Don't Leave Me

Don't Leave Me
114



Shica duduk disalah satu bangku di perpustakaan nasional itu. Dia terlihat serius membaca buku yang dia pilih. Lembar demi lembar selesai sudah dibaca oleh Shica.


Raihan juga membaca novel yang menurutnya Bagus. Dia terlihat serius membaca novel tersebut.


Sementara itu, Reynaldi sedang menelpon seseorang. Namun tak kunjung di angkat.


"Sialan.. Kemana si Joshua" gerutu Reynaldi yang ternyata menelpon Joshua. Reynaldi berkali-kali menekan call.


"Tuan.. " akhirnya Joshua mengangkat panggilan dari Reynaldi. Dia sedang di perusahaan tempat dia bekerja.


"Kau kemana saja? " gerutu Reynaldi.


"Maafkan saya Tuan.. Tadi saya meninggalkan posel saya di ruang kerja" jawab Joshua yang terlihat cemas. Dia takut Tuannya marah besar.


"Lalu.. Bagaimana.. Apa kau sudah menemukan siapa yang telah mengirim foto itu pada Rastani? " tanya Reynaldi sambil melirik Raihan yang fokus membaca. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Reynaldi berdiri.


"Tuan pasti tidak akan menduganya.. "


"Katakan saja.. Apakah orang yang mengirimkan foto itu adalah Raihan? " kata Reynaldi memotong ucapan Joshua.


"Bukan Tuan.. "


Reynaldi terbelalak. "Lalu.. Siapa? Katakan! " desak Reynaldi.


"Namanya Sean"


"Siapa Sean? Aku tidak mengenalnya" kata Reynaldi.


"Sean adalah teman kuliah Rastani waktu di London.. Apa Tuan tidak tahu? " tanya Joshua.


Reynaldi tampak berpikir. Dia teringat pada pria yang waktu menyapa Shica di mall ketika mereka di London. Reynaldi menautkan alisnya geram.


"Jadi laki-laki itu yang mengirimkan foto-fotoku? Kenapa dia bisa mendapatkan foto itu? " tanya Reynaldi.


"Entahlah, Tuan. Tapi yang pasti, laki-laki itu ingin membuat rumah tangga anda berantakan " kata Joshua.


Reynaldi mengepalkan tangannya. "Hemm.. Baiklah, kita perlu bertemu" kata Reynaldi kemudian mengakhiri panggilan tersebut secara sepihak. Dia berbalik dan melemparkan kunci mobilnya pada Raihan. Raihan menangkapnya.


"Aku ada urusan sebentar.. Kau bawa mobilku dan ajak Shica pulang ke mansionku.. Aku ada urusan sebentar " kata Reynaldi kemudian berlalu ke ruangan yang berbeda dimana Shica tengah membaca novelnya dengan tenang.


"Sayang, aku ada urusan sebentar, kamu nanti pulang sama Raihan ya" kata Reynaldi sambil mengecup pipi Shica. Shica mendongkak, "Urusan apa? " tanya Shica.


"Soal kantor.. Aku pulang nanti sore atau malam" kata Reynaldi. Shica mengangguk lesu. "Kalo aku pulang sama Raihan, kamu pulang sama siapa? Naik apa? " tanya Shica.


"Aku pergi dan pulang bersama Jos.. Joseph " jawab Reynaldi yang hampir keceplosan akan menyebut nama Joshua. Jika Shica tahu Joshua ada disini, maka Shica akan mengamuk pada Joshua.


"Jangan lama ya.. Aku akan memasak makan malam" kata Shica. Reynaldi tersenyum kemudian mengangguk dan mengecup bibir istrinya dengan lembut.


"Hati-hati " kata Shica. Reynaldi mengangguk kemudian berlalu pergi. Shica menatap punggung Reynaldi yang menghilang dibalik pintu.


Setelah merasa bosan, Shica keluar dari ruangan itu dan melihat Raihan yang juga sedang membaca novel. Raihan mendongkak menatap Shica.


"Tampaknya kau bahagia bersama Reynaldi " kata Raihan. "Begitulah " jawab Shica.


Raihan tersenyum. "Aku senang bisa melihatmu bahagia dengan dia.. Jika kalian memang sudah bahagia, aku tidak berhak mengganggu kalian lagi.. Aku akan pergi malam ini dari mansion kalian " kata Raihan.


"Kemana? " tanya Shica. "Aku akan kembali ke Indonesia.. Ya.. Menjalani hidup baru " jawab Raihan. Shica mencerna kata-kata Raihan.


"Soal hubungan lama kita hanyalah sebatas cinta monyet waktu kita masih kecil.. Kita belum dewasa dan belum memikirkan apa itu cinta " kata Raihan.


"Apa kau menyesal? " tanya Shica. Raihan menggeleng. "Tidak.. Aku sama sekali tidak menyesal.. Mungkin kau memang bukan jodohku.. Dan jodohmu itu mungkin Reynaldi.. Aku tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian" kata Raihan. Shica merasa sedih mendengar penuturan Raihan.


"Tapi.. Cintaku tidak akan pernah berubah.. " kata Raihan. Shica dan Raihan saling menatap. "Aku tidak mau membahas soal perasaan" kata Shica sambil mengalihkan pandangannya. Raihan tersenyum.


"Oh ya, kau menerbitkan novel.. Itu bagus.. Dulu aku pernah berniat menerbitkan novel, namun pada kenyataannya, kau yang lebih dulu menerbitkan karyamu" kata Shica.


Raihan tersenyum. "Tapi, isinya tidak sesuai dengan kenyataan.. Dalam novel itu aku menceritakan kisah kita berakhir bahagia.. Namun kenyataannya kisah kita belum selesai.. Dan kita juga belum tahu, kisah kita akan berakhir bagaimana.. " kata Raihan.


Shica mengalihkan pandangannya. "Kisah kita akan berakhir bahagia, Raihan " kata Shica. Raihan menatap Shica. "Kenapa kau begitu yakin? " tanya Raihan.


"Tapi aku tidak tahu, apakah kebahagian itu kita bersama-sama atau kita bersama orang lain" kata Shia. Raihan mengangguk. "Itu rahasia Tuhan" kata Raihan. Shica mengangguk.


"Tapi melihat keadaan ini, sepertinya kau akan bahagia dengan Reynaldi.. Tapi tidak masalah.. Aku turut bahagia " kata Raihan.


"Aku mau bertanya.. Apa kau senang tinggal lama di Singapura? " tanya Shica mengalihkan pembicaraan. "Emm.. Begitulah.. Cukup menyenangkan.. Tapi rasanya aku meninggalkan sesuatu " kata Raihan.


Shica mendengus kesal. "Baiklah.. Aku mau pulang" kata Shica. Raihan tersenyum.


Selama diperjalanan, mereka berbincang ringan.


"Jika pada akhirnya kau rela aku bersama Reynaldi, kenapa kau mengganggu kami dengan datang ke mansion dan mengganggu kami? " tanya Shica.


"Itu karena aku yakin kau mencintaiku dan ya aku ingin memastikan apa kau bahagia bersama Reynaldi" jawab Raihan. Shica tidak mengira Raihan akan tetap memperdulikan dia meskipun dirinya sudah resmi menjadi istri sah pria lain.


"Kenapa Raihan? " tanya Shica.


Raihan sedikit menoleh, namun kemudian dia kembali fokus ke jalanan. "Kenapa apanya? " tanya Raihan.


"Kenapa kau begitu baik? " tanya Shica. Raihan tertawa.


"Aku tidaklah sebaik itu"


By


Ucu Irna Marhamah