Don't Leave Me

Don't Leave Me
100





•••Shica Mahali•••



"Charlotte Mitchell.. Mantan kekasih suamimu" kata wanita itu tanpa beban.



Aku melirik Reynaldi yang malah tersenyum melirikku.



"Oh iya" aku melepaskan tanganku darinya.



"Apa yang kau lakukan disini dan bersama siapa? " tanyaku pada wanita itu.



Sungguh aku sangat kesal padanya. Apa-apaan coba dia mencium kedua pipi Reynaldi didepanku.



Ingin aku merobek wajahnya yang sok cantik itu.



"Aku bersama ayahku, Tuan Jonathan Walters.. Ayahku sedang dalam pertemuan bersama para pengusaha kelas kakap" jawab Charlotte dengan sombongnya.



Aku melirik Reynaldi.



"Berarti kau sendiri.. Karena ayahmu sibuk" kata Reynaldi.



Oh aku bisa membaca pikiran pria mesum itu. Dia pasti mau bermain-main dengan wanita aneh ini.



Menyebalkan..



"Iya.. Apa kau mau menemaniku? " tanya Charlotte sambil menyentuh tangan Aldi di depanku.



Tidak punya malu!!



Reynaldi melirikku dengan senyuman tipisnya. "Bagaimana sayang? Apa kau tidak kasihan pada temanku ini sendiri? " tanya Reynaldi.



Kasihan?



Sendiri?



Lalu jika Reynaldi bersamanya aku sendiri..



Apa dia tidak kasihan padaku!



"Terserah" kataku menggerutu



Mereka tanpa perlu berpikir, berlalu dari hadapanku.



Sialan!



Dasar menyebalkan sekali..



Awas saja aku tidak akan bicara lagi dengan pria mesum itu.



Aku bosan sendiri. Aku pun memilih pergi kamarku. Aku tidak peduli jika nanti Reynaldi masuk atau tidak sama sekali.



Biarkan saja dia bersama wanita itu. Tidur bersama dia juga tidak apa-apa. Asalkan dia tidak bicara lagi padaku!



Perlahan tanganku bergerak membuka pintu. Aku terkejut mendapati seseorang duduk di ranjang kamar.



Laki-laki itu duduk sambil memainkan gitarnya. Ada dua novel terbuka di sampingnya.



Apa mungkin aku salah masuk kamar?



Aku melihat ponselku di nakas.



Aku tidak salah masuk kamar.



Apa dia yang salah masuk kamar?



Atau dia pencuri?



"Ehm.. Permisi? " aku bertanya dengan suara rendah.



Namun dia tetap memainkan gitarnya dan malah bersenandung kecil.



"Siapa kau? " aku melangkah mendekatinya.



"Hmm.. Kau tampaknya bahagia.. Atau tidak.. " laki-laki itu mengeluarkan suaranya.



Dan aku merasa mengenali suara itu.



"Apa maksudmu? Siapa kau? Kenapa kau berada di kamarku? " tanyaku memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.



"Kamarmu? Kamarmu dengan suamimu? " tanyanya.



Aku sangat kesal pada laki-laki itu. Dia seolah memperpanjang masalah.



Aku pun diam.



"Hmm.. Don't leave me in all this pain.. Don't leave me alone.. Please don't leave me.. I want to life with you forever.. Forever.. "



Dia malah menyenandungkan lagu konyol. Ya meskipun terdengar Bagus dan menyedihkan.



"Kau ingat? " dia bertanya sambil meletakkan gitar yang dia bawa ke sampingnya.



"Apa maksudmu? Lebih baik sekarang keluar dari kamarku! " teriakku kesal.



Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan berbalik. Aku tercengang.



Aku sangat terkejut melihat siapa laki-laki itu.



Kini aku bahkan bisa mendengar suara detak jantungku sendiri.



"Ra.. Raihan.. " tanpa sadar aku bergumam dan menyebut namanya.



Pria itu tersenyum tipis.



"Kau nyaris melupakan diriku.. Bagaimana bula madu-mu? Menyenangkan? Atau Reynaldi malah melirik wanita lain? " tanyanya yang membuatku semakin geram.



Dia melangkah mendekat.



"Hmm.. Terimakasih kau sudah menjagaku selama aku menjalani operasi" kata Raihan sambil menyentuh kedua bahuku.




Ya, selama masa operasinya, aku menemani dia. Saat itu, aku dan Reynaldi tidak bertemu karena tradisi pernikahan dimana calon pengantin tidak boleh bertemu dan bertatap muka.



Sebenarnya Raihan tidak di Paris. Dia pulang sebelum aku dan Reynaldi pulang ke Indonesia.



Dia melakukan operasi di Indonesia dan setiap hari aku menemaninya, menjenguknya dan menceritakan semuanya.



Raihan tahu aku dan Reynaldi akan menikah, namun dia tidak tahu kalau aku dan Reynaldi akan kembali ke Perancis.



