Don't Leave Me

Don't Leave Me
129



Perlahan Shica membuka matanya. Dia terkejut mendapati Raihan yang berada diatas tubuhnya. Mereka tidak mengenakan sehelai benang pun.


Kedua pipi Shica memerah mengingat kejadian semalam dimana Raihan memperlakukannya dengan begitu lembut dan penuh penghormatan layaknya seorang istri.


Shica masih merasakan sedikit sakit, mungkin rasa trauma yang membekas dihatinya yang membuatnya merasa sakit. Namun Raihan berupaya membuat Shica nyaman. Dan itu cukup membuat Shica nyaman.


Semalam Raihan melakukannya berkali-kali namun tetap lembut dan berkesan.


Tangan Shica bergerak menyentuh rambut Raihan kemudian membelainya lembut. Wajah Raihan masih bersembunyi di ceruk leher Shica.


Shica mengecup rambut Raihan. Raihan terbangun. Dia mendongkak menatap Shica. Kemudian tersenyum.


"Selamat pagi " kata Raihan. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya dan menatap Shica yang berada di bawahnya. Raihan mengecup bibir Shica.


"Aku akan mandi" kata Shica. Namun Raihan tidak kunjung bangkit dari atas tubuhnya.


"Aku mau mandi" kata Shica.


"Kita lakukan sekali lagi ya " kata Raihan. Shica terbelalak. "Aku.. " belum sempat Shica melanjutkan kata-katanya, Raihan membungkam mulut Shica dengan bibirnya.


Raihan menghisap leher Shica begitupun dengan dadanya. Shica mendesah kecil. Dia meremas rambut suaminya.


"Raihan.. " Shica menyebut nama suaminya. Membuat Raihan semakin bahagia. Apalagi semalam Shica menyerukan namanya. Membuatnya semakin bergairah.


Raihan menghentikan aksinya dan menatap dalam manik hazel Shica yang terlihat bergairah namun terpancar kelelahan disana.


"Kamu pasti lelah ya.. Maaf.. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri saat melihat kecantikan dirimu" kata Raihan.


"Mandilah " kata Raihan sambil melelapkan tubuhnya di samping Shica.


Perlahan Shica bangkit dan. Dia memakai jubah mandinya.


"Apa kau tidak berniat mandi bersamaku? " tanya Raihan menggoda.


Shica tersenyum. "Jika kita mandi bersama, mandinya tidak akan cepat selesai" kata Shica. Raihan tertawa setelah melihat istrinya memasuki kamar mandi sambil berjalan agak tertatih.


Raihan tersenyum geli.


Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Raihan tersenyum membayangkan tubuh Shica yang mulai di basah air.


Beberapa menit kemudian, Shica kembali dengan dress hijaunya tosca yang cocok di tubuhnya.


"Yah.. Kamu sudah pake baju" kata Raihan.


Shica mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa? " tanya Shica bingung.


"Jika belum, kita bisa melakukannya sekali lagi " goda Raihan sambil tersenyum menggoda.


"Ah! Dasar mesum" gerutu Shica. Raihan tertawa. "Gapapa mesum.. Tapi kamu Cinta kan " goda Raihan.


"Iya terserah " kata Shica. Raihan menatap Shica. Shica menoleh kearah Raihan.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? " gerutu Shica.


Shica tersenyum. "Aku juga" kata Shica. "Baiklah.. Sekarang kamu mandi ya.. Aku mau nyiapin sarapan" kata Shica.


"Hemm.. Iya.. " Raihan beranjak dari ranjang kemudian memasuki kamar mandi. Shica pun berlalu ke dapur. Dia memasak untuk sarapan mereka berdua.


"Raihan pasti menyukai sup ayam ini" gumam Shica. Dia mencicipi kuah dari sup yang sedang dimasaknya.


Sepasang tangan memeluk perutnya dari belakang. Shica mendongkak menatap siapa pemilik tangan itu.


Dan siapa lagi kalau bukan Raihan. "Kamu masak apa? Aku menciumnya dari lantai atas" kata Raihan.


"Sup ayam, bakwan, gorengan, aku tahu kamu suka ini " kata Shica menjawab pertanyaan suaminya.


"Banyak sekali " kata Raihan.


"Kamu kan makannya juga bayak.. Aku tahu porsi kamu " kata Shica.


"Benarkah? " tanya Raihan sambil menyimpan dagunya di bahu Shica.


"Iya, tentu saja.." kata Shica.


"Kamu benar-benar istri yang baik.." kata Raihan. "Terimakasih, sayang " kata Shica.


Raihan membelai perut Shica. "Sebentar lagi, putraku akan berada disini.. Dia akan menghiasi hari-hari kita.. Aku benar-benar tidak sabar" kata Raihan.


Shica tersenyum. "Semuanya butuh proses " kata Shica. "Iya.. Dan kita harus sering melakukannya agar prosesnya bisa lebih cepat " kata Raihan.


Kedua pipi Shica memerah. "Kau benar-benar mesum" gerutu Shica. Raihan tertawa.


Mereka pun menyantap sarapan mereka. Setelah itu, Raihan dan Shica berjalan-jalan ke taman kota. Mereka mengenang masa lalu yang pernah terjadi.


Masa yang Indah dan penuh kenangan. "Aku pernah bilang kan kalau kita akan bersama? " tanya Raihan.


"Kau bahkan sering mengatakannya.. Bagaimana bisa aku melupakannya? " jawab Shica diakhiri pertanyaan.


"Happy ending dari novelku tidak salahkan? " kata Raihan.


"Hemm.. Iya.. " jawab Shica. "Dan.. Ya.. Bagaimana kalau besok kita ke Perancis? Aku rasa lebih baik jika kita tinggal disana dan ya kau juga pernah bilang kalau kau menyukai negeri romantis itu.. Disana kau bisa banyak belajar seni.. Bukan begitu? " kata Raihan di akhiri dengan pertanyaan.


"Iya.. Aku rasa kau benar.. Aku juga sudah merasa nyaman tinggal disana.. " kata Shica.


Dan pada keesokan harinya, mereka langsung meluncur ke Perancis.


Menara tinggi nan gagah itu menjadi saksi kebahagiaan mereka berdua.. Tidak ada aku.. Tidak ada kamu.. Aku dan kamu.. Berubah menjadi kami.. Dan kami akan hidup bahagia bersama selamanya.


By


Ucu Irna Marhamah