
Hari cerah sudah tiba. Ratih memilih menghabiskan tidur malamnya di kamar Lexa. Terlihat Ratih sudah segar setelah mandi pagi. Pakaian blus berwarna hitam yang dia padukan dengan celana longgar berwarna abu-abu itu membalut tubuhnya kini.
Ratih duduk sendiri di bangku dekat meja belajar Lexa. Tangannya terlihat tak bisa diam. Dia membuka lembar demi lembar buku diary Lexa yang dia temukan di sela koleksi buku Lexa.
Rupanya Ratih sangat tertarik membaca buku yang ditulis sendiri oleh tangan Lexa sebelum pergi jauh meninggalkannya.
Ratih nampak terharu setiap membuka lembaran diary Lexa itu, tapi tak sampai menitikkan airmata.
Ratih sangat berkonsentrasi membaca tulisan tangan Lexa yang rapi di buku itu. Angan Ratih melayang membayangkan Lexa yang sedang menulis sebuah catatan keseharian.
**
Hari ini tante Ratih mengajakku untuk pindah. Pergi jauh dari tempat aku dilahirkan. Jauh dari Ibu...
Aku tak tahu bagaimana sebenarnya perasaanku. Di satu sisi aku senang bisa meninggalkan kota ini. Tapi di sisi yang lain, entahlah....
Tapi...
Aku melihat kesungguhan tante Ratih yang ingin aku hidup dengan layak. Jauh dari masa lalu yang mengganjal perasannya. Dan yang pasti membelenggu pikirannya.
Aku tak akan tega melihat tante sedih.
Bagaimanapun tante Ratih sudah mempersiapkan masa depanku dengan baik.
Bahagia...
Tentu...
Aku akan memulai hidup baru di tempat baru. Tempat yang Tante Ratih siapkan untukku. Tempat yang jauh dari masa-masa kelam yang ku lalui.
Dan sedih, itu pasti...
Aku akan pergi jauh dari Ibu dan Ayah. Jauh dari orang-orang yang aku kenal. Walaupun mereka juga sudah memutuskan untuk tidak mengenalku lagi.
Beradaptasi lagi dengan tempat baru dan situasi baru, apakah aku bisa?
**
Begitu isi satu lembar tulisan di buku diary milik Lexa yang sedang Ratih baca.
Masih banyak rangkaian kata lagi yang sudah Lexa goreskan di buku berwarna cokelat krem itu. Dan Ratih sudah membaca setengah halaman dari buku itu. Ratih menjadi seorang kutu buku sekarang.
Begitu asyiknya Ratih dengan buku bacaannya, sampai tak menyadari jika Martha sudah berdiri di ambang pintu kamar Lexa.
Martha masih mencoba mengetuk pintu kamar Lexa yang padahal sudah terbuka. Martha dengan jelas bisa melihat Ratih yang sedang duduk santai, asyik dengan dunianya sendiri.
Sampai dia tak menyadari akan keberadaannya.
Martha tidak putus asa. Dia mengeraskan ketukan tangannya di pintu, sambil menyapa Ratih dengan sedikit berteriak.
"Bu Ratih!!" Sapa Martha.
Kali ini Ratih mendengar suara Martha dengan jelas. Walaupun dengan sedikit terkejut, Ratih berusaha menyapa Martha dengan baik.
"Ya, Bu Martha." Jawab Ratih dengan muka sedikit gugup.
"Maaf, Bu Ratih. Saya sudah mengetuk pintu rumah sebelum masuk ke sini. Tapi tak ada jawaban. Jadi saya rasa Bu Ratih pasti ada di kamar Lexa." Jelas Martha.
"Oh ya, Bu Martha. Maaf, saya... Tidak mendengar kalau Bu Martha mengetuk pintu. Maafkan saya, Bu." Ucap Ratih meminta maaf atas sikapnya kepada Martha.
"Tidak apa-apa, Bu Ratih." Tegas Martha.
"Tidak, Bu Ratih. Tidak ada apa-apa. Hanya saja... Tadi, dokter Angga menghubungi saya." Jelas Martha sedikit terbata.
Martha seperti tidak enak hati membahas hal ini dengan Ratih. Dia terlihat berusaha menjaga pembicaraan soal dokter Angga dengan hati-hati di depan Ratih.
"Maaf... Bukannya saya mau ikut campur, Bu Ratih. Tetapi saya rasa, dokter Angga sangat mengkhawatirkan Bu Ratih." Imbuh Martha .menjelaskan.
Ratih masih terdiam. Ratih terlihat santai dan tak secuil pun menunjukkan sikap kurang nyaman dengan penjelasan Martha.
"Dokter Angga berpesan: jika saya sedang bersama Bu Ratih, saya diminta untuk menghubunginya." Jelas Martha lagi.