Aku tidak ingin ke Perancis..



Aku tidak mau meninggalkan Raihan. Tapi Reynaldi tetap memaksa. Aku pun mengalah.



Dan ternyata Raihan juga bersama kami di kapal ini. Aku terkejut dan takut.



Takut jika Raihan marah..



Takut kalau Raihan akan menyakitiku..



Takut kalau Reynaldi mengetahui keberadaan dia di kamar kami..



"Kenapa kau diam? " pertanyaan Raihan membuatku terhenyak.



"Kenapa kau masih disini? Pergilah sebelum Reynaldi menyadari keberadaanmu" kataku.



Dia tersenyum. "Apa salahnya jika aku disini dan ingin bersamamu.. Menemuimu.. "



"Cukup Raihan! " aku memotong ucapannya.



"Sudahlah.. Masa lalu kita sudah berlalu.. Aku tidak bisa lagi bergaul dengan laki-laki karena aku sudah menikah.. " kataku.



"Tidak! Kau seharusnya menikah denganku, Shica.. Kau mencintai diriku.. Bukan dia.. Dia hanya perusak hubungan kita" kata Raihan sambil mengeratkan cengkramannya pada bahuku.



"Kau benar, tapi semuanya sudah terjadi.. Maaf.. Kau tidak bisa mengubah ini Raihan.. Kau terlalu lambat mengambil tindakan " kataku sambil menepis tangannya.



"Apa kau mau melupakan semua kenangan kita? Kenangan SMP.. Kenangan SMA dan kenangan lainnya? Kau melupakan itu semua karena kau di butakan pengorbanan Reynaldi yang sebenarnya dia itu memaksamu secara tidak langsung! Dia juga hanya memanfaatkanmu untuk dijadikan wanita penghiburnya! Apa kau masih belum menyadarinya juga? " tanya Raihan.



"Aku tahu! Aku tahu! Tapi dia mengerti! Dia peka! Dia menyadari kesalahannya sendiri! Dia mengerti, Raihan.. Dia memang keras kepala tapi dia juga mengerti dengan perasaanku! Dia tahu aku mencintaimu! Dia tahu tapi dia tidak memaksaku untuk mencintainya! Dia hanya ingin aku bersamanya menemani dia! Bukan juga menjadi wanita penghiburnya! " teriakku.



"Benarkah? Jadi dia belum pernah menyentuhmu sama sekali? Apa kau yakin? " tanya Raihan sambil mendekat.



"Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menatapku seperti itu? " tanyaku sambil menghindari dari dia.



"Aku mencintaimu Shica.. Dan kau tahu itu " kata Raihan sambil menyentuh daguku.



"Aku merindukanmu" katanya pelan. Aku menahan dadanya.



"Jangan macam-macam! Aku sudah menikah! " kataku memperingatkannya.



Namun dia mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan. "Lalu.. Kau pikir apa yang dia lakukan dengan wanita itu sekarang? "



Aku terdiam..



"Dan asal kau tahu.. Dia bahkan pernah melakukannya dengan beberapa wanita sebelumnya.. Mungkin saja dia memiliki penyakit menular.. Apa kau tidak takut? " bisiknya lagi. Aku tahu itu.. Tapi ucapan Raihan menyakitiku.



Aku terdiam.



Yang kurasakan selanjutnya adalah kecupan hangat di bibirku.



Raihan mencium bibirku.



Bodohnya aku!



Aku berontak dan mendorong dadanya. Namun dia malah memperdalam ciumannya. Dia juga mendorong tengkukku.



Kurasakan tangannya yang satunya lagi memeluk erat pinggangku.



Aku merasakan kedua pipiku memanas. Dia melepaskan ciumannya dan menatapku.



Tiba-tiba semua lampu diruangan kapal mati.



Semuanya gelap.



Namun aku masih bisa melihat dengan jelas wajah Raihan lewat sinar rembulan yang masuk.



"Katakan apa kau mencintaiku? " tanya Raihan.



Sungguh..



Aku merasa kedua mataku memanas. Dan kurasakan juga air mataku mengalir membasahi pipiku.



"Katakan.. Maka aku akan pergi.. " katanya pelan.



Aku jatuh terduduk. Aku menangis.



Kenapa kau masih bertanya..



Tentu aku masih mencintaimu..



Aku mencintaimu..



"Kumohon.. Katakan.. "



Aku memeluk tubuhku sendiri. "I.. I.. Love.. You.. " gumamku pelan.



Kurasakan pelukan hangat pada tubuhku.



"I love you so much" kataku lagi dengan suara bergetar.



"I love you too" suara itu terdengar asing.



Tiba-tiba semua lampu menyala dan aku pun mendongkak menatap seseorang yang memelukku.



Aku terkejut ternyata Reynaldi.



By



Ucu Irna Marhamah