Don't Leave Me

Don't Leave Me
Menyampaikan Semua



Malam sudah semakin larut. Angga dan Erick sudah membereskan sisa-sisa kesenangan mereka malam ini. Ratih dan Martha masih sibuk di dapur, membersihkan perkakas yang telah digunakan untuk menghidangkan masakan spesial. Belum ada raut wajah lelah diantara mereka. Apalagi kamu pria. Mereka masih tampak bugar, terbukti dengan gelak tawa yang masih bisa didengar oleh Ratih dan Martha dari ruangan mereka.


"Angga akan aku ajak tidur di rumahku. Dia tidak aku izinkan tidur disini." Ucap Martha yang sedikit melotot ke arah Ratih.


Ratih tersenyum geli melihat ekspresi Martha yang benar-benar seperti keluarganya sekarang.


"Iya, Kak. Saya juga gak kepikiran untuk mengajak Angga tidur disini. Waktu itu Angga tidur disini juga kan karena masih ada Lexa yang butuh pertolongan dia."Jelas Ratih.


Martha tersenyum puas. Dia sedikit menggoda Ratih dengan menyenggol pinggang Ratih.


"Hi... Apa sih, Kak." Ucap Ratih agak tersipu.


"Mau kapan???" Ledek Martha.


"Apa yang kapan???" Tanya Ratih heran dan masih dengan menunjukkan raut wajah yang memerah.


"Kamu sama Angga." Imbuh Martha.


"Apa sih, Kak?!" Ratih mulai canggung.


Martha masih menyenggol pinggang Ratih dan sedikit memainkan matanya. Tentu saja untuk meledek Ratih yang terlihat sangat malu.


"Kak Martha!!" Ucap Ratih mulai agak kesal, tapi masih tetap berusaha menguasai diri agar tidak terlihat salah tingkah.


"Kalau sudah saling mengerti dan siap. Jangan ditunda lagi. Kalian itu sepertinya memang ditakdirkan untuk bersama." Kata Martha.


Mendengar ucapan Martha, Ratih semakin tersipu. Ratih merasa ucapan Martha ada benarnya. Semakin Ratih menjauhi Angga, takdir malah menuliskan sebaliknya. Angga selalu punya cara untuk bisa menemukan Ratih. Takdir benar-benar memihak Angga. Semoga begitu juga dengan Tuhan.


"Di luar sudah beres." Kata Angga tiba-tiba yang masuk ke dapur berangkulan dengan Erick.


"Terimakasih." Ucap Ratih singkat sambil mengulum senyum untuk kedua pria di belakangnya.


"Oh ya, Angga tidur di rumah Erick saja. Ada kamar Kakaknya Erick yang bisa ditempati." Seru Martha.


"Iya, Om. Om Angga tidur di rumah Erick. Tidur di kamar sama Erick juga boleh." Ucap Erick bersemangat.


"Oh ya?? Sepertinya seru! Baiklah. Om Angga akan tidur di kamar Erick saja." Ungkap Angga yang juga terlihat bersemangat.


Keduanya dengan kompak mengambil pose saling menepuk telapak tangan masing-masing.


Martha dan Ratih saling lirik dan tertawa geli untuk keduanya yang tampak seperti kakak beradik yang sedang rukun.


****


"Ini kamar Erick, Om." Ucap Erick yang mempersilahkan Angga untuk masuk ke dalam ruang tidurnya.


"Wah.... Anak muda sekali." Ungkap Angga takjub.


Angga melihat sekeliling ruangan. Matanya berbinar merasakan kehangatan dan kenyamanan disana.


"Kamar kamu persis seperti kamar Om pas waktu muda dulu." Kata Angga dan mata yang masih berbinar.


"Oh ya??" Balas Erick tak menyangka.


"Iya... Om dulu senang sekali menempelkan sesuatu di dinding. Bedanya, kalau kamu menempel poster band favorit kamu. Tapi kalau kamar kos Angga, Om tempel rumus kimia." Seru Angga dengan senyum lebar yang manis.


Erick tertawa terbahak-bahak. Dia senang sekali dengan tingkah Angga yang ternyata kocak. Dia merasa Agga sangat mirip dengannya. Berbeda dengan kakaknya yang terlalu serius dan kaku. Dengan Angga, Erick bisa berbicara lepas dan tanpa tekanan. Berbeda dengan kakaknya yang serius, walaupun kadang ada waktunya untuk bercanda. Tapi dengan Angga, Erick bisa mengekspresikan tawanya kapan saja dia mau.


Angga berkeliling mengamati setiap jengkal sudut ruang tidur Erick. Matanya tertuju pada dua pot kecil dekat dengan jendela kamarnya. Di dalam pot ada bunga kuning cantik yang merekah sempurna.


"Wah, gak nyangka kalau kamu romantis juga ya, Rick. Sampai ada bunga-bunga dalam kamar juga." Ucap Angga heran.


