Don't Leave Me

Don't Leave Me
Berharap Indah Pada Waktunya



Ratih berjalan gontai menuju ruang rawat inap Lexa. Ditemani Angga yang setia menemaninya. Angga menggenggam tangan Ratih erat. Angga tak mau melihat Ratih jatuh. Angga berjalan pelan mengimbangi langkah Ratih yang tertatih.


Awan duka sedang menyelimuti hidupnya. Betapa porak porandanya hati Ratih kini. Keluarga yang dia banggakan hancur lebur karena besarnya ego seorang Danang, kakak kandungnya sendiri. Lelaki yang selalu dia puja dalam hidupnya, ternyata membawa bencana bagi keluarganya sendiri.


Perasaan Ratih terkoyak. Dia tak tega melihat Lexa. Langkahnya terhenti seketika. Dia menangis memeluk Angga. Dengan getir Ratih merintih. Angga sadar, Ratih tidak baik-baik saja. Tapi apa yang bisa dia lakukan. Angga hanya bisa memeluk balas tubuh Ratih dengan seluruh perasaannya.


"Sabarlah... Kuatkan dirimu, Tih! Kamu harus tegar. Masih ada Lexa yang masih membutuhkanmu." Ucap Angga.


"Aku gak sanggup melihat Lexa, Ngga! Aku gak kuat!" Ratih mengerang pilu.


Angga sampai tak kuasa menahan airmatanya. Rasa sedih yang dirasakan Ratih menyentuh relung hatinya.


"Kamu harus bisa! Lexa benar-benar membutuhkan kamu. Kamu harus kuat! Kalau kamu seperti ini, bagaimana nasib Lexa?" Ucap Angga dengan sedikit terisak.


Ratih sesenggukan meremas jas putih Angga.


Lama Ratih terisak pilu di sana. Terduduk di lantai. Menumpahkan segala pilu di pelukan Angga. Mengecap getir yang dia rasakan. Lelah.


Ratih sadar. Dia langsung bangkit berdiri tegak. Angga masih terus mengimbanginya.


"Lexa sendiri kan? Aku harus menemaninya!" Tegas Ratih.


Langkahnya tak lagi gontai. Penuh energi dia langkahkan kaki menuju tempat Lexa berada. Dengan seluruh sisa tenaga yang dia punya, dia langkahkan kakinya untuk menemani Lexa.


Ratih sudah sampai di depan kamar Lexa. Sebelum membuka pintu, dia tarik napas panjang dan dalam. Mengerahkan seluruh tenaganya memegang daun pintu dan mulai membuka ruang rawat inap yang ditempati Lexa.


Ratih sedikit terkejut. Lexa sudah rapi dengan kopernya. Di samping koper juga sudah ada tas milik Ratih yang sudah ikut siap untuk ditenteng.


"Lexa... Mau kemana?" Tanya Ratih heran.


Lexa masih mengunci mulutnya. Bibirnya mengatup sempurna tak memberi jawaban atas pertanyaan Ratih.


"Lexa..." Sapa Ratih lagi.


Kali ini tubuh Ratih sudah berada di sampingnya. Mengelus pundaknya dengan hangat.


"Loh.. Lexa mau kemana? Hari ini Dr. Heryawan mau berkunjung." Ucap Angga yang melempar senyum semangat kepada Lexa.


Lexa masih bergeming.


"Lexa..." Sapa Ratih lagi.


"Lexa mau pulang, tante." Suara Lexa mulai terdengar.


Tatapan Lexa masih menatap kosong ke depan. Padahal Ratih tepat berada di sampingnya, tapi Lexa menghindari tatapan Ratih.


"Kenapa Lexa mau pulang? Kan Lexa masih diperiksa lagi sama dokter. Kenapa Lexa mau pulang?" Tanya Ratih.


"Lexa mau pulang tante! Lexa mau pulang!" Lexa bersikeras.


Suaranya berat. Airmatanya juga meleleh di pipinya. Ratih terlihat panik. Dia memeluk Lexa, mengelus lembut rambutnya. Ratih dan Lexa pun sama-sama berurai airmata.


"Lexa masih harus disini dulu. Dokter Heryawan masih belum selesai memeriksa Lexa. Lagi pula, hari ini Lexa mulai pengobatan." Jelas Angga lembut.


Lexa menggeleng yakin di pelukan Ratih.


"Lexa gak mau, Om! Lexa cuma mau pulang!" Tegas Lexa.


"Lexa mau pulang, tante! Lexa mau pulang! Lexa gak mau disini!" Rengek Lexa.


Pelukan mereka terlepas. Lexa menunjukkan muka penuh harap kepada Ratih agar mengabulkan keinginannya untuk pergi dari Rumah Sakit.


"Sayang... Kamu harus berobat! Tante gak mau lihat Lexa kesakitan. Lexa harus diobati dulu. Baru Lexa boleh pulang." Pinta Ratih.


"Gak, tante! Lexa mau pulang sekarang! Lexa mau pulang!!" Rengek Lexa semakin menjadi-jadi.


Ratih hanya bisa menenangkannya lewat pelukan yang dipaksakan.


"Lexa mohon, tante!! Lexa mau pulang!" Rintih Lexa.


Ratih hanya bisa memeluknya dalam perih. Sambil terus menepuk punggung Lexa, agar membuatnya tenang.


"Lexa mau nurut apa kata tante, gak?" Ratih sedikit menunjukkan wajah serius.


