Don't Leave Me

Don't Leave Me
121



Shica Mahali


Perlahan, aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Setelah Reynaldi menyentuhku dengan kasar, rasanya perutku sakit sekali. Belum lagi selangkanganku yang terasa sangat perih.


Padahal sudah berlalu, tapi sakitnya masih terasa.. Seperti hatiku yang terasa begitu sakit karena sikapnya malam itu melecehkan diriku seolah aku ini jalang yang tidak berharga.


Aku menuangkan air kedalam gelas dan meminumnya. Tidak ada pelayan di dapur. Entah kemana mereka semua.


Aku kembali melangkahkan kakiku dengan tertatih. Aku terkejut saat sepasang tangan kekar membantuku.


Aku mendongkak ternyata Reynaldi. Dia membantuku berjalan.


"Kau kemana saja dari kemarin menghindariku? " tanyaku pelan.


"Aku takut kau merasa sakit setiap melihat diriku " kata Reynaldi tanpa beban.


"Jangan meninggalkanku.. Dalam keadaan apapun.. Bukankah kau sudah berjanji.. " kataku.


Kulihat dia tersenyum tampan. "Aku memang jarang mengingkari janjiku.. Tapi kali ini.. "


Aku melepaskan tangannya dariku. "Apa maksudmu? Apa kau akan meninggalkanku? " tanyaku sambil menatap tajam kearahnya.


"Maaf Shica " kata Reynaldi pelan.


Aku terkejut.


Sungguh bukan ini yang aku inginkan.


"Kita harus mengakhiri hubungan yang menyedihkan ini.. Selama kita hidup bersama, aku selalu menyakitiku.. Aku ingin kau bahagia bersama pria yang kau cintai " kata Reynaldi sambil menatap sedih padaku.


Aku merasa kesal sekali, kenapa dia berkata begitu?


Kenapa dia ingin mengakhiri semua ini?


Apa dia ingin mempermainkan pernikahan kami?


"Kenapa kau mau mengakhiri semua ini setelah kau berhasil membuktikan kalau aku memang wanita yang baik-baik? Apa memang ini tujuanmu? Mendapatkanku lalu setelah kau melakukannya, kau membuangku begitu saja? Iya? " tangisanku mulai pecah.


"Aku mohon jangan menangis" kata Reynaldi seraya memeluk tubuhku. Aku mendorongnya dan berontak.


"Aku menyesal telah mencintai dirimu.. Sungguh.. Aku menyesal" tangisanku semakin keras.


Reynaldi menatap sedih diriku.


"Raihan menunggumu.. Dia akan membawamu dan menikahimu" kata Reynaldi tanpa beban.


"Apa? Dengan mudahnya kau mengatakan itu? Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? " tangisanku semakin kencang. Aku bahkan bisa merasakan tubuhku berguncang hebat.


"Dia akan membuatmu lebih bahagia, dia yang akan mendampingi dirimu.. Buatlah novel itu menjadi kenyataan.. Novel Raihan yang berakhir bahagia" kata Reynaldi sambil tersenyum getir.


Aku meremas ujung dressku hingga buku-buku tanganku memutih.


"Lalu bagaimana dengan Papa Adi? Bagaimana dengan Ibu Olivia? Bagaimana dengan kak Reynala? Aku sudah berjanji padanya untuk mendampingimu seumur hidupku! " teriakku.


Kulihat Reynaldi malah bungkam seribu kata. Dia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaanku sepertinya.


"Kau pikir Raihan akan menerimaku setelah aku berpisah dengan dirimu? Kau pikir dia mau mendapatkan wanita yang sudah tidak suci lagi seperti aku? " tanyaku dengan suara bergetar.


"Aku akan menerimamu.. Apa adanya"


Aku terkejut mendengar suara itu dan menoleh ke sumber suara. Ternyata Raihan berdiri disana menatapku dengan tatapan penuh makna.


Aku menggeleng. "Kalian sudah mempermainkan pernikahan ini! Aku tidak bisa menerima ini! " teriakku.


"Raihan, bawa Shica dan buat dia bahagia bersamamu.. Aku akan menulis surat cerai kami" kata Reynaldi dengan mudahnya.


