Don't Leave Me

Don't Leave Me
Antara Ratih dan Angga (2)



*Flashback


Ratih masih sibuk dengan mesin jahitnya. Dia terlihat fokus mengerjakan pesanan Martha dan pegawainya yang harus selesai minggu ini. Tinggal satu bahan yang sedang dia kerjakan. Nanti malam harus selesai. Target Ratih.


Lexa masuk ke dalam rumah dengan lantai gontai. Matanya sembab, setelah mengeluarkan airmata sejak pertemuannya dengan Rachel dan Adhit. Dia tidak melirik Ratih, takut Ratih akan sedih jika melihat keadaannya seperti ini.


Lexa langsung mengambil langkah menjauh dari Ratih yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Lexa berhasil masuk ke kamar. Ada perasaan lega karena Ratih tidak melihatnya. Tubuh Lexa benar-benar merasa lemas.


Hati dan pikirannya kacau mengingat kejadian di sekolah. Airmata langsung membanjiri pipinya lagi. Tanpa mengganti seragam, Lexa rebahkan tubuhnya di kasur setelah tasnya dia letakkan di kursi belajar. Lexa menangis tanpa suara.


****


Siang sudah mulai terik. Ratih sedang berada di dapur membuat menu makan siang untuk dirinya dan Lexa. Dia memegang pundaknya yang terasa pegal. Dia bekerja keras hari ini. Lelah jelas tergambar di raut wajah Ratih, tapi dia tidak bisa membiarkan Lexa dan dirinya kelaparan.


Ratih agak kecewa ketika dia tidak menyapa Lexa saat pulang sekolah, yang dia lihat Lexa sudah tertidur pulas di ranjang. Pekerjaannya membuat dia lupa segalanya.


Makan siang sudah siap. Ratih menyajikan sayur bayam dan ayam goreng untuk Lexa. Lekas dia menjemput Lexa di kamar agar bisa makan siang dengannya. Tapi belum sempat Ratih beranjak dari dapur, Lexa sudah sampai di ruang makan memasang wajah tersenyum.


Mereka makan siang berdua. Lexa terlihat pucat.


"Lexa sakit???" Tanya Ratih khawatir.


Lexa menggeleng sambil memasang muka yang tampak baik-baik saja. Ratih tersenyum kecil kemudian melanjutkan makan siang kembali.


"Maaf, Lexa... Tante agak sibuk. Ada pekerjaan yang harus tante selesaikan." Kata Ratih memohon kepada Lexa agar mengampuninya.


"Gak apa-apa tante.. Lexa akan di kamar menyelesaikan tugas." Jawab Lexa.


Mereka pun berpegangan erat saling memaklumi keadaan masing-masing.


****


Waktu makan malam.


Ratih sudah selesai membersihkan diri dan mengganti bajunya. Ada Lexa di dapur yang sedang menyiapkan makan malam. Lexa tahu kalau Ratih bekerja sangat keras untuknya, jadi dia harus membantunya walaupun sekedar menyiapkan makan malam.


Ratih makan cepat sekali, lapar sekali rupanya. Walaupun dia hanya makan spagethi buatan Lexa saja seperti orang yang baru makan setelah tiga hari. Dia sampai meneguk minuman di gelas dengan kasar. Lexa menatapnya sedih.


"Tante... Makanlah lagi. Spaegthinya masih ada..." Ucap Lexa sambil menyodorkan sebuah piring pipih bersisi spagethi buatannya.


Tapi Ratih menggoyangkan tangan sebagai isyarat untuk menolak tawaran Lexa untuk mengambil nasi kembali. Ratih tersenyum.


"Masakan Lexa enak. Senang rasanya tante makan masakan Lexa." Puji Ratih sambil mengelus pipi Lexa.


Setelah makan malam selesai, Lexa membereskan semua piring, gelas, mangkuk, sendok sisa makan malam. Tugasnya membantu Ratih sudah selesai. Dia melirik Ratih yang masih berjibaku dengan mesin jahitnya. Lexa terpikir untuk membuatkan teh jahe untuknya.


Dihidangkannya teh jahe buatan Lexa di buffet dekat mesin jahit. Ratih terlalu meresapi pekerjaannya sampai-sampai kehadiran Lexa tak dia gubris. Lexa paham, dia lebih memilih meninggalkan Ratih kemudian beristirahat di kamarnya.


****


Waktu berganti, matahari menyapa Ratih yang sudah sibuk di dapur menyiapkan bekal makanan untuk Lexa. Matanya terlihat sangat letih. Tapi dia tak menunjukkannya. Dia malah terlihat asyik mengepak bekal untuk Lexa.


Setelah persiapan sarapan dan bekal Lexa sudah siap, Ratih bersiap mengajak Lexa untuk sarapan. Dia ketuk pintu kamar Lexa, memanggil keponakannya agar beranjak dari kamar dan lekas sarapan. Tapi tak ada jawaban.


Ratih berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar Lexa, karena pintu kamar Lexa tidak terkunci. Ratih melihat Lexa masih tidur bertutup selimut. Lexa menyembunyikan tubuhnya disana.


