
Erick dan Lexa duduk berhadapan. Masing-masing bersandar pada papan kokoh kerangka gazebo yang sanggup menopang punggung mereka dan menyisakan kepala saja. Keduanya makan sandwich yang Lexa bawa sebagai bekal perjalanan dengan lahap. Ditemani derai hujan yang turun sedikit kasar. Untung ada tempat berteduh bagi mereka, setidaknya mereka tidak akan basah kuyup.
Lexa melahap rotinya sampai habis. Meneguk air putih dalam botol yang dia bawa untuk menghilangkan rasa sesak di tenggorokannya. Erick menawarkan rotinya kepada Lexa, karen takut Lexa masih merasa lapar. Tapi Lexa menolak. Dia sudah memberikan roti itu pada Erick, maka Erick berkewajiban untuk menghabiskannya. Erick pun akhirnya menyantap habis roti yang Lexa tawarkan padanya, kemudian meneguk air putih yang Lexa kucur di tutup botol air minumnya untuk diberikan kepada Erick. Keduanya merasa kenyang.
Tak terasa waktu sudah hampir sore. Tapi hujan tak kunjung berhenti. Masih setia membasahi bumi dan menyirami daisy yang sudah bermekaran. Lama mereka terdiam. Menikmati suasana dan perasaannya masing-masing.
Erick melirik Lexa yang raut wajahnya berubah. Seperti merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tubuhnya. Dengan sigap Erick mendekati Lexa.
''Kenapa? Ada yang sakit?" Tanya Erick panik.
Lexa hanya terdiam sesaat. Kemudian berusaha untuk mengatakan sesuatu.
"Aku.... Kedinginan." Jawab Lexa yang terlihat menggigil. Wajah dan mulutnya juga sedikit membiru.
Erick sedikit panik. Berusaha berpikir, lalu menemukan ide melepas jaket jeans yang dia pakai untuk menutupi tubuh Lexa yang hanya terbalut kaos putih lengan panjang.
Lexa masih terus menggigil. Giginya sampai terdengar beradu di dalam mulutnya.
Erick membuka tas punggung milik Lexa, berharap ada sesuatu di dalam sana yang bisa mengurangi rasa dingin Lexa. Dan benar. Untung Lexa membawa sebuah syal merah kotak-kotak yang memang sengaja dia bawa dan sempat dia pakai ketika di terminal.
Lexa membenamkan dirinya ke dalam jaket Erick yang dia pakai. Tangan Lexa sudah mendekap erat jaket milik Erick. Duduk bersilah mencari kehangatan di antara tubuh dan paha Lexa.
"Pakai ini!" Perintah Erick yang langsung memakaikan syal merah itu ke leher Lexa.
Lexa berusaha mengatur napasnya yang semakin tidak menentu. Tubuhnya juga semakin terasa kaku, apalagi hujan tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Hujan malah turun semakin deras.
"Kemarilah!"
Erick melebarkan tangannya, agar Lexa mendekat ke arahnya. Erick merelakan tubuhnya untuk Lexa dekap, dengan harapan dingin di tubuh Lexa sedikit berkurang.
Lexa menggeleng. Dia tak berani menerima tawaran itu, walaupun tubuh tegal Erick sedikit menggoda untuk dia dekap. Lexa hanya mengubah gaya duduknya yang tadi dalam keadaan silah sekarang dia duduk dengan kedua kaki di depan dadanya. Lexa pikir, kakinya juga sempurna untuk dia dekap. Erick agak kecewa, tapi dia berusaha untuk mengerti. Akhirnya Erick hanya bisa membetulkan syal Lexa dan jaketnya saja agar Lexa merasa nyaman. Dan Erick memutuskan untuk duduk di samping Lexa, tak ingin pergi jauh dari sisinya.
"Kamu ga pa-pa?" Tanya Erick khawatir.
Lexa menggeleng. Dia masih sempat melempar senyum kepada Erick, walaupun bibirnya sudah terlihat membiru.
Erick melihat sekeliling, Di depan Erick masih melihat ada dua sejoli yang masih tenang berada di gazebo. Dan sebelah kanan persis tempat Erick berada, masih ada satu keluarga yang terlihat seperti pasangan muda dengan satu anak balita masih berteduh menanti hujan reda. Erick merasa lega, karena dia dan Lexa ternyata tidak sendiri.
"Terimakasih, Rick." Ucap Lexa lembut.
