
Raihan duduk sendirian di bangku taman kota Perancis. Setiap dia duduk di taman kota, dia selalu ingat pada Shica.
Banyak kenangan yang terjadi di taman kota.
Dan dia sangat merindukan semua kenangan itu.
Rindu pada Shica..
Meskipun Shica tidak memilihnya. Dia tahu itu adalah kesalahannya sendiri karena meningalkan Shica begitu saja.
Sekarang Shica yang akan meninggalkannya.
Raihan meringis sambil menyentuh lengan kanannya. Tahun sudah berlalu. Luka operasi itu sudah sembuh.
Namun rasanya masih sakit.
Sepasang tangan menyentuh lengan kekar Raihan dengan lembut. Raihan terkejut dan menoleh ke sampingnya. Kedua matanya terbelalak lebar.
Ternyata Shica yang menyentuh lengannya. Kedua mata Shica sembab. Menandakan bahwa dia sudah menangis.
Entah alasan apa..
"Apakah sakit?" tanya Shica.
Raihan menyentuh tangan Shica kemudian meletakkan telapak tangan Shica ke dadanya.
"Tidak sesakit ini," jawab Raihan. Tangisan Shica meledak. Raihan menyentuh pipi Shica dan mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Kenapa menangis? Apa yang terjadi? Apa dia menyakitimu?" tanya Raihan.
Shica menggeleng. "Bukan dia.. Tapi aku.. Aku yang menyakitimu.. Maafkan aku.. Raihan.." Shica memeluk Raihan dengan erat.
Raihan membalas pelukan Shica.. Mereka melepas kerinduan yang selama ini mereka bendung.
"Dalam suatu hubungan tidak ada kata maaf.. Jika bersalah.. Maka berjanjilah untuk tidak melakukan kesalahan yang sama," kata Raihan.
Tangisan Shica makin menjadi. Dia sangat merindukan Raihan.
"Aku takut.. Raihan.. Aku tidak sanggup.. " kata Shica dengan suara bergetar.
"Takut? Tidak sanggup?" tanya Raihan tidak mengerti.
"Aku takut kehilanganmu.. Aku tidak sanggup lagi.. Aku tidak bisa seperti ini.. " tangis Shica.
Raihan mengeratkan pelukannya. "Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.. Aku berjanji.." kata Raihan.
Shica masih menangis.
"Menikahlah denganku.. Maka kita akan mengakhiri drama novel ini." kata Raihan.
"Tapi.. Reynaldi.. " gumam Shica.
"Apa kau lebih memilih dia?" tanya Raihan dengan ekspresi sedih.
"Aku tidak bisa meninggalkanmu.. Tapi aku juga tidak bisa menyakiti perasaan dia ataupun perasaanmu," kata Shica.
Raihan memegang kedua tangan Shica. "Apa kau masih ingat.. Dulu waktu kita masih SMP, kau pernah bilang, suatu hari nanti aku akan memohon padamu.. Aku sudah pernah melakukannya.. Dan sekarang.." Raihan menggantung kalimatnya.
Raihan menghela nafas sejenak. ".. Aku mohon.. Menikahlah denganku.. Kumohon jadilah pendamping hidupku.. Jadilah ibu dari anak-anakku dan.. Habiskan sisa hidupmu bersamaku sampai maut memisahkan.. Demi Tuhan Shica.. Aku tidak bisa bicara romantis.. Aku hanya bisa bilang kalau aku.. Sangat mencintaimu," kata Raihan.
Shica benar-benar dalam kebimbangan. Dia tidak bisa menyakiti perasaan Raihan, tapi di sisi lain, dia juga tidak bisa menyianyiakan pengorbanan Reynaldi.
Raihan menatap Shica dengan sendu.
"Aku sangat merindukan masa-masa yang telah kita lewati.. Menghabiskan waktu bersama.. Di taman kota.. " kata Raihan.
Shica terlihat sedih. Dia melelapkan kepalanya ke bahu Raihan.
"Masa-masa SMA kita adalah masa-masa yang paling menyenangkan.. Shica.. Aku juga merindukanmu.. Aku merasa.. Kalau kisah cinta kita seperti novel.." kata Raihan..
"Aku juga merasa begitu.. Tapi menurutku.. Kisah hidup kita lebih rumit.." kata Shica.
"Hanya saja.. Apakah kisah kita akan berakhir happy ending.. Atau sebaliknya.. Hanya kita yang bisa menentukan akhir cerita ini, Shica." kata Raihan.
Shica terdiam.
"Aku akan berusaha membuat kisah kita menjadi happy ending.. Sekarang tinggal jawaban kamu.. Semuanya ada padamu.." kata Raihan.
"Aku juga merindukan masa lalu kita.. Saat kau masih SMA.. Kau sangat manis dan menyebalkan.. Tapi aku suka.. Kau sangat nakal.. Tapi kau juga baik.. Kau memperdulikan orang lain.. Sementara kau sendiri dalam kesedihan." kata Shica.
Raihan tersenyum. "Aku juga lebih senang di masa itu.. Sekarang aku benar-benar sibuk dan kau benar.. Aku yang sekarang telah di perbudak oleh uang dan perusahaanku sendiri." kata Raihan.
"Masih ada satu pertanyaan," kata Shica.
"Katakan," kata Raihan.
"Kenapa kau tidak bilang tentang ibuku yang selalu menghalangi jalanmu? Kenapa kau baru bisa bilang sekarang?" tanya Shica.
Raihan terdiam sesaat. Dia menarik napas dalam-dalam kemudian dia pun angkat bicara. "Karena.. Ibumu sangat menyayangimu.. Aku tidak bisa menyakiti perasaan seorang ibu.. Karena aku juga memiliki seorang ibu.." jawab Raihan.
Shica terdiam sambil mencerna kata-kata yang di ucapkan Raihan. "Lalu bagaimana caramu untuk menikah denganku jika ibuku tidak menyukaimu?" tanya Shica.
"Aku akan bicara baik-baik.. " jawab Raihan. "Lalu jika ibuku menolak? " tanya Shica.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah kau memilih Reynaldi? Kau tidak perlu bingung memikirkanku," kata Raihan. Shica terlihat sedih. "Kau masih kesal?" tanya Shica.
"Entahlah.. " gerutu Raihan.
"Seharusnya kau bilang dari awal," kata Shica.
"Aku melihat kekhawatiran di mata ibumu.. Aku mengerti maksudnya.. Tadinya aku tidak mau bicara soal ini padamu.. Tapi karena kau selalu menanyakan alasannya, aku pun tidak punya pilihan lain" kata Raihan.
Shica menghela napas berat.
Raihan menatap Shica. "Apa Reynaldi pernah menyakitimu selama ini?" tanya Raihan.
"Dia tidak menyakitiku.. Dia hanya pemarah, pemaksa dan sedikit egois.. Tapi lupakan saja.. Dia tidak pernah kasar padaku," jawab Shica.
Raihan menyentuh bibir Shica. "Apa dia juga menyentuh bibirmu?" tanya Raihan. Kedua pipi Shica merona mendengar pertanyaan tersebut.
"Tidak perlu di jawab.. Aku sudah tahu jawabannya.. " kata Raihan kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Shica dengan lembut.
Kedua mata Shica membulat. Raihan memberikan kecupan hangat yang selama ini tidak pernah Shica rasakan lagi.
Apa Shica berubah pikiran dan akan memilih Raihan?
Atau tetap memilih Reynaldi?
By
Ucu Irna Marhamah