"Iya, Om. Itu bunga spesial." Jawab Erick.


Erick mendekat ke tempat Angga berdiri. Menyentuh dua bunga kuning cantik yang selalu mencerahkan harinya.


"Ini bunga kenangan Erick dengan Lexa, Om." Jawab Erick penuh rasa.


Angga sedikit tercengang. Dia takut kalau kenangan tentang Lexa mengganggu Erick.


"Oh ya??" Ucap Angga singkat.


Dia tidak ingin meneruskan pembicaraan tentang Lexa. Angga khawatir akan mengganggu mental Erick yang sedang berusaha melangkah maju untuk melanjutkan hidup.


"Bunga daisy, Om. Kata orang bunga Daisy artinya cinta yang tersembunyi." Ucap Erick pelan.


Raut wajahnya tampak santai, tak terlihat sedih atau muram. Angga menangkap sinyal harapan disana. Bunga ini tidak membuat Erick sedih rupanya, melainkan sebuah simbol penghargaan untuk Lexa.


"Memang kamu menyembunyikan apa?" Tanya Angga santai.


Erick terkejut dengan pertanyaan Angga. Dia sampai tak bisa berkata-kata.


Angga menepuk pundak Erick layaknya seorang kawan yang sedang berusaha untuk menyadarkan sahabatnya.


"Gak baik terlalu lama menyembunyikan sesuatu, Rick. Sesuatu yang mengganjal dalam hati, tidak boleh berlama-lama disana. Itu tidak akan membantu sama sekali. Malah akan berubah menjadi luka yang susah untuk hilang." Jelas Angga.


Erick tersenyum senang.


"Iya, Om. Sudah tidak ada yang Erick sembunyikan lagi. Semuanya sudah Erick katakan." Jawab Erick percaya diri.


"Bagus!!! Itu baru namanya laki-laki sejati." Ucap Angga bangga.


Erick mendapat hadiah rangkulan dari Angga yang merasa bangga kepadanya, karena berhasil menjadi laki-laki sejati.


'Tok..tok..'


Suara pintu dari kamar Erick yang terbuka sedikit mengalihkan perhatian Angga dan Erick yang sedang mencurahkan isi hati.


"Lagi pada apa? Kok ngumpul di pojok gitu?" Tanya Martha yang langsung masuk ke kamar Erick setelah Erick dan Angga menoleh ke arahnya.


"Biasa, Kak. Obrolan sesama laki-laki." Jawab Angga dengan bangga.


"Oh... OK. Para lelaki, tolong ganto baju kalian dan lekaslah tidur! Karena waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Anda semua harus istirahat. Walaupun besok libur, tapi saya harap anda berdua bisa bangun pagi." Perintah Martha.


Angga dan Erick tertawa kecil mendengar perintah Martha yang bagaikan Ibu Kos yang sedang mengatur anak kosnya.


"Ini, Ngga. Pakai baju kakaknya Erick. Sepertinya ini muat dipakai olehmu." Ucap Martha sambil menyerahkan sebuah kaos oblong berwarna biru langit dan celana kolor warna hitam untuk Angga.


"Terimakasih, Kak. Sepertinya memang pas. Baiklah kalau begitu, saya harus ganti baju sekarang." Ujar Angga yang langsung masuk ke dalam kamar mandi Erick untuk berganti baju.


Tak lama, Angga keluar dengan pakaian yang sudah berubah memakai kaos oblong dan kolor milik kakaknya Erick. Benar dugaan Martha, bajunya pas sekali di badan Angga. Karena Martha sekilas melihat perawakan Angga memang hampir mirip dengan perawakan anak sulungnya.


"Jadi kelihatan seumuran dengan Erick, ya?!" Ledek Martha.


"Betul, Ma." Puji Erick.


"Ah, masa?? Wah, kalau begitu saya juga harus memakai seragam sekolah kayak Erick." Canda Angga yang sedikit mengangkat alisnya kepada Martha dan Erick.


"Dasar, kamu! Sudah, ayo lekas istirahat! Sudah malam, jangan sampai besok bangun kesiangan." Ucap Martha yang memberikan mandat kepada Angga dan Erick agar menuruti perintahnya.


"OK!" Ucap Angga dan Erick bersamaan.


Keduanya sudah klop untuk menjadi sepasang sahabat.


Dan akhirnya mereka beristirahat dengan nyaman. Erick tidur di atas ranjangnya, sementara Angga tidur beralas kasur lipat yang telah Martha sediakan. Padahal Martha sudah mempersiapkan kamar kakaknya Erick untuk Angga tempati, tetapi karena Angga ingin berbagi kamar dengan Erick, jadi Martha harus menata kamar Erick sedemikan rupa agar Angga bisa beristirahat dengan nyenyak di ruang tidur Erick.