Lexa terdiam sejenak, menghentikan isak tangisnya yang sedikit dia tahan. Mendengarkan permintaan Ratih, orang yang sangat dia sayangi.


Kedua pasang mata mereka bertemu. Mata Ratih meyakinkan mata Lexa yang menatapnya dalam dan penuh luka.


"Tante... Apa jika Ayah berobat, Ayah bisa sembuh?" Tanya Lexa dengan napas berat.


Ratih terkejut. Begitu juga Angga. Mereka langsung bertatapan menahan keterkejutan atas pertanyaan Lexa.


"Lexa...." Sapa Angga yang mulai mendekat ke arah Lexa.


"Om... Jawab pertanyaan Lexa!" Ucap Lexa menatap Angga serius.


Angga seperti di paksa berhenti melangkah. Dia menatap Lexa dengan kalut. Angga tak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu. Apalagi tatapan mata Lexa benar-benar tajam menghunus ke dalam sanubarinya.


"Baiklah....Kalau begitu Lexa mau pulang!" Tegas Lexa lagi.


Dia menjadi anak yang keras kepala, yang tak mampu digoyahkan oleh bujuk rayu Ratih ataupun Angga.


****


Angga mengurus dokumen-dokumen penting di ruang administrasi. Angga sangat fokus dengan aktifitasnya, sampai-sampai dia tak sadar kalau dokter Heryawan sudah berada di sampingnya.


"Dokter Angga?" Sapa dokter Heryawan.


"Ya..." Jawab Angga santai.


Tak sadar jika dokter Heryawan yang menyapanya.


"Saya dengar Lexa ingin pulang." Kata dokter Heryawan.


Angga segera menoleh ke lawan bicaranya yang baru dia sadari adalah dokter Heryawan.


"Dok... Maaf. Saya tidak memperhatikan." Kata Angga yang terlihat salah tingkah di hadapan dokter seniornya.


Dokter Heryawan mengangguk pelan sambil mengembangkan senyum baik-baik saja.


"Benar yang saya dengar, kalau Lexa ingin pulang?" Tanya dokter Heryawan lagi.


"Oh... ya, Dok. Saya tidak bisa membujuknya." Kata Angga pasrah.


"Tidak apa-apa. Pasien seperti Lexa memang harus lebih dekat dengan keluarganya. Di saat kondisinya seperti sekarang ini, kita harus bisa membuat dia nyaman. Jangan membuatnya tertekan atau stres. Kondisinya sedang berada di masa-masa kritis." Jelas dokter Heryawan.


Angga mengangguk mencermati setiap perkataan dari dokter paruh baya itu. Dokter berpengalaman di bidangnya, sekaligus dokter senior yang pernah menjadikannya sebagai asisten dokter.


"Dokter Angga pasti paham, kalau menjaga seorang ODHA (red : Orang Dengan HIV/AIDS) penuh dengan resiko. Usahakan Ibu Ratih selalu dalam keadaan selalu steril. Jaga asupan makanannya. Dan periksakan juga Ibu Ratih untuk deteksi dini." Perintah dokter Heryawan.


Angga yang mendengarkan dengan seksama setiap ucapan dokter itu mengangguk yakin, pertanda dia siap untuk menjalankan perintah dokter Heryawan.


"Perlu anda ingat juga, dok. Kondisi Lexa semakin lama akan semakin menurun. Kekebalan tubuhnya sudah semakin rentan dengan infeksi dari luar. Jaga dia baik-baik. Ingat! Lexa tidak boleh dalam keadaan tertekan. Buat dia bahagia. Karena bisa jadi waktunya tidak lama lagi." Ucap dokter Heryawan.


Angga mengangguk pelan kali ini. Tak seperti anggukan pertama tadi. Perkataan dokter Heryawan kini sedikit membuat dia lemah. Tapi sebagai seorang dokter, Angga juga memahami bagaimana sebenarnya kondisi kesehatan Lexa.


Dokter Heryawan pergi meninggalkan Angga setelah menyetujui surat pernyataan keluarga dimana Angga tertulis sebagai walinya.


****


Angga bersiap memindahkan koper Lexa dan tas jinjing Ratih ke dalam mobilnya. Lexa sudah duduk santai di jok mobil bagian belakang. Tatapannya lemah. Lexa seperti orang yang kehabisan energi.


Ratih menemani Angga merapikan barang-barang bawaannya di bagasi mobil Angga.


"Aku akan menyusul. Aku akan urus beberapa izin cuti disini. Dan akan aku bawa beberapa peralatan medis yang kiranya nanti dibutuhkan oleh Lexa." Jelas Angga.


"Tidak usah repot-repot. Aku masih bisa menjaga Lexa disana." Balas Ratih santai.


Angga terlihat kecewa. Tapi dia berusaha santai menanggapinya. Bagaimanapun Angga akan tetap menyusul Ratih dan Lexa.


"Naiklah, semuanya sudah beres." Ajak Angga yang segera menutup kap bagasinya.


Ratih pun menuruti Angga. Dia membuka jok mobil bagian belakang, menemani Lexa yang ternyata sudah pulas.


Ratih melihat Lexa penuh haru. Mengelus rambut Lexa penuh rasa. Airmata selalu jatuh setiap kali melihat Lexa.


Angga melirik dua wanita di belakangnya. Mengutas senyum harapan kepada mereka. Berharap semua akan indah pada waktunya.