
Rumah besar Mahali sudah didekorasi seindah mungkin. Berbagai tradisi Jawa sudah dilakukan sesuai dengan adat istiadat yang ada.
Selama dua minggu ini, Shica tidak bertemu dengan Reynaldi. Dan selama itu juga mereka tidak saling menghubungi karena dilarang kedua orang tua mereka.
Tradisi tetaplah tradisi.
Shica berdiri ditangga. Dia mengenakan kebaya hitam dan rok lilit batik.
Dia terlihat begitu anggun. Selama dua minggu pula dia mengenakan pakaian tersebut.
Dia melihat para pelayan yang berpakaian serba putih bekerja begitu baiknya mendekorasi rumah besar tersebut.
Pernikahan bagi Putri Mahali memang harus sempurna. Itu yang dikatakan oleh Ridan, sang kepala keluarga.
Darmi menghampiri Shica. Shica menoleh dan tersenyum. Darmi tersenyum canggung.
"Bibi" sapa Shica.
"Nona.. Nona cantik sekali" kata Darmi pelan. Shica tersenyum haru mendengar ucapan Darmi yang biasanya bicara formal.
"Terimakasih.. " kata Shica.
"Rasanya baru kemarin bibi menggendong Non Shica.. Dan sekarang Non sudah dewasa dan akan meninggalkan rumah besar ini" kata Darmi.
Shica mencerna kata-kata Darmi.
"Maaf saya lancang.. Namun sungguh.. Kami para pelayan akan merasa sangat kehilangan anda" kata Darmi.
Shica tersenyum haru mendengar ucapan wanita tua itu.
"Anda putri kesayangan Tuan besar.. Tuan dan Nyonya pasti akan merasa sangat kehilangan.. " kata Darmi.
"Seolah mutiara yang sudah masak akan meninggalkan kerangnya" sambung Darmi.
Shica menggenggam kedua tangan Darmi. "Terimakasih Bibi.. Terimakasih banyak karena selama ini.. Bibi Darmi dan Bibi yang lainnya telah menjagaku.. Merawatku.. Dan sebentar lagi, aku akan pergi dari rumah ini bersama pendampingku.. Namun aku berjanji tidak akan melupakan semua jasa-jasa Bibi" kata Shica sambil tersenyum.
"Nona tidak perlu berkata seperti itu.. Berjanjilah untuk sering mengunjungi rumah besar ini.. Karena Tuan dan Nyonya pasti akan sangat merindukan Nona" kata Darmi.
"Kami pasti akan sering berkunjung" kata Shica.
Darmi tersenyum. Terdengar langkah kaki menaiki tangga. Darmi dan Shica menoleh ternyata Priyanka bersama Megha.
"Tante!! " Megha berlari memeluk Shica. Shica tertawa kemudian mengangkat tubuh mungil Megha dan menggendongnya.
"Tante cantik banget.. Aku mau pakai kebaya" kata Megha semangat.
"Mari Non muda.. Ikut saya" kata Darmi. Shica menurunkan Megha. Megha menggenggam tangan Darmi. Darmi pun menuntun Megha ke kamar rias.
Shica tersenyum. Dia pun menatap Priyanka. Begitu pun dengan Priyanka.
"Hai" kata Shica pelan. Priyanka tersenyum. "Hai"
Mereka berdiri berdampingan sambil melihat kegiatan para pelayan.
"Sudah beberapa minggu kakak disini.. Tapi kita tidak pernah saling menyapa.. Padahal kakak adalah menantu di rumah ini" kata Shica.
Priyanka tersenyum. "Aku hanyalah orang biasa.. Tidak pantas bersanding dengan Regar.. Hanya saja.. Cinta membutakanku.. Membuatku jatuh Cinta pada pria Mahali.. Aku sungguh tidak tahu.. Karena hari itu, dia datang dengan pakaian compang-camping.. " kata Priyanka.
Shica mengerutkan keningnya.
"..Dia meminta segelas air.. Aku memberinya.. Dia terlihat begitu kacau.. " sambung Priyanka.
Shica jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu saat Reynaldi juga datang meminta pertolongan padanya.
