
Usia kandungan Shica kini menginjak bulan ke delapan. Perutnya besar sekali. Raihan melarang Shica banyak beraktivitas. Dia takut Shica kenapa-napa.
Yang masak sarapan pagi pun sekarang adalah pelayan.
Bukan hanya Raihan yang cerewet, Nadhira dan Riska ikut cerewet apabila melihat kedua kaki Shica bengkak. Mereka akan memarahi Raihan.
Dan Shica akan tertawa jika melihat Raihan menjadi sasaran empuk mertua dan kakak iparnya.
Seperti saat ini, Nadhira sedang berkunjung ke mansion Raihan. Dia yang mewawancarai Shica dari mulai A hingga Z
"Apa Raihan jarang dirumah? " tanya Nadhira.
"Raihan selalu pulang tepat waktu " kata Shica sambil tersenyum.
"Lalu.. Apa dia pernah marah-marah padamu saat kau hamil besar? " tanya Nadhira.
"Emm.. Sering.. "
"Apa?! Dasar anak kurang ajar " gerutu Nadhira memotong ucapan menantunya.
"Emm.. Dia marah kalau aku telat makan.. Dia juga marah kalau aku bekerja terlalu keras.. Dia akan sangat marah kalau aku terlambat tidur.. Apalagi jika aku lupa meminum susu formula ibu hamil" kata Shica.
Nadhira tersenyum kemudian membelai lembut rambut Shica. "Aku sempat berpikir yang bukan-bukan " kata Nadhira sambil tertawa.
"Ya ampun.. Sayang.. Kakimu bengkak " kata Nadhira sambil membawa kedua kaki Shica ke pangkuannya.
"Ah tidak.. Jangan.. Ini tidak sopan.. Shica gak enak" kata Shica.
"Gapapa.. Kamu kan putrinya Mama juga.. " kata Nadhira. Dia memanggil salah satu pelayan.
"Amrita, tolong ambilkan obat gosok" kata Nadhira dengan bahasa Inggris.
Beberapa menit kemudian, pelayan itu kembali dengan obat gosok dan memberikannya pada Nadhira.
Dengan penuh kasih sayang, Nadhira memijat kaki Shica. Shica tersenyum.
"Kenapa sayang? " tanya Nadhira.
"Shica geli.. Dari kecil, Shica gak kuat kalo di pijit, Ma" kata Shica.
Nadhira tertawa. Dia memijit kaki Shica lagi pelan-pelan. Shica menahan kegelian itu.
"Dulu, Mama tidak melakukan ini pada Riska.. Hmm.. Dan sekarang Mama mau melakukan ini padamu.. Karena kamu Putri Mama juga" kata Nadhira.
Shica tersenyum. "Terimakasih.. Mama" kata Shica.
Nadhira tersenyum.
Raihan kembali dari kantor.
"Mama? Mama disini? Sama siapa kemari? Kenapa gak bilang dulu?" tanya Raihan.
"Bukannya ngucap salam, memangnya kenapa? Kamu gak suka liat Mama disini? " gerutu Nadhira.
"Bukan begitu.. Aku cuma khawatir sama Mama" kata Raihan.
"Mama kesini sendiri, Mama pengen tahu kabar Shica sama cucu Mama" kata Nadhira sambil bangkit dari duduknya.
"Mama mau kemana? " tanya Raihan.
"Mama harus pulang, kamu kan udah disini, jaga Shica dengan baik ya" kata Nadhira sambil menepuk bahu Raihan dan berlalu. Raihan mengikuti ibunya.
"Aku anterin sampe depan ya, Ma"
Shica membelai lembut perutnya yang besar. Beberapa menit kemudian, Raihan kembali dan menghempaskan tubuhnya di bekas duduk Nadhira.
"Kakimu masih sakit? " tanya Raihan sambil memijit kaki Shica.
"Ah tidak.. Tidak " kata Shica kegelian.
"Kamu gelian ya.. " goda Raihan sambil menggelitik telapak kaki Shica.
Sunyi..
"Kamu keliatan lelah banget " kata Shica. Raihan tersenyum dia melelapkan kepalanya di paha Shica. Shica membelai lembut rambut Raihan.
"Sayang, lihatlah.. Papamu manja sekali.. Apa nanti kamu juga akan semanja ini? " tanya Shica sambil membelai lembut perut besarnya.
Raihan tertawa. "Dia bukan hanya manja padamu, sayang.. Dia akan melindungimu dan senantiasa membuatmu tersenyum dalamnya keadaan apapun " kata Raihan.
"Semoga.. Seperti dirimu" kata Shica sambil membelai lembut rahang suaminya.
"Bukan hanya seperti diriku, dia harus seperti dirimu.. Peduli, baik, cerdas, dan berkuasa.. Tapi dia juga rendah hati " kata Raihan.
"Kenapa kamu tidak mau mengecek jenis kelamin anak kita.. Selama ini kamu selalu berpikir kalau anak kita adalah laki-laki.. Bagaimana jika perempuan? " tanya Shica.
"Aku yakin dia laki-laki.. Karena selama kamu hamil, kamu sama sekali gak rewel" kata Raihan. Shica tertawa.
"Maksudmu.. Kalau aku mengandung bayi perempuan, aku akan rewel? Begitu? " tanya Shica ketus.
"Biasanya begitu " jawab Raihan.
"Kamu tahu dari mana? " tanya Shica penuh selidik. "Aku hanya menebak.. Waktu kakakku mengandung Lala.. Kakak juga rewel.. " kata Raihan.
"Mungkin itu berlaku bagi sebagian ibu hamil " kata Shica.
"Iya.. Mungkin.. " Raihan bangkit dan menatap Shica. "Kenapa? " tanya Shica.
"Kamu udah minum susu formula untuk ibu hamil? " tanya Raihan.
"Belum.. " jawab Shica.
"Tuh kan kamu lupa lagi " gerutu Raihan sambil beranjak dari sofa menuju dapur.
Shica menghela napas panjang.
Raihan kembali dengan segelas susu berwarna merah muda yang pudar.
"Minumlah" kata Raihan sambil memberikannya pada Shica. Shica pun memiumnya.
"Terimakasih " kata Shica.
Raihan tersenyum sambil membelai lembut perut istrinya.
"Wah dia bergerak.. Sepertinya dia menendang tanganku" kata Raihan. Shica tertawa.
"Apa tidak sakit? " tanya Raihan. "Tidak ada rasa sakit bagi seorang ibu yang bahagia dengan kehadiran calon bayinya" kata Shica. Raihan tersenyum dan mendekatkan telinganya ke perut Shica.
"Halo, sayang.. Ini Papa.. Kamu lagi apa? Jangan nakal di dalam sana ya.. Kasian Mama " kata Raihan seolah berbicara dengan bayinya.
Shica tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Iya.. Papa bilang ke Mama, ya sayang " kata Raihan kemudian menatap Shica.
"Putra kecil kita bilang, Mamanya harus cium Papanya" kata Raihan.
Shica memundurkan tubuhnya. "Permintaan macam apa itu? Jangan mencemari otak polos putraku dengan otak mesummu? " gerutu Shica.
"Mau bagaimana lagi, kamu mau nolak permintaan putramu? " tanya Raihan. Shica tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut pipi Raihan.
"Kok disini? Kenapa gak disini? " tanya Raihan manja sambil menunjuk bibirnya. Shica menggeleng pelan namun kemudian dia mengecup bibir Raihan.
Raihan menahan tengkuk Shica agar ciumannya semakin dalam.
By
Ucu Irna Marhamah