
Langit pagi itu begitu cerah, Lexa dan Erick bisa merasakannya lewat sinar matahari yang masuk lewat celah-celah dedaunan yang berlomba menyentuh wajah mereka Semilir angin pun terasa sangat menyejukkan. Sungguh suasana pagi itu terasa tenang dan penuh kedamaian.
Erick masih mendorong kursi yang ditumpangi Lexa. Dia bolos sekolah hari ini. Lebih tepatnya dia tidak peduli dengan sekolah hari ini, dia hanya ingin menepati janjinya kepada Lexa yang berhasil pulang kembali.
Senyum keduanya sama-sama mengembang, menikmati suasana yang mereka rasakan.
Terlihat Erick menunjuk sebuah tempat yang mereka lalui, menjelaskan kepada Lexa agat Lexa paham lingkungan sekitar mereka. Lexa hanya tahu lingkungan rumahnya dan jalan sekitar menuju sekolah saja, yang sebagian besar hanya pepohonan, rumah dan beberapa toko. Kini Erick membawa Lexa ke arah yang berbeda, bukan ke arah sekolah tetapi ke arah bukit.
Lexa terkekeh saat Erick mencoba melawak di tengah perjalanan. Tawa Lexa begitu renyah di telinga, sehingga membuat Erick juga tak kuasa ikut tertawa bersama Lexa.
Kini mereka sudah sampai di ujung sebuah jalan yang mengarah langsung ke pemandangan bukit di seberang. Erick mengamankan kuris Lexa dengan rem. Kemudian mulai menjelaskan kepada Lexa pemandangan di depannya. Lexa memperhatikan betul perkataan Erick sambil tak henti-hentinya menunjukkan raut wajah takjub akan keindahan alam yang Maha Besar ciptakan. Mata Lexa berbinar dengan indahnya, sungguh merasa dimanjakan oleh pemandangan pagi itu. Suasana perbukitan yang ada di seberang mereka berpadu dengan sinar keemasan matahari pagi yang memantulkan pelangi kecil. Dan jangan lupa masih ada sentuhan kabut menyelimuti sang bukit dengan lembutnya. Semilir angin juga ikut berperan mempermainkan emosi, desirannya menyentuh hati yang terdalam seakan membawa yang menikmati terbang menyentuh awan.
"Gimana? Kami senang?" Tanya Erick girang.
Membungkuk di samping pipi Lexa, menerawang jauh ke depan bersama mata Lexa yang masih berbinar.
Lexa mengangguk. Berdua saling bertatap pandangan dengan perasaan yang dalam.
"Terimakasih, Rick." Ucap Lexa lembut.
Suaranya selalu terdengar merdu di telinga Erick. Mengalun bak irama melodi yang sering dia dengarkan. Keduanya masih berbalas pandang, kemudian mengakhirinya dengan sebuah senyuman yang indah.
Erick kini susah berdiri tegak menatap langit. Tangannya dia bentangkan seperti hendak merengkuh langit. Melepaskan napas panjang. Melirik Lexa, memberinya kesempatan untuk melakukan hal yang sama. Lexa mengangguk, berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang dia punya. Dengan sigap Erick membantu Lexa berdiri kokoh. Dia papah tubuh kurus Lexa agar lepas dari kursi roda, dan dengan anggun berdiri di tepi lembah yang berpagar bonsai.
"Aku masih bisa berdiri, Rick." Ucap Lexa meyakinkan Erick.
Erick mengangguk percaya, tapi tubuhnya sudah siap sedia untuk menopangnya jika Lexa hendak roboh.
Mata Lexa mengelilingi pemandangan di depannya. Terlihat lebih indah jika dia melihatnya dengan sikap berdiri.
Lexa memandang jauh ke atas. Menyaksikan langit kebiruan yang berselimut awan putih bersih. Memejamkan mata hendak menyapanya. Berbicara dalam hati dengan sang Maha hidup. Memberi ucapan terimakasih kepada-Nya atas segala nikmat yang masih bisa dia rasakan saat ini. Lama Lexa berbicara dengan sang Maha Hidup, sementara Erick mengamati Lexa lekat. Berharap pemandangan indah ini tidak akan pernah hilang. Ingin selalu menyaksikannya setiap hari. Sebagai tambahan energi untuknya melalui hari-hari panjang melelahkan dan membosankan. Tanpa sadar diapun memanjatkan doa untuk Yang Kuasa.