Lexa tersenyum kecil. Berjalan ke arah ranjang Lexa. Apakah Lexa masih terlelap? Padahal matahari sudah masuk lewat jendela kamarnya yang terbuka. Tapi kenapa tubuh Lexa malah tertutup selimut, seperti enggan menyapa matahari hari ini.


"Lexa... Bangun, ayo sarapan!" Perintah Ratih lembut.


Raut wajahnya memucat. Panik. Tubuh Lexa masih dia coba goyangkan agar terbangun. Dan akhirnya dia melihat Lexa dari balik selimut. Terlihat lusuh dan sayu. Dia tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Ratih merasa gagal menjaga Lexa karena asyik bekerja.


Ratih benar-benar menyesalinya. Dia bahkan akan lebih memilih menghabiskan dua tahun bersama Lexa daripada harus sibuk bekerja. Bagi Ratih waktu bersama Lexa adalah segalanya, tidak bisa dia ganti dengan apapun.


Ratih menangis di pelukan Lexa. Dia mengelus punggungnya yang semakin menampakan tulang-tulangnya di bawah kulit. Ratih merasa bersalah.


****


Sarapan telah usai. Lexa meminta izin kepada Ratih untuk tidak masuk sekolah.


"Loh, bukannya hari ini adalah puncak acaranya?" Tanya Ratih heran.


Lexa menunduk. Tak berani menatap Ratih. Ratih tidak tahu alasannya, tapi Ratih mencoba memahami situasi Lexa.


Ratih pegang lembut tangan Lexa, mengusap punggung tangan Lexa.


"Iya, Lexa boleh tidak berangkat hari ini. Tante akan menemani Lexa." Girang Ratih.


"Gak usah tante. Tante selesaikan saja pekerjaan tante, biar Lexa yang temani." Pinta Lexa.


Lexa benar-benar sudah besar. Dia sudah bisa memahami situasinya sendiri. Ratih mengecup tangan Lexa, dia merasa bangga kepada keponakan tersayangnya itu.


****


Ratih mulai menjahit pola demi pola menjadi satu. Sudah hampir selesai rupanya, tinggal menambahkan kancing di kain yang sudah berbentuk atasan itu.


Lexa sibuk mengupas buah mangga yang akan dia jadikan cemilan untuk Ratih, sambil terus mengamati pekerjaan Ratih yang teliti. Hasil jahitannya selalu rapi dan tidak cacat, pantas banyak pelanggan yang selalu puas dengan hasil jahitan Ratih.


Kini baju yang dia buat sudah jadi sempurna, tinggal di setrika saja agar tidak terlihat kusut. Ratih dengan bangga menunjukkan hasil pekerjaannya kepada Lexa. Lexa membalas Ekspresi Ratih dengan mengangkat dua jempol ke arahnya. Mereka sama-sama tersenyum puas.


****


Siangnya, Lexa yang membantu Ratih di dapur tiba-tiba lunglai. Tubuhnya sampai menghantam kursi makan. Ratih terkejut.


"Lexa!!" Teriak Ratih.


Dia guncang tubuh Lexa, memastikan denyut nadi di pergelangan tangannya.


Ratih angkat kepala Lexa dan dia rebahkan di pangkuannya, setelah tadi dia lari mengambil minyak kayu putih untuk dia oleh di tubuh Lexa. Minyak yang tadi dia bawa sudah dia gosokkan ke telapak tangan, pelipis dan tak lupa dia hirupkan ke hidung Lexa.


Bukan kali pertama dia menyaksikan Lexa ambruk. Sudah sangat sering dia melihat Lexa seperti ini. Yang pertama dia lakukan adalah seperti itu, dan berhasil. Meski Lexa tampak lemas untuk menyadarkan dirinya sendiri, tapi Ratih lega Lexa sudah siuman.


Ratih memapahnya untuk duduk di kursi meja makan. Masih mengoles telapak kakinya dengan minyak yang sama. Ratih mulai panik karena Lexa sudah mulia sering tak sadarkan diri.


****


Lexa sudah tertidur di ranjang, Ratih masih menjaganya. Menatap Lexa dengan penuh kasih sayang, sambil membelai mahkotanya yang halus. Ratih berpikir, Lexa sudah lama tidak ke dokter. Lexa selalu menolak jika di ajak ke dokter. Tapi Ratih semakin khawatir dengan kondisi Lexa sekarang.


Ratih langsung bergegas ke kamar. Membuka sebuah buku catatan kecil yang sengaja dia simpan. Matanya menelisik mencari sebuah nomor yang dia ingin tuju. Dan ketemu. Itu adalah nomor telepon Angga.


Lama Ratih menatap nomor itu. Dalam hatinya berkecamuk rasa yang tidak bisa dia jelaskan. Ratih ragu-ragu, ada perang batin yang berlangsung. Ratih bingung memutuskan. Ingin rasanya dia pergi saja ke klinik dekat sini, tapi apa yang akan dikatakan orang lain tentang Lexa.


Ratih mencoba menemukan nomor telepon lain. Mungkin Ratih masih menyimpan nomor dokter yang biasa menangani Lexa, tapi tidak ketemu. Dokter yang biasa menangani Lexa adalah kenalannya Angga. Akan sangat mudah menghubungi dokter Lexa melalui Angga.


Baiklah, sudah diputuskan. Ratih akan menghubungi Angga.