
Erick masih mengamati sekeliling, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa benar yang baru saja terjadi adalah sebuah mimpi. Tentu saja sebenarnya Erick berharap itu adalah kenyataan.
Erick menerjunkan kepalanya di atas meja belajarnya, berusaha untuk menenangkan pikirannya. Kalut sekali hati dan pikirannya saat ini.
Erick melirik jam dinding di kamarnya. Sudah jam tiga pagi rupanya. Dia tidur pulas dengan mimpi indahnya hanya di sebuah kursi belajar. Mimpinya sangat terasa nyata bagi Erick.
Setelah merapikan pot daisy, kursi belajar, dan pakaiannya yang kusut, Erick beranjak menuju ranjang tidurnya. Membenamkan kepalanya ke bantal. Mencoba melanjutkan mimpinya tadi, berharap ada kelanjutan dari adegan mimpi bersama Lexa tadi.
****
Erick masih tengkurap di tempat tidurnya. Tidurnya terlihat sangat pulas walaupun dia tak bermimpi apa-apa, padahal sinar matahari sudah masuk ke jendela kamarnya yang terbuka.
Hawa dingin khas udara pegunungan terasa menusuk tubuh, membuat Erick masih tetap setia di ranjangnya yang hangat.
"Rick, bangun!" Tegas Martha.
"Suah jam setengah enam. Kamu harus sekolah." Tegas Martha lagi, yang kini agak kasar menggoyangkan tubuh Erick agar segera sadar dam terbangun dari tidur pulasnya.
"Rick, kamu sudah janji mau ke sekolah hari ini. Kamu lupa?! Lexa yang minta kamu untuk ke sekolah hari ini." Bujuk Martha dengan menyebut nama Lexa.
Benar saja. Kata Lexa adalah kata ajaib untuk Erick. Dia langsung segera mengucek matanya, berusaha untuk bangun. Perlahan mata Erick pun terbuka, tersenyum menatap mamanya, Martha.
"Ayo, bangun dan segera mandi! Terus sarapan di bawah. Sudah Mama siapkan semuanya." Ucap Martha yang langsung melenggang keluar kamar Erick, setelah melihat anaknya berhasil bangun dengan sempurna dan sekarang dalam posisi duduk di tepi ranjang miliknya.
Erick sudah siap untuk bangun dan segera mandi. Kebetulan kamarnya sudah ada fasilitas kamar mandi, jadi Erick dengan cepat bisa membersihkan tubuhnya. Tak lupa dia menoleh ke arah jendela kamar Lexa, berharap ada sesuatu di sana. Namun Erick hanya tersenyum masam, dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
****
Erick sudah bersiap menuju ke sekolah, dia akan berangkat bersama Martha. Kebetulan Martha ada urusan pagi ini di tempat kerjanya, sehingga bisa berangkat bersama Erick.
Erick sudah berada di teras menanti Martha keluar dengan mobil sedannya. Mata Erick tak lepas dari rumah di sebelahnya. Mencari sesuatu yang harusnya bisa membuatnya senang. Tapi dengan dia berangkat sekolah juga adalah bagian menunjukkan kebahagiaan untuknya.
"Ayo, masuk!" Pinta Martha yang sudah siap mengantar Erick.
Erick mengangguk dan segera menuruti Martha untuk segera memasuki mobil dan berkendara bersama menuju ke sekolah.
"Mama udah ketemu tante Ratih belum?" Tanya Erick.
Martha hanya mengangguk dan mengembangkan senyum.
"Mama tanya kondisi Lexa ga?" Tanya Erick lagi.
Raut wajahnya menunjukkan keseriusan, berharap Martha akan menjawab dengan mengatakan hal yang menggembirakan.
Martha masih saja tersenyum, tapi sambil mengelus rambut Erick yang kaku karena gel.
"Kami konsentrasi saja belajar. Kamu sudah bolos berhari-hari. Perhatikan sekolahmu dulu, baru perhatikan yang lain!" Jawab Martha mengambang.
"Tapi, Ma..." Erick belum sempat melanjutkan keluh kesahnya, tapi Martha sudah mengancamnya.
"Kamu mau nurut Mama atau tidak? Apa perlu Mama kasih tahu Lexa kalau kamu mau bolos sekolah lagi?" Tegas Martha.
Erick menyerah. Dia tak berani menjawab. Dan merekapun berkendara dalam diam.
****
Sekolah belum mulai, karena bel tanda masuk belum terdengar. Erick berangkat kepagian, karena mengikuti jadwal Martha yang harus berangkat pagi-pagi sekali.
Erick duduk saja di kursinya. Memainkan pena yang dia taruh di antara hidung dan mulutnya yang sengaja dia manyunkan agar si pena bertengger tanpa terjatuh.
