
Ratih bersiap mengemasi barang-barangnya. Dia membawa beberapa baju, obat-obatan dan pemutar musik milik Lexa. Dia akan bersiap untuk pergi ke kota hendak menjalani tes yang sudah dia rencanakan.
Dia hendak pergi dengan menggunakan angkutan umum, yaitu bus. Dia tidak mau menerima tawaran Angga yang berkali-kali membujuknya untuk mengantarkan Ratih ke kota. Bahkan sampai sekarang saat Ratih berkemas Angga masih saja berusaha mengajak Ratih untuk pergi bersamanya.
Ratih bergeming, dia tak mau merespon panggilan telepon dari Angga yang pasti masih memintanya untuk menjadi ajudan Ratih selama di kota.
Ratih sudah benar-benar siap. Dia segera mengeluarkan barang bawaannya yang hanya satu tas berukuran sedang, keluar kamar. Dia letakkan tasnya di samping kursi tamu, sementara Ratih mengambil air minum yang sudah dia siapkan di meja makan sebagai teman perjalanannya menuju kota.
'Tok...Tok...Tok...'
Ratih yang mendengar suara pintu rumahnya di ketuk oleh seseorang dari luar pun segera beranjak pergi dari dapur untuk membukakan pintu.
"Kak Martha?" Sapa Ratih segera setelah tahu kalau Martha yang ada di balik pintu rumahnya.
"Iya... Kamu udah siap? Ayo aku antar sampai terminal." Ajak Martha yang sudah tahu tentang rencana kepergiannya.
"Iya, Kak. Sudah siap. Gak usah diantar Kak. Gak apa-apa saya bisa sendiri." Jawab Ratih sambil mempersilahkan Martha untuk masuk.
"Kenapa gak mau diantar? Cuma sampai terminal loh, Tih." Kata Martha.
Sapaan mereka nampak semakin akrab. Martha sudah nampak luwes memanggil Ratih dengan nama saja tanpa embel-embel kata 'Bu'.
Ratih tersenyum. Dia tahu Martha sama gigihnya dengan Angga. Tapi karena Martha adalah sosok yang benar-benar dia andalkan saat ini, Ratih pun tak kuasa menolak ajakannya.
Martha dan Ratih pun sudah siap berangkat ke terminal. Barang bawaan Ratih yang tak banyak cukup dia letakkan di kursi belakang mobilnya. Martha menunggu Ratih yang sedang mengunci pintu rumahnya di dalam mobil.
"Sudah? Yakin tidak ada yang tertinggal?" Ucap Martha meyakinkan Ratih agar mengecek kembali barang bawaannya.
"Kayaknya sih sudah semua, Kak." Jawab Ratih yang menunjukkan ekspresi berpikir.
"OK.. Kita langsung jalan." Ajak Martha.
"Oh ya.. Erick mana?" Tanya Ratih.
"Dia pergi ke makam Lexa." Jawab Martha.
"Dia sudah tahu kamu mau pergi, jadi dia izin untuk menemani Lexa katanya. Dia titip salam buat kamu." Tambah Martha.
Ratih menganggukkan kepalanya sambil mengembangkan senyum membalas salam dari Erick. Benar saja, memang tidak salah perasaan Ratih. Martha dan keluarganya sungguh bisa diandalkan.
"Kak Martha pasti bangga punya anak seperti Erick." Puji Ratih.
"Benar. Sangat bangga." Jawab Martha tanpa ragu.
Kedua wanita itu tersenyum dan terkekeh dengan sikapnya sendiri.
"Baiklah. Kita berangkat sekarang?" Ajak Martha.
"OK." Ratih mengiyakan ajakan Martha.
Keduanya berkendara menuju terminal dengan perasaan suka, membawa doa dan harapan untuk kesehatan Ratih.
****
"Busmu yang mana?" Tanya Martha yang sedikit bingung karena sudah sangat lama dia tidak baik kendaraan umum.
"Yang warna merah, Kak." Kata Ratih sambil menunjuk bus yang dimaksud.
Martha mengangguk paham. Dia membukakan pintu belakang mobilnya untuk mengambil barang bawaan Ratih.
"Sini, Kak. Biar aku saja!" Kata Ratih yang langsung mengambil alih tasnya dari pundak Martha.
"Ini untuk bekal di perjalanan." Kata Martha.
"Apa ini Kak? Banyak sekali bekalnya??" Tanya Ratih penasaran.
