
Ratih tertidur pulas di ranjang Lexa. Sepucuk surat dari Lexa masih nyaman dalam dekapannya. Muka Ratih masih sembab, tapi ada seberkas kepuasan yang nampak tersirat dalam guratan wajahnya.
Ratih sudah sangat letih. Wajahnya sudah menunjukkan raut kelelahan yang teramat sangat. Tubuhnya juga terlihat sangat lemah tak berdaya.
Beruntungnya, waktu mengizinkan Ratih untuk beristirahat sejenak melepas semua beban di hati dan pikirannya. Tentu dengan harapan, agar ketika Ratih bangun, dia sudah punya tenaga yang akan dia gunakan untuk melewati takdir yang sudah digariskan untuknya.
****
Diluar hari semakin terik. Sinar matahari tak ragu untuk menghangatkan siapa saja yang masih dalam jangkauan sinarnya. Tak terkecuali seorang laki-laki dengan kemeja hitam bercelana jeans bolong di bagian lutut. Dengan kacamata hitam yang masih melekat menghiasi parasnya yang tampan.
Erick masih berjalan menyusuri jalanan dibawah sinar matahari yang terik. Dia nampak masih kesal karena pertemuannya dengan Rachel di pusara Lexa. Wajah tampannya terlihat sungkan. Dalam pikirannya masih terngiang gerak-gerik Rachel di depan pusara Lexa.
Pikiran Erick yang sedang berkelana jauh, mendadak buyar. Ketika langkah kakinya sudah sampai di depan rumah Lexa. Rumah yang masih terpasang bendera kuning itu nampak sepi. Pintu rumahnya tertutup rapat seperti biasanya. Erick ragu hendak melangkah kemana. Tapi kemudian suara Martha yang baru saja pulang dari kegiatan dinasnya, menyapa Erick bersamaan dengan klakson mobil yang dikendarai.
Erick pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah menemui Martha dan beristirahat sejenak. di dalam kamarnya yang pasti nyaman.
****
Erick sudah selesai bersantap siang dengan Martha. Dia sudah berada di kamarnya yang nyaman sambil memainkan sebuah lagu dengan iringan petikan gitar yang berada dalam dekapannya. Pikiran Erick masih berselancar jauh. Petikan gitarnya semakin membuatnya terhanyut dalam lamunan yang dia bangun sendiri.
~ All my bags are packed I'm ready to go ~
~ I'm standin' here outside your door ~
~ I hate to wake you up to say goodbye ~
~ But the dawn is breakin' It's early morn~
~ The taxi's waitin' He's blowin' his horn~
~ Already I'm so lonesome I could die ~
~ So kiss me and smile for me ~
~ Tell me that you'll wait for me ~
~ Hold me like you'll never let me go ~
~ 'Cause I'm leavin' on a jet plane ~
~ Don't know when I'll be back again ~
~ Oh babe, I hate to go ~
Lirik lagu itu hanya bersenandung lewat petikan gitar milik Erick. Erick mendendangkannya dalam hati. Dalam batin yang sedang terkoyak rasa yang Erick sendiri tak mampu mengartikannya.
Dalam iringan lagu yang dia nyanyikan dalam hati, akal Erick berkelana mencari memori tentang Lexa yang tersimpan rapi dalam ingatannya.
Erick mengingat kembali saat pertama dia melihat Lexa dari balik jendela kamarnya. Mengutas senyum untuk dunia. Dunia dimana Erick pun berdiri disana, menyaksikan senyum indah dari sosok wanita yang belum pernah dia kenal.
Ingatannya juga kembali memutar kenangan saat Erick melangkah bersama menuju ke sekolah. Lexa masih tak berkenan dengan kehadirannya. Tapi Erick tak pantang menyerah, dia sudah menginginkannya sejak awal pertama Erick memandang senyum Lexa dari jendela kamarnya.
Erick berusaha mencari celah agar bisa bicara dengan Lexa. Lexa benar-benar membuatnya penasaran. Setiap hari ketika pulang ke rumah dia akan terus mengawasi Lexa dari kamarnya. Bahkan Erick rela untuk membiarkan jendela kamarnya terbuka. Jika sesekali dia merasakan Lexa hadir di sudut jendela kamarnya, maka dia tak perlu lagi susah payah membuka jendela kamarnya untuk melihat keanggunan Lexa.
Erick memang mengagumi setiap detail wajah polos Lexa. Wajah yang memancarkan aura yang membuatnya tak berhenti memikirkannya.
Ingatannya kembali pada saat pertama Erick bisa berhadapan dengannya di bangku taman sekolahnya. Dia benar-benar dibuat terpana oleh paras ayu Lexa. Dia tak berhenti berdecak kagum dengan keanggunan Lexa yang berada tepat dihadapannya. Lexa sungguh lebih cantik dari yang dia lihat dari balik jendela kamarnya.
~ There's so many times I've let you down ~
~ So many times I've played around ~
~ I tell you know, they don't many a thing ~
~ Every place I go, I'll think of you ~
~ When I come back, I'll bring you wedding ring ~
~ So kiss me and smile for me ~
~ Tell me that you'll wait for me ~
~ Hold me like you'll never let me go ~
~ 'Cause I'm leavin' on a jet plane ~
~ Don't know when I'll be back again ~
~ Oh babe, I hate to go ~
Memori tentang Lexa masih jelas dalam ingatannya. Setiap detik yang dia lalui bersama Lexa tak bisa Erick lupakan. Dia masih menjamu kehadiran Lexa yang menari-nari dalam ingatannya, mengiringi kehadiran Lexa dengan alunan melodi yang Erick petik dengan gitarnya.
