Don't Leave Me

Don't Leave Me
131



Shica Mahali


Pagi ini, Raihan membawaku ke sebuah tempat khusus menembak. Dia mengatakan padaku kalau kita harus selalu waspada dalam keadaan apapun. Karena kita tidak tahu siapa musuh kita dan dimana mereka berada.


Dia memegang pistol dan mengarahkan moncong pistolnya itu ke sasaran manekin.


DOR!


Kepala manekin itu hancur.


DOR!


Badannya tinggal setengah.


DOR!


Hancur semuanya.


Raihan menoleh kearahku. "Kemarilah.. Kamu harus berlatih" kata Raihan. Aku mendekat. Dia memberikan pistol itu padaku.


Aku menerimanya dan membidik sasaran manekin yang masih utuh.


"Tembak" kata Raihan.


DOR!


Meleset..


Tak mengenai manekin sedikitpun.


Aku menutup sebelah mataku..


DOR!


Masih meleset. Padahal jaraknya hanya sekitar sepuluh meter. Penglihatanku memang buruk.


Kali ini harus berhasil. Aku berkonsentrasi dan..


DOR!


Tetap meleset. Hanya mengenai telingan manekin itu.


Raihan memegang kedua tanganku dari belakang. Otomatis dia memeluk tubuhku.


"Luruskan tanganmu" kata Raihan. Aku menatap wajahnya yang bertumpu dibahuku.


Tampan dan tegas..


Aku tersenyum dan melakukan apa yang dia suruh. Meluruskan tanganku dan membidik targetku berupa manekin.


Aku memejamkan sebelah mataku. "Jangan menutup sebelah matamu" kata Raihan. Aku menoleh kearahnya. Ternyata dia menatap diriku.


"Kau memerlukan kedua matamu untuk melihat target.. Jangan memandang targetmu dengan sebelah mata.. Atau kau akan kalah" kata Raihan.


Aku mengangguk dan menatap target.


"Sasaran akan terlihat seimbang dengan kedua matamu.. Karena kedua matamu bisa melihat dengan sisi mereka.. " kata Raihan.


Sungguh ambigu kata-katanya itu. Baiklah, dia memang penulis yang hati dan pikirannya dipenuhi kata-kata yang maknanya tersembunyi.


"Tembak" bisik Raihan.


DOR!


Kepalanya hancur..


DOR!


DOR!


Kini tinggal setengahnya lagi tubuh manekin itu.


"Istriku pintar " kata Raihan sambil mengecup pipiku.


Romantis sekali dia..


Kami beristirahat sejenak. Raihan mengambil sesuatu dari saku celananya. Ternyata sebuah pistol. Dia memberikannya padaku.


"Bawa kemanapun kau pergi.. Jika dalam keadaan bahaya, gunakan sesuai kondisi" kata Raihan.


"Apa ini illegal? " tanyaku.


"Aku punya surat resmi untuk beberapa senjata.. Bukankah Reynaldi juga memilikinya? " tanya Raihan.


"Iya.. Apa ini tidak berbahaya? " tanyaku lagi. "Tidak bagi pemegangnya" jawab Raihan.


Aku merasa berlebihan dengan membawa pistol ini.


Setelah selesai berlatih, kami makan di restoran terdekat. Aku memesan banyak makanan. Mungkin karena faktor kehamilanku yang baru menginjak dua bulan.


Aku suka makan banyak belakangan ini. Kedua pipiku yang sudah bulat ini semakin bulat.


Ah! Aku tidak peduli meski terlihat jelek di mata Raihan.


Yang penting, Raihan tetap mencintaiku..


Dia sendiri yang bilang..


Aku juga tidak ngidam yang aneh-aneh selama kehamilan. Tapi aku jadi benci pisang dan suka makan banyak buah melon.


Aku menyantap spagetti yang terlihat menggoda itu. Bumbu merahnya itu menggugah selera.


Raihan tersenyum melihat kerakusan diriku..


Aku tidak malu..


Memangnya kenapa? Dia suamiku loh..


Aku gak keliatan norak kok.. Aku cuma makan banyak meski pelan-pelan.


Tiba-tiba, seseorang duduk disampingku. Aku menoleh begitupun dengan Raihan.


"Hai.. Maaf menganggu kalian. Aku tidak melihat kursi kosong" kata pria berambut pirang itu.


"Sean.. " aku bergumam dengan mulut penuh.


"Hai.. Wah.. Kau tampak gemukan ya" kata Sean sambil menelisik tubuhku dengan manik hijaunya.


Aku melirik Raihan. Raihan terlihat kesal karena mungkin aku di perhatikan seperti itu oleh pria lain.


"Aku.. Aku sedang mengandung.. Jadi ya wajar saja jika tubuhku agak gemuk" kataku sedikit kesal.


Kulihat raut wajah Sean berubah.. Entahlah aku tidak bisa membaca raut wajahnya. Aku bukan psikolog.


Raihan berdehem pelan. Pandangan Sean tertuju pada Raihan.


