Don't Leave Me

Don't Leave Me
140



Halooo semuanya....


Mungkin hari ini aku akan menamatkan semua bab di Don't Leave Me, kenapa?


Karena aku mau aja...


Oh ya,, aku harap kalian suka dengan endingnya


Aku juga berterimakasih kepada kalian semua yang sudah komen, maaf tidak semuanya di balas, karena terlalu banyak. Tapi, aku baca semuanya kok.


Terimaksih juga kepada kalian yang suka meneror di wa dan ig untuk kelanjutan cerita ini.


Jujur aku agak gimana gitu... hehe... lain kali baik-baik ya bicaranya...Author juga akan membalasnya dengan baik pula....


 


 


 


 


 


 


 


 


Reynaldi dan Shica duduk diruang tunggu. Shica terlihat khawatir. Dia tidak berhenti menangis. Namun tangisannya tidak bersuara. Reynaldi berusaha menenangkan Shica. Luka Reynaldi sudah diobati dan diperban.


Pintu ruang UGD terbuka. Shica segera bangkit. Dokter laki-laki menghampiri mereka berdua.


"Dokter, bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Apa tidak terjadi sesuatu yang buruk? " tanya Shica.


Dokter itu terlihat sedih.


"Tidak.. Tidak.. Jangan memperlihatkan ekspresi seperti itu.. Tidak.. Tolong jawab saya, dokter " kata Shica.


"Kalian bisa melihatnya " kata dokter itu. Shica dan Reynaldi segera masuk da melihat keadaan Raihan. Semua selang dan alat bantu hidup terpasang ditubuhnya.


Shica duduk dan memegang tangan Raihan. "Raihan.. Katakan sesuatu.. " kata Shica.


"Aku mencintaimu.. Shica.. Sangat mencintaimu " kata Raihan. Shica mengangguk-angguk mendengar ucapan Raihan. Reynaldi mengusap bahu Shica.


"Aku ingin kau menjaga putra kita dengan baik.. " kata Raihan.


"Tidak! Bukan hanya aku.. Kita yang akan merawatnya.. Kita.. " kata Shica.


Raihan tersenyum. "Tidak, Shica.. Aku tidak kuat lagi.. Tidak ada waktu " kata Raihan.


"Raihan.. " tangis Shica.


"Reynaldi.. Jika nanti putraku sudah lahir, kuharap kau mau menganggapnya sebagai putramu juga.. Aku harap kau mendidiknya dengan baik.. Jika dia nakal, marahi dia seperti ayah yang memarahi anaknya.. Tapi tolong, jangan memukulnya" kata Raihan.


Reynaldi mengangguk kecil.


Raihan menyentuh pipi Shica. "Jangan menangis.. Aku tidak akan kemana-mana.. Aku hanya akan mati.. " kata Raihan.


"Jangan katakan itu! " gerutu Shica. Raihan tersenyum. Dia menoleh kearah pintu. Dia terkejut melihat keberadaan wanita cantik memakai dress putih. Dia berdiri disana dengan dikelilingi cahaya putih. Hanya Raihan yang melihatnya. Sementara Reynaldi dan Shica tidak menyadarinya.


"Rania.. " gumam Raihan. Gadis itu tersenyum. Dia mengulurkan tangannya pada Raihan.


Raihan tersenyum. "Sahabat kecilku.. Aku merindukanmu.. Banyak kisah yang harus aku ceritakan.. Kisah cintaku dengan wanita yang paling aku cintai.. Shica Mahali.. " batin Raihan.


"Kalau begitu, ayo ceritakan.. Aku ingin mendengarnya" kata Rania sambil melangkah mendekat.


Raihan mengulurkan tangannya. Tangan mereka berdua hampir bersentuhan. Namun Shica lebih dulu menggenggam tangan Raihan. Rania menoleh kearah Shica. Raihan menatap Shica.


"Aku ada disini.. Jika kau ingin menggenggam tangan seseorang, maka genggamlah tanganku " kata Shica. Raihan tersenyum tipis kemudian mengangguk pelan.


"Hhh.. " Shica meringis. Dia menyentuh perutnya.


"Rastani.. Apa kau merasa sakit lagi? " tanya Reynaldi sambil mengusap perut Shica. Shica mengangguk.


"Sepertinya kamu mau melahirkan.. Ayo.. Aku akan membawamu ke dokter spesialis kandungan " kata Reynaldi sambil mengangkat tubuh Shica dan membawanya pergi.


"Aku tidak akan mati dulu.. Aku ingin melihat putraku" kata Raihan.


Rania tersenyum kemudian duduk ditepi ranjang dan menatap Raihan. "Aku akan menunggu.. " kata Rania lirih.


Rania tersenyum. "Aku tahu.. Namun dia tidak bisa melupakanku.. Dia masih mencintai diriku" kata Rania.


Raihan tersenyum. "Percaya diri sekali" kata Raihan. Rania tertawa.


"Apa disana ada tempat untukku? " tanya Raihan.


