
Reynaldi Alexander Adiwijaya_
Perlahan aku membuka kedua mataku. Aku terkejut mendapati diriku yang telengkup menindih tubuh Shica, istriku. Oh dia pasti sangat keberatan dengan beban tubuhku.
Aku sedikit mencondongkan tubuhku. Melihat Shica tanpa sehelai benang pun dibawahku. Kedua matanya masih tertutup. Tubuh putih mulusnya yang mengkilap membuatku kembali tegang.
Aku ingat, semalam aku telah menyentuh Shica.
Dia benar-benar masih utuh..
Dan aku..
Telah berkata yang bukan-bukan.
Aku sudah menyakitinya..
Ada sedikit rasa senang karena dia telah menjaga kesuciannya dan aku yang pertama. Semalam aku juga benar-benar sangat puas. Aku melakukannya berkali-kali tanpa henti. Tanpa memperdulikan teriakan dan tangisan Shica.
Tapi ada rasa sedih di hatiku karena telah menyakiti dia.
Aku bahkan tidak pernah sekasar itu pada jalang-jalang yang pernah ku sewa dulu.
Aku telah mengingkari janjiku pada Shica untuk membahagiakan dia..
Yang ada aku telah membuatnya menderita.
Tubuhku dipenuhi bekas cakaran. Shica terus mencakarku untuk menghentikan perbuatanku. Rasanya tubuhku perih. Namun rasa perih ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Shica.
Aku membelai lembut pipi Shica. Terdapat darah kering dibibirnya. Semalam mungkin tanpa sadar aku menggigit bibirnya.
Terdapat tanda merah keunguan disekitar lehernya. Ada juga beberapa darah disana.
Apa semalam aku begitu kasar padanya?
Oh tidak..
Aku menyelimuti tubuh Shica. aku melihat pergelangan tangan Shica lecet dan sedikit berdarah. Mungkin semalam dia berusaha melepaskan diri sampai-sampai pergelangan tangannya seperti itu.
Setelah ini dia pasti akan sangat membeci diriku.
Oh aku sangat menyesal.
Ponsel Shica berdering. Aku beranjak dari tubuh Shica. Rasanya tubuhku pegal dan selangkanganku ngilu. Aku memakai boxer ku.
Aku mengambil ponsel Shica dan kulihat nama Raihan tertera dilayar ponsel.
Aku pun mengangkat panggilan darinya.
"Selamat ulang tahun, Shica.. Sekarang biar kutebak.. Usiamu pasti 25 tahun.. Atau 24 tahun ya? " kata Raihan dari seberang sana.
Aku melirik Shica lalu kemudian melirik kalender. Aku bahkan tidak tahu kapan hari ulang tahunnya.
Suami macam apa aku ini..
Tidak berguna.
"Oh ya, pasti suamimu yang pertama kali mengucapkan, oh ya kalau boleh tahu, dia memberikanmu apa? Wah pasti romantis kan.. Hehe "
Aku merasa sedih. Aku sudah berpikir yang bukan-bukan tentang kedekatan mereka.
Shica Setia padaku dan Raihan sama sekali tidak berbuat buruk pada Shica. Meski kadang dia menyebalkan.
Aku sangat menyesal.
"Shica kenapa kau diam saja? "
Aku terhenyak dari lamunanku. "Emm.. Raihan.. Ini aku " kataku.
"Oh hehe hai Rey.. Ku pikir Shica.. Oh ya.. Kau memberikan hadiah apa untuk Shica? "
"Emm.. Aku belum memberinya apapun.. "
Bahkan aku belum mengucapkan apapun.. Aku telah menyakiti dia..
"Menurutmu, aku harus memberinya apa? Dan bolehkah aku ke rumahmu? Itupun jika kau mengizinkan"
"Tentu.. Kau boleh kemari dan memberikan hadiahnya" kataku.
"Sungguh.. Kau suami yang baik.. Shica beruntung mendapatkan cintamu.. Tidak seperti aku "
Bukan..
Aku yang beruntung memiliki dia..
