Don't Leave Me

Don't Leave Me
148



Follow ig aku, yaaaa... Kalian bisa DM dan bertukar nomor WA denganku, itupun kalau kalian mau, hehehe


@ucu_irna_marhamah


2 minggu kemudian..


    Adi menggendong cucunya dan Olivia memainkan kedua pipi bayi kecil yang tengah tertidur itu. Sementara itu, Deva tertidur dipangkuan Reynaldi dan Shica duduk disampingnya. Reynala bersama Juliette (anaknya) dan Justen Wang Lee (suaminya) tengah berbincang kecil.


    "Reynaldi, apa kau sudah memberikan pangeran muda ini nama yang bagus?" tanya Adi. Reynaldi menoleh kearah Shica.


    "Aku sudah mempersiapkannya. Aldianold nama depannya, Aldi adalah nama panggilanku, nold adalah nama untuk laki-laki. Kemarin Rastani ingin menambahkan nama Alvindra." kata Reynaldi.


    "Aku ingin menambahkan nama Adiputra yang artinya keturuan Adi keturunanku." kata Adi.


    "Aldianold Alvindra Adiputra Adiwijaya." gumam Reynaldi. "Nama yang bagus!" kata Reynala.


    "Bagaimana, apa kau setuju dengan nama itu?" tanya Reynaldi pada Shica. Shica mengangguk sambil tersenyum.


    Hari terus berlalu..


    Tak terasa sudah 5 bulan Alvin hadir di kehidupan Reynaldi dan Shica. Deva sangat menyayangi adik barunya itu. Meski jelas terlihat bahwa Adi lebih menyayangi Alvin. Deva tidak tahu kenapa Adi tidak pernah menyukainya.


    Hanya Adi yang tidak menyukainya. Saat ini, Reynala sedang menggendong Alvin. Adi menggoda cucunya itu. Reynaldi menyadari raut kesedihan dimata putranya. Shica juga tampak sedih. Shica menggendong Deva dan mengajaknya bermain di halaman belakang.


    "Opa benci sama Deva ya?" tanya Deva. Shica terkejut dengan pertanyaan polos itu. Anak usia 3 tahun bisa peka seperti Deva. Shica memeluk Deva.


    "Opa tidak benci sama Deva, Opa juga sayang sama Deva" kata Shica. "Kenapa Opa tidak pernah gendong Deva?" tanya Deva. Shica merasa semakin sedih dengan pertanyaan itu.


    Tiba-tiba, Reynaldi duduk disamping Shica. Shica menoleh. "Daddy!! " seru Deva kemudian merentangkan kedua tangannya. Reynaldi pun mengangkat tubuh Deva dan mendudukkan anak manis itu dipangkuannya.


    "Deva.. Setelah Deva besar nanti, Deva mau jadi apa?" tanya Reynaldi. "Deva mau jadi anak baik!" kata Deva. "Anaknya Daddy sudah baik, kok." kata Reynaldi.


    "Tapi Opa tidak sayang Deva, meskipun Deva baik." kata Deva dengan suara parau. Reynaldi sedih mendengarnya. Dia menoleh kearah Shica yang sama sekali tidak mau menatapnya.


     "Opa sayang kok sama Deva" kata Reynaldi. "Benarkah?" tanya Deva. Reynaldi bingung harus bilang apa.


    "Devaaa" suara gadis kecil memanggilnya. Deva menoleh. Ternyata Juliette, sepupunya. "Main yuu!!" kata Juliette semangat. Deva pun ikut bermain bersama Juliette meningalkan Reynaldi bersama Shica.


     "Maafkan aku.. Sungguh aku kesal dengan sikap ayahku." kata Reynaldi. Shica menatap suaminya. "Jangan katakan itu, karena menurutku wajar jika Papa Adi lebih menyayangi Alvin, bukankah Alvin memang cucunya" jawab Shica.


    "Suttsss.. Jangan keras-keras, nanti Deva dengar." kata Reynaldi. "Itu kenyataannya, namun tenang saja, aku yakin semuanya akan baik-baik saja." kata Shica. Reynaldi merangkul Shica.


    "Meskipun kau lebih menyayangi Alvin, bagiku itu tidak masalah, karena Alvin anak kandungmu " kata Shica.


    "Tidak Rastani, itu tidak mungkin aku lakukan. Aku akan menyayangi semua anakku dan anakmu. Karena apapun yang kau miliki adalah milikku juga," kata Reynaldi. Shica melelapkan kepalanya ke bahu Reynaldi.


    "Selain itu, aku harus menjalankan amanat yang sudah Raihan sampaikan padaku. Aku tidak mungkin mengingkarinya. Raihan ingin aku menjadi ayah untuk Deva." kata Reynaldi. Shica menghela napas berat.


    "Aku akan memberitahu Deva yang sesungguhnya. Tapi aku akan menunggu waktu yang tepat. Saat ini dia masih kecil dan belum mengerti," kata Reynaldi.


    "Terimakasih," kata Shica. "Iya.. Apapun untukmu." kata Reynaldi.