Kenangannya sampai pada saat Lexa dan dirinya melangkah bersama menyusuri jalan-jalan saat pulang dan pergi ke sekolah. Beriringan mendengarkan lagu lewat MP3 Player putih milik Lexa.
Erick jadi semakin mengagumi sosok Lexa yang ternyata sama-sama menyukai musik. Salah satu nilai plus yang dimiliki Lexa yang berhasil menarik perhatiannya lagi.
Musik bagi Erick adalah separuh jiwanya. Hampir setiap waktu luang Erick, selalu dihabiskan untuk musik. Entah itu memainkan alat musik, mendengarkan lewat radio atau mp3 player miliknya, atau hanya sekedar melipsingkan sebuah lagu saja sudah membuat gundah gulana yang dia rasakan pergi jauh entah kemana.
Seperti yang dia lakukan sekarang ini, memainkan sebuah alat musik untuk menghabiskan waktu luangnya. Berdendang mengikuti irama gitar yang dia mainkan sendiri. Sambil terus mengingat Lexa yang sedang dia pikirkan.
****
Erick terbaring di rerumputan dekat danau yang airnya begitu jernih. Sendiri memejamkan matanya. Mengenakan kaos oblong berwarna putih kesukaannya. Tidak lupa mengenakan celana jeans rombeng andalannya.
Semilir angin menemani Erick yang masih asyik terpejam bak orang yang tertidur. Terdengar juga suara kicauan burung yang berlarian kesana-kemari mencari makan. Tapi bagi Erick, kicauannya lebih terdengar seperti sebuah lagu yang burung dendangkan untuk berterimakasih kepada alam. Kaki kanan Erick yang terbalut sepatu hitam lusuh pun sampai ikut bergerak, mengikuti alunan kicau burung yang dia dengar.
Rambut gondrongnya tergerai di atas rerumputan hijau. Dengan latar belakang pepohonan cemara yang masih asri, membuat Erick semakin terhanyut dalam lamunannya sendiri. Ditambah lagi angin yang menerpa sepoi-sepoi menyapa wajahnya. Dan tak lupa menggerakkan dedaunan lebat di sekitar Erick. Sungguh membuat siapapun yang berada disana merasa nyaman.
Erick semakin tenggelam dalam suasana sejuk sekitar danau yang dulu pernah dia singgahi bersama dengan Lexa. Hampir saja Erick benar-benar tertidur pulas menikmati kenyamanan yang di tawarkan sang danau untuknya.
Sampai Erick merasakan ada seseorang yang datang menghampirinya. Dia merasakan ada orang yang mengamatinya. Bau wangi juga jelas menusuk hidungnya yang mancung.
Erick berusaha membuka matanya yang terasa silau oleh kilatan cahaya matahari yang menyapanya melewati celah dedaunan raksasa di atasnya. Sehingga seseorang di hadapannya nampak seperti sebuah siluet.
Belum sempat Erick membuka mata sepenuhnya, seseorang yang tadi berdiri tegak mengawasinya sudah beranjak dan memilih duduk di dekatnya. Seseorang itu sudah Erick pastikan adalah seorang perempuan. Dengan gaun putih bersih dan jaket wol berwana krem menutupi tubuhnya yang mungil. Gaunnya hanya sebatas lutut, menyisakan kaki jenjangnya yang mulus. Kakinya hanya beralas flat shoes berwarna putih bersih. Terlihat sangat feminim. Tapi wajah dengan rambut tergerai itu masih terlihat silau di mata Erick.
Berkali-kali Erick coba untuk mengusap kedua matanya yang masih belum sempurna untuk melihat pemandangan sekitar, namun masih belum terang juga sosok di sampingnya itu. Tapi Erick tak putus asa. Dia masih mencoba membelalakkan matanya lagi agar dapat jawaban perihal seseorang di sampingnya.
Setelah susah payah mengontrol pandangannya, akhirnya Erick dengan jelas bisa melihat sosok perempuan yang dekat dengannya. Erick terlihat terkejut melihat pemilik tubuh mungil dan wangi yang berada tepat di sampingnya.
"Lexa???"
Suara Erick penuh dengan keterkejutan yang amat dalam.
Seseoramg yang berada di sampingnya yang dengan jelas dia panggil dengan nama Lexa hanya mengutas senyum manis untuk membalas Erick.
"Lexa? Kaukah itu??" Tanya Erick penasaran.
Perempuan itu tersenyum. Mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan Erick.
Erick masih tak percaya. Dia masih terlihat syok. Dengan tatapan dalam dia amati perempuan yang mengaku Lexa itu.
Rambutnya yang tergerai dihempas tiupan angin lirih, sehingga beberapa helai rambutnya sedikit menutupi paras ayunya yang menawan. Sinar matahari juga membantu membuat efek bersinar dari balik punggungnya. Ditambah senyum manis yang benar-benar seperti Lexa, terkembang di wajahnya yang rupawan. Tapi Erick masih terpaku dalam diam. Dia tak ingin hanyut dalam angannya sesaat.
Erick memalingkan wajahnya dari sosok yang mengaku Lexa. Tapi tak lama, dalam hitungan beberapa detik saja Erick langsung kembali menoleh ke arah perempuan di sampingnya.
Erick amati lagi dengan matanya yang tajam dan sendu itu. Melihat perempuan itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Dan kesimpulannya tidak berubah, dia benar-benar Lexa.
Lexa yang benar-benar sedang duduk di sampingnya sekarang. Memberikan senyuman ayu kepadanya. Tapi apa yang bisa Erick katakan. Erick hanya terdiam menatap Lexa saja.