
Shica membuka lemari di walk in closet dia memilih pakaian mana yang akan dia pakai.
"Maksud Reynaldi pakaian yang mana? Disini semuanya lingerie.. Apa dia berniat membuatku terlihat seperti jalang? " gerutu Shica.
Shica memilih memakai salah satu dari lingerie itu sebelum Reynaldi marah-marah nantinya.
Shica mengenakan pakaian seksi berwarna hitam itu membuat kulitnya terlihat kontras dengan lingerie tersebut.
Dia pun menatap pantulan dirinya sendiri dicermin.
"Apa.. Aku akan melakukannya.. Apa aku harus merelakan diriku atas kewajibanku?" gumam Shica.
"Tapi entah kenapa aku merasa belum bisa.. Aku tidak mau.. " gumam Shica.
Shica menghela napas berat. Dia pun keluar dari walk in closet. Shica melangkahkan kakinya menuju kamar atas.
Dia menarik bagian depan bajunya keatas untuk menutupi belahan dadanya. Namun malah membuat pahanya terlihat.
"Baju sialan macam apa ini.. Siapa yang membuatnya.. Untuk apa di jadikan pakaian jika tubuhku masih terlihat dan tidak bisa ditutupi" gerutu Shica.
Kini Shica berdiri didepan pintu kamar yang ada hiasan gatungan bunganya.
Shica terlihat gugup. "Bagaimana ini.. " gumam Shica.
Shica mengetuk pintu kamar tersebut.
Tidak ada jawaban..
Shica kembali mengetuk pintu. Namun tetap saja tidak ada jawaban.
Shica membuka pintu perlahan. Dia mendapati Reynaldi berdiri membelakangi nya dengan kemeja putih dan boxernya.
Shica melihat ke sekeliling kamar. Terdapat banyak bunga. Dekorasi yang Indah.
Ranjang pengantin juga ditaburi kelopak bunga warna merah. Yang Shica yakini kalau itu kelopak bunga Mawar.
"Tutup pintunya " kata Reynaldi tanpa menoleh sedikitpun.
Shica menurut. Dia menghampiri Reynaldi dan kini berdiri tepat dibelakang Reynaldi.
"Lain kali kau tidak perlu mengetuk pintu " kata Reynaldi.
"Bagaimana jika kau tidak sedang memakai pakaian? Dan aku masuk tanpa permisi" tanya Shica.
"Memangnya kenapa jika aku tidak memakai pakaian didepan istriku sendiri? " tanya Reynaldi sambil berbalik.
Semua kancing kemejanya terbuka menampilkan dada yang bidang dan perut yang kotak-kotak.
Shica mengalihkan pandangannya. Kedua pipinya merona. Reynaldi tersenyum. Dia yakin istrinya malu karena melihatnya bertelanjang dada.
Reynaldi maju selangkah. Dia memperhatikan tubuh istrinya yang berbalut lingerie yang begitu pas dengan tubuhnya. Reynaldi melepaskan kemejanya. Kini dia hanya mengenakan boxer.
Shica yang menyadari tatapan suaminya itu segera menutupi tubuhnya. Namun kedua tangannya dicekal oleh Reynaldi.
"Kau menjaga tubuhmu dengan baik selama ini.. Tanpa cacat.. Tanpa ada goresan sedikitpun.. Dan yang pasti, belum pernah ada laki-laki yang menjamah tubuhmu.. " kata Reynaldi.
Shica mengalihkan pandangannya. Sungguh dia sangat malu.
".. Aku sangat senang karena aku menjadi yang pertama.. " sambung Reynaldi.
Shica masih diam. Dia sama sekali tidak berniat bicara.
".. Dan kau tahu, ini bukan yang pertama untukku.. Terimakasih telah menerimaku.. Walau terpaksa" kata Reynaldi lagi.
Reynaldi menarik tangan Shica dan menyentuhkannya ke dadanya. Tangan Shica gemetar karena untuk pertama kalinya dia menyentuh dada seorang pria secara langsung.
"Kau dengar detak jantungku? " tanya Reynaldi. Shica mengangguk pelan.
