Don't Leave Me

Don't Leave Me
04



David melangkahkan kakinya memasuki apartemennya. Semenjak masuk SMA, David memutuskan untuk tinggal sendiri sehingga dia meminta pada papanya untuk membelikan apartemen untuknya.


David memasuki kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Dia mengambil handphonenya dan menyambungkannya ke speaker bluetooth. Dia mulai menyetel lagu Never not—Lauv. David berjalan menuju balkonnya sambil menatap langit malam.


"Malam ini langitnya juga penuh bintang." ucap David tersenyum tipis.


There’s a room


In my heart with the memories we made


Took ’em down but they’re still in their frames


There’s no way I could ever forget, mmm


For as long as I live and as long as I love


I will never not think about you


You, mmm


I will never not think about you


From the moment I loved, I knew you were the one


And no matter what I-I do, ooh, mmm


I will never not think about you


"Ini lagu kesukaan aku loh." ucapnya tersenyum manis sambil menatap langit malam.


"Lagunya enak sih." balasnya melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu dari belakang.


"Bukan karna itu. Tapi arti lagunya."


"Emang apa artinya?"


"Aku takkan pernah tak memikirkanmu." Tersenyum manis ke arah David. "Romantiskan?"


"Biasa aja sih. Tapi itu yang selalu aku lakuin kalau kamu nggak ada disamping aku."


Gadis itu terkekeh. "Gombal mulu deh."


"Beneran kok. Makanya janji jangan pernah ninggalin aku."


"Aku gak bakal janji." ucapnya menatap langit yang dipenuhi bintang.


Pelukan itu terlepas. "Kenapa? Emangnya kamu mau kemana?"


Gadis itu tersenyum dan menatap David. "Karna kita gak akan tau apa yang bakal terjadi dimasa depan nanti. Misalnya nanti aku yang ninggalin kamu, aku harap kamu tetep ingat sama aku sambil dengerin lagu ini."


"Gak usah ngomong yang aneh-aneh deh. Buat mood aku jadi jelek aja."


Gadis itu terkekeh dan memeluk erat pacarnya. "Tapi janji ya jangan lupain aku kalau hal itu terjadi. Kalau sampe lupa aku bakal marah sama kamu."


"Hal itu nggak bakal terjadi. Kalaupun terjadi aku nggak bakal lupain kamu." Membalas pelukannya.


David tersenyum pahit. "Nyatanya hal itu terjadi. Lo ninggalin gue."


-~-


"Non, bangun non. Udah siang."


Anna menarik selimut menutupi wajahnya. "Hari ini sabtu Bi jadi libur."


"Tapi non, den Alvin udah tungguin dibawah."


Anna langsung melebarkan matanya dan bangun dari tidurnya. "Alvin?"


"Iya non. Dia nungguin non daritadi."


Anna baru ingat bahwa dia ada janji untuk pergi nonton bersama Alvin hari ini. "Aduh Bi, kok gak bangunin Anna sih daritadi."


"Udah saya bangunin non daritadi. Non Anna malah gak bangun-bangun."


Anna berlari mengambil handukny dan masuk ke kamar mandi. "Bi bilangin Alvin tunggu bentar lagi ya!" teriak Anna di kamar mandi.


Bi Inam langsung turun menuju ruang tamu. "Den Alvin tunggu sebentar lagi ya. Non Anna sedang siap-siap," ucapnya sambil tersenyum ramah.


"Iya Bi, gpp kok. Udah kebiasaan Anna kek gitu."


"Iya den. Ngomong-ngomong den Alvin mau minum apa? Saya buatin."


"Gpp kok Bi. Nanti kita bakal keluar sekalian makan kok. Bibi nggak usah repot-repot."


"Baik den. Bibi permisi dulu."


Alvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ramah pada Bi Inam. 30 menit kemudian akhirnya Anna turun dari kamarnya menghampiri Alvin.


"Maaf lama ya. Hehehe."


Alvin hanya terkekeh. "Udah biasa kok. Yuk kita jalan sekarang."


-~-


New York


Seorang gadis berjalan memasuki apartemennya. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru. Setelah selesai, dia membuat secangkir teh hangat dan mengambil setoples biskuit yang diletakkannya diatas meja.


Dia berjalan ke arah balkon dan duduk dikursi putih yang berada disana. Menghirup aroma wangi tehnya sambil memandang langit malam yang dipenuhi bintang.


Dia tersenyum sambil mengingat kenangannya bersama seseorang. "Aku bakal kembali secepatnya, tunggu aku."


-~-


"Vin, aku pesenin popcornnya ya. Kamu beli tiketnya."


"Ok."


Anna berjalan ke arah penjual popcorn. Namun saat dia ingin mengambil popcorn yang diinginkannya, ada seseorang yang mengambilnya duluan.


"Gue duluan jadi gue yang dapet."


Anna yang mengenal suaranya langsung menoleh ke arah samping. "Gue duluan liat jadi gue yang dapet." Mengambil paksa popcorn dari tangan David.


"Nggak. Gue dari sebelum masuk mall udah ngincer ini duluan. Jadi gue yang dapet." Mengambil kembali popcornnya.


"Nggak. Gue dari rumah udah mikir mau popcorn ini. Jadi gue yang dapet."


"Ngga. Gue dari kemarin malam udah mimpiin popcorn ini. Jadi ini milik gue."


"Gak. Gue dari kemarin siang udah pengen makan popcorn ini. Jadi popcornnya milik gue."


"Gak. Gue dari 2 hari sebelumnya uda—"


Anna mengambil popcorn pemberian Lis dan menatap jengkel David. Dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Alvin.