"Sudah, bawa saja! Untuk di perjalanan. Lagi pula saya sudah masak banyak, sayang kalau kamu gak bawa bekal. Lumayan kan buat irit-irit." Jelas Martha.
Ratih tersenyum. Sungguh dia merasa sangat diperhatikan oleh Kakaknya.
"Terimakasih, Kak." Ucap Ratih sambil menahan haru.
Martha mengelus punggungnya, mengatakan bahwa semua bukan masalah untuknya. Ratih hanya perlu menjaga diri dan pulang kembali ke rumah dengan kabat baik.
Mereka masih saling mengingatkan sebelum mengucap salam perpisahan. Tapi belum sempat Ratih pamit untuk naik bus, suara klakson dari arah belakang Ratih membuat keduanya terkejut.
Ratih dan Martha saling melirik melihat mobil yang membunyikan klakson kepada mereka berhenti di samping mereka yang masih berdiri di teras tempat tunggu penumpang.
Mobil itu sudah terparkir sempurna. Supir yang mengendari mobil itu pun terlihat akan membuka pintu. Dan betapa terkejutnya Ratih ketika sosok dibalik kursi pengemudi mobil yang mengejutkannya adalah Angga.
"Angga??" Gumam Ratih.
Ratih langsung melirik Martha yang kini berada di sampingnya.
Martha tersenyum santai menatap Angga yang sedang berjalan ke arahnya. Sementara Ratih mulai menaruh curiga pada sikap Martha.
"Hai, Kak Martha. Apa kabar? Lama sekali rasanya kita tidak bertemu." Sapa Angga yang langsung disambut pelukan hangat oleh Martha.
"Baik, Ngga. Kamu sendiri bagaimana? Sehatkan?" Tanya Martha balik kepada Angga.
"Sehat, Kak. Gak pernah sesehat ini malah." Balas Angga dengan senyum sumringah sambil melirik Ratih yang masih terlihat kesal.
Ratih baru sadar, ternyata Martha dan Angga bersekongkol di belakangnya. Ratih mendengus kesal, tapi apalah daya semua sudah terjadi.
Martha tersenyum ke arah Ratih yang wajahnya sudah berubah jutek.
"Maaf... Tapi saya gak akan tega juga kalau kamu berangkat sendiri ke kota. Kalau saja tidak ada dokter Angga, maka kamu akan saya antarkan langsung ke kota." Jelas Martha.
Ratih melihatnya, ekspresi Martha benar-benar terlihat tulus dan jujur sehingga membuat wajah Ratih berubah menjadi biasa lagi. Sikap Martha memang menggambarkan seorang Kakak yang sangat peduli dengan adiknya.
"Ya sudah, cepat kalian berangkat! Biar tidak terlalu malam sampai kota." Pinta Martha.
"Siap, Kakak!" Celoteh Angga.
Ratih melirik Angga yang mulai bersikap tak seperti biasanya. Dia hanya bisa menggeleng tak percaya.
Angga dan Ratih berpamitan. Mereka saling menguatkan dengan pelukan sayang.
"Jaga dirimu baik-baik. Jaga kesehatan. Segera kabari jika semuanya sudah selesai." Pinta Martha khawatir.
"Baik, Kak. Kak Martha juga jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan, salam buat Erick." Balas Ratih.
Martha mengangguk patuh. Sekali lagi mereka saling menguatkan lewat pelukan, dan akhirnya saling melepaskan diri untuk urusannya masing-masing. Mengudarakan doa agar semua berjalan sesuai yang mereka harapan.
Mobil Angga mulai melaju perlahan, meninggalkan Martha yang masih berdiri di teras tempat tunggu penumpang dengan melambaikan tangan ke arah mereka sampai mobil yang mereka kendarai menghilang sempurna meninggalkan terminal.
Ada gurat kesedihan di raut wajah Martha. Dia sedih tidak bisa menemani Ratih menjalani tes. Dia juga khawatir jika nanti hasil yang didapatkan Ratih tidak sesuai dengan harapan Martha. Tapi lekas dia membuang jauh pikiran sempitnya itu.
Martha berusaha memikirkan hal-hal positif saja untuk adiknya itu. Martha yakin, Ratih adalah orang baik. Tuhan tentu akan membalas perbuatan baik Ratih dengan hal-hal yang baik pula.
Martha pun akhirnya merelakan adiknya itu pergi dengan membawa harapan baik darinya. Semoga apa yang diharapkan bisa terwujud laksana kepompong yang siap untuk menjadi kupu-kupu.