Don't Leave Me

Don't Leave Me
Jalan Yang Dipilih Erick



Ratih masih berkonsentrasi di ruang tengah. Televisi masih dia nyalakan, sementara piring bekas makan malamnya masih tergeletak di meja ruang televisi.


Ratih sibuk membuat pola di bahan yang tadi siang Martha serahkan untuk disulap menjadi baju. Tangannya yang terampil tampak lihai membuat pola di setiap kain yang dia gelar.


Tak terasa malam sudah bergelayut manja, ditemani bintang-bintang yang masih setia menemani sang rembulan. Ratih masih terus saja bekerja. Dia memang wanita yang gigih.


Tinggal satu bahan lagi dari lima kain yang belum tersentuh. Tetapi Ratih terganggu dengan tenggorokannya yang terasa kering. Saking asyiknya berkutat dengan kain, Ratih sampai tak membasahi tenggorokannya dengan air.


"Lexa... Tolong ambilkan..."


Ratih menghentikan ucapannya. Dia tidak sadar dengan apa yang sudah diucapkannya itu.


Ratih sejenak berhenti dari pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Dia mengarahkan pandangan matanya ke sekeliling rumahnya. Sepi. Ratih sendiri. Suara televisi yang dibiarkan menyala, ternyata tidak cukup untuk mengusir kesepian Ratih.


Ratih yang duduk sembarangan di karpet depan televisi hanya termenung. Lamunannya kembali pada saat Lexa masih ada bersamanya.


Lexa akan menemani Ratih yang berkerja sampai larut dengan menonton televisi. Dan Lexa akan menyiapkan air minum untuk Ratih, karena Lexa tahu jika tantenya sudah fokus bekerja dia akan lupa segalanya.


"Lexa....." Lirih Ratih sambil memejamkan mata.


Tak terasa airmatanya pun berlinang membasahi pipinya, mengingat sosok Lexa yang biasa menemaninya. Ratih baru menyadari jika kehilangan orang yang dicintai bukan hanya sekedar kehilangan raga saja, tetapi juga kehilangan setiap momen atau kebiasaan yang pernah tercipta.


'Tok...Tok...Tok...'


Suara pintu yang diketuk dari luar sedikit membuyarkan kesedihan dan lamunannya tentang Lexa. Tanpa pikir panjang, Ratih beranjak dari tempatnya dan mulai melangkah untuk membukakan pintu untuk seseorang yang sudah menunggu di luar.


"Erick?" Ucap Ratih.


Ratih sudah membuka pintu rumahnya untuk tamu yang tadi mengetuk pintu. Terlihat sosok Erick yang mengembangkan senyum kecil ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Ratih penasaran.


"Gak ada apa-apa tante. Erick hanya..... ingin mengobrol dengan tante saja." Jawab Erick terlihat cemas.


"Oh... Ayo, masuk! Di luar dingin, mungkin akan turun hujan, Rick." Suruh Ratih.


"Terimakasih tante. Tapi kayaknya lebih enak di luar, tan. Gerah kalo di dalam." Pinta Erick.


"Ok.. Tapi tante buatkan minum hangat dulu, ya! Erick gak apa-apa tunggu disini dulu?" Tanya Ratih.


"Gak apa-apa, tante. Tenang aja...." Jawab Erick sumringah.


****


Malam sudah sampai di pukul sembilan. Erick dan Ratih masih asyik bercengkerama di teras depan rumah Ratih. Erick berbicara tanpa henti, sementara Ratih asyik menjadi pendengar setia cerita yang Erick suguhkan.


Cerita lucu, seru dan sedih diceritakan dengan seekspresif mungkin oleh Erick. Ratih sampai tak bisa menahan airmatanya ketika Erick menceritakan hal-hal lucu. Kini Ratih tahu, kenapa Lexa bisa mendadak berubah saat bersama Erick. Ratih sudah tahu alasan kenapa Lexa selalu merasa bahagia di dekat Erick.


"Rick... Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan dengan tante?" Tanya Ratih mulai serius.


Ratih tahu, cerita-cerita lucu dan seru yang Erick bicarakan hanyalah pengalih isu semata. Mungkin Erick tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan serius dengan Ratih, jadi dia hanya berusaha merilekskan suasana saja dengan Ratih dengan menceritakan cerita-cerita.


Erick menatap Ratih dalam. Dia mulai menunjukkan wajah serius dan menarik napas panjang. Ratih menatapnya dengan senyuman yang hangat, seperti menenangkan Erick agar dia tidak perlu takut untuk berbicara.