Ratih melirik Martha yang berada di depannya. Dia nampak canggung dan sedikit malu.
"Bagaimana Bu Ratih? Boleh saya hubungi dokter Angga sekarang? Sepertinya dokter Angga ingin menyampaikan sesuatu kepada Bu Ratih." Rayu Martha.
Ratih terlihat bimbang. Ratih juga terlihat salah tingkah. Tapi Martha tak pantang menyerah. Dia berusaha untuk membujuk Ratih agar mau berbicara dengan Angga lewat telepon selular miliknya.
Dengan sedikit ragu, Ratih menjawab bujukan Martha soal Angga dengan anggukan kepala perlahan. Ratih berarti setuju untuk berbicara atau sekedar mengobrol dengan Angga.
"Baiklah, sebentar saya akan mencoba menghubungi dokter Angga lagi." Ujar Martha.
Martha terlihat sedang memencet telepon selular yang dia pegang. Tapi gerakannya berhenti. Martha menatap Ratih penuh arti.
"Bu Ratih... Saya hanya memberi saran sebagai sesama wanita." Kata Martha perlahan.
Martha sedikit mendekatkan diri ke arah Ratih yang masih terpaku. Martha mengelus lengan Ratih layaknya seorang sahabat yang ingin memberi perhatian.
"Ikutilah apa kata hati Bu Ratih. Jangan dipendam lagi perasaan yang mengganjal disana. Saya sudah pernah terluka oleh perasaan seperti itu. Sekuat apapun saya coba untuk mempertahankan logika saya, nyatanya malah membuat saya lebih terluka." Kata Martha sedikit mencurahkan pengalamannya.
"Lihatlah saya, Bu Ratih! Saya bercerai dengan Ayahnya Erick. Sudah lama saya memendam keinginan untuk bercerai karena sikap Ayahnya Erick yang membuat saya tidak nyaman. Tapi karena logika saya masih mempertimbangkan kebahagiaan anak-anak, saya selalu memendam keinginan untuk bercerai. Tapi sungguh, semakin lama malah semakin menyakitkan. Jadi, saya hanya sedikit berpendapat. Jangan pernah memendam perasaan. Ungkapkan, Bu Ratih! Berikan kebahagiaan untuk hatimu sendiri. Karena kebahagiaan itu datangnya dari hati. Dan kebahagiaan itu kita yang rasakan, kita yang memperjuangkan. Jangan dengarkan omongan orang yang tidak tahu apa-apa dengan diri kita." Tegas Martha.
Ratih terpana mendengar perkataan Martha yang menjelma menjadi seorang Kakak untuknya. Ratih menjadi cengeng. Dia tak kuasa lagi menahan airmatanya.
Martha akhirnya mendekap Ratih, sedikit menepuk punggung Ratih agar Ratih menjadi tenang.
"Terimakasih, Bu Martha." Ucap Ratih haru.
"Sama-sama, Bu Ratih. Jangan sungkan untuk berbicara dari hati ke hati dengan saya. Saya bukan orang lain." Ucap Martha.
Ratih begitu mendekap Martha begitu dalam. Dia merasakan kenyamanan di dalam pelukan Martha. Dia merasa menemukan sosok Kakak perempuan dalam diri Martha.
"Sudah, Bu Ratih. Jangan menangis lagi. Saya akan menelpon dokter Angga. Saya yakin dia sedang menunggu kabar dari saya." Celoteh Martha.
Keduanya pun akhirnya melepaskan pelukan. Ratih menyeka airmatanya, sementara Martha sudah siap menelepon Angga.
"Halo, dokter Angga." Sapa Martha lewat telepon selularnya.
Ratih sedikit berdebar. Dia terlihat canggung. Bagaimanapun dia akan berbicara dengan Angga sekarang, setelah beberapa hari ini dia menghindari Angga karena situasi terakhir kali mereka bertemu tidak menyenangkan.
Ratih masih menyiapkan napasnya yang tidak karuan karena debaran hatinya semakin kencang. Tapi Martha sudah mengarahkan telepon selularnya ke arah Ratih.
Martha memberi isyarat kepada Ratih untuk mengambil telepon selularnya. Martha tahu kalau Ratih sedikit ragu-ragu. Tapi Martha memberikan tatapan keyakinan kepada Ratih agar mau menghadapi Angga meskipun lewat telepon.
"Saya akan menunggu di luar." Bisik Martha kepada Ratih.
Ratih mengangguk.
Telepon selular Martha sudah di tangannya. Perlahan dia gerakan telepon Martha mendekat ke telinganya. Ratih menghela napas panjang, mempersiapkan diri menghadapi Angga.
"Halo...."