Mata Lexa masih terpejam, tapi kedua tangannya mula naik. Membentangkan tangan selebar-lebarnya, mencoba merengkuh alam agar mendekap dirinya. Menerima segala takdir yang sudah digariskan kepadanya. Mengalah dengan kekuasaan yang tidak bisa dia lawan. Dia hanya ingin merengkuh kebahagiaannya sendiri, dengan tangannya sendiri. Semakin melebarkan ruang dekapan tangannya agar semakin banyak kebahagiaan yang bisa dia rengkuh, sampai-sampai kakinya dia angkat. Bertumpu pada jari jemari kakinya. Hendak lepas landas dari daratan menuju kedamaian abadi yang sudah disiapkan Sang Pemilik Dunia. Senyum Lexa terkembang indah, dihiasi rambut hitam Lexa yang menyapu lembut wajahnya akibat gurauan sang angin di udara.
****
Lexa menari di awan putih yang tergelar untuknya. Tiupan angin menjadi musik alam untuknya. Matanya terpejam, tubuhnya bergerak mengikuti nada angin yang mengalunkan lagu bahagia.
"Lexa...." Sapa seseorang dengan lembut.
Lexa membuka mata, mengamati sekitar mencari sumber suara.
"Lexa..." Suaranya semakin jelas.
Lexa melihat jauh ke depan, ada seberkas cahaya yang bersinar terang. Cahaya itu menampakkan diri sebagai seorang perempuan yang cantik mirip dirinya. Berwajah sendu penuh kasih sayang. Senyumnya juga sama seperti senyum Lexa.
"Ibu....." Suara Lexa lirih dan parau.
Sosok perempuan itu tersenyum.
"Ibu..." Lexa terharu. Berlari di atas awan menuju sosok perempuan yang dia panggil Ibu, kemudian memeluknya erat. Tangis haru tak kuasa Lexa bendung, sambil terus memanggil Ibu dia eratkan dekapannya seakan tak mau sosok Ibu itu menghilang dari dekapannya.
"Lexa..." Suara itu masih terdengar jelas di telinga Lexa. Lembut dan menenangkan.
"Ibu..." Jawab Lexa yang kini menangis tersedu.
"Jangan menangis, Nak..." Pinta sosok Ibu penuh kasih.
"Ibu..." Seru Lexa lagi.
"Iya, Nak... Ibu disini. Jangan menangis, ya?!" Pintanya lembut.
"Jangan pergi lagi, Bu... Lexa rindu... Lexa ingin Ibu." Rintih Lexa.
"Ibu tidak akan kemana-mana. Ibu akan menemani kamu, dalam duka ataupun suka. Dalam sepi ataupun ramai. Karena Lexa adalah anak Ibu. Anak Ibu yang kuat, anak Ibu yang baik, anak Ibu yang pintar. Jangan khawatir ya?!" Ucap sosok Ibu menenangkan tangis Lexa.
Kemudian sosok Ibu melepaskan pelukan Lexa, dia tatap wajah anak kesayangannya itu. Menyeka setiap airmata yang meleleh ke pipinya dengan tangan halusnya. Tak lupa dia kecup kening sang buah hati, dengan penuh cinta.
"Ibu gak akan pergi lagi kan?" Tanya Lexa takut.
Sosok Ibu menggeleng yakin, membuat Lexa menghentikan tangisannya.
"Ibu akan selalu berada disisimu, Nak.. Ibu janji."
"Terimakasih, Bu... Terimakasih karena Ibu adalah Ibuku, terimakasih juga karena sudah menyayangiku, Bu..." Ucap Lexa sambil terus memeluk erat sosok Ibu.
