
Paris, Perancis
Tangan kokoh itu memegang berkas penting milik perusahaan. Manik sapphire itu bergerak menelisik isi berkas dengan teliti.
Pintu ruang kerjanya di ketuk. Pria yang tidak lain adalah Reynaldi menoleh kearah pintu.
"Masuk " kata Reynaldi.
Pintu terbuka dan masuklah Reynala kakaknya. Dia datang dan tiba-tiba menggebrak meja dengan kasar.
"Apa kau sadar! Kenapa kau menceraikan Shica? Dia wanita baik-baik yang bersedia menikah dengan pria brengsek seperti dirimu, Reynaldi Alexander Adiwijaya! " bentak Reynala.
"Diamlah, Reyna aku sedang kesal saat ini" gerutu Reynaldi.
"Aku yang kesal padamu! Apa yang kau lakukan itu salah.. Kau telah membiarkan wanita baik itu pergi dari hidupmu! Apa kau masih waras? Bukankah kau begitu mencintai dia? " tanya Reynala.
"Iya.. Aku sangat mencintainya.. Jadi sudah cukup? Pergilah.. Aku sedang tidak mau bicara " kata Reynaldi.
"Hanya itu? Hei! Aku ini kemari ingin menyadarkan kepalamu! " gerutu Reynala.
"Jangan membentakku begitu, di luar banyak karyawan yang bisa saja mendengar teriakanmu! " bentak Reynaldi.
"Biarkan saja mereka mendengarnya! Mereka tidak mengerti bahasa Indonesia! " gerutu Reynala.
"Berhenti bicara! " bentak Reynaldi seraya berdiri dan menatap tajam kakaknya.
Reynala menatap kesal adiknya yang keras kepala seperti ayahnya. "Apa yang membuatmu menceraikan dia? " tanya Reynala.
"Kau tidak perlu tahu" jawab Reynaldi.
"Aku perlu tahu.. Kau adikku" kata Reynala penuh penekanan.
"Ini urusan rumah tanggaku.. Kau bisa mengurus rumah tanggamu dan urus juga anakmu" kata Reynaldi.
Pandangan Reynala berubah lembut. "Aku kakakmu.. Aku mencemaskanmu.. Aku takut kau berubah seperti dulu setelah kau berpisah dengan Shica" kata Reynala pelan.
Reynaldi menatap kakaknya. "Aku tidak akan berubah.. Aku akan menjadi aku yang saat ini di mulai dari sekarang sampai nanti" kata Reynaldi.
"Apa kau mencintainya? " tanya Reynala.
"Iya.. Aku mencintainya.. Karena itu.. Aku tidak menceraikan dia" kata Reynaldi.
Reynala terbelalak kaget mendengar ucapan Reynaldi. "Apa maksudmu? " tanya Reynala.
"Shica memang menandatangani surat perceraian tapi bukan surat perceraian sungguhan.. Dia masih resmi istriku" kata Reynaldi tanpa beban.
Reynala terkejut. "Apa? Kau.. Kau mempermainkan pernikahan? Kepercayaan manapun melarang ummatnya mempermainkan pernikahan! Dan kau.. Astaga.. Aku sungguh malu memiliki adik macam dirimu, Aldi" gerutu Reynala.
"Aku melakukannya demi kebahagiaan kami" kata Reynaldi.
"Kebahagiaan apanya? Yang ada Shica menderita! " bentak Reynala.
"Dia tidak menderita.. Sebentar lagi dia akan menikah dengan pria yang dia cintai " kata Reynaldi.
"Apa! " Reynala semakin terkejut.
"Iya " jawab Reynaldi enteng.
"Kau benar-benar tidak waras.. " gerutu Reynala kemudian berlalu. "Tunggu! " kata Reynaldi.
Langkah Reynala terhenti. "Jangan katakan pada Papa atau ibuku kalau ada masalah dalam keluargaku " kata Reynaldi dengan nada memohon.
