
*Di Taman*
Erick duduk sendiri di taman, mengamati suasana sekolah yang ramai karena para siswa sedang beristirahat. Di kelas mungkin hanya sedikit siswa yang masih bertahan, karena yang lainnya lebih memilih untuk ke kantin, perpustakaan, atau hanya sekedar duduk-duduk di koridor kelas sembari menikmati waktu senggang.
Suasana sekolah Erick ramai. Dia bisa melihat banyak teman-temannya yang sedang asyik bercanda gurau dari kejauhan. Ada juga yang sedang berlarian di koridor, dan ada pula yang asyik bermain basket. Tapi hati Erick merasa sepi. Ada sebuah kekosongan disana yang tidak bisa diisi oleh siapapun.
Mata Erick masih mengamati keramaian yang dekat dengan dirinya, tapi tak membuat hatinya juga ikut ramai. Hatinya malah seperti teriris. Pilu rasanya. Hampir saja Erick menyerah dengan keadaannya dan hendak melangkah pergi meninggalkan sekolahnya yang tak membuatnya bahagia.
Di setiap sepi di hatinya, selalu ada bayangan Lexa. Mengisi setiap sudut hatinya, tanpa bisa dia jangkau. Erick tak bisa menggapai bayangan Lexa sekalipun. Hanya ada sisa-sisa kenangan tentang Lexa yang berlarian disana. Kenangannya tak pernah mau berhenti. Membuat Erick semakin merasa sendiri.
Erick mengepalkan tangannya erat. Giginya bergetar hebat dalam mulutnya, menahan airmata yang hampir tumpah ingin membasahi pipinya. Tapi Erick tahan. Erick menengadahkan kepalanya memandang langit biru yang bersih. Berusaha mencurahkan isi hatinya pada langit yang maha luas.
Angin tiba-tiba berdesir lembut menyapanya, membuat matanya menjadi sayu. Satu tetes airmata dari sudut matanya tidak bisa dia tahan. Mengalir begitu saja.
Erick menyeka airmatanya, dan mulai memejamkan mata. Menyelami setiap ingin dari perasaannya. Berdamai dengan hatinya.
Biarkan saja!
Logika Erick mulai terusik. Memerintahkan akal untuk membiarkan sang hati mencurahkan inginnya.
Biarkan saja!
Kata akal menggelitik. Apalah guna disembunyikan dan dipendam sendiri. Tak akan merubah apapun yang sudah terjadi.
Biarkan saja!
Kata akal lagi. Menyuruh akal mendengarkan ungkapan hati yang sedang lara.
Aku rindu Lexa.
Kata hati kepada akal dan seluruh darah yang mengalir dalam tubuh Erick. Darah saja bisa memahami hati Erick. Dia mengalir deras menyerang seluruh sendi dalam tubuh Erick sehingga membuat tubuhnya menggila.
Aku rindu Lexa.
Kata hati dengan berderai airmata. Mencurahkan kehampaan yang hanya dia saja yang rasa.
Aku rindu Lexa.
Jerit hati semakin keras dan semakin tak peduli. Akal menjadi paham kalau dia memang tidak bisa membohongi hati. Dia pantas marah kepada akal yang tak kunjung paham tentang perasaannya.
Airmata Erick semakin berlinang. Yang tadi hanya satu tetes, kini menjadi bertetes-tetes. Dia tak kuasa menahannya lagi. Logikanya kalah dengan perasaan yang sedang tulus merindukan Lexa. Hatinya ingin Lexa. Dan kini, setelah akal menyadari segalanya bahwa setiap dia merindukan Lexa. Setiap yang melekat padanya merindukan Lexa. Hatinya tak ingin merasa perih sendiri, dia ingin semua yang mengalir dalam tubuh Erick merasakan getirnya menahan rindu untuk Lexa.
Saat matanya semakin hanyut oleh airmata, Erick merasakan satu hal. Erick merasakan kehadiran Lexa di sampingnya. Tangan lembut Lexa menyapa mata basah Erick yang terpejam. Begitu lembutnya jemari Lexa sampai Erick pun terhanyut dalam kelembutannya.
Perlahan membuka matanya. Dan benar saja, jemari Lexa menjadi satu-satunya pemandangan yang tampak jelas di mata Erick.
Erick mencoba meraih jemari lentik itu dengan tangannya. Mencoba memastikan kehadiran Lexa yang dekat dengannya. Dan senyum Erick pun mengembang. Jemari Lexa bisa dia sentuh. Dia bisa menggenggam erat jemari lentik itu dengan tangannya.
Pandangan Erick beralih ke asal jemari lentik yang sedang dia genggam erat. Dan alangkah lebar lagi senyum Erick saat ini. Melihat sosok Lexa yang berada di sisinya dan mengembangkan senyum manis untuk Erick.