"Hemmm??" Ucap Erick yang tadi masih berkonsentrasi mengamati sekitar, sehingga tak memperhatikan ucapan Lexa.
"Untuk apa?" Erick tampak seperti orang tak tahu apa-apa.
"Untuk semuanya. Semua yang sudah kamu lakukan. Untukku dan tante Ratih." Ucapan Lexa begitu merdu di telinga Erick.
"Ga ada yang aku lakukan untukmu dan tante Ratih. Semua yang aku lakukan itu karena aku yakin kalian berhak mendapatkannya." Ucap Erick dengan kepala tertunduk.
"Kamu tahu, Rick. Tanteku sudah banyak berkorban untukku. Bahkan dia rela menghabiskan sisa hidupnya untukku. Aku yang sakit, tapi tante Ratih yang hancur. Sudah sangat lama saat Ibu masih hidup, tante sudah berkorban banyak untukku. Sebenarnya aku selalu merasa bersalah kepadanya. Semua kemalangan ini adalah beban untuknya. Tapi tante tak pernah sedikitpun mengeluh. Dia tetap menjadi tante Ratih yang super, yang mandiri, yang kuat. Itu yang membuatku selalu luluh di hadapannya." Ucap Lexa sambil menarik napas panjang. Seperti ingin melepaskan semua beban yang ada dalam hatinya.
Erick dengan tenang mengimbangi Lexa. Erick merasa senang, karena Lexa sudah mulai nyaman berada di dekatnya.
"Bolehkah aku minta tolong sesuatu kepadamu?" Pinta Lexa.
Erick menatap Lexa. Kemudian terhipnotis tatapan Lexa yang selalu mempesona, sehingga dengan spontan langsung mengangguk.
"Tolong beritahu dia, kalau dia adalah segalanya untukku. Aku tidak akan sampai sejauh ini, bernapas seperti ini, duduk damai seperti ini tanpa usaha dan doa tanteku. Bilang padanya juga, kalau dia harus menjalani kehidupan normalnya lagi. Dia harus bahagia. Lalu bilang juga padanya, agar tidak terlalu sering menangis." Ucapan Lexa sedikit tertahan.
"Untuk apa kamu beritahu aku? Kamu yang akan menyampaikan sendiri, langsung dihadapan tante Ratih. Dia sedang menunggumu pulang. Jangan bicara macam-macam." Erick sedikit emosi.
Lexa mulai sedikit kacau, dia tidak bisa menghentikan lelehan airmata yang jatuh di pipinya.
Airmatanya tak kuasa lagi dia tahan. Tapi dengan sekali usapan lembut dari jemari Erick, airmata itu menghilang dari pipinya. Lexa sedikit tersentak mendapat perlakuan seperti itu dari Erick. Dia menatap Erick yang menggelengkan kepalanya, memberi Lexa isyarat agar Lexa tak menangis. Lexa paham. Dia hanya berusaha mengembangkan senyum sekuat tenaganya, melepas kesedihan di hadapan Erick.
"Kamu tahu, Lexa.." Ucap Erick.
Lexa menatap Erick penasaran.
"Pertama aku melihatmu dari balik jendela kamarmu. Aku langsung berpikir, kamu adalah orang yang menyenangkan. Sangat periang. Karena dari balik jendela kamu tersenyum manis waktu itu. Tapi setelah kita bertemu saat di sekolah. Aku sedikit penasaran. Apakah orang yang aku lihat di sekolah itu sama seperti orang yang aku lihat dari balik jendela? Hampir setiap hari aku selalu ingin memastikan hal itu." Cerita Erick yang dengan seksama Lexa perhatikan.
"Ternyata aku memang benar. Kamu adalah orang yang menyenangkan, periang, dan juga kuat. Sama kuatnya dengan tante Ratih." Puji Erick.
Lexa hanya tersenyum kecil.
"Teruslah menjadi seperti ini, Lexa.. Kamu berhak menjalani kehidupanmu sendiri. Jangan pedulikan dunia yang tak menganggapmu. Selama kamu memiliki tante Ratih dan keberanian yang ada pada diri kamu sendiri, berjuanglah. Yakinlah, kamu tak sendiri."Kata-kata Erick menyemangati Lexa.
Lexa tersenyum bahagia dengan ucapan Erick.
"Terimakasih, Rick." Ucap Lexa tulus kepada Erick.
Kedua bola mata itu bertukar tatapan. Seperti biasa, bicara lewat energi dari mata. Berusaha menyelami perasaan masing-masing.