"Aku akan mengatakannya pada Papa agar dia menghajarmu seperti waktu itu " kata Reynala geram.
"Jangan kataka jika kau menyayangi diriku" kata Reynaldi. Namun Reynala melanjutkan langkahnya tanpa mendengar permohonan adiknya.
Reynaldi mendengus kesal.
Setelah hari mulai sore, dia pulang ke mansion dan tidak ada lagi Shica yang menyambutnya. Yang ada hanyalah para pelayan yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing.
Mereka membungkukkan badan saat tuan mereka memasuki mansion.
Itu semua hasil karya Shica. Shica yang membuatnya. Reynaldi tersenyum. Dia mengambil salah satu kanvas dan menatapnya dengan lekat.
Sketsa wajah Shica dan Reynaldi. Dimana dalam sketsa itu terlihat Shica yang mengecup pipi Reynaldi.
Dia merindukan Shica setela satu bulan lamanya mereka tidak bertemu.
Reynaldi pun memilih melelapkan tubuhnya ke ranjang. Dia menoleh ke sisi lain ranjang. Biasanya Shica akan terlelap disana dan berpura-pura tertidur untuk menghindari kemesuman Reynaldi.
Saat Reynaldi menggelitik perut Shica, maka Shica akan terlonjak dan menjerit kecil. Dia akan mencubit Reynaldi dan marah semalaman pada Reynaldi.
Saat fajar tiba, Shica melupakan kemarahan kecilnya semalam dan akan membangunkan Reynaldi dengan lembut.
Shica membangunkan Reynaldi dengan cara menyentuh wajah tampan Reynaldi.
Tangan dinginnya bisa membuat Reynaldi terbangun. Reynaldi akan meminta morning kiss dari Shica. Maka Shica akan melakukannya sekejap. Namun Reynaldi sering jahil dan memperdalam ciuman mereka. Membuat kedua pipi Shica merona karena malu.
Sungguh menyenangkan dan sekarang itu semua menjadi kenangan manis. Kenangan manis yang berubah menjadi kenangan pahit karena kejadian malam itu.
Kejadian dimana Reynaldi merenggut secara paksa kehormatan istrinya. Meskipun itu haknya, tapi Reynaldi melakukannya dengan sangat kasar dan itu menyakiti Shica.
Dia juga menyesal.. Dan penyesalan itu membawanya pada dilema..
Dia harus mencari sesuatu yang bisa mengobati rasa sakit yang Shica rasakan..
Obat itu adalah..
Raihan..
Hanya Raihan yang bisa membahagiakan Shica. Reynaldi tidak rela..
Dia tidak mau melepaskan Shica untuk Raihan..
Dia mau Shica dan Raihan menikah tapi dia tidak mau bercerai dengan Shica.
Dia memilih untuk membiarkan Shica memiliki dua orang suami secara tidak langsung.
Dia telah membuat keputusan yang benar menurutnya. Dan salah menurut norma yang berlaku.
Namun apa boleh buat..
Reynaldi bisa melakukan apapun, termasuk itu.
Dan sekarang apa dia boleh sekedar mendengar suara wanita yang masih merupakan istri sahnya?
Reynaldi mengambil ponsel dan menekan angka yang selalu terpatri dihatinya.
Bukan hanya pemiliknya, ternyata nomornya pun dia kenang.
Reynaldi meletakkan ponselnya ke telinga.
"Halo? " Shica mengeluarkan suaranya saat ada penelpon asing yang menelponnya.
Senyuman Reynaldi mengembang. Setidaknya dia bisa mendengar suara lembut Shica dari seberang sana.
"Halo? Ini siapa? " tanya Shica lagi.
Reynaldi menutup panggilannya kemudian berkata, " aku merindukan dirimu, istriku sayang " kata Reynaldi sambil menatap layar ponselnya.
"Selamat malam, sayang.. Sweet nice dream.. "
By
Ucu Irna Marhamah