Sungguh aku sakit mendengarnya.


"Baiklah.. " Raihan menghampiriku. "Ayo" dia mengulurkan tangannya. Aku menggeleng. Namun dia malah mengangkat tubuhku dan membawaku pergi dari mansion ini.


"Reynaldi! " teriakku sambil meronta di pangkuan Raihan. Reynaldi menatap sedih padaku.


Baru saja kami akan membuka pintu, aku terkejut melihat keberadaan Ayah dan Ibunya Reynaldi. Begitupun dengan Raihan.


"Shica? " gumam Ibu. Raihan menurunkan tubuhku. Reynaldi segera menghampiri kami.


"Reynaldi, apa yang terjadi? Kenapa Shica dibawa pria ini dan tampaknya dia menangis? " tanya Papa Adi yang terlihat mencurigai kami bertiga.


"Emm.. Aku temannya Shica.. Tadi aku mendengar pertengkaran dan aku menghampiri mereka. Shica tadi terpeleset dan jatuh. Aku berniat membawanya ke rumah sakit.. " jawab Raihan gugup.


"Apa! " Ibu terlihat cemas dan seketika melihat seluruh tubuhku.


"Mana yang sakit, sayang? Katakan.. " tanya Ibu panik.


"Emm aku tidak apa-apa, suamiku dan temanku ini terlalu berlebihan" kataku sambil tertawa kaku kemudian melirik Raihan dan Reynaldi.


Reynaldi terlihat sedih sementara Raihan terlihat gugup dan bingung.


Ibu memelukku dengan erat.


"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sayang " kata Papa Adi sambil merangkulku.


"Tidak perlu, Papa.. Aku tidak apa-apa.. Sungguh.. " kataku meyakinkan mereka.


"Emm.. Lalu.. Kenapa kalian bisa berdua? " tanya Reynaldi sambil melirik Papa dan Ibu bergantian.


"Emm.. Mari Papa dan Ibu masuk" kataku.


Kami pun memasuki mansion. Karena tidak nyaman jika bicara diluar mansion.


"Emm.. Aku rasa aku harus permisi" kata Raihan tiba-tiba. Reynaldi menghentikan langkahnya begitupun denganku.


"Tidak.. Tinggallah disini, urusan kita bertiga belum selesai " kata Reynaldi. Aku menghela napas berat.


"Tapi bagaimana kata orang tuamu nanti? " gerutu Raihan. Aku menatap Raihan.


"Kau tidur di lantai bawah untuk sementara, Zack yang akan menunjukkan kamar padamu" kata Reynaldi.


"Baiklah " kata Raihan. Sejenak dia menatap diriku. Aku mengalihkan pandanganku.


"Selamat malam" dia pun berlalu. Reynaldi melangkahkan kakinya. Namun aku segera meraih tangannya.


Dia menoleh kearahku.


"Apa yang akan kau katakan pada mereka tentang perceraian kita? " tanyaku.


Reynaldi terlihat sedih. "Entahlah.. Aku juga tidak tahu " jawab Reynaldi dia menarik tanganku menuju ruang tamu.


Kulihat Papa dan Ibu berbincang kecil. Kami pun duduk berhadapan dengan mereka.


"Malam-malam kalian kemari, rasanya sangat aneh.. Apalagi kalian kemari berdua" kata Reynaldi. Aku mencubit lengannya. Dia sedikit meringis dan mendelik kesal padaku.


Untuk apa coba dia bertanya begitu?


Semua anak di dunia ini bahagia melihat kedua orang tuanya bersama-sama mengunjungi anaknya dalam keadaan akur, bukan?


"Kami memutuskan untuk kembali " kata Papa sambil menggenggam tangan Ibu dengan romantis.


Aku dan Reynaldi saling pandang.


"Ibu tidak takut Papa akan kembali menyakiti Ibu? " tanya Reynaldi sarkas.


Kulihat Papa tertawa. "Tidak akan" jawabnya.


Apa aku dan Reynaldi akan berpisah, sementara Papa dan Ibu akan kembali?


Itu bukan hal yang benar.. Dan itu akan membuat mereka sedih..


By


Ucu Irna Marhamah