa ketus.
"Nak... Semakin hari kamu semakin lemah, tante khawatir." Jawab Ratih membujuk.
"Kamu hanya di periksa saja untuk mengetahui kondisimu." Bujuk Ratih lagi.
"Tapi untuk apa tante? Lexa sehat. Toh kalau Lexa mati juga gak masalah. Sudah ditakdirkan juga kan?!" Suara Lexa parau.
Ratih tersentak dengan sikap Lexa, ada rasa haru tiba-tiba menyeruak mengisi relung hatinya.
"Lexa... Apa yang kamu katakan?" Ratih memelas.
"Tante... Tante juga paham kan kondisi Lexa kan?! Lexa hanya menunggu waktu!" Tutur Lexa dengan suara yang terisak.
Ratih sampai menangis dibuatnya.
"Tante tahu? Rachel ada di sini. Dia sudah menemukan Lexa. Dan dia pasti sudah menceritakan keadaan Lexa ke semua orang!" Lexa kini menangis sejadi-jadinya.
Ratih terkejut. Mulutnya sampai terbuka dan segera dia tutup dengan kedua telapak tangannya.
"Lexa... Apa yang kamu katakan?!" Tanya Ratih ingin penjelasan lebih.
"Sudahlah tante... Semuanya sudah terjadi. Untuk apa Lexa ke rumah sakit? Sudah tidak ada gunanya!" Lexa menyerah.
Tangisnya masih tersisa, tapi dia tahan. Tangannya sibuk menyeka airmata yang jatuh membasahi pipinya.
Ratih terduduk di lantai. Memohon ampun kepada Lexa.
"Maafkan tante, Lexa... Gara-gara tante kamu jadi seperti ini." Isak Ratih sambil menyentuh kaki Lexa yang tertutup selimut.
"Tante... Bangunlah! Jangan seperti ini." Pinta Lexa berusaha mengajak Ratih duduk di sampingnya.
"Tidak... Tante yang salah, sudah membuatmu menderita sampai seperti ini. Tante tidak tahu harus bagaimana agar kamu bisa memaafkan tante." Ratih menangis pilu.
"Tante... Lexa mohon, bangunlah." Pinta Lexa yang kini meraih tangan Ratih yang ada di telapak kakinya dan menggenggamnya erat.
Ratih menatap Lexa. Mata mereka sama-sama sembab.
"Duduklah disini dengan Lexa, tante!" Pinta Lexa halus.
Tangan mungilnya menyeka airmata Ratih.
"Tante... Tidak ada yang salah dengan keadaan ini. Lexa tidak pernah menganggap tante bersalah. Lexa tidak perlu minta maaf karena tante Ratih tidak punya salah apapun sama Lexa." Lexa berusaha meyakinkan Ratih.
"Baiklah, tante.. Ayo kita ke kota, kita pergi ke rumah sakit. Lexa akan menerima perawatan dokter. Lexa tidak ingin mati sia-sia disini." Tegas Lexa.
Lexa melirik Ratih yang entah bagaimana ekspresinya, sulit untuk dijelaskan. Tapi yang pasti mereka berhamburan untuk saling berpelukan satu sama lain.