
Follow ig @ucu_irna_marhamah
Tahun berganti tahun. Musim berganti musim. Semuanya berubah seiring dengan berjalannya waktu. Kini ketiga singa muda itu sudah menemukan aumannya. Sebuah bunga benar-benar mekar membuatnya terlihat cantik dan indah ketika yang lain melihatnya.
Aldevaro Fariez Ravindra Abdurrachman, kini dia sudah dewasa, usianya 26 tahun. Dia sangat tampan dengan manik kelamnya seperti malam tanpa bintang dan rambut halus menghiasi rahangnya yang kokoh membuat kesan maskulin pada pria itu. Saat ini, dia memegang perusahaan besar mendiang ayahnya, Raihan Alfarizi. Dia tinggal di Singapura karena semua aset perusahaan Abdurrachman yang berada di Indonesia dan Perancis dipindahkan ke Singapura agar bisa dengan mudah dia kontrol. Dia sudah terbiasa bolak-balik Singapura-Perancis-Jakarta untuk menemui keluarganya. Sejauh ini, tidak ada yang tahu tentang kisah percintaannya. Karena dia tidak pernah bercerita tentang perempuan pada keluarganya.
Berbanding terbalik dengan adiknya, Aldianold Alvindra Adiputra Adiwijaya, entah sudah berapa kali pangeran Adiwijaya itu berganti perempuan. Pria tampan itu sekarang berusia 24 tahun. Dia memegang perusahaan cabang milik ayahnya, Reynaldi Adiwijaya. Dia semakin tampan dengan mata sapphire dan alis bertautan layaknya tatapan elang yang mampu menaklukan siapapun yang melihatnya. Ternyata bukan hanya fisiknya yang mirip sekali dengan Reynaldi, namun sifatnya juga sangat mirip dengan ayahnya itu. Shica dan Reynala tidak pernah berhenti menceramahinya. Lagi-lagi dia akan bilang iya, walau nyatanya dia akan begitu lagi.
Alfarezel Zaidan Adibhrata Adiwijaya, satu-satunya anak Shica yang memiliki fisik agak mirip dengannya. Namun warna mata dan warna kulitnya mirip dengan Reynaldi. Usianya 23 tahun. Diantara saudaranya, dialah yang paling periang dan banyak bicara. Justru dia berbanding terbalik dengan sifat Shica dan Reynaldi yang tebilang kalem. Dia malah terlihat konyol seperti Raihan. Kadang Reynaldi bertanya. Apakah dia anaknya atau anaknya Raihan? Namun Farez senang sekali jika dibanding-bandingkan dengan Raihan dan dengan santai menjawab, Dia adalah anaknya Reynaldi, tapi dia suka dengan Raihan yang juga kebetulan suka bernyanyi dan bermain gitar. Selain seorang penyanyi, Farez juga bekerja di kantor pusat milik ayahnya. Sebenarnya, Adi keberatan dengan keputusan Farez yang ingin menjadi seorang penyanyi. Namun Farez meyakinkan kakeknya kalau dia ingin menjadi seorang penyanyi karena menyanyi adalah hobby-nya sejak kecil. Apalagi Shica mendukungnya. Shica selalu mendukung kemauan anak-anaknya apapun itu selama bernilai positif. Dia tidak mau mengekang mereka seperti orang tuanya dulu.
Dan yang terakhir, Auristela Brianara Giovanni Adiwijaya, satu-satunya anak perempuan dikeluarga itu. Dia sangat cantik dengan wajah begitu mirip dengan Reynaldi. Namun mungkin lebih cocok disebut versi perempuannya Reynaldi. Usianya 22 tahun. Dia masih kuliah dibidang seni. Gadis muda itu sangat mencintai seni seperti ibunya. Namun dia juga belajar bisnis dari neneknya, Ratna Mahali. Sifatnya pendiam dan kalem, namun dia juga bisa cerewet dan pemarah juga seperti Shica. Jika fisiknya sangat mirip dengan Reynaldi, maka sifatnya jelas mirip Shica.
Sekarang Shica juga mau tak mau, harus bekerja di perusahaan Mahali, karena Ridan sudah tidak mampu lagi. Shica memindahkan seluruh aset perusahaan Mahali yang Indonesia ke Perancis. Karena dia tidak mungkin bolak-balik seperti Deva. Sementara perusahaan Mahali yang berada di New York masih dipegang Regar.
