Don't Leave Me

Don't Leave Me
137



 


 


Pagi ini, Shica memasak untuk sarapan. Reynaldi keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.


"Pagi, sayang " Reynaldi mengecup pipi Shica.


"Pagi" jawab Shica.


"Roti dan selai stroberi? " tanya Reynaldi. "Iya.. Aku lupa membawa selai kacang kemarin" kata Shica.


Raihan keluar dari kamar mandi yang satunya lagi. Dia mengenakan jubah mandi.


"Tidak ada nasi? " tanya Raihan. "Maaf.. Tidak ada.. " kata Shica.


"Tidak masalah.. " kata Raihan sambil mengusap kepala Shica dengan lembut.


"Roti kalian sudah aku olesi dengan  sedikit selai stroberi.. Untuk Raihan, selainya sedikit.. Kopinya juga.. Untuk Reynaldi kopi capucino dan Raihan kopi mocha" kata Shica.


"Aku tidak berangkat kerja hari ini.. Karena Raihan yang akan pergi kerja" kata Reynaldi.


"Oh.. Ya sudah" kata Shica. Tiba-tiba Shica merasakan sakit pada perutnya.


"Aww" ringis Shica sambil menyentuh perutnya. Reynaldi dan Raihan segera menghampirinya.


"Perutmu kontraksi lagi? " tanya Raihan sambil menyentuh perut Shica. "Sakit " gerutu Shica.


"Apa mungkin kau mau melahirkan? " tanya Reynaldi sambil mengusap lembut perut Shica.


"Aku tidak tahu.. " ringis Shica. "Duduklah " kata Raihan. Shica pun duduk di kursi. Raihan mengusap perut Shica. Sementara Reynaldi mengusap kepala Shica.


"Sekarang sudah lebih baik.. Kamu berangkat saja" kata Shica. Raihan mengangguk. "Aku berangkat, ya" Raihan mendekatkan wajahnya pada Shica, namun dia melirik Reynaldi yang mengalihkan pandangannya.


"Sampai jumpa" Raihan tidak jadi mencium Shica. Dia berlalu sambil membawa rotinya dan kopinya.


Shica melirik Reynaldi. "Emm.. Apa kau tidak mau sarapan? " tanya Shica.


"Oh.. Iya iya " kata Reynaldi. Mereka pun menyantap sarapan pagi mereka.


"Emm.. Aldi.. Apa kau bisa mengantarku membeli susu formula ibu hamil? " tanya Shica.


"Iya, tentu saja.. Kenapa tidak " jawab Reynaldi. "Terimakasih " kata Shica.


"Jangan bilang terimakasih.. Aku suamimu juga.. Kau berhak meminta apapun dariku" kata Reynaldi. Shica tersenyum.


___


Mobil Raihan terhenti di pelataran kantor Abdurrachman. Dia keluar dari mobilnya kemudian memasuki kantor.


Para karyawan yang bertemu dengannya menyapa dengan senyuman ramah. Raihan membalas mereka dengan senyuman.


"Kau siapa? Penjaga!! " teriak Raihan. Namun orang itu memutar kursinya. Raihan terkejut.


"Kau tidak perlu memanggil penjaga.. Aku tidak akan lama" kata pria itu sambil beranjak dari duduknya menghampiri Raihan.


Kedua alisnya bertaut tajam menatap pria yang tidak lain adalah Sean.


"Bagaimana menurutmu jika aku memberitahu keluarga besar Abdurrachman kalau kau memiliki istri yang bersuami? " tanya Sean.


"Kenapa kau ikut campur urusan keluargaku? Kemarin kau hampir mencelakai istriku dan bayiku.. Apa tujuanmu? Balas dendam karena cintamu ditolak? Dan kau merasa harga dirimu terluka? " tanya Raihan sambil tersenyum sinis.


Kali ini Raihan ingin membuat Sean kesal. Raihan pandai berbicara dan tidak biasanya dia ingin mendebat Sean. Biasanya dia akan membiarkan Sean bicara seenaknya dan sekarang tidak lagi.


Sean menatap Raihan dengan tajam. "Aku benci ditolak.. Aku menyatakan perasaanku pada Shica dengan baik-baik dan dia malah menolak diriku.. "


"Dengan baik-baik juga" Raihan memotong ucapan Sean. "Dia tidak menolak kasar perasaanmu.. Kenapa? Karena kau temannya.. Dia tidak ingin menyakiti perasaanmu " kata Raihan.


"Dan aku benci! Kenapa dia lebih memilih Reynaldi.. Dia bahkan tidak lebih kaya dariku.. Dia tidak lebih tampan dariku.. Dia juga laki-laki berengsek yang suka mempermainkan wanita.. Suka menyewa jalang.. Sementara aku pria yang sejati yang tidak pernah menyentuh wanita sama sekali.. Kenapa dia memilih Reynaldi! " geram Sean.


Raihan mencerna kata-kata Sean. Dia tidak berniat memotong ucapan Sean.


"Dan kenapa juga dia tergila-gila padamu! Kau tidak terlalu tampan.. " kata Sean sambil berjalan mengelilingi Raihan dan menatap Raihan dari ujung kaki sampai ujung kepala.


".. Kau tidak terlalu menarik.. " sambung Sean. ".. Kau memang kaya dan bisa dikatakan baik.. Tapi menurutku, aku jauh lebih tampan darimu.. " ledek Sean.


"Jika Reynaldi bisa mendapatkan Shica dengan cara memaksa, kenapa aku tidak melakukannya dari dulu? Kenapa aku tidak jahat saja seperti Reynaldi? Kenapa dunia ini tidak pernah adil? Kenapa yang jahat selalu menang?! Karena orang baik terlalu lemah! Aku bosan menjadi orang baik! Aku bosan menjadi lemah! Aku harus jahat! " geram Sean.


"Dan.. Apa tujuanmu? Kau mau merebut Shica? " tanya Raihan.


Sean tertawa sarkas. "Yang benar saja.. Aku tidak mungkin merebut wanita seperti dia dari kalian, dia sudah tidak perawan.. Dia sudah mengandung.. Mau tahu apa tujuanku? Aku ingin membalas dendam! Jika Shica tidak pernah menjadi milikku, maka tidak boleh ada yang memilikinya " kata Sean penuh ancaman.


Raihan menautkan alisnya. "Balas dendam? Dendam akan membuatmu terjatuh, Sean.. Hentikan ini dari sekarang " kata Raihan penuh penekanan. Dia terlihat geram. Baru kali ini Sean melihat kemarahan diwajah Raihan.


"Aku tidak akan berhenti sebelum jalang itu... Hhkkkk" Sean tercekat saat Raihan mencengkram leher Sean dengan kuat.


"Kau boleh menghinaku, tapi tidak untuk istriku.. Kau memang pantas ditolak, kau bukan pria yang baik.. Kau bukan pria sejati.. Kau wujud nyata dari pria lemah yang bisanya hanya meneror dan mengancam.. Yang bisanya melawan perempuan.. Semoga kau sadar.. " Raihan mendorong Sean hingga Sean tersungkur ke lantai.


"Enyahlah dari hadapanku! Cepat! "


Sean tersenyum. "Sekarang kau mengusirku, pertemuan kita selanjutnya di pemakamanmu" kata Sean kemudian berlalu.


Raihan menautkan alisnya geram.


By


Ucu Irna Marhamah