Don't Leave Me

Don't Leave Me
90





***Shica Mahali***



Perlahan aku membuka kedua mataku. Hari sudah pagi. Aku merasakan pergerakan dari sampingku.



Aku segera menoleh. Namun leherku rasanya sangat sakit. Kulihat ada Reynaldi yang tertidur lelap di sampingku.



Aku sangat terkejut dan segera memeriksa keadaan tubuhku. Tubuhku masih utuh..



Ah maksudku pakaianku masih utuh menempel di tubuhku.



Aku mengingat kejadian semalam yang membuatku benar-benar semakin takut padanya.



Dia seperti hewan buas yang kelaparan dan menerkamku. Dia menggigiti leherku.



Rasanya sangat sakit. Dia bahkan tidak menghiraukan teriakanku. Dia malah menggigit leherku dengan keras sampai berdarah.



Aku menyentuh leherku. Rasanya sangat sakit dan ada bekasnya disana.



Mengerikan!! 



Aku beranjak ranjangku menuju kamar mandi. Aku memilih untuk mandi dan memakai jubah mandiku.



Aku keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Reynaldi sudah bangun. Dia duduk di ranjang dan menatapku.



Shit!



Kenapa aku tidak membawa pakaian saja ke kamar mandi tadi!



Reynaldi menatapku dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Dia beranjak dan menghampiriku. Aku sangat gugup.



Bagaimana jika dia akan melakukan hal yang semalam? Itu menyakitiku!



Kini jarak kami begitu dekat. Aku mengalihkan pandangan ku. Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.



"Maafkan aku." kata Reynaldi lirih.



Aku mendengus kesal. Enak saja!



Aku memberanikan diri menatap kedua manik sapphire-nya.



"Maaf? Reynaldi.. Yang semalam itu sangat menyakitkan.. Aku sudah bilang.. Aku tidak bisa.. Tapi kau terus memaksaku.. Jika kau mau melakukan apapun yang kau mau, lakukan pada wanita lain.. Bukan padaku." kataku penuh emosi.



Dia tersenyum.



Ada apa dengan dia! Kenapa malah tersenyum seperti itu!



Dia mendekatkan wajahnya. "Reynaldi, apa yang kau.. " belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dia sudah melahap bibirku. Aku terbelalak.



Aku meronta dan memukulnya. Aku tidak mau kejadian semalam terjadi lagi.



Namun ciuman Reynaldi semakin dalam. Percuma.. Dia akan kalap jika aku berontak.



Reynaldi melepaskan ciumannya dan menatapku penuh hasrat.



"Maafkan aku." kata Reynaldi.



"Aku tidak mau!" kataku sambil melipat kedua tangan di depan dada.



"Maafkan aku, atau aku akan menciummu lagi." kata Reynaldi penuh ancaman.



Permintaan maaf macam apa itu! Dia meminta maaf tapi juga mengancamku!



Menyebalkan!




"Aku tidak mau.. Kau terus meminta maaf dan nanti kau akan mengulanginya lagi.. Dan akan terus seperti itu! Aku bosan, Reynaldi." kataku.



"Jadi.. " dia malah bertanya.



Menyebalkan!



"Aku benci padamu!" teriakku.



"Jadi kau tidak mau memaafkanku?" tanya Reynaldi dengan ekspresi sedih.



Dia mendekatkan wajahnya ke leherku dan berbisik. "Jika kau tidak mau memaafkanku, aku akan menarik jubah mandimu dan membuatmu berteriak di bawahku.." aku segera menutup mulutnya dengan kedua tanganku.



"Cukup, berhenti mengatakan kata-kata seperti itu di depanku." kataku menggerutu.



Aku melepaskan tanganku dari dia. Dia tersenyum tampan. Aku mengalihkan pandanganku kesal.



"Jadi kau memaafkanku?" tanya Reynaldi memastikan. Aku mengangguk.



"Ye!!" dia mengangkat tubuhku dan mengecup pipiku dengan lembut.



"Aku mencintaimu." kata Reynaldi.



Aku memeluk erat lehernya. Karena dia berputar-putar membuatku takut jatuh.



"Aldi!! Kepalaku pusing!" teriakku. Dia pun berhenti berputar dan menurunkanku.



"Sekarang keluar dari kamarku.. Sebelum kedua orang tuaku curiga!" kataku menggerutu.



"Baiklah," kata Reynaldi kemudian dia membuka pintu kamar. Namun kami berdua terkejut dengan keberadaan Mama dan Papa yang sudah berada di depan pintu kamarku.



Aku dan Reynaldi saling pandang.



Mama dan Papa melihat kemeja coklat Reynaldi yang acak-acakan dengan tiga kancing teratasnya terbuka begitupun dengan rambutnya dan acak-acakan.



Mereka juga melihatku yang hanya mengenakan jubah mandi dengan rambut basah. Belum lagi banyak kissmark di sekitar leherku. Ya ampun!



Mereka pasti akan berpikir yang bukan-bukan..



Mama tersungkur tak sadarkan diri.



Aku sangat terkejut. Aku menutup mulutku.



Papa mengguncangkan tubuh Mama. "Sayang.. Bangunlah" kata Papa.



Namun sepertinya Mama pingsan. Papa mengangkat tubuh Mama.



"Kita perlu bicara " kata Papa sambil berlalu membawa Mama.



Aku mencubit perut Reynaldi. Reynaldi meringis kesakitan.



"Ini karenamu, mereka pasti berpikir aneh tentang kita, nanti mereka pasti marah padaku.. " kataku menggerutu.



Namun pria sialan di sampingku malah tertawa.



"Baguslah.. Aku yakin setelah ini mereka akan setuju dengan pernikahan kita.. " kata Reynaldi.



Aku mendengus kesal.



Sebenarnya, laki-laki macam apa dia?



By



Ucu Irna Marhamah