"Emm.. Kami akan menunggumu" kataku kemudian mengakhiri percakapan kami.
Aku menoleh kearah Shica. Dia masih terlelap dalam tidurnya. Aku pun menghampirinya.
Aku memperdalam ciumanku. Dan perlahan kedua kelopak matanya bergerak.
Aku melepaskan ciumanku dan menatapnya.
Manik hazel itu memperlihatkan dirinya. Dia menatapku sejenak.
Namun kemudian, dia beringsut menjauh sambil mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kumohon.. Jangan lagi.. Jangan sakiti aku.. Aku lelah.. Jangan.. Rasanya sakit.. " tangis Shica dengan tubuh gemetar.
Aku sakit melihatnya seperti itu.
"Rastani.. Aku.. "
"Jangan.. " tangis Shica sesegukan. Tubuhnya gemetar hebat.
Aku menghampirinya kemudian memeluknya dengan erat. Aku bisa merasakan guncangan tubuhnya.
"Maafkan aku" bisikku ke telinganya. Aku merasakan kedua mataku perih dan buliran hangat terasa membasahi kedua pipiku.
Apa aku menangis?
Apa menangis rasanya sesakit ini?
"Maafkan aku.. " kataku lirih.
"Ke.. Kenapa.. Kenapa kau.. Melakukan ini" tangis Shica dengan suara bergetar.
"Maafkan aku.. " hanya itu yang bisa aku katakan.
"Aku.. Aku tidak pernah membuatmu kecewa.. Ke.. Kenapa kau menyakitiku.. Sa.. Sampai seperti ini.. " tangisan Shica semakin keras.
Aku menyesal, Shica..
Sungguh..
"Apa se.. Sekarang kau percaya.. Ka.. Kalau aku.. Ti.. Tidak pernah.. Melakukan hal buruk seperti.. Jalang? Apa.. Apa kau percaya? " tangis Shica.
"Maafkan aku.. Aku yang salah" aku mengeratkan pelukanku.
Beberapa menit dia menangis. Setelah kurasa dia berhenti menangis, aku melepaskan pelukanku kemudian menarik dagunya pelan agar menatap diriku.
Dia masih sesegukan. Dan kedua manik hazel-nya menatap takut padaku.
"Selamat.. Ulang tahun.. Untuk istriku sayang.. Semoga panjang umur dan sehat selalu.. Semoga semakin baik dan semakin cantik.. " aku menyenandungkan lagu ulang tahun versiku sendiri.
Dia masih menatap diriku. Kemudian dia memelukku.
Kebaikannya membuatku menderita. Dia bahkan tidak marah dan tidak membenciku setelah apa yang kulakukan padanya.
Mungkin dia memang marah, benci dan kecewa padaku, tapi dia tetap menghargai diriku meskipun telah kasar kepadanya.
Aku membalas pelukannya.
"Terimakasih.. Kau mengingatnya.. Kau yang pertama mengucapkannya" kata Shica.
"Bukan.. Raihan yang pertama kali mengucapkannya.. Tadi dia menghubungimu, tapi karena kau masih terlelap dalam tidurmu, aku yang menjawab teleponnya " kataku.
Tidak ada respon.
"Kau mau hadiah apa dariku? " tanyaku.
Masih belum ada respon.
Tentu saja..
Sulit sekali melupakan hal semalam. Dia tidak akan memaafkanku hanya dengan ucapan ulang tahun dan hadiah apapun dariku.
"Rastani.. " aku menarik dagunya agar dia menatapku.
Kami saling menatap. Namun dia mengalihkan pandangannya untuk memutuskan kontak mata diantara kami.
"Tidak ada"
"Raihan akan kemari.. Aku akan membantumu untuk bersiap-siap " kataku seraya bangkit dari ranjang.
By
Ucu Irna Marhamah
Jika ada yang perlu ditanyakan\, kalian bisa chat aku 085524677955. Chat-nya harus baik-baik\, ya. Aku pasti bales kok. IG @ucu_irna_marhamah follow yaaaaa.