
Budayakan FOLLOW dan VOTE sebelum baca kemudian COMMENT setelah baca
Mansion besar Adiwijaya, Paris
Reynaldi, Shica dan Raihan sedang menyantap hidangan makan malam mereka. Tidak ada yang berbicara, yang terdengar hanya suara ketukan sendok dan garpu pada piring.
Selesai makan, mereka diam. Tidak ada yang berniat memecah kecanggungan diantara mereka.
"Emm.. Apa kau masih marah, sayang? " tanya Reynaldi pada Shica.
"Iya" jawab Shica ketus.
"Emm.. Maafkan kami.. Jangan marah lagi ya" kata Raihan.
"Tidak" gerutu Shica.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan agar kau tidak marah? " tanya Raihan.
"Tidak ada.. " gerutu Shica.
"Sayang, ku mohon jangan marah seperti itu " kata Reynaldi.
Shica bangkit dari duduknya.
"Shica kau mau kemana? " tanya Raihan.
"Aku tidak dengar " kata Shica kemudian berlalu. Raihan dan Reynaldi menghela napas berat. Namun Reynaldi segera bangkit dan menyusul Shica.
Shica memasuki kamarnya. Baru saja dia akan menutup pintu, namun Reynaldi menahannya.
"Apa kau mau tidur sendirian? " tanya Reynaldi.
"Memangnya kenapa? Aku bisa tidur sendirian.. Kamu tidur aja di kamar lain" gerutu Shica kesal.
"Sayang.. Malam ini dingin loh.. Kalo tidur sendirian, nanti kamu kedinginan" kata Reynaldi.
"Aku tidak peduli.. Sana pergi " gerutu Shica.
"Apa kau tega padaku, sayang? " kata Reynaldi dengan ekspresi memelas.
Shica menatap kesal pada Reynaldi. "Hmm.. Baiklah " kata Shica. Reynaldi tersenyum saat Shica membiarkan dia masuk.
Baru saja Shica akan menutup pintu, Raihan menahan pintu.
"Ada apa lagi? " gerutu Shica.
"Emm.. Aku tidak biasa tidur sendirian.. Aku mau tidur bersama kalian.. Apa boleh? Malam ini saja" kata Raihan dengan ekspresi memelas.
Shica melirik kesal pada Reynaldi. "Emm.. Tidak.. Kami butuh privasi " gerutu Shica.
"Tapi aku takut.. Sebentar lagi akan turun hujan.. Apa kalian tega padaku? " tanya Raihan dengan ekspresi manisnya.
"Kau itu pria macam apa? " gerutu Reynaldi. Raihan mengedipkan sebelah matanya pada Reynaldi. Shica mendelik kesal pada Reynaldi yang memundurkan wajahnya karena Raihan.
"Emm.. Boleh.. Tapi jangan macam-macam" kata Reynaldi penuh ancaman.
"Apa? " seketika Shica menatap Reynaldi.
"Tidak apa-apa, aku yang akan menghabisinya jika dia macam-macam " kata Reynaldi sambil merangkul Shica.
Posisinya, Reynaldi ditengah diantara Shica dan Raihan. Shica dan Raihan sudah tertidur. Sementara dirinya masih terjaga.
Dia melirik Raihan yang tertidur menyamping membelakangi dirinya.
"Mungkin cintamu pada Rastani memang tulus, tapi aku yakin cintaku pada Rastani lebih besar dari cintamu.. Aku tidak akan pernah mengalah pada siapapun .." batin Reynaldi. Kemudian pandangannya tertuju pada Shica.
"Maaf aku membuatmu semakin sulit melupakan Raihan, tapi aku ingin meliha kesetiaanmu padaku.. Aku mencintaimu dan aku bahagia mendengarmu mengatakan bahwa kau juga mencintaiku.. Aku ingin kau membuktikan perkataanmu.. Apa kau benar-benar mencintaiku? " batin Reynaldi.
Hujan turun dengan derasnya. Buliran air dari langit itu turun membasahi bumi. Membuat genangan-genangan kecil diatas tanah. Suara hujan yang khas memecah kesunyian malam.
Namun hujan itu tidak mengganggu ketenangan ketiga orang yang tengah terlelap berpetualang didunia mimpi.
Raihan, Reynaldi dan Shica terlihat pulas dalam tidurnya.
Hari mulai pagi..
Reynaldi perlahan membuka matanya. Dia terkejut mendapati tangan Raihan dan tangan Shica memeluknya sehingga tangan mereka berpegangan. Reynaldi menepis tