
"Kamu gak mau ngobrol sama aku?" Tanya Angga yang sedari tadi tidak fokus menyetir.
Selama perjalanan menuju kota, Ratih lebih sering mendengarkan MP3 Player milik Lexa yang Ratih bawa. Ratih hanya sesekali mendengarkan obrolan Angga dan membalas seadanya.
"Kan tadi juga ngobrol." Jawab Ratih yang masih asyik mendengarkan lagu di telinganya.
"Kapan?? Kamu sibuk sendiri dari tadi." Keluh Angga.
Ratih melirik Angga. Melihat Angga yang sedang merajuk membuatnya tertawa geli. Ratih memang mendengarkan lagu, tapi suaranya sangat pelan. Ratih masih bisa mendengar semua percakapan Angga dengan jelas. Dia hanya tak tahu harus menjawabnya bagaimana, Ratih masih merasa malu berada dekat dengan Angga.
"Kemarin sore ngobrol lewat SMS, malamnya juga sudah ngobrol lewat telepon. Tadi pagi juga sudah ngobrol lewat SMS. Kapan kita gak ngobrolnya, Ngga??" Ucap Ratih sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku inginnya kamu ngomong. Apa aja. Asal aku bisa dengar suaramu." Jelas Angga penuh arti.
Ratih jadi salah tingkah, membuat rona merah tampak di pipinya.
"Hmmmm." Ratih berdehem.
Dia ingin menguasai hatinya yang tiba-tiba berdetak kencang karena Angga masih saja mengatakan hal yang membuatnya canggung. Apalagi tatapan mata Angga masih tertuju padanya.
"Dasar kamu, ya! Sejak kapan kamu bisa ngomong kayak gitu?" Tanya Ratih berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Sejak kamu buat aku rindu." Tegas Angga.
Mukanya sangat menunjukkan kekesalan. Dia melihat ke depan dengan tatapan jengkel. Dia merasa Ratih tidak peka dengan perasaannya. Padahal sudah sering sekali Angga memberi sinyal kalau dia benar-benar menyayangi Ratih dan ingin selalu bersamanya, tapi Ratih seperti tidak peduli.
Ratih yang melihat Angga sedang merasa kesal, tertawa geli. Suara tawanya agak kencang, tapi Angga tidak peduli. Dia mendadak menjadi pendiam. Dan Ratih akhirnya merasa lega. Dia bisa mendengarkan lagu dari MP3 Player yang dia bawa dengan tenang, begitu juga perasaanya.
****
Angga menghentikan mobilnya tepat di tempat parkir Rumah Sakit yang mereka datangi. Tempat parkir yang tak asing untuknya. Angga dengan cakap memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dokter.
Angga melirik Ratih yang tertidur pulas di kursinya. Telinganya tidak lagi terganjal earphone, karena alat pemutar musik yang Ratih bawa sudah terlepas dari genggamannya.
Ratih tidur dengan pulas. Dia terlihat nyaman dengan tidurnya. Ratih pasti sangat penat. Angga sampai tak kuasa membangunkannya.
Angga melihat wajah Ratih yang terlihat lusuh. Dia menduga Ratih kurang tidur. Mungkin karena bekerja keras membuat baju pesanan Martha. Atau bisa juga Ratih sedang memikirkan sesuatu sampai membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang.
Angga menatap Ratih penuh perasaan. Dia melihat wanitanya dengan penuh cinta di matanya yang sendu. Angga merasa tak tega dengan kehidupan Ratih yang terlampau berat.
Andai saja Angga bisa selalu dekat dengannya, pasti Angga hanya akan membuat Ratih tersenyum bahagia. Dia akan menjadi teman berbagi cerita yang menyenangkan untuk Ratih. Di sela malam, Angga akan mendengar keluh kesah Ratih dengan sabar. Tidur berdua dalam satu ranjang, dan menceritakan kisah yang telah berlalu. Dan setelah merasa lelah, Ratih dan Angga bisa saling merangkul, saling merengkuh mimpi indah berdua.
Angga dengan lembut membelai rambut Ratih yang terurai panjang. Dia sedikit menyibak anak rambut Ratih yang menyeruak menutupi matanya. Perasaan Angga memang tidak bisa dipungkiri. Dia masih mencintai Ratih sepenuh hatinya. Selama apapun mereka berpisah, Angga tidak pernah sedetikpun melupakan segala tentang Ratih dalam benaknya.
Angga berusaha membangunkan Ratih setelah dia puas memandangi kecantikannya.
"Sudah sampai?" Tanya Ratih yang perlahan membuka matanya.
"Sudah. Sejak tiga puluh menit yang lalu." Jawab Angga.
"Apa????" Kata Ratih yang langsung kaget karena dia ketiduran cukup lama..
Ratih memukul jidatnya lembut. Dia agak menyalahkan diri sendiri karena membuang waktu tiga puluh menit untuk tidur. Sementara Angga melihatnya dengan muka gemas. Dia merasa lucu dengan tingkah Ratih.
"Kenapa kamu gak bangunin aku? Kan kita bisa langsung menemui dokter Heryawan. Kita kan tahu kalau beliau sibuk. Bagaimana kalau hari ini kita tidak bisa bertemu dengannya?" Ungkap Ratih gelisah.
