Don't Leave Me

Don't Leave Me
103




Shica terlelap tidur dibahu Reynaldi. Sementara Reynaldi menatap jalanan yang dilewati mobilnya.



"Bagaimana keadaan Ibu selama aku di Indonesia? " tanya Reynaldi pada sopir.



"Nyonya Olivia selalu menanyakan kabar anda pada kami.. " jawab sang sopir.



"Lalu kalian menjawab apa? " tanya Reynaldi.



"Kami bilang pada Nyonya, kalau Tuan sudah memiliki pendamping hidup" jawab sang sopir.



"Kenapa ibuku tidak menghadiri acara pernikahanku? " tanya Reynaldi.



"Beliau tidak sanggup jika harus bertemu ayah anda.. " jawab sang sopir pelan.



Reynaldi terlihat sedih.



Mobil pun terhenti didepan sebuah mansion besar yang berdiri gagah sendirian di bukit itu.



Shica terbangun. Dia mendongkak menatap Reynaldi.



"Apa kita sudah sampai di Perancis? " tanya Shica yang terlihat konyol.



"Kita di Inggris.. Kita akan ke Perancis nanti setelah bertemu ibuku" jawab Reynaldi.



"Hmm"



Mereka pun keluar dari mobil. Shica terpukau melihat kemegahan mansion milik ibunya Reynaldi.



"Ayo masuk.. Aku sudah bilang pada Ibu kalau kita akan berkunjung " kata Reynaldi sambil merangkul pinggang Shica dengan posesif.



Mereka memasuki mansion dan langsung di sambut para pelayan yang mengenakan seragam warna merah muda.



Mereka membungkuk hormat.



"Selamat datang di mansion Olivia Amora" kata mereka serempak.



Seorang wanita dengan dress hitamnya melangkah menghampiri mereka berdua.



Wanita cantik yang sudah tidak muda lagi itu menyentuh bahu Reynaldi.



"Bagaimana kabarmu, nak? " tanya wanita yang tak lain adalah ibunya Reynaldi yang bernama Olivia.



"Kabarku baik, ibu ini adalah istriku, Rastani Mahali.. Ah tidak, Rastani Adiwijaya" kata Reynaldi sambil merangkul pinggang Shica.



Pandangan Olivia tertuju pada Shica, sementara Shica merasa canggung.



Olivia menangkup wajah Shica. Shica pun menatap Olivia.



"Terimakasih, telah mau mendampingi putraku yang sangat nakal ini" kata Olivia.



Shica tersenyum dan melirik suaminya yang menghela napas berat mendengar ucapan ibunya.



"Ayo masuklah.. Para pelayan sudah menyajikan makanan untuk makan malam kita" kata Olivia.



Mereka pun memasuki ruang makan kemudian menyantap makan malam mereka.



Tidak ada yang memecah keheningan. Mereka fokus dengan makanan mereka.



"Kalian akan tinggal disini kan? " tanya Olivia.



"Besok lusa, kami akan ke mansionku yang di Perancis" jawab Reynaldi.



"Apa kau tidak merindukan ibumu yang sudah tua ini? Ibu juga belum sempat berkenalan dengan Rastani, iyakan sayang " kata Olivia sambil menyentuh bahu menantunya.



Shica hanya tersenyum canggung.



"Jika ibu mau, ibu tinggal bersama kami saja di Perancis" kata Reynaldi.



"Tidak.. Jika ibu memasuki mansion itu, ibu selalu mengingat kenangan masa lalu saat bersama ayahmu" kata Olivia.



Reynaldi terlihat sedih.



"Kalau begitu, kami akan tinggal beberapa hari saja disini " kata Reynaldi.



Olivia tersenyum. "Terimakasih, sayang " kata Olivia.



"Dan.. Sayang, apa kau sudah merasakan tanda-tandanya? " tanya Olivia pada Shica.



Shica mengerutkan keningnya. "Tanda-tanda? " tanya Shica.




"Emm.. Itu.. " Shica tampak berpikir untuk mencari alasan.



"Ibu ingin segera menimang cucu " kata Olivia.



"Kami tidak terlalu memikirkan keturunan, Bu.. Kami juga baru saja menikah, mana mungkin kami bisa memiliki anak secepat itu " kata Reynaldi.



"Hmm.. Jadi kapan? Mau menunggu kematianku? " tanya Olivia.



"Ibu.. Kami pasti akan segera memberikan ibu seorang cucu.. Tapi mungkin tidak cepat" kata Shica sambil menggenggam tangan mertuanya.



Olivia tersenyum. "Terimakasih, kamu memang peka, tidak seperti dia.. Sama seperti ayahnya" gerutu Olivia sambil mendelik Reynaldi kesal.



Shica hanya tersenyum.



"Baiklah, ini sudah malam.. Kalian pergi tidur ya" kata Olivia.



"Baiklah, Ibu juga istirahat ya" kata Reynaldi.



"Iya "



Mereka pun memasuki kamar masing-masing.



Shica merebahkan tubuhnya ke ranjang dan akan menutup matanya. Namun Reynaldi menindihnya.



"Eh! Apa yang kau lakukan " gerutu Shica.



"Apa kau tidak dengar tadi Ibu minta kita memberikan dia cucu? Ayo kita lanjutkan yang tadi" kata Reynaldi.



Kedua pipi Shica memerah mendengar ucapan suaminya.



"Maaf.. Tapi.. Aku ngantuk" kata Shica kemudian memejamkan matanya.



Reynaldi mendengus kesal. Namun dia pun merebahkan tubuhnya disamping Shica.



"Kabur lagi " gerutu Reynaldi.



Shica mengintip kemudian tersenyum geli.



Pagi pun tiba. Matahari membangunkan umat manusia melalui sinar hangatnya.



Perlahan Reynaldi membuka matanya. Dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi.



Shica sedang mandi.



Pintu kamar mandi terbuka. Shica yang memakai jubah mandi memasuki kamar. Dia terkejut melihat Reynaldi sudah bangun.



Shica mengabaikan Reynaldi. Dia memilih duduk meja rias dan bercermin.



Reynaldi bangkit dari ranjang kemudian menghampiri Shica.



"Pagi-pagi sudah mau menggoda imanku? " tanya Reynaldi sambil menghirup aroma leher Shica.



Shica merinding. "Tidak ada yang mau menggodamu, kau yang selalu menggodaku " gerutu Shica.



"Hmm.. Hari ini kita akan ke mall" kata Reynaldi.



"Untuk apa ke mall? " gerutu Shica.



"Memangnya kenapa? " tanya Reynaldi.



"Tidak apa-apa " jawab Shica



"Tidak jelas" gerutu Reynaldi kemudian memasuki kamar mandi.



Shica tertawa.



"Kau benar-benar membuatku sering tertawa.. Apa mungkin ini kebahagiaan? " gumam Shica.



"Jika iya, tidak salah aku memilih dirimu"



By



Ucu Irna Marhamah