"Tentu saja.. Tempat yang sangat luas.. " jawab Rania.


"Apa kau bahagia disana? " tanya Raihan. Rania tersenyum. "Kau akan tahu nanti" kata Rania.


Sementara itu, Shica tengah berjuang melahirkan bayinya. Reynaldi yang mendampinginya. Menggantikan Raihan.


"Reynaldi.. Sakit! " teria Shica.


"Sedikit lagi, Nyonya.. Ayo.. " kata dokter perempuan yang menangani kelahirannya.


Terdengar tangisan bayi yang menggema. Reynaldi menatap Shica kemudian tersenyum.


"Kamu hebat " kata Reynaldi kemudian mengecup kening Shica. Shica tersenyum tipis.


Setelah suster membersihkan bayi kecil itu, dia memberikannya pada Reynaldi menggendongnya.


"Selamat,Tuan anda sudah menjadi seorang ayah dan lihatlah bayi tampan anda" kat suster itu. Reynaldi tidak keberatan jika suster itu mengira kalau dirinya adalah ayah dari bayinya Raihan dengan Shica.


"Terimakasih " kata Reynaldi. Suster itu pun berlalu.


Reynaldi menatap lembut pada bayi kecil dipangkuannya. "Selamat datang di dunia, bayi manis" kata Reynaldi. Shica tersenyum.


"Reynaldi.. Kumandangkan adzan ditelinganya" kata Shica.


"Apa tidak apa-apa? " tanya Reynaldi. Shica menggeleng. Reynaldi mengumandangkan adzan di telinga bayi itu.


Shica tersenyum. Setelah Reynaldi selesai mengumandangkan adzan, dia memberikan bayinya pada Shica.


Shica menatap bayi kecilnya. Kedua matanya kelam seperti langit dimalam hari. Hidungnya mancung. Bibirnya mungil. Shica melihat gambaran kecil wajah Raihan.


"Kau harus memberikannya ASI" kata Reynaldi. Shica pun menyusui bayinya.


Beberapa menit kemudian, Reynaldi teringat pada Raihan. "Raihan harus melihat bayinya " kata Reynaldi. Shica mengangguk.


Sementara itu, Raihan menatap langit-langit kamar rawat. Pintu kamar itu terbuka. Raihan menoleh pelan. Ternyata Reynaldi mendorong kursi roda dimana Shica duduk sambil menggendong bayi.


Raihan terkejut. "Ba.. Bayiku? " tanya Raihan. Shica mengangguk dan menidurkan bayinya di samping Raihan. Raihan tersenyum.


"Terimakasih, kau sudah menjadikanku seorang ayah di detik-detik ini, Shica" kata Raihan sambil mengusap rambut Shica. Shica tersenyum haru.


Bayi kecil itu menyentuh hidung ayahnya. Raihan tersenyum. "Mulai dari sekarang, kamu tidak akan membuat perut Mamamu sakit, kamu harus membuatnya tertawa.. Membuatnya bahagia.. " bisik Raihan. Bayi kecil itu tersenyum seolah mengerti dengan apa yang diucapkan ayahnya.


"Namamu.. Aldevaro.. Pemimpin yang baik.. Aldevaro.. Abdurrachman.. " kata Raihan sambil menyentuh dahi bayi kecilnya. Shica dan Reynaldi tersenyum.


Raihan pun menutup matanya. Shica terkejut. Dia menyentuh dada Raihan.


"Raihan.. " panggil Shica pelan.


"Raihan.. " panggil Shica lagi.


Bayi kecil itu menangis dengan tiba-tiba. Shica tercengang karena dia tidak bisa merasakan detak jantung Raihan. Reynaldi segera keluar memanggil dokter.


"Raihan! Kau selalu ingkar janji!! Kau bilang kau tidak akan pergi! Kau tidak akan pernah meninggalkanku! Kau selalu ingkar janji! Jangan tinggalkan aku, Raihan! " teriak Shica.


"Don't leave me.. "


"Don't leave me.. Raihan.. " tangis Shica.


Bayi kecil itu terus menangis. Shica menangis histeris. Tanpa dia sadari, Raihan berdiri di belakangnya.


"Terimakasih, Shica.. Kau sudah mau menjadi pendamping hidupku.. Maafkan aku yang selalu mengingkari janjiku.. Sekarang suamimu hanya Reynaldi, tugasmu hanya satu.. Yaitu jadilah istri dari seorang Reynaldi Adiwijaya.. Aku sudah selesai disini dan akan pergi.. Aku menunggumu disana.. Tapi jangan terlalu cepat menyusulku.. Aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu" kata Raihan yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Shica. Kemudian dia berbalik. Tangan kecil itu menggenggam tangannya. Tak lain itu adalah Rania. Merekapun menghilang ditelan cahaya putih.


Shica menggendong bayinya. Dia mencium kening bayinya.


"Mama disini, sayang.. Papa sudah pergi.. Dia tidak akan kembali, tapi cintanya selalu bersama kita"


By


Ucu Irna Marhamah