
Mansion Adiwijaya
Reynaldi menyelimuti seluruh tubuh Shica. Dia menyentuh dahi Shica. Suhu tubuhnya meningkat.
Sementara itu, Raihan berdiri dibelakang Reynaldi. Dia juga tampak cemas.
"Dia sedang tertidur" kata Reynaldi.
"Emm.. Baiklah.. Aku harus pergi.. Jika dia bangun, sampaikan salamku ya" kata Raihan kemudian berlalu.
"Tunggu"
Langkah Raihan terhenti. Dia berbalik menatap Reynaldi yang telihat sedih.
"Aku harap kau mau menginap dan tidur bersama kami" kata Reynaldi.
Raihan terbelalak. "Apa.. Tapi.. Aku.. "
"Aku mohon" kata Reynaldi memotong ucapan Raihan.
Raihan tampak berpikir. "Baiklah " kata Raihan.
Malam pun tiba. Langit kelam menyelimuti bumi. Tidak ada satu Bintang pun yang terlihat menerangi bumi. Seolah enggan dan membiarkan langit sendirian.
Perlahan Shica membuka kedua matanya. Dia menatap ke sekeliling. Tadi dia ingat saat di bawa pulang dari rumah sakit oleh Raihan dan Reynaldi.
Perlahan dia bangkit untuk duduk. Kepalanya terasa begitu berat. Pintu kamar terbuka.
Shica menoleh..
Masuklah Raihan dengan nampan ditangannya berisi semangkuk bubur hangat dan segelas susu cokelat.
Raihan duduk disamping Shica.
"Ini sudah malam.. Aku pikir kau sudah tidak disini " kata Shica.
"Reynaldi menyuruhku untuk menjagamu dan dia juga menyuruhku untuk menginap lagi " jawab Raihan.
"Sekarang dia kemana? " tanya Shica.
"Dia pergi keluar.. Dia menyuruhku untuk membujukmu makan lalu minum obat" jawab Raihan.
Raihan menyuapi Shica. Shica menerimanya. Dia menatap Raihan.
"Anggap saja aku membalas jasamu waktu operasi dulu.. Kau juga sering memaksaku makan bubur dan minum obat" kata Raihan.
"Itu aku lakukan agar kau cepat sembuh " kata Shica.
"Ini juga aku lakukan agar kau cepat sembuh" kata Raihan.
Selesai menyantap habis bubur itu, Raihan membantu Shica minum obat.
Setelah itu, dia menidurkan Shica kemudian menyelimuti tapi tubuh Shica dengan selimut.
"Istirahatlah" kata Raihan.
"Aku tidak mau.. Tadi aku tertidur cukup lama " kata Shica.
Raihan tidak mau memaksa Shica.
"Apa yang membuatmu stress dan pingsan? Apa terjadi sesuatu yang buruk diantara kau dan Reynaldi? " tanya Raihan.
Shica terlihat sedih. Dia kembali mengingat insiden itu. Sebenarnya dia shock berat dan menjadi takut terhadap Reynaldi. Namun dia berusaha menepis semua itu. Karena bagaimanapun juga, Reynaldi adalah suaminya.
Raihan bisa menangkap raut kesedihan dari mata Shica. Dia semakin penasaran. Namun dia tidak ingin menanyakan lebih jauh lagi.
Tanpa mereka sadari, Reynaldi berdiri didepan pintu kamar. Sedari awal sebenarnya dia disana memperhatikan mereka.
"Aku harus siap melepaskan Rastani.. Aku tidak bisa membuatnya terus menderita begitu" batin Reynaldi.
"Tapi percayalah, Reynaldi selalu disampingmu.. Dia akan selalu membuatmu bahagia.. Membuatmu tegar.. Buktinya dia mau pergi saja, dia memaksaku menemanimu.. Padahal sebenarnya aku tidak enak padanya.. Tapi karena kalian temanku, aku tidak bisa menolak" kata Raihan sambil tersenyum tulus.
Reynaldi yang mendengar itu terlihat sedih. "Aku berbohong padamu, Raihan.. Aku juga telah mengingkari janjiku pada Shica.. Aku tidak membuat dia bahagia.. Aku malah membuat dia menderita.. " batin Reynaldi menjerit.
Sementara Shica terlihat sedih. Dia menatap Raihan. "Seandainya kamu tahu yang sebenarnya.. Tapi.. Aku tidak mau menyatakan.. Ini urusan pribadi kami.. Kau sudah terlalu jauh masuk kedalam hubungan kami meskipun kau sama sekali tidak mengganggu kami" batin Shica.
"Tidurlah Shica, ini sudah malam.. Jika Reynaldi tahu kau tidak segera tidur, dia pasti marah padaku" kata Raihan.
Shica mengangguk. Dia pun menutup matanya. Raihan menatap wajah Shica dengan lekat. Dia sangat cantik saat tertidur.
"Ehmm"
Raihan terhenyak dan menoleh kearah Reynaldi yang mungkin sedari tadi berdiri didekatnya.
"Maaf aku tidak sopan melihat wajah istrimu saat dia tertidur " kata Raihan kemudian bangkit dari duduknya.
"Sepertinya aku tidak bisa menginap.. Aku harus pulang.. Ini sudah terlalu malam.." kata Raihan.
"Kau sudah berjanji akan tinggal" kata Reynaldi dingin. Raihan menghela napas berat.
Reynaldi menepuk bahu Raihan. "Aku mohon.. " kata Reynaldi.
"Aku tidak nyaman jika mengganggu kalian.. Sungguh.. Waktu itu aku hanya ingin membuat kalian kesal padaku saja.. " kata Raihan.
"Aku mohon.. Kau temannya Shica.. Tinggallah disini untuk sementara sampai Shica sembuh " kata Reynaldi.
"Sembuh? Dokter bilang dia hanya stress.. Memangnya kesembuhan dari stress itu lama? " tanya Raihan menyelidik.
"Kita akan membahasnya besok. Sekarang tidurlah" kata Reynaldi.
"Emm.. Apa kau sudah menyiapkan kamar untukku? " tanya Raihan.
"Tidak perlu, kau bisa tidur disini seperti waktu itu " kata Reynaldi.
"Apa? Tapi.. " Raihan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Jangan menolak.. Bukankah waktu itu kau juga pernah tidur bersama kami" gerutu Reynaldi.
"Tapi.. Aku.. "
"Tidak ada tapi-tapian.. Cepatlah nanti Rastani terbangun" gerutu Reynaldi.
Raihan menoleh kearah Shica yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya.
"Kau tidur disisi sana dan aku disisi sini" kata Reynaldi.
"Apa? Itu berarti aku dan Shica.. "
"Tidak ada bantahan " kata Reynaldi penuh peringatan. Raihan pun menuruti Reynaldi. Dia melelapkan tubuhnya di samping kanan Shica dan Reynaldi di samping Shica.
Mereka terlelap dalam keheningan malam. Yang terdengar hanya suara hewan malam. Kendaraan pun enggan lewat dimalam itu. Awan hanya lewat begitu saja tanpa berniat menurunkan hujan untuk membasahi bumi.
By
Ucu Irna Marhamah