"Tante...." Mulai Erick.


"Iya... Tante disini mendengarkanmu." Jawab Ratih santai.


"Mama menyuruh Erick untuk ke sekolah lagi. Tapi rasanya Erick sudah tidak bersemangat lagike sekolah itu. Entahlah tante, Erick merasa mereka tidak bisa menghargai orang lain. Jadi, Erick merasa sungkan untuk pergi ke sekolah." Ucap Erick.


Ratih mengelus punggung tangan Erick yang jari-jemarinya saling menyatu, menunjukkan sikap simpati kepada perasaan Erick.


"Apa yang membuat kamu berpikir mereka tidak menghargai orang lain?" Tanya Ratih penasaran.


Erick menatap kosong ke depan. Menatap kelamnya malam yang diselimuti cahaya temaram lampu jalanan.


"Mereka tidak menghargai Lexa sebagai bagian dari mereka. Mereka tidak menganggap Lexa sebagai teman, murid, bahkan sahabat. Dengan mudahnya mereka meninggalkan Lexa saat Lexa membutuhkan mereka." Tegas Erick.


Ratih terdiam mendengar perkataan Erick. Matanya berkaca-kaca, dia tidak menyangka Erick bisa merasakan apa yang Lexa rasakan. Sampai tak terasa Ratih menitikkan airmata.


"Apakah selama ini kedekatan mereka dengan Lexa hanya pura-pura belaka? Padahal Lexa menganggap mereka sebagai teman, sebagai sahabat. Tapi mengapa mereka tega melakukan ini kepada Lexa? Apakah orang seperti Lexa tidak bisa mendapatkan tempat yang layak di hati mereka?" Tanya Erick yang mulai geram.


Ratih menyeka airmatanya. Dia mencoba menguasai hatinya yang hancur mendengar isi hati Erick yang sama persis dengan apa yang Lexa rasakan, dan juga dirinya.


"Tidak semua berpikiran sama sepertimu, Rick. Mereka mungkin punya alasan untuk bersikap seperti itu." Ucap Martha.


"Tapi apa harus dengan cara menjauhi Lexa dan menganggapnya tidak ada??" Nada Erick meninggi.


Dengan sedikit menahan tangis, Ratih berusaha untuk menenangkan Erick.


"Dulu tante juga berpikir seperti itu, Rick. Apalagi tante yang paling tahu bagaimana Lexa sebenarnya. Tante ingin marah pada semua yang menjauhi Lexa. Tapi apa kuasa tante? Apa juga yang harus dilakukan Lexa? Apa kita harus berkoar menceritakan kisah Lexa? Yang tidak peduli akan tetap bersikap sama. Dan yang peduli, apa mereka harus saling sambung menceritakan kisah Lexa lagi?" Tanya Ratih beruntun.


Erick mendengarkan dengan seksama. Berusaha mencermati setiap perkataan Ratih. Dia memposisikan dirinya sebagai Ratih, pasti lebih sulit untuk Ratih menjalaninya.


"Tapi Lexa selalu tahu tempatnya. Makanya dia lebih suka sendiri. Menutup diri, bahkan kepada tante. Dia sendiri pasti tidak ingin hal yang sama terjadi pada tante atau orang lain. Maka dari itu, Lexa lebih sendiri pun pasti punya alasan. Mungkin bagi Lexa, dijauhi orang lain merupakan berkah untuknya. Karena dia hanya merasakan sakit sendiri, tidak ingin orang lain merasakan apa yang dia rasakan." Jelas Ratih.


Walaupun Erick masih belum habis pikir dengan pemikiran orang lain, tapi mendengar penjelasan Ratih dia sedikit lebih menghargai perasaan Lexa.


Lexa pasti banyak memikirkan hal-hal yang dikhawatirkan dirinya. Dia masih ingat ketika pertama kali berhadapan dengan Lexa, dia bersikap seolah ingin menghindarinya. Pasti dalam hatinya merasa sedih. Apalagi saat pertama kali Erick mendengar langsung dari mulut Lexa bahwa dia menderita AIDS, Erick bahkan tidak bisa mengntrol perasaanya.


Erick merasa bingung. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dia sampai tertegun beberapa saat, memikirkan sikap apa yang harus dia pilih.


Untungnya Erick memilih jalan yang benar. Tidak meninggalkan Lexa dan bersikap peduli kepadanya. Bukan karena Lexa temannya, tapi karena rasa kemanusiaan yang masih dimiliki oleh Erick.