    "Rastani.." kata Reynaldi. Shica mendongkak menatap suaminya. "Iya?" tanya Shica.


    "Boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Reynaldi. "Iya, tentu saja, apakah itu?" tanya Shica.


     "Aku ingin anak perempuan darimu," kata Reynaldi. Shica tersenyum. "Tentu saja, kenapa tidak?" jawab Shica.


    Tahun berlalu..


    Semuanya telah berubah..


    Kini Deva tumbuh besar. Usianya 9 tahun, dia tampan sekali. Wajahnya jelas mirip dengan Raihan. Sementara Alvin berusia 7 tahun. Dia tak kalah tampan. Anak itu sangat mirip dengan Reynaldi. Seperti duplikatnya Reynaldi.


    Dan Shica juga melahirkan dua anak lagi. Anak ketiganya laki-laki yang tampan mirip dengan dia. Hanya saja warna kulitnya dan bentuk serta warna matanya mirip Reynaldi. Usianya sekarang 6 tahun. Sifatnya periang dan suka jahil pada kakak dan adiknya. Dia suka bernyanyi. Namanya Alfarezel Zaidan Adibhrata Adiwijaya


     Lalu anak keempatnya perempuan yang cantik sangat mirip dengan Reynaldi. Usianya 5 tahun. Dia agak pendiam. Dia suka melukis seperti Shica. Meskipun dia mirip sekali dengan Reynaldi, namun sifat dan hobby-nya mirip Shica. Namanya Auristela Brianara Giovanni Adiwijaya.


    Jarak usia anak-anaknya Shica tidak terlalu jauh. Namun mereka berempat tampak akur dan saling menyayangi satu sama lain.


    Deva dan Dion berada didalam mobil. Mereka baru pulang dari sekolah.


    "Kak.." bisik Alvin. Deva menoleh. "Iya? Ada apa? " tanya Deva. "Sore ini, Opa mengajak kita menginap di mansionnya, kali ini kakak ikut ya." kata Alvin.


     Deva tampak berpikir. "Seandainya Opa menyayangi diriku seperti beliau menyayangimu, aku pasti datang." batin Deva. "Sepertinya tidak bisa, karena pekerjaan rumahku banyak sekali. Dan besok aku harus mengumpulkannya pada guru." jawab Deva.


     "Kenapa kakak selalu menolak kalau aku mengajak kakak ke mansion Opa?" gerutu Alvin. "Emm.. Tidak ada.. Sungguh.. Hari ini aku sangat sibuk," kata Deva.


    "Yah, sayang sekali." kata Dion. "Lain kali ya." kata Deva sambil terkekeh pelan. Mobil pribadi ayahnya itu terhenti didepan mansion. Deva dan Alvin keluar dari dalam mobil. Dua anak kecil yang bermain didepan mansion Adiwijaya itu berlari kearah mereka berdua. Alvin dan Deva mendapat pelukan dari dua anak kecil itu.


    Deva mendapat pelukan Stela sementara Alvin mendapatkan pelukan Farez.


    "Kakak main, yuk! main sama kita." kata Farez sambil menarik tangan Alvin. "Aku cape.." gerutu Alvin. "Ayo main, aku gak mau main sama Stela. Dia mainnya masak-masakan." gerutu Farez tanpa mau melepaskan pelukannya dari Alvin. Alvin merasa risih. Sementara Deva tertawa.


    "Kak Deva main sama Stela ya, Kak Farez jahat." gerutu Stela. "Ya sudah, kita main bersama, ya." kata Deva. Padahal dia juga lelah baru pulang sekolah.


    "Apa? Kita? " gerutu Alvin. "Ya sudah, kalo kamu mau istirahat, ya istirahat saja.. Biar aku yang main sama mereka." kata Deva.


    "Oke.. Makasih ya, hehe" kata Alvin kemudian berlalu. Deva pun bermain dengan kedua adiknya.


    "Kak Deva, aku mau main masak-masakan," gerutu Stela. "Tapi aku mau main mobil-mobilan," gerutu Farez.


    "Ya sudah kak Farez pergi saja sana. Main jauh-jauh!" gerutu Stela. "Gak mau!" gerutu Farez.


"Kalian jangan bertengkar terus. Sekarang begini saja, Stela buat makanan ya, nanti kak Farez mengantarkan makanan itu dengan mobilnya." kata Deva. Dia sungguh bijaksana.


    "Baiklah, aku chef Stela dan kau kurir pengiriman." kata Stela pada Farez. "Kak Deva aku gak mau jadi kurir. Aku mau jadi penyanyi," gerutu Farez. Deva mengusap wajahnya sendiri.


    Mobil berwarna hitam itu berhenti didepan mansion. Pandangan mereka bertiga tertuju pada seorang pria yang turun dari mobil. Ternyata Adi.


     "Opaaa!! " Stela dan Farez berlari memeluk pria yang usianya sudah tidak muda lagi. Deva beranjak dari duduknya. Dia akan menghampiri Adi. Namun tatapan Adi padanya membuat Deva mengurungkan niatnya. Deva memilih memasuki mansion.


    Adi menautkan alisnya.


By


Ucu Irna Marhamah