Keadaan Kelas masih sangat lengang. Hanya beberapa temannya yang baru saja datang. Mereka menyapa Erick dengan sopan, tapi Erick hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja.
Erick benar-benar tak berniat ke sekolah hari ini. Niat untuk ke sekolah sejak hilang saat Lexa tidak diterima di kelas ini karena sakit. Erick bahkan masih merasa kecewa kepada wali kelas dan sahabat-sahabatnya. Sehingga dia tidak berniat untuk sekedar menyapa bahkan untuk bercengkerama dengan mereka saja tidak Erick inginkan.
Kelas sudah mulai ramai, ada Ari juga yang nampak baru saja datang. Erick hanya melirik saja. Kali ini dia sedang memainkan buku tulisnya yang terlihat dibolak-balik saja tanpa dibaca.
Ari menatap ke arahnya setelah menaruh tas ransel warna hitam di laci mejanya.
"Rick!" Sapa Ari yang kini sudah tepat berdiri di samping Erick.
"Mmmmm" Jawab Erick masih dengan kesibukannya yang tak biasa.
"Gimana kabar Lexa?" Tanya Ari antusias.
Erick sedikit menghentikan aktivitasnya memainkan buku. Mencoba menjawab dengan hanya menganggukkan kepala.
Ari agak kecewa dengan sikap Erick. Tapi dia memaklumi karena dia juga merasa tak enak hati.
"Kamu kemana aja sampai baru sempat ke sekolah?" Tanya Ari mencairkan suasana.
"Ada..." Jawab Erick ketus.
"Kamu marah sama aku, Rick?" Tanya Ari penasaran.
Kali ini pertanyaan Ari benar-benar menghentikan aktivitas Erick dengan bukunya. Erick menatap tajam ke depan. Mengumpulkan napas untuk menjawab pertanyaan Ari itu.
"Aku ga marah. Cuma aku kecewa aja." Jawab Erick tidak santai.
Erick menatap Ari. Dipandangnya sahabat setianya itu, kemudian membuang muka. Erick merasa kecewa kepada Ari. Sebagai ketua kelas dan sahabatnya, dia tidak bisa memutuskan hal yang baik. Padahal dia sendiri tahu bagaimana sikap Lexa kepadanya. Erick merasa Ari tidak adil kepada Lexa.
Ari adalah anak yang pintar dan baik hati. Tentu dia tahu bagaimana cara menyikapi salah satu sahabatnya yang sedang membutuhkannya. Dia harusnya menunjukkan sikap peduli, tapi Ari dan semua teman yang ada di kelasnya bahkan seorang Irma saja tidak bisa menunjukkan empati kepada Lexa.
Erick benar-benar mendiamkan Ari yang masih saja terus ingin berbicara dengannya. Erick pun melihat sosok Ana yang baru saja datang. Mereka hanya saling lirik saja.
Tak lama bel masuk sekolah berbunyi. Semua teman Erick sudah masuk di ruang kelas, siap menyambut Irma untuk mendapatkan ilmu yang akan Irma bagi.
Ana menoleh ke arah Erick. Dia lihat Erick hanya sibuk dengan kertas yang di corat-coret. Mukanya sangat masam sehingga Ana tak berani untuk menyapanya.
Sudah lima belas menit berlalu, tapi Irma belum masuk ke kelas. Tidak biasanya Irma telat masuk tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Akhirnya Ari sebagai ketua kelas berinisiatif untuk menjemput Irma yang mungkin masih berada di ruang guru.
Ari berjalan menyusuri koridor sekolahnya menuju ruang guru. Ari mengetuk pintu dan mengucapkan permisi untuk masuk ke ruangan luas itu.
Di ruang guru terlihat sepi, hanya ada Pak Penjaga yang sedang merapikan perkakas di sudut ruangan.
"Pak Rusdi?" Sapa Ari.
"Bu Irma mana? Tasnya sudah ada, tapi beliau belum masuk kelas." Tanya Ari.
"Oh.. Bu Irma lagi di ruangan Kepala Sekolah. Tadi rupanya dia di panggil kesana." Jawab Pak Rusdi.
"Oh... Makasih Pak Rusdi." Balas Ari.
"Ya, sama-sama." Timpal Pak Rusdi yang melanjutkan aktivitasnya setelah kepergian Ari.
Ari pun segera menuju ruang kelas lagi, tak berani menemui Irma di ruang Bu Lusi karena mungkin ada hal yang penting yang harus dibicarakan.
Belum sempat Ari sampai ke ruang kelas, dia berpapasan dengan Irma yang baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Ari?" Sapa Irma yang melihat Ari di depannya.
"Eh, Ibu..." Jawab Ari seraya menyalami Irma.
"Darimana?" Tanya Irma.