Reynaldi menarik pinggang Shica membuat tubuh mereka merapat.
Shica melelapkan kepalanya di dada Reynaldi. Reynaldi membelai lembut pucuk kepala Shica.
"Untuk kesekian kalinya.. Aku minta.. Berikan dirimu padaku Rastani.. " kata Reynaldi dengan suara bergetar.
Shica menutup rapat matanya. Dia tidak tega pada Reynaldi. Dia sudah terlalu sering menyakiti Reynaldi.
Shica masih terdiam..
".. Apa boleh? " tanya Reynaldi. Sekarang dia meminta izin terlebih dahulu kepada Shica. Karena dia tidak ingin menyakiti Shica lagi.
Shica melepaskan pelukannya dan memberanikan diri menatap manik sapphire milik Reynaldi.
"Aku akan menunaikan kewajibanku padamu.. Suamiku" kata Shica.
Reynaldi tersenyum kemudian menangkup wajah Shica dan mengecup bibir Shica dengan lembut.
Shica membulatkan matanya. Namun perlahan, dia membalas ciuman Reynaldi.
Aldi merasa sangat bahagia. Dia menarik pinggang Shica dan menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang.
Dengan posisi Shica diatas tubuh Reynaldi. Ciuman mereka masih berlangsung.
Sementara itu, Reynaldi membelai punggung Shica yang terekspos bebas.
Reynaldi merasakan dada Shica menekan dadanya dengan posisi seperti itu. Dan itu membuat Reynaldi semakin bergairah.
Perlahan tangan Reynaldi bergerak menarik tali lingerie di punggung Shica. Kini jelas terpampang dihadapannya bagian atas tubuh Shica terekspos.
Shica melepaskan ciumannya. Dia merasa sangat malu. Kedua pipinya benar-benar sudah sangat merah.
Reynaldi bertukar posisi menjadi diatas tubuh Shica. Shica menatap Reynaldi yang berada diatas tubuhnya.
Shica akan menutupi dadanya. Namun Reynaldi menahannya. Reynaldi mendekatkan wajahnya ke leher Shica.
Dia mengecup dan membuat tanda kepemilikan disana. Shica merasa kegelian.
Reynaldi menatap wajah Shica dengan begitu lekat. Shica juga menatap Reynaldi penuh makna.
"Apa kau mencintaiku? " tanya Reynaldi.
Shica tidak langsung menjawab. Namun kemudian, dia mengangguk. "Aku mencintaimu, Reynaldi" jawab Shica.
Reynaldi menatap dalam kedua manik Shica.
"Kau berbohong.. Aku tidak bisa memaksamu" kata Reynaldi sambil beranjak dari tubuh Shica kemudian berlalu.
Namun Shica menarik tangan Reynaldi. "Aku tidak terpaksa.. Sungguh.. " kata Shica.
"Jangan membuatku terlihat bodoh.. Aku lelah Rastani" kata Reynaldi kemudian melangkahkan kakinya akan keluar dari kamar tersebut.
Shica bangkit sambil menutupi dadanya. Dia menghalangi jalan Reynaldi.
Reynaldi menghentikan langkahnya dan menatap lurus kedepan tanpa melirik Shica sedikitpun.
"Aldi.. Aku mohon.. Aku tidak mau membuatmu menderita.. Aku mohon Aldi.. Aku tidak terpaksa.. Aku rela.. " kata Shica.
Aldi akan membuka pintu kamar. Tapi Shica menghalanginya.
"Kau mau kemana? " tanya Shica.
"Aku mau keluar.. Mencari wanita lain.. " jawab Reynaldi.
Shica terkejut. Dia melepaskan tangan Reynaldi.
Reynaldi tertawa. "Seharusnya kau menahanku.. Jika kau mencintaiku.. Kenapa kau melepaskan tanganku? " tanya Reynaldi.
Shica terdiam.
Reynaldi mendekat kemudian membenarkan lingerie yang dipakai Shica.
Reynaldi tersenyum kemudian berlalu.
Shica terdiam seribu kata.
By
Ucu Irna Marhamah