"Halo.. Tuan.. Emm.. Abdurrachman " sapa Sean sambil mengulurkan tangannya pada Raihan. Raihan menyambutnya.


"Halo.. Tuan.. " Raihan melirik kearahku.


"Jansen" kataku.


"Ah iya.. Tuan Jansen" kata Raihan.


"Selamat ya.. Kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua " kata Sean sambil tersenyum.


"Terimakasih.. " kata Raihan sambil tersenyum juga.


"Wah.. Setelah hubunganmu berakhir dengan Tuan Adiwijaya, kau langsung menikah dengan Tuan Abdurrachman.. Sungguh kejutan.. " kata Sean.


Aku yakin saat ini Sean mentertawakan kehidupanku. Dia puas dengan apa yang terjadi padaku dengan Reynaldi.


Dia bersyukur karena aku pernah menolaknya kemudian aku gagal dalam membangun rumah tangga bersama Reynaldi.


Aku melirik Raihan yang masih tampak tenang-tenang saja. Tanpa ekspresi emosi sama sekali.


Aku yakin, dalam hati dia pasti sangat geram.. Sungguh dia pandai menyembunyikan isi hatinya.


"Aku pikir, kau tidak akan menikah secepat ini, Shica.. Kenapa kau tidak mengundangku ke pernikahan keduamu? " tanya Sean padaku. Dia menatapku seolah mengejek.


Aku kesal sekali. Boleh aku menghajarnya saja?


"Kami mengadakan acara pernikahan yang sederhana.. Jadi hanya beberapa kerabat saja yang datang, bahkan kakak kandungnya Shica saja tidak hadir karena berhalangan" kata Raihan sambil tersenyum simpul.


Sean menatap Raihan. "Oh iya.. Tentu saja.. Pernikahan kedua tidak akan berkesan seperti pernikahan pertama.. Bukan? " tanya Sean.


Raihan masih tersenyum kecil. "Benar sekali.. Tapi pernikahan kedua adalah pernikahan terakhir yang bahagia.. Benar bukan? " Raihan balik bertanya.


Skakmat!


Harusnya kau diam saja sedari awal, Sean Jansen.


"Hemm.. Ya tentu saja.. Kau benar sekali.. Tapi bagaimana jika ada seseorang yang ingin merebut istrimu darimu? Seperti kau merebutnya dari Reynaldi? " tanya Sean sarkas.


Ingin aku melempar gelas berisikan jus melon ini pada wajahnya. Ah! Tidak sayang sekali aku pada jus ini.


Kulihat reaksi Raihan masih tenang.


"Aku yakin.. Jika aku bertanya pertanyaan yang sama pada Reynaldi, jawabannya adalah.. Membunuh siapapun yang berani mengambil Rastani dariku,  tapi entah kenapa dia tidak membunuhmu meskipun kau telah mengambil Shica darinya" kata Sean.


Sekarang aku berubah pikiran, boleh aku melempar gelas ini?


Raihan menggenggam tanganku erat. Mungkin dia tahu aku sedang marah dan ingin melempar makhluk gaib didepan kami ini dengan gelas.


"Jawabanku, aku tidak akan melakukan apapun jika seseorang yang merebut Shica adalah pria yang dicintai oleh Shica dengan tulus, itu juga jawaban Reynaldi jika kau bertanya padanya.. Aku akan membiarkan Shica hidup bahagia dengan pria yang dicintainya.. Tapi jika seseorang yang ingin merebut Shica adalah orang yang tidak jelas, maka aku akan bertindak sesuai kondisi.. Lalu.. Jawaban yang kedua.. Aku tidak merebut Shica dari Reynaldi.. Tapi Reynaldi yang memintaku untuk menjaga Shica.. Karena dia bilang, dia tidak bisa lagi menjaga Shica " jelas Raihan. Sungguh penjelasan yang panjang. Jika ditulis, mungkin membutuhkan satu halaman penuh.


Kuakui Raihan cukup dewasa dan sabar menghadapi pria bermulut pedas seperti Sean. Tidak seperti Reynaldi yang mudah terpancing emosi dan main tangan. Padahal usia Raihan tiga tahun lebih muda dari Reynaldi.


Raihan dan Reynaldi sama-sama memiliki masalah keluarga dulunya. Namun bedanya adalah, Raihan harus bekerja keras dulu untuk mendapatkan sesuatu. Sementara Reynaldi bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dan terkesan menghalalkan segala cara agar keinginannya terwujud.


Sean tersenyum kemudian tertawa dan tawanya semakin keras membuat pengunjung restoran menatap heran pada kami.


Memalukan!


Apa Sean sudah tidak waras?!


"Persiapkanlah.. Bukti nyata tindakan dari jawabanmu! " kata Sean kemudian berlalu meninggalkan kami.


Raihan merangkulku. "Dia hanya menggertak tidak jelas " bisik Raihan menenangkanku.


Aku mengangguk pelan.


Semoga iya..


By


Ucu Irna Marhamah