
Aldevaro Abdurrachman
Saat ini, aku sedang disekolah. Pelajaran matematika kesukaanku. Namun entah kenapa aku benar-benar tidak semangat belajar hari ini. Mungkin aku kepikiran dengan apa yang diucapkan Opa, ah tidak maksudku Tuan Adiwijaya. Aku terkejut mengetahui semuanya yang tersembunyi selama ini.
Mom pernah menikah dengan pria lain sebelum dengan Dad? Atau bagaimana? Aku tidak tahu. Tapi pria difoto itu jelas mirip sekali denganku. Aku yakin dia memang ayahku. Tapi kenapa Mom dan Dad tidak pernah menceritakannya?
"Devaaa," aku terhenyak dan menoleh kearah Juliette. Entah keberapa kalinya dia menegurku.
"Hei kau melamun? Jangan melamun nanti Mr. Vitor marah" bisik Juliette. Aku mengangguk dan kembali memperhatikan ke papan tulis.
Selesai pembelajaran, aku memilih pulang. Namun bola voli mengenai dadaku. Aku menangkapnya kemudian mendongkak, ternyata team voli yang tadi aku kalahkan. Mereka sama-sama kelas 4 seperti aku.
"Hei pertandingan yang tadi belum selesai!" bentak salah satu dari mereka. "Aku lelah, aku tidak mau main lagi," kataku. Namun mereka mendekat.
"Aku tidak terima kau mengalahkan kami, sementara kau buka pribumi! Kau orang asing! " geram salah satu dari mereka. "Minggir, aku harus mencari Alvin dan pulang ke rumah." kataku sambil melangkah meninggalkan mereka.
"Kau itu kakaknya atau babysitter?" ledek mereka diakhiri tawa mengejek. Namun aku tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahku.
"Kita tidak akan bermain lagi, tapi kita akan berkelahi seperti laki-laki!" geram kapten team voli tersebut. Kudengar langkah gegas menyusulku. Aku berbalik. Tiba-tiba mereka akan memukulku. Tentu aku melawan.
Memangnya aku mau mati begitu saja? Hidupku masih panjang!
"Reynaldi bukan ayahmu.. Dia ayah tirimu"
Deg
Lagi-lagi kata-kata menyakitkan itu terngiang ditelingaku. Dan yang kurasakan selanjutnya adalah hantaman keras mengenai hidungku. Aku tersungkur. Rasanya perih sekali. Cairan hangat mengalir dari hidungku. Pasti berdarah. Tanpa ampun, mereka memukuliku. Hantaman demi hantaman kurasakan. Namun entah kenapa rasa sakit ini tidak sebanding dengan apa yang diucapkan Opa.
"Reynaldi bukan ayahmu.. "
Wajah pria bernama Raihan itu terbayang dibenakku. Senyumannya dan mata kelamnya.
"Dialah ayahmu"
"Itulah sebabnya kenapa Reynaldi memberikanmu nama belakang Abdurrachman.. Bukan Adiwijaya"
"Raihan Abdurrachman "
Lagi-lagi wajah Raihan, yang merupakan ayahku terbayang. Senyumannya.
"Bangkitlah, nak.. "
Aku terkejut wajahnya bergerak dan bahkan berbicara. Dia tersenyum bersahaja.
Aku membuka mataku. Mereka masih memukuliku. Namun tiba-tiba salah satu dari mereka terhempas jauh.
Apa Papa kandungku yang melakukannya? Aku mendongkak menatap siapa yang menghajar anak itu. Ternyata Alvin. Aku tahu Alvin bisa berkelahi. Dia belajar berkelahi dari Daddy Reynaldi, sepertiku.
"Kakak kenapa kau tidak melawan mereka? Kakak kan bisa berkelahi!" gerutu Alvin. Aku tersenyum melihat betapa pedulinya dia padaku. Dia membantuku berdiri. Kami berdua melawan mereka yang berjumlah 6 orang.
"Dasar pengecut kalian! Beraninya keroyokan! Sialan! " bentak Alvin dengan bahasa Indonesia. Mereka saling pandang. Tentu mereka tidak mengerti. "Mau apa kau anak kecil! Minggir ini urusan orang yang lebih tua darimu!" bentak salah satu dari mereka.
"Aku bukan hanya keturunan Adiwijaya, aku juga putra dari keluarga Mahali yang akan mengangkat tangannya untuk melindungi harga diri kami!" geram Alvin. Aku teringat kalimat itu pernah dikatakan Mommy.
