Don't Leave Me

Don't Leave Me
Takdir Tuhan



Ratih masih bimbang, akan mengangkat ponselnya atau tidak. Tapi nama Angga dalam ponselnya tidak berhenti berharap agar Ratih mau mengangkatnya.


Dengan penuh pemikiran yang mantap, akhirnya Ratih raih telepon selulernya yang tak berhenti berdering. Ratih menekan tombol bersimbol gagang telepon berwarna hijau itu dengan keyakinan yang mantap.


"Halo..." Sapa Ratih.


"Halo...." Suara Angga yang terdengar lega karena panggilannya Ratih tanggapi.


"Ada apa, Ngga?" Tanya Ratih tanpa basa-basi.


"Sedang apa kamu? Kenapa lama menjawab panggilanku?" Keluh Angga.


Ratih tersenyum geli mendengar gerutu Angga.


"Tadi saya ragu mau mengangkat Panggilan anda atau tidak." Ledek Ratih.


"Kenapa??? Aku sengaja membelikan ponsel untukmu agar aku tidak merepotkan Kak Martha." Jawab Angga.


"Hah? Siapa? Kak Martha?" Tanya Ratih.


"Iya... Kak Martha." Jawab Angga yakin.


"Sejak kapan kamu panggil, Bu Martha dengan sebutan Kakak??" Ucap Ratih sedikit terkekeh.


Ratih benar-benar meledek Angga kali ini. Dia merasa geli dengan panggilan Angga untuk Bu Martha.


"Kenapa? Kak Martha sendiri gak keberatan loh! Lagian beliau sudah banyak membantuku selama ini." Jawab Angga tulus.


"Begitukah?" Tanya Ratih masih dengan tawa yang terdengar seperti orang yang sedang bergurau.


"Koq kamu ketawa? Beneran loh, Kak Martha gak keberatan aku panggil seperti itu. Kamu juga harus panggil dia Kakak. Bagaimanapun dia sudah menjadi sosok yang melindungi kamu." Jelas Angga.


Ratih yang tadinya tertawa karena geli dengan panggilan yang dirasa aneh untuk Martha, kini mendadak berpikir dalam setelah mendengar ucapan Angga.


"Kamu sedang apa?" Tanya Angga santai.


"Ya lagi ngobrol sama kamu, lah." Balas Ratih datar.


"Kamu gak tanya aku sedang apa??" Tanya Angga lagi.


Ratih sedikit mengerutkan keningnya. Penasaran dengan jawaban pertanyaan Angga tadi.


"Memang kamu sedang apa?" Tanya Ratih.


"Merindukanmu." Jawab Angga singkat.


Ekspresi Ratih mendadak berubah, antara menahan lucu dan malu.


Ratih merasa sedang berbincang dengan anak yang baru lulus SMA. Karena sikap Angga yang tidak biasa kepadanya, membuat Ratih hanya geleng-geleng kepala saja.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Angga lagi.


"Baik. Kan kita baru bertemu tadi pagi." Jawab Ratih masih dengan raut wajah heran masih belum percaya yang menjadi lawan bicaranya adalah Angga.


Sekarang sudah sore, Angga pasti sudah sampai di kota. Mungkin dia sedang berada di Rumah Sakit atau mungkin sedang di rumah.


"Masa?? Perasaan sudah lama sekali kita tidak bertemu." Jawab Angga menolak pernyataan Ratih.


"Kamu kenapa sih? Kayak bukan Angga yang aku kenal." Tegas Ratih.


"Aku kangen kamu." Jawab Angga tanpa basa-basi.


Sekali lagi kata-kata Angga membuat Ratih heran. Walaupun dengan wajah yang sudah mulai semu memerah, Ratih masih saja tak percaya kalau Angga bisa bersikap layaknya anak muda yang sedang dimabuk cinta.


"Ratih..." Sapa Angga lirih.


"Mmmm..." Ratih menjawab seenaknya.


"Soal Mama..." Angga sedikit ragu.


Ratih terdiam sejenak. Dia ingin mendengarkan apa yang akan bicarakan oleh Angga tentang Mamanya.


"Bagaimana menurutmu soal keinginan Mama?" Tanya Angga sedikit terdengar tak enak hati.


"Soal apa?" Tanya Ratih mencoba menguak isi hati Angga.


Angga terdengar menghela napasnya dalam, hingga terdengar jelas dari balik ponselnya Ratih.


"Menurutmu bagaimana?" Ratih membalikan pertanyaan Angga, dia ingin mendengar pendapat Angga pribadi.


Angga diam, mungkin dia sedang mencoba merangkai kata agar tidak menyinggung perasaan wanita pujaannya itu.


"Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan itu. Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu. Tidak ada yang bisa memaksa, termasuk Mamaku." Tegas Angga.


Ratih merasa tenang. Dia sekarang yakin, lawan bicaranya adalah Angga. Seseorang yang sangat dia kenal lahir dan batin.


"Apapun keputusanmu, perasaanku akan tetap sama. Aku masih mencintai kamu. Dan aku juga masih ingin bersamamu." Imbuh Angga.


Benar. Ini Angga dengan bahasanya yang sesuai dengan usianya.


"Aku tidak menolak. Aku meyakinkan Mamamu kalau aku mau menjalani tes." Ucap Ratih mantap.


"Kenapa??" Tanya Angga penasaran.


"Gak ada alasan apapun. Aku hanya merasa apa yang Mamamu katakan benar. Aku terlalu dekat dengan ODHA. Maka dari itu aku harus menjalani tes juga agar terdeteksi juga kan, aku tertular atau tidak. Setidaknya jika aku tertular aku bisa mempersiapkan diri." Jawab Ratih santai.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Keluh Angga lagi.


"Kamu seorang dokter, Ngga. Kamu pasti lebih tahu resikoku sebagai seorang care-taker. Lagian tidak ada salahnya cek kesehatan. Aku sudah lama tidak tahu tentang kodisiku sendiri." Ungkap Ratih santai.


"Kapan kamu akan tes? Biar aku antar." Pinta Angga.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Tolak Ratih halus.


"Aku ingin mengantarmu!" Tegas Angga.


Jawaban Angga membuat Ratih terkekeh.


"Aku serius Ratih!" Ulang Angga.


"Iya.. Aku juga serius. Aku tidak perlu diantar. Aku bisa sendiri." Ratih berusaha meyakinkan.


"Gak bisa! Aku harus ikut. Aku harus menjadi orang pertama yang mengetahui hasilnya." Yakin Angga.


"Terserah kamu saja!" Ratih sedikit kesal.


Dia tahu Angga sedang menjadi orang yang protektif. Tidak akan berguna jika Ratih berdebat dengannya.


"Kapan kamu siap? Malam ini?? Biar aku jemput!" Ucap Angga sigap.


"Angga!!" Ratih mulai tak sabar.


Ratih sudah berusaha menahan kesabarannya. Dan kini akhirnya habis sudah kesabarannya.


Angga terkekeh dari tempatnya. Dia sepertinya sukses menggoda Ratih agar Ratih marah dan kesal kepadanya. Sementara Ratih sedikit mendengus kesal. Tapi akhirnya ikut tertawa juga atas ulah Angga kepadanya.


"Baiklah, kapan kamu siap tolong hubungi aku. Biar nanti aku siapkan semuanya." Ucap Angga serius.


"Iya..." Balas Ratih serius.


"Ya sudah, akan ku tutup teleponnya. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sampai telat makan. Kamu sudah sangat kurus." Ucap Angga menasihati Ratih.


"Iyaaa... Bawel!" Jawab Ratih sedikit kesal.


Angga tertawa. Dia senang sekali rupanya bisa membuat Ratih marah.


"Sudah, tutup teleponnya! Saya harus bekerja. Kak Marthamu ingin bajunya cepat selesai." Gurau Ratih.


"Oh ya?? Baiklah. Selamat bekerja. Buat baju yang bagus untuk Kak Martha. OK?!" Ujar Angga.


"Siap, Pak Dokter." Jawab Ratih.


Dan akhirnya pembicaraan mereka berakhir, setelah Angga menutup panggilannya.


Ratih masih tersenyum mengingat pembicaraan tadi dengan Angga. Dia masih belum percaya bisa sedekat ini dengan Angga setelah sekian lama mereka memilih jalan mereka masing-masing.


Kita tidak pernah tahu atas takdir yang telah dipersiapkan Tuhan untuk manusia. Sekeras apapun mereka berusaha untuk mencapai sesuatu yang mereka inginkan, tapi ketika Tuhan masih belum merestui tidak akan pernah sampai apapun keinginannya.


Tapi jika Tuhan sudah menuliskan apapun yang menjadi keinginan-Nya, maka cara semudah atau bahkan sesulit apapun akan datang pada tujuannya. Itu sudah hukum Tuhan.


Seperti yang dirasakan Ratih. Sejauh apapun dia menghindari Angga, jika Tuhan memang menuliskan kalau mereka harus bertemu, maka mereka pasti akan bertemu.


Dan bila mereka direstui Tuhan untuk bersatu, maka seterjal apapun jalan yang akan mereka lalui, pasti akan mengantarkan mereka pada kebersamaan. Itulah takdir Tuhan.