"Kok lama beli popcornnya?"


"Tadi aku digangguin kodok nyasar makanya lama."


"Siapa yang lo bilang kodok, huh? Dasar kadal," ucap David yang menghampiri mereka.


Anna hanya mengacuhkan omongan David dan memilih masuk ke dalam studio 3 sambil mengandeng lengan Alvin.


"Udah deh Dav, yuk kita masuk juga."


David hanya menurut dan masuk ke dalam studio yang sama dengan Alvin dan Anna.


-~-


"Eh ini tempat duduk gue, ****!"


"Suka-suka gue dong mau duduk dimana."


"Emangnya ini studio bapak lo, huh?! Sana pindah, gue duduk disini. Titik."


"Gak M. A. U."


Anna sudah merasa kesal stadium akhir sekarang. Tempat duduknya tepat berada disamping Alvin. Sedangkan David yang harusnya duduk dengan Lis malah mengambil tempat duduknya. Studionya saat ini sudah penuh dengan orang jadi Anna terpaksa harus duduk disamping Lis.


"Sorry ya Na. Gara-gara Dav lo gak bisa duduk bareng Alvin."


Anna menghembuskan nafasnya pasrah. "Lo gak harus minta maaf sama gue. Yang harusnya bilang sorry itu si kodok gak manusiawi itu."


Lis terkekeh. "Iya-iya. Yaudah jangan dipikirin lagi."


Anna hanya memasang muka cemberutnya dan mencoba fokus pada filmnya.


Sedangkan Alvin saat ini juga merasa jengkel dengan kelakuan David. "Lo ngapain sih duduk sini?" tanyanya dengan nada kesal.


"Pengen aja."


"Gila ya lo. Kenapa lo gak duduk sama pacar lo aja sih? Gangguin orang pacaran aja."


"Emang itu niat gue."


Alvin menatap sinis David. "Maksud lo apa, huh?!"


David tersenyum remeh. "Balas dendam."


"Huh?"


"Lo gak usah pura-pura bodoh deh. Lo selama ini taukan 'dia' dimana." David menatap tajam Alvin.


Alvin terdiam. "Gue gak ngerti lo ngomong apa." Mengalihkan pandangannya ke layar.


David tersenyum sinis. "Gak masalah kalau lo gak mau kasi tau. Tapi jangan salahkan gue kalau nantinya lo sama Anna bakal putus."


Alvin mengepalkan tangannya geram dan mencoba untuk mengabaikan ucapan David barusan. Mereka mulai memfokuskan pandangannya pada film.


-~-


"Lo yakin?"


"Iya gue yakin. Gue bakal berhenti ikut campur hubungan mereka."


"Lo bakal dapat masalah kalau gitu."


"Lo kenapa jadi nentang gue? Dulu lo selalu nyuruh gue berhenti. Sekarang malah gini."


"Karna... sepertinya gue suka sama ceweknya."


"Apa?! Lo gila."


"Gue masih belum tau. Tapi saat gue udah tau, keknya 'dia' bakal marah besar," ucapnya tersenyum licik.


-~-


Anna dan Alvin saat ini sudah berada di mobil. Semenjak keluar dari bioskop, Alvin lebih banyak diam.


"Vin, kamu kenapa?"


Alvin menoleh dan tersenyum. "Gpp kok."


Anna hanya menganggukkan kepalanya walaupun dia tau kalau Alvin sedang ada masalah. Mungkin Alvin belum siap menceritakannya karena itu Anna tidak memaksa Alvin.


Sesampainya dirumah Anna, Alvin langsung pamit untuk pulang duluan karna ada urusan di rumah yang berarti dia tidak bisa mampir ke rumah Anna. Anna hanya mengiyakannya dan masuk ke dalam rumah.


"Darimana kamu?" tanya Audrea.


Anna mendelik kaget. "Mama? Kapan pulang?"


Audrea tersenyum. "Barusan sayang. Maaf ya mama jarang di rumah."


Anna langsung memeluk mamanya. Audrea membalas pelukan anaknya sambil mengelus lembut rambut Anna.


"Anna kangen sama mama. Mama sibuk terus, Anna jadi kesepian."


"Maafkan mama ya sayang. Mama bakal usahain buat lebih sering pulang. Ngomong-ngomong barusan kamu dari mana?" tanya Audrea melepaskan pelukannya.


"Habis keluar bareng Alvin."


"Ohh Alvinnya mana?"


"Pulang duluan, katanya ada urusan."


"Kalau gitu kamu ganti baju kamu dulu ya. Terus kita makan. Tadi papa kamu juga telepon bakal pulang malam ini."


Anna tersenyum senang. "Jadi kita makan bareng?"


"Iya sayang. Cepet ganti baju kamu. Terus bantuin mama masak."


Anna menganggukkan kepalanya dan berlari menuju kamarnya. Dengan cepat Anna mengganti pakaiannya dan turun ke dapur. Dia pun membantu Audrea memasak hingga pukul 7 malam.


"Papa pulang!" teriak Gavin setelah melepas sepatunya.


"Papaaa!" teriak Anna langsung berlari memeluk papanya.


Gavin terkekeh melihat kelakuan putri satu-satunya. "Kangen papa ya?"


"Pasti dong. Papa sih jarang di rumah."


"Maaf deh. Hahaha. Yuk kita makan, papa udah laper nih." Sikap Gavin dengan Anna memang tidak jauh beda.


Makan malamnya dipenuhi dengan lelucon-lelucon dari Gavin dan Anna. Sedangkan Audrea hanya tersenyum melihat kelakuan suami dan anaknya itu.