"Dari ruang guru, Bu. Cari Ibu." Santai Ari.
"Oh... Maaf Ibu telat. Ada hal mendesak yang Bu Lusi harus sampaikan kepada saya." Jelas Irma.
Ari mengangguk paham.
Ari menangkap ada hal serius terjadi dari raut wajah Irma. Ari penasaran.
"Bu.. Ada apa? Kok Ibu melamun?" Tanya Ari.
"Eh... Kenapa, Ri?"
Benar dugaan Ari, ada hal yang mengganggu pikiran Irma rupanya.
"Ibu Irma kenapa? Kok tiba-tiba melamun?" Tanya Ari mengulangi pertanyaannya.
Irma mengambil jeda untuk menjawab pertanyaan Ari itu. Dia seperti berpikir hendak memulai darimana untuk menceritakannya.
"Oh ya, Bu.. Erick sudah masuk sekolah." Ucap Ari mengalihkan pembicaraan.
Melihat Irma yang tak bisa berkata-kata dengan raut wajah murung membuat Ari tak tega menanyakannya lebih dalam.
"Erick?" Tanya Irma terkejut.
"Iya, Bu..." Jawab Ari dengan raut wajah bingung.
Kenapa Irma terkejut mendengar Erick sudah masuk ke sekolah? Bukankah harusnya Irma senang Erick sudah mau kembali ke sekolah? Pikir Ari.
"Benat Erick hari ini datang ke sekolah?" Tanya Irma meminta penjelasan kembali.
Ari menjawabnya dengan mengangguk, tapi memasang muka bingung.
"Apa Erick belum tahu?" Gumam Irma, tapi masih terdengar di telinga Ari.
"Belum tahu apa, Bu?" Ari penasaran.
****
Ari dan Irma melangkah bersama menuju ke ruang kelas mereka. Keduanya tampak tegang. Apalagi Ari yang sedikit menunjukkan rasa gelisah.
Keduanya sudah sampai di depan kelas. Irma melirik Ari, kemudian mengangguk kepada Ari seperti memberi isyarat. Dan Ari paham. Dia membalas anggukkan Irma dengan anggukkan juga.
Ari sudah masuk ke ruangan, diikuti Irma di belakangnya. Ari melihat Erick. Tapi Erick masih saja mengacuhkannya, membuat Ari memasang muka sedih melihat Erick.
"Selamat pagi anak-anak.." Sapa Irma hangat.
"Selamat pagi, Bu..." Jawab semua muridnya yang ada di kelas.
Terkecuali Erick yang malah membuang pandangan ke arah luar jendela.
Irma menyaksikannya. Kemudian memasang muka sedih sama seperti yang Ari tunjukkan.
"Erick..." Sapa Irma dengan suara lembut.
Semua pandangan mata teman-temannya menuju ke arah Erick yang masih membuang muka menikmati suasana di luar kelas yang lebih menarik perhatiannya.
Irma mengambil napas panjang. Mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Erick.
"Erick... Bisa dengarkan sebentar apa yang akan saya sampaikan?!" Pinta Irma dengan suara yang sedikit parau.
Erick mendengar dengan jelas apa yang Irma katakan. Dia akhirnya berdamai dengan dirinya agar rela mendengarkan Irma, bagaimanapun Irma adalah guru yang pastinya dia sayangi tentu sebagai murid Erick akan tetap bersikap hormat dan menghargainya.
"Anak-anak..." Irma mulai pembicaraan serius.
Erick dan yang lainnya terlihat mendengarkan dengan seksama.
"Ada hal yang harus Ibu sampaikan." Nada suaranya semakin tercekat.
Murid-muridnya terlihat saling tatap, penasaran sekali apa yang akan Irma katakan. Sepertinya kabar yang tidak menggembirakan jika dilihat dari sikapnya.
"Anak-anak... Ada kabar duka yang datang dari sekolah kita" Suara Irma lantang.
Ekspresi wajahnya sudah tidak baik-baik saja, begitupun dengan semua orang yang ada di kelas.
"Hari ini, kita.... kehilangan seorang teman yang kita kasihi." Suara Irma sudah bercampur tangis.
Murid-murid Irma menunjukkan ekspresi penasaran. Mereka saling tatap, berusaha saling menemukan jawaban dari ucapan Irma. Berbeda dengan Erick yang memasang tatapan tajam ke arah Irma.
Irma membalas tatapan Erick dengan tatapan sendu. Mengusap airmata yang tampak menetes di pipinya.
"Hari ini kita kehilangan teman kita... Alexa Diandra Putri." Tegas Irma.
Tatapan Irma benar-benar sendu ke arah Erick. Irma menjadi rapuh di hadapan tatapan Erick yang masih tajam menyayat hatinya. Airmatanya berlinang kini, tanpa bisa dia bendung.