"Hai..." Sapa Lexa dengan suara yang amat merdu.
Suara merdunya sampai menghentikan hembusan angin. Menghentikan dedaunan yang ingin berjatuhan ke tanah, sehingga dedaunan itu hanya bisa melayang di udara. Waktu seketika berhenti. Tapi tidak dengan Erick. Dia masih bisa mengedipkan matanya, bahkan hembusan napasnya juga masih terasa.
Matanya beradu dengan mata Lexa yang menawan. Lexa tampak cantik hari ini. Memakai seragam yang sama dengannya, dengan rambut terikat. Mantel putih bersih juga menghiasi badannya, dipadukan dengan rok sampai ke lutut. Kaos kakinya panjang sampai menutupi kaki jenjangnya. Tak lupa sepatu sneakers yang senada dengan milik Erick juga Lexa pakai. Layaknya sedang bersekolah, Lexa tampak anggun duduk di sampingnya.
"Lexa..." Sapa Erick.
Lexa tersenyum membalas sapaan Erick.
"Apa kabar, Rick?" Tanya Lexa.
"Kenapa??" Tanya Lexa heran.
Erick menggelengkan kepalanya. Dia menghindari tatapan Lexa ke arahnya. Erick malu rupanya, jangan sampai Lexa melihat dia menangis.
"Kenapa kamu disini?" Tanya Lexa lagi.
Tapi Erick masih terdiam, dia belum mampu menjawab pertanyaan Lexa. Erick hanya menatap Lexa penuh rasa.
"Kamu benar Lexa??" Erick mulai bersuara.
Tatapannya penuh arti ke arah Lexa. Seperti menghakimi Lexa yang dirasa tak nyata.
"Memang kenapa? Apa aku tampak seperti orang lain?" Tanya Lexa heran.
Erick terdiam lagi. Wajahnya tampak bingung. Dan mulai mengamati Lexa lagi.
"Apa kamu benar-benar nyata? Apa aku hanya bermimpi??" Ucap Erick penuh tanda tanya.
Lexa tersenyum simpul ke arahnya.
"Apa itu penting?" Tanya Lexa lagi.
Erick tertegun. Dia tampak berpikir keras mendengar pernyataan dari Lexa.
"Penting." Tegas Erick.
Tatapan Erick lekat ke arah Lexa. Sorot matanya tajam seakan seperti ujung pedang yang hendak menghunus lawannya.
"Aku adalah aku. Lexa yang kamu kenal. Lexa yang kamu tahu. Dan masih Lexa yang selalu ada dalam hati kamu." Jawab Lexa.
Sorot tajam Erick berubah sendu. Benar. Lexa yang ada di hadapannya adalah Lexa. Lexa yang selalu ada di hati Erick. Yang setiap kenangannya tersimpan rapi di dalam benaknya.
"Aku adalah Lexa yang selalu kamu panggil dalam hatimu. Aku selalu mendengar suaramu yang terus menerus memanggil namaku. Anehnya, aku juga tidak sadar mengapa aku ada disini. Tapi setiap aku sudah disini, aku selalu bertemu denganmu, duduk di sampingmu. Melihatmu bersedih." Terang Lexa.
"Kenapa, Rick? Apa yang membuatmu sedih?" Tanya Lexa cemas.
Erick membuat simpul senyum mendengar perkataan Lexa.
"Benar kamu mendengar suaraku??" Tanya Erick memastikan.
Lexa mengangguk.
"Apa suaraku membuatmu terganggu?" Tanya Erick lagi.
Lexa menggeleng. Dia menunjukkan wajah lucu, menggemaskan. Erick sampai tersenyum manis karenanya.
"Apa itu artinya, kalau aku memikirkan kamu, kamu akan segera datang menemuiku??" Erick tak henti bertanya.
Lexa mengangguk pelan. Ada rona merah juga terlihat di pipinya. Membuat Erick semakin gemas melihatnya. Ingin rasanya dia segera mendekat ke arah Lexa dan segera mencubit pipinya yang memerah.
"Tapi ada satu syarat." Ucap Lexa.
"Syarat? Apa itu?" Tanya Erick penasaran.
"Kamu harus janji. Kalau kamu ingin menemuiku, kamu tidak boleh dalam keadaan sedih. Kalau kamu sedih, aku tidak akan datang." Kata Lexa tegas.
Lexa menatap Erick, dengan sedikit menunjukkan mata menantang agar Erick mau menyetujui persyaratan yang Lexa minta. Dan tentu saja, Erick menyanggupi persyaratan yang Lexa minta. Erick akan melakukan apapun asal dia bisa bertemu dengan Lexa.
Erick tidak peduli. Entah ini nyata atau hanya halusinasinya saja. Yang Jelas Erick bahagia bisa bertemu dengan orang yang paling ingin dia temui setiap saat dan setiap waktu.