".. Setelah kejadian itu, kami sering bertemu.. Dia bilang dia hanya pekerja biasa disebuah toko.. Aku mencintainya.. Dia sangat tulus dan baik.. Namun malam itu.. Terjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.. Aku mengandung Megha.. Regar bilang.. Dia akan bertanggung jawab.. Dan aku tidak mengerti.. Kenapa dia membawaku kesebuah jet dan istana ini.. Sungguh aku merasa rendah " kata Priyanka pelan.
Shica merangkul Priyanka. "Kakak jangan bicara seperti itu.. Kami sangat menghargai kakak.. " kata Shica.
"Tidak dengan Nyonya Mahali " batin Priyanka.
"Terimakasih " kata Priyanka sambil tersenyum getir.
Priyanka mengerutkan keningnya.
"Maksudku.. Itu Bagus kan" kata Shica sambil tertawa kecil.
Priyanka tersenyum.
"Apa kau pernah mencintai seseorang sampai kau tidak bisa melupakannya? " tanya Priyanka.
Shica tersenyum. Terlintas bayangan Raihan di ingatannya.
"Tentu.. Setiap orang mungkin pernah mengalaminya" jawab Shica pelan.
"Pasti pria itu sangat beruntung " kata Priyanka sambil mengusap lembut pipi Shica kemudian berlalu.
Shica tampak berpikir. Kemudian dia tersenyum.
"Beruntung? Itu hanya akan terjadi jika orang tuaku dan Tuhan merestui.. Tapi.. Ternyata tidak " gumam Shica.
Dia pun berlalu pergi.
Sementara itu, di mansion Adiwijaya milik Reynaldi, sedang ada pesta pelepasan bujangan.
Suasana sudah seperti di klub malam. Musik terdengar menggema di mansion besar itu. Banyak sekali minuman haram dimeja.
Teman-teman Reynaldi bergerak menari dibawah alunan musik.
Sementara Reynaldi duduk disofa. Dia terlihat melamun. Tidak ada yang tahu apa isi pikiran pria tampan itu.
Salah satu temannya menghampiri Reynaldi. "Hei bung.. Apa yang kau pikirkan? " tanya pria berambut pirang itu sambil menegak minumannya.
Reynaldi menoleh. "Tidak ada" jawab Reynaldi.
"Sebentar lagi kau akan menikah.. Menjadi seorang suami dan mungkin akan menjadi seorang ayah.. Sebelum kenikmatan ini berakhir, minumlah" kata pria itu sambil menyodorkan gelas baru.
Reynaldi menerimanya. Pria itu menuangkan minuman berwarna merah dari botol ke gelas tersebut.
"Bersulang " kata pria itu sambil mengangkat gelasnya. Dia pun meminum minumannya.
Reynaldi tidak berniat meminum minuman beralkohol itu. Dia hanya memperhatikan tingkah gila temannya yang sedang mabuk.
Reynaldi menyimpan gelasnya ke meja. Dia memilih untuk melamun lagi.
"Kenapa semenjak kau bertemu gadis itu, kau jadi berubah? " tanya pria itu.
"Bukan urusanmu " jawab Reynaldi sarkas.
"Apa gadis yang akan kau nikahi itu begitu berarti? Sampai membuatmu berubah? " tanya pria itu lagi.
"Hmm.. Aku mencintai dia.. Kau tidak akan mengerti " jawab Reynaldi.
"Hmm.. Cinta ya"
Reynaldi menghela napas panjang. "Tapi dia tidak mencintaiku" kata Reynaldi.
"Siapa yang bisa menolak ketampananmu? Kau juga kaya.. " tanya pria itu.
Reynaldi tertawa sarkas. "Aku tidak tahu.. Mungkin dia mencintai pria yang lebih tampan dan lebih kaya dariku" jawab Reynaldi.
"Lalu kenapa kau mau menikahinya? Itu hanya akan menyiksa dirimu sendiri " kata pria itu.
"Bukan hanya aku.. Tapi juga mereka" jawab Reynaldi.
"Mereka? "
"Iya.. Calon istriku dan pria itu.. Mereka juga akan menderita "
By
Ucu Irna Marhamah