"Terimakasih juga untukmu, Nak.. Terimakasih karena sudah berada di rahim Ibu selama sembilan bulan, terimakasih karena sudah tumbuh dengan baik. Tapi maaf, karena Ibu tidak bisa menjagamu. Maaf juga karena Ibu membuatmu susah seperti ini." Kini sosok Ibu yang merasa pilu.
Keduanya larut dalam pelukan kasih sayang Ibu dan anak yang sudah lama hilang. Saling melepas rindu yang sudah membuncah sampai ke ubun-ubun. Disaksikan langit yang semakin cerah, dan disaksikan awan yang semakin menyelimuti mereka. Membuat tabir antara kehidupan dan dunia setelahnya. Menutup raga Ibu dan anak yang masih menyatu dalam peluk.
****
"Lexa....." Suara laki-laki terdengar keras di telinganya, mengguncang hebat tubuhnya yang seperti mati rasa.
"Lexa...." Teriak Erick.
Muka Erick memucat, ada kepanikan dalam raut wajahnya.
"Lexa... Bangun!" Pinta Erick yang masih berteriak dan menggoyangkan tubuh Lexa yang berada di pangkuannya.
Lexa masih limbung. Bukankah tadi dia bertemu Ibu, tapi kini di hadapannya hanya ada Erick.
Mata Lexa masih samar-samar. Pandangannya masih kabur. Lexa berusaha membuka mata tapi tak kuasa. Seperti kantuk yang langsung menyergap dirinya, sehingga tak mudah untuk bangun hanya ingin tertidur saja.
"Lexa... Bangun! Aku mohon!" Erick sudah terisak.
Ditangannya sudah banyak darah yang keluar dari hidung Lexa, dia hapus darah itu dengan tangannya sendiri. Kaos abu-abu yang dia pakai juga tak luput dari noda merah itu.
"Lexa... Tolong! Kamu harus bangun. Lexa..." Nada Erick sedikit mengeram. Dia merasa bodoh, tak dapat melakukan sesuatu yang bisa membuat Lexa terbangun. Erick hanya bisa berteriak memanggil namanya.
Karena Erick tak kuasa membuat Lexa terbangun, dengan cepat dia langsung membawa tubuh Lexa dengan kedua tangannya. Dengan cepat menuju rumah Lexa untuk meminta bantuan Angga, Ratih ataupun Martha Ibunya. Erick berjalan cepat membawa tubuh Lexa di tangannya. Dengan terisak, dia masih memohon kepada Lexa untuk sadar dan tersenyum ke arahnya. Erick tak sanggup melihat Lexa dalam keadaan seperti ini.
"Lexa, aku mohon! Bangunlah! Banyak yang ingin aku sampaikan kepadamu." Pinta Erick sambil terus menahan tangis.
"Erick...." Lirih Lexa dengan sedikit erangan terdengar samar keluar dari mulutnya. Mungkin Lexa merasa kesakitan.
"Ya, sadarlah... Aku akan membawamu pulang. Kita akan segera bertemu tante Ratih." Jelas Erick dengan napas sedikit terengah-engah.
"Terimmmakaasssiihh.." Ucap Lexa terbata-bata.
"Jangan!!! Tolong jangan katakan itu sekarang! Aku mohon Lexa!" Nada suara Erick meninggi.
"Maaa...afff, karen...na...." Napas Lexa sedikit tercekat.
"Diamlah Lexa! Simpan tenagamu, kita hampir sampai." Gertak Erick.
"Errrriiiiick...." Airmata Lexa berlinang.
"Aaaaaaa....." Erick berteriak sekencang-kencangnya.
Tubuhnya tak berhenti berlari membawa Lexa agar cepat sampai ke rumah.
"Tante Ratih...." Teriak Erick.
Ratih bergegas keluar rumah didampingi Angga yang langsung berlari menuju Erick yang terlihat payah membawa Lexa.
Langit cerah menjadi saksi usaha mereka untuk Lexa. Usaha memberi yang terbaik untuk Lexa. Kini tinggal menyerahkan takdir kepada Sang Pencipta. Bukankah Dia yang mengatur segalanya? Maka bergantung dan berserah dirilah kepada-Nya.