"Kakak? Kenapa kakak tidak melawan mereka? Kakak bisa berkelahi, kan? Atau kakak lupa?" gerutu Alvin. Aku hanya tersenyum meresponnya. Mau bagaimana lagi, kalau aku bicara, wajahku terasa sakit.
"Deva? Alvin? " aku menoleh dan kulihat Daddy menghampiri kami. Alvin berlari ke Daddy. Aku juga melangkahkan kakiku menghampirinya. Namun pandanganku memudar. Kulihat Papa Raihan berdiri dibelakang Daddy dengan senyumannya. Aku merasa tubuhku ambruk dan semuanya gelap.
Apa aku mati?
Namun aku masih bisa mendengar detak jantungku. Aku masih hidup.
"Berjanjilah, jika kamu sudah dewasa, jangan sakiti ibumu, ya. Jadi anak baik dan dengarkan kata-kata Daddy Reynaldi. Bagaimanapun dia juga ayahmu." suara itu terngiang dikepalaku.
Suara siapa itu?
"Putra kita tidak akan hanya mirip denganku. Tapi dia juga harus sepertimu, baik, peduli, berkuasa dan rendah hati,"
Aku melihat ke sekelilingku untuk mencari siapa yang berbicara. Namun tidak ada siapapun. Yang ada hanya kegelapan.
"Jangan menangis.. Aku tidak akan kemana-mana Shica.. Aku hanya akan mati.. "
Aku tersentak..
Apa itu suara Papa? Papa Raihan?
"Ba.. Bayiku? "
"Terimakasih, kau sudah menjadikanku seorang ayah di detik-detik ini, Shica."
"Mulai dari sekarang, kamu tidak akan membuat perut Mamamu sakit, kamu harus membuatnya tertawa.. Membuatnya bahagia.. "
Air mataku meleleh. Hatiku bergetar mendengar ini.
"Namamu.. Aldevaro.. Pemimpin yang baik.. Aldevaro.. Abdurrachman.. "
"Papa" aku bergumam dan sedikit terhenyak. Aku merasakan seluruh tubuhku sakit.
"Deva"
Mama memelukku. Ternyata aku berada dikamarku. Kulihat ada uncle Tama dan Aunty Salia. Mungkin Aunty yang mengobatiku. Daddy menghampiriku.
"Daddy disini.. Tadi kamu manggil Daddy?" tanya Dad cemas. Aku tersenyum dan mengangguk. Alvin menatapku dengan tatapan tak terbaca.
"Berani sekali mereka memukuli kedua putraku hingga seperti ini!" gerutu daddy. Uncle Tama menyentuh bahu daddy. "Aku yang akan mengurus itu nanti," kata uncle Tama. Daddy mengangguk.
"Baiklah, kami harus pergi, jaga dirimu baik-baik ya." kata aunty Salia sambil mengusap rambutku. Aku tersenyum dan mengangguk. Mereka berlalu.
"Jagoan!" Uncle Tama sambil menepuk pipi Alvin. "Aww! Sakit! " gerutu Alvin. Dia menghampiri kami. Mommy juga memeluk Alvin.
Hari mulai sore. Setelah kurasa aku lebih baik, aku menuju ruang perpustakaan Mommy. Entahlah aku merasa bosan dan ingin membaca novel disana. Aku memilih buku-buku yang menurutku bagus. Namun ada satu buku yang menarik perhatianku. Judulnya Raihan & Shica . Jadi ini buku yang menceritakan Mommy dan Papa Raihan?
Aku lihat nama Raihan Alfarizi Mulya Abdurrachman tertera dibawah judul tersebut. Jadi ini karya Papa? Aku membuka novel tersebut dan membacanya. Kisah cerita yang nyata. Kisah cinta yang terjadi jauh sebelum aku lahir.
Kisah yang menarik namun menyedihkan karena akhir dari novel ini adalah akhir yang bahagia. Sementara pada kenyataannya, Papa tidak bersama Mommy. Sungguh novel ini seperti menghipnotisku membuatku seolah ikut berada dalam cerita.
Lewat novel ini, aku merasa lebih dekat dan lebih mengenal Papa. Aku ingin bertanya ini pada Mommy. Tapi Mommy pasti sedih jika aku bicara soal ini. Biarlah waktu yang menjawab.
By
Ucu Irna Marhamah