Saat ini, Reynaldi tengah duduk dikursi kebesarannya mata sapphire-nya bergerak melihat banyak berkas laporan harian kantornya. Wajahnya sudah tak muda lagi, namun dia masih terlihat tampan dan menawan. Dia masih memegang perusahaan yang sama yang merupakan perusahaan pusat milik Adiwijaya yang berada di Perancis.
"Dominic Gallardo, jadi dia mau membuat perusahaanku hancur." geram Reynaldi sambil *** berkas itu. Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka. Reynaldi mendongkak menatap siapa yang datang. Ternyata seorang pria tampan dengan paras mirip dirinya. Siapa lagi kalau bukan Alvin, putranya.
"Pagi, Dad." katanya kemudian duduk berhadapan dengan Reynaldi tanpa izin. Reynaldi menggeleng pelan. "Kau pikir ini rumah, sehingga kau bisa masuk tanpa ketuk pintu dan duduk tanpa izin?" gerutu Reynaldi. Alvin hanya terkekeh kecil. "Tapi nyatanya, aku anak Dad, kan. Oh ya kenapa Dad tampak kesal begitu? Ada sesuatu yang buruk?" tanya Alvin.
"Sial, perusahaan kita rugi 26%" jawab Reynaldi sambil menautkan alisnya geram. "Kenapa bisa begitu?" tanya Alvin. "Salah satu kepercayaanku menghianati diriku. Dia telah menggelapkan uang perusahaan. Dan ternyata orang kepercayaanku ini adalah orang suruhan Dominic Gallardo." kata Reynaldi sambil memperlihatkan sebuah foto pada Alvin. Terlihat pria paruh baya berjas duduk dikursi kebesarannya falam foto itu.
"Dari dulu, keluarga Gallardo dan keluarga Adiwijaya bermusuhan." kata Reynaldi lagi. Alvin mengangguk paham. "Ini artinya, keluarga Gallardo memang berhutang banyak kepada perusahaan kita karena kerugian yang telah mereka lakukan." kata Alvin.
"Tentu saja, dan satu lagi.. Keluarga Gallardo itu memiliki gaya hidup berfoya-foya," kata Reynaldi. "Keluarga Gallardo selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Banyak juga yang bilang kalau keluarga Gallardo adalah keluarga mafia." sambung Reynaldi. Alvin mengangguk paham.
"Aku tidak tahu banyak soal keluarga Gallardo, karena mereka merahasiakan identitas keluarganya. Terutama identitas anak-anak mereka. Anak-anak keluarga Gallardo akan berbaur dengan masyarakat luas tanpa memakai nama Gallardo. Mereka juga tidak memakai nama Gallardo pada kartu identitas mereka." kata Reynaldi sambil memberikan satu foto lagi. Alvin melihat foto wanita cantik berambut panjang dengan dress merah menantang. Manik emerald itu tampak indah. Terdapat tato mawar di lehernya. "Kau tidak perlu melihatnya seperti itu," gerutu Reynaldi. Alvin tertawa. "Tenang saja, Dad. Aku tidak tertarik pada wanita ini" kata Alvin.
"Aku hanya tahu satu anaknya, yaitu gadis ini." kata Reynaldi.
Pintu ruangan kembali terbuka. Kedua pria tampan itu menoleh kearah pintu. Ternyata Shica dengan ekspresi kesalnya. Alvin segera menyembunyikan foto-foto itu. "Aku sudah lelah," gerutu Shica kemudian duduk di samping suaminya. Alvin tersenyum geli melihat tingkah ibunya. "Kenapa kau bisa lelah? Apa dari perusahaan Mahali kau berjalan kaki sehingga bisa sampai disini?" tanya Reynaldi.
"Aku lelah dengan sikap putra kesayanganmu yang tampan ini," gerutu Shica dengan tatapan kesal tertuju pada Alvin. "Memangnya apa yang dilakukan si tampan ini?" tanya Reynaldi sambil mendelik curiga pada Alvin.
"Banyak laporan menjijikan dari wanita-wanitanya, ya ampun bagaimana nama baik keluarga kita jika si tampan ini menyalahgunakan ketampanannya?" gerutu Shica. Bukannya marah, Reynaldi malah tertawa. Shica mendelik kesal pada suaminya. Alvin tahu, Reynaldi akan membelanya.
