Don't Leave Me

Don't Leave Me
Lexa, Pulang...



Erick masih duduk di pojok dekat jendela kelasnya. Masih menatap ke luar ruangan yang disebut sebagai kelasnya. Masih dengan pikiran yang dia bangun sendiri. Sudah 2 hari Lexa di rumah sakit kota tanpa kabar. Martha yang sempat menghubungi Ratih selalu menjawab dengan 'Mohon doakan saja Lexa', membuat Erick merasa terganggu. Rasanya ingin sekali dia temui saja Lexa langsung, tanpa harus menunggu kabar Lexa yang tak pasti.


Erick tak sekalipun konsentrasi belajar. Pikirannya hanya dipenuhi bayang-bayang Lexa. Ada hal yang mengganjal dalam dirinya, jika dia tidak bisa bertemu dengan Lexa. Erick juga menjadi seorang penyendiri sekarang. Beberapa temannya ada yang sengaja menjauhinya, dan ada juga yang memang takut kepadanya karena dia selalu memasang muka masam. Termasuk Ari. Dia sedikit menjauh dari Erick. Persahabatan mereka kini dipertanyakan. Tapi Erick tak begitu peduli. Dia hanya fokus pada kondisi Lexa, dia tak merisaukan pendapat orang lain tentangnya ataupun tentang Lexa yang masih saja dipandang rendah oleh beberapa orang.


"Rick, Ibu ingin bicara sebentar denganmu!" Pinta Irma yang menghentikan laju Erick yang akan meninggalkan kelas usai seharian belajar.


Erick hanya bisa mengangguk pelan. Dia mengikuti Irma ke ruang Bimbingan tempat Irma akan membicarakan sesuatu dengan Erick.


"Duduk, Rick!" Perintah Irma.


Erick menurut.


"Akhir-akhir ini, Ibu sering sekali melihat kamu tidak konsentrasi dalam belajar. Kamu sering melamun dan tidak mendengarkan penjelasan Ibu. Nilaimu akan semakin menurun kalau kamu seperti ini, Rick." Jelas Irma.


Erick masih diam seribu bahasa, dia hanya bisa menundukkan kepala.


"Apa Ibu harus memberitahu Mamamu soal sikapmu di kelas?" Gertak Irma.


Erick melirik guru favoritnya itu, memberi sorot mata tajam kepada Irma.


Irma membalas tatapan Erick santai.


"Kenapa? Kamu masih marah sama Ibu soal Lexa?" Tanya Irma lagi.


Mendengar pertanyaan Irma, Erick langsung memalingkan wajahnya.


"Ibu tahu, sikap Ibu kemarin salah tentang Lexa. Tapi Ibu hanya mengikuti perintah saja, tidak lebih. Ibu juga mengkhawatirkan keadaan Lexa, tapi Ibu juga punya keterbatasan. Ibu harap kamu mengerti." Jelas Irma.


Erick hanya tersenyum sinis sementara Irma berusaha mengambil panjang.


"Apa Ibu pikir yang dilakukan Ibu Lusi itu benar? Dengan mudahnya mengeluarkan Lexa dari sekolah, tanpa memberi kesempatan Lexa membela diri?" Erick sedikit emosi.


"Seharusnya jika Ibu memang peduli dengan Lexa sebagai murid Ibu, Ibu bisa memberikan pembelaan untuk Lexa. Setidaknya, Lexa tidak diberhentikan dengan paksa seperti ini. Lexa juga berhak bersekolah, Bu." Tegas Erick.


"Tapi bukan di sekolah ini, Rick!" Irma tak kalah tegas membuat Erick tercengang.


Tatapan Irma terlihat tajam kepada Erick.


"Apa salahnya dia bersekolah ini, Bu? Ibu tahu sendiri kan Lexa punya prestasi?" Pertanyaan Erick mengintimidasi Irma.


"Ibu tahu. Lexa anak yang berbakat. Bahkan dia sampai bisa mengajarimu Matematika. Padahal Ibu saja kesulitan mengajarimu berhitung. Tapi Rick... Lexa sedang sakit. Dia harus menjalani pengobatan. Dia tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan kondisi seperti itu. Apalagi dilihat dari penyakitnya, sungguh sekolah ini tidak bisa menerimanya." Jawab Irma enteng.


"Jadi, sekolah ini hanya menilai orang dari luarnya saja? Sekolah ini tidak peduli seberapa butuh siswanya untuk belajar? Jadi sekolah ini mendiskriminasikan seseorang dari latar belakangnya??" Tanya Erick lagi.


"Ibu tahu, kamu sangat peduli terhadap Lexa. Sampai-sampai kamu menjadi seperti ini. Tapi sekolah punya pertimbangan lain, sekolah peduli dengan Lexa. Kami melakukannya dengan cara kami sendiri." Jawab Irma santai.