"Kalau gitu kita jalan-jalan saja." Jawab Angga enteng.
"Angga....!!" Ratih agak kesal, tapi Angga tertawa.
"Tenang.... Kita baru saja sampai. Kamu gak usah khawatir, aku sudah mengatur jadwal dengan dokter Heryawan." Jelas Angga.
"Kita masih punya lima belas menit lagi sebelum bertemu dengan dokter Heryawan. Kamu mau makan dulu?" Tanya Angga.
Ratih menggeleng. Dia hanya ingin langsung masuk ke Rumah Sakit dan segera menuju ruangan dokter Heryawan. Ratih ingin menunggunya di sana.
"OK. Baiklah Ibu Ratih. Ayo kita masuk ke dalam." Ajak Angga percaya diri.
Tanpa ragu, Ratih langsung mengikuti perintah Angga dan segera melangkah bersama Angga menuju tempat dokter Heryawan.
****
Ratih dan Angga sedang menunggu di luar ruangan dokter Heryawan. Mereka nampak tegang. Ya, Ratih telah selesai melaksanakan tes untuk mendeteksi penyakit Lexa yang mungkin saja tertular.
Raut wajah Angga menjadi tidak baik-baik saja. Dia terlihat cemas. Berkali-kali dia mengambil napas dan mengeluarkan napas panjang. Berusaha mengatur suasana hati dan pikirannya yang memanas.
Sementara Ratih, walaupun dia tampak tenang tapi bahasa tubuhnya menunjukkan hal lain. Dia juga pasti merasa cemas, apalagi ada Angga di dekatnya.
Alasan dia masih menjaga jarak dengan Angga adalah karena dia merasa tidak yakin dengan kondisinya. Ratih tidak ingin membuat Angga sakit. Dia sedang berusaha untuk menjaga kesehatan dan masa depan Angga.
"Ibu Ratih Prameswari?" Sapa seorang suster yang memberi isyarat kepada Ratih untuk masuk menemui dokter Heryawan.
Dengan cepat Angga menggandeng tangan Ratih untuk masuk ke ruangan dokter Heryawan. Ratih tak bisa menolak tangan Angga yang terlalu cepat meraihnya tanpa mampu dia tolak.
"Silahkan duduk Bu Ratih." Kata seorang suster mempersilahkan Ratih untuk duduk.
"Silahkan dokter Angga." Tambah sang suster yang terlihat sangat ramah kepada Angga.
Ratih masih paham. Suster ini adalah suster yang selalu menatap Angga dengan tatapan penuh damba. Ratih agak risih melihatnya, tapi dia berusaha tampil wajar di hadapan Angga. Padahal hatinya tidak rela melihat sang suster menatap Angga dengan tatapan penuh hasrat.
"Baik. Bu Ratih dan dokter Angga. Sekali lagi saya ucapkan bela sungkawa atas kepergian Lexa. Lexa adalah anak yang baik. Saya bisa bersaksi akan hal itu." Jelas dokter Heryawan yang mengulang kata yang sama seperti saat pertama bertemu Ratih dan Angga sebelum melaksanakan tes.
"Terimakasih, Dok. Saya juga bersaksi, dokter Heryawan sudah melakukan pengobatan maksimal untuk Lexa." Balas Ratih yang juga mengatakan hal yang sama seperti saat sebelum melaksanakan tes.
"Begini Bu Ratih dan dokter Angga. Saya sudah melakukan tes NAT kepada bu Ratih, tapi hasilnya baru akan keluar paling tidak seminggu ke depan. Selama menunggu hasil, saya anjurkan Bu Ratih untuk meminum resep obat yang nanti saya buatkan. Tetap jaga asupan makanan dan yang paling penting tidurlah dengan baik." Saran dokter Heryawan kepada Ratih.
"Baik, dok." Balas Ratih singkat.
Angga menghela napas panjang. Dia membuang lagi kepanikan dalam hatinya ke udara agar terlepas dari beban yang mengganggu benaknya.
Tak lama, dokter Heryawan sudah menuliskan resep untuk Ratih. Dengan tulisan khas dokter, Angga mencermati setiap obat yang dokter Heryawan buat. Dia mengangguk yakin kepada dokter Heryawan, dan dibalas anggukan pula oleh dokter Heryawan. Mereka seperti menyapa lewat kode yang hanya mereka saja tahu.
****
Ratih sudah berada di mobil Angga. Dia sedang menunggu Angga yang sedang mengambil resep obat yang diberikan dokter Heryawan. Angga meminta Ratih untuk menunggunya di dalam mobil agar dia bisa leluasa istirahat dan melanjutkan tidur yang sempat tertunda.
Tak lama Angga datang. Dia membawa sekantung obat yang dia tebus di Apotek. Angga pun segera membuka pintu mobilnya agar dia bisa masuk..
"Ini obatmu, kamu harus meminumnya setiap hari tanpa boleh terlewat." Angga menunjuk satu lembar obat kepada Ratih.
"Dan untuk obat yang lain kamu cukup diminum setelah makan." Imbuh Angga.
"Iya, Pak dokter." Canda Ratih.
Angga tersenyum senang.
"Kita mau kemana?" Tanya Angga.
Ratih terlihat sedikit berpikir.
"Aku ingin menemui Kakakku." Jawab Ratih jelas.