"Dengar sayang, wanita-wanita itu hanya mau memeras kita dengan cara mengkambing hitamkan putra kita." kata Reynaldi. Shica mendelik Alvin dan Reynaldi bergantian. "Kalian bersekutu, ya?" tanya Shica curiga. Namun Reynaldi dan Alvin menggeleng.
"Tidak adil, " gerutu Shica. Terdengar pintu ruangan diketuk. Reynaldi menoleh kearah pintu. "Masuk,"
Pintu terbuka, masuklah pria tampan bermata kelam. Tak lain dan tak bukan dia adalah Deva. "Deva? Kau tidak bilang akan kemari?" tanya Reynaldi. "Ah iya, aku sangat buru-buru sehingga tidak sempat menelpon," jawab Deva.
"Duduklah," kata Reynaldi. Deva duduk berdampingan dengan Alvin. "Hai, Kakak akan lama disini?" tanya Alvin. "Entahlah, mungkin beberapa hari saja." jawab Deva.
"Mom? Kenapa tampak kesal begitu?" tanya Deva. "Katakan pada adikmu, kalau adikmu itu bersalah," gerutu Shica. Deva menoleh pada Alvin yang tertawa kecil.
"Kau membuat mom kesal?" tanya Deva. "Tidak, mom kesal kepada dad, tapi aku yang kena." sanggah Alvin. Reynaldi mendengus kesal. "Kenapa jadi aku?" gerutu Reynaldi.
"Adikmu itu sangat menyebalkan, dia bermain dengan banyak perempuan dan berakhir di ranjang. Sekarang mereka semua meminta pertanggungjawaban dari makhluk disampingmu itu." gerutu Shica. Deva menoleh kearah Alvin. Alvin segera menggeser kursinya menjauh dari Deva. Dia tahu kakaknya akan ceramah.
"Benarkah? Itu tidak baik, nanti kau akan menyesal, sebaiknya berhenti bermain wanita," kata Deva. "Sudahlah, yang penting wanita-wanita itu tidak hamil, kan?" tanya Reynaldi. "Tentu tidak, aku pakai pengaman," jawab Alvin cepat. "Kalian hentikan, jangan bicara soal itu lagi. Aku akan pergi, dasar, ayah dan anak sama saja!" kata Shica kemudian berlalu.
Reynaldi terkekeh pelan melihat kekesalan istrinya. "Deva, apa ada hal penting sehingga kau terburu-buru datang kemari?" tanya Reynaldi. Deva mengangguk. "Sebenarnya ini penting, aku dengar Dominic Gallardo masuk penjara, namun anak-anaknya pasti tidak akan tinggal diam.. Apalagi setelah tahu bahwa yang memasukkan ayah mereka ke penjara adalah Opa Adi." kata Deva. Reynaldi menautkan alisnya.
"Jadi kak Deva sudah tahu soal ini?" tanya Alvin. Deva mengangguk. "Kau benar, Deva. Ini akan semakin buruk." kata Reynaldi.
Deva tampak berpikir. "Dad, Dominic memiliki 6 orang anak. Ada 4 laki-laki dan 2 perempuan. Tapi aku tidak tahu siapa saja mereka," kata Deva. "Salah satunya ini." kata Alvin sambil menunjukkan foto wanita bertato mawar itu pada Deva. Deva melihatnya kemudian menyimpan foto itu ke meja.
"Banyak yang bilang, kalau keluarga Gallardo beraksi seperti kucing malam. Mereka bukan hanya mafia, tapi juga psikopat yang tak segan membunuh siapapun yang menghalangi jalan mereka. Mereka ahli menyamar dan bertangan dingin." kata Deva. Reynaldi menghela napas panjang. Ucapan Deva sungguh benar.
"Kalau begitu, kita tingkatkan keamanan mansion," jawab Alvin enteng. "Kalian benar, kalian tidak perlu khawatir, aku akan mengurus semuanya. Lebih baik sekarang kalian bujuk ibu kalian yang sedang marah itu, atau dia akan mengutukmu, Al." kata Reynaldi. Alvin tertawa, "baiklah," mereka pun berlalu pergi.
Reynaldi menghela napas berat.
By
Ucu Irna Marhamah