Erick sedikit kecewa dengan perkataan Irma.


"Baik, Bu. Jika mengeluarkan Lexa adalah bentuk kepedulian sekolah kepada Lexa, maka Ibu harus membersihkan nama Lexa di sekolah. Lexa sakit bukan karena kemauannya, Bu. Dia sakit karena dipaksa keadaan. Tolong bersihkan nama Lexa di sekolah ini, agar mereka semua tahu bahwa Lexa patut untuk dikenang." Tegas Erick yang langsung meninggalkan Irma dengan muka penuh emosi.


Irma terlihat pasrah.


****


****


Pagi sudah datang menyapa, tapi mata Erick masih terpejam. Padahal sinar matahari sudah menyapa keningnya, tapi sepertinya Erick lelah sehingga dia enggan untuk membuka matanya.


'Kreekkk'


Suara berdecit itu terdengar khas di telinga Erick. Matanya sedikit terbuka. Menghayati dengan seksama suara khas tadi.


'Kreekkk'


Suara itu lagi. Dan kali ini mata Erick sudah terbelalak. Dia langsung bangun, kemudian berjalan ke arah jendela kamarnya yang masih terbuka. Ada bunga daisy juga yang turut menyapa.


Raut wajah Erick sedikit berubah, matanya berbinar secerah mentari pagi itu. Mata berbinar Erick seperti berkata bahwa dia siap untuk menjalani hari ini, melihat sesosok raga yang sudah lama dia nanti dan akhirnya muncul dari balik jendela kamar yang selalu dia amati. Terlebih lagi sesosok raga itu menatapnya dengan senyuman manis yang selalu membuat hatinya berdesir. Sungguh pemandangan pagi yang luar biasa. Membuat Erick merasa tersengat semangat membara dan tenaganya seperti diisi penuh.


****


Erick duduk di sebuah kursi rotan yang telah dipersiapkan Ratih. Di depannya ada makanan ringan berupa kue kering dan segelas air jus berwarna kuning. Tepat di depan Erick, sudah ada Lexa yang duduk berayun. Rambut hitam Lexa dibiarkan terurai, hanya dijepit sebuah jepit rambut berbentuk pita berwarna putih. Tubuhnya dibalut baju hangat dari wol berwarna krem dan sebuah rok sebatas lutut berwarna senada dan ada syal cokelat tua menghiasi lehernya. Ya, mereka sedang berada di kebun belakang rumah Lexa.


Erick menatap dalam wajah yang sudah lama dia tunggu itu. Mata yang tadi berbinar kini sedikit sayu, melihat sosok Lexa yang sudah semakin pucat. Tangan Lexa yang memegang tali ayunan sudah terlihat kecil. Wajahnya juga sudah terlalu pucat. Walaupun senyumnya masih sama menawannya, tapi tetap saja Erick tak kuasa melihatnya.


Lexa menatap Erick dengan senyum terukir di wajahnya. Erick tak lupa membalas. Keduanya berbalas senyum untuk membuka perjumpaan mereka.


"Aku sudah menepati janjiku, Rick. Aku pulang lagi kesini." Kata Lexa lirih.


Erick merespon dengan senyum terkembang penuh.


"Kamu mau ajak aku jalan-jalan kan?" Tanya Lexa dengan raut muka suka cita.


Tanpa pikir panjang Erick mengangguk, menyanggupi permintaan Lexa.


"Tapi harus izin sama tante Ratih dulu ya?!" Ucap Erick.


Lexa terlihat sedikit kecewa, tapi dia tetap menyetujui syarat Erick.


****


"Hati-hati, ya Rick. Jangan terlalu lama, biar Lexa bisa istirahat." Pinta Ratih menjawab pernyataan izin Erick untuk membawa Lexa jalan-jalan.


"Siap, tante!" Tegas Erick.


Lexa berada di kursi roda yang dibawa Angga dari rumah sakit. Lexa sudah tidak kuat untuk berjalan lama, sehingga dia harus dibantu dengan kursi roda. Awalnya Lexa mengeluh karena geraknya menjadi terbatas, beruntungnya Angga dan dokter yang menangani Lexa berhasil membujuknya.


Erick dan Lexa berpamitan kepada Ratih, Angga dan Martha. Kemudian mulai mendorong kursi tersebut keluar rumah atau menuju jalanan terbuka di depan mereka.


"Gimana keadaan Lexa, Bu Ratih?" Tanya Martha.


Ratih hanya membalas dengan tatapan nanar, kemudian menggelengkan kepala.


Martha mencoba menenangkannya dengan memberi Ratih rangkulan hangat. Airmata Ratih akhirnya tak kuasa dia bendung, terhanyut dalam pelukan Martha yang memberi dia tempat untuk bersandar.