
Didalam mobil sport biru tua itu, Joshua tampak fokus menyetir. Sementara Reynaldi duduk di sampingnya
"Mobilmu Bagus" kata Reynaldi.
"Terimakasih, Tuan.. Ini berkat anda" kata Joshua.
"Jadi.. Apa lagi yang kau tahu soal Sean Jansen? " tanya Reynaldi.
"Dia mengincar Nyonya Rastani sejak lama.. Dia bisa dibilang pria yang kuno" kata Joshua.
Reynaldi tertawa. "Kuno? Apanya yang kuno? " tanya Reynaldi.
"Dia bukan peminum dan bukan pemain wanita" kata Joshua menjawab pertanyaan Reynaldi.
"Benarkah? Kalau begitu dia sama saja seperti Raihan" kata Reynaldi.
"Sean memang pria kuno, tapi dia juga memiliki reputasi yang buruk" kata Joshua.
"Bagaimana bisa? " tanya Reynaldi.
"Dia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.. Kita harus hati-hati.. Karena bisa saja dia sudah merencanakan sesuatu yang buruk" kata Joshua.
"Kau benar.. "
Sementara itu, Sean sedang rapat dengan para kliennya di kantor perusahaan miliknya.
Setelah rapatnya selesai, dia memasuki ruangan pribadinya. Namun dia terkejut saat melihat ada seorang pria duduk di kursi kebesarannya dengan membelakangi dia.
"Siapa kau? " tanya Sean.
Kursi itu berputar. Sean terkejut melihat siapa yang telah berani duduk di kursi kebesarannya.
Reynaldi Alexander Adiwijaya.
"Ehm.. Apa yang kau lakukan disini, Tuan Adiwijaya? " tanya Joshua.
Reynaldi tersenyum. "Aku hanya ingin menemui dirimu, Tuan Jansen" jawab Reynaldi sambil bangkit dari duduknya menghampiri Sean.
Sean mengerutkan keningnya heran. "Apa aku lupa mengundangmu ke acara pertemuan barusan? " tanya Sean.
"Tidak.. Kau telah mengundangku.. Dan maaf aku tidak bisa hadir.. Karena.. Aku sedang menghabiskan waktu bersama istri tercintaku" kata Reynaldi sambil menatap kearah Sean.
"Jadi kau bersama Shica? Dimana dia? " tanya Sean sambil melirik kesana kemari.
"Dia tidak ikut karena aku tidak mau dia bertemu lagi denganmu " jawab Reynaldi sarkas.
Sean menautkan alisnya kemudian menatap Reynaldi.
"Kenapa? " tanya Sean.
"Berhenti mengirimkan teror pada keluargaku " kata Reynaldi.
Sean tersenyum. "Itu bukan teror, tapi fakta " kata Sean.
Reynaldi menautkan alisnya tajam. "Aku tahu isi kepalamu.. Kau menginginkan Rastani kan? Tidak akan aku biarkan.. " kata Reynaldi.
Sean tersenyum. "Tidak perlu semarah itu, meskipun aku tidak mendapatkan Shica, akan ada orang lain yang merebut Shica darimu" kata Sean.
Reynaldi mengepalkan tangannya geram.
"Shica mungkin sedikit mencintaimu.. Dan aku yakin kau tahu sebagian besar cintanya adalah untuk Raihan.. Cinta pertamanya" kata Sean.
Reynaldi semakin merasa geram.
"Lihat tatapan istrimu pada nya.. Aku yakin kau bisa menyimpulkannya" kata Sean sambil tersenyum sinis.
Reynaldi menarik jas Sean. "Rastani mencintai diriku, entah dia mencintai Raihan atau tidak, dia tetap milikku" geram Reynaldi.
"Apa kau yakin Shica masih perawan? Kenapa kau malah meninggalkannya dengan Raihan? Bagaimana jika terjadi sesuatu diantara mereka? " Sean membuat Reynaldi semakin panas.
"Kau suaminya.. Seharusnya kau bisa menuntut hakmu atas tubuhnya.. Bagaimana jika tubuhnya pernah di sentuh orang lain? " kata Sean.
Reynaldi menautkan alisnya. Sean ada benarnya juga. Bagaimana jika Raihan yang menyentuh istrinya?
Bagaimanapun kesetiaan Shica masih dia pertanyakan.
Reynaldi mendorong Sean hingga terpundur.
Dia membawa amplop coklat dan memberikannya kepada Reynaldi.
"Apa ini? " tanya Reynaldi.
"Kau bisa melihat isinya" kata Sean.
Reynaldi membuka amplop tersebut dan melihat isinya. Ternyata benarapa foto yang membuat Reynaldi tercengang.
Dalam foto itu, terlihat Shica dan Raihan berciuman dengan panasnya di dalam kamar di kapal pesiar.
Reynaldi ingat waktu itu dia dan Shica sedang berbulan madu di kapal pesiar yang bernama Esmeralda.
Reynaldi juga melihat Shica dan Raihan berciuman namun mereka masih memakai seragam SMA.
Reynaldi tahu Shica dan Raihan pernah berciuman, namun jika dia melihat fotonya secara langsung seperti itu, hatinya sangat terbakar.
Dia melemparkan foto-foto itu ke meja kerja Sean.
"Aku menyelidiki Shica dan masa lalunya.. Itu sangat sulit" kata Sean.
"Cukup! " Reynaldi pun berlalu meninggalkan Sean yang tersenyum sinis melihat kemarahan Reynaldi.
Reynaldi memasuki mobil Joshua. Joshua menoleh padanya.
"Ke mansion " kata Reynaldi.
"Baik " jawab Joshua.
Joshua pun melajukan mobilnya meninggalkan kantor perusahaan milik Sean Jansen.
Joshua melihat kemarahan diwajah Reynaldi. Dia tidak berani bertanya.
"Jam berapa sekarang? " tanya Reynaldi.
"Jam 7 Tuan" jawab Joshua.
"Mereka pasti sedang makan malam tanpa diriku " kata Reynaldi dalam hati.
Mobil Joshua terhenti didepan mansion. Tanpa basa-basi, Reynaldi keluar dari mobil tersebut dan segera memasuki mansion.
Dia mendapati Shica dan Raihan duduk di meja makan. Hidangan di meja masih terlihat utuh.
"Reynaldi.. Kami menunggumu.. Kemarilah.. Kita makan malam bersama" kata Shica sambil tersenyum manis.
Reynaldi menghampiri istrinya kemudian mengecup lembut bibir Shica didepan Raihan. Shica terkejut.
Raihan yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya.
Setelah itu, Reynaldi duduk mereka pun menyantap hidangan makan mereka.
"Malam ini aku akan pulang.. Terimakasih kalian sudah membiarkan aku tinggal disini" kata Raihan sambil menatap Shica. Begitupun dengan Shica.
Reynaldi melirik Raihan dan Shica bergantian. "Kenapa begitu cepat? " tanya Reynaldi.
"Karena aku tidak mau mengganggu kalian terlalu lama" kata Raihan sambil tersenyum simpul.
Setelah selesai makan malam, Reynaldi dan Shica mengantar Raihan sampai ke depan.
Shica menatap mobil Raihan yang kian menjauh meninggalkan mansion Adiwijaya.
Reynaldi melirik Shica. Dia melihat kesedihan dimata istrinya.
"Kita perlu bicara, masuk kamar" kata Reynaldi dingin kemudian berlalu ke dalam.
Shica menoleh menatap punggung Reynaldi. Dia merasa sikap Reynaldi berbeda setelah pulang dari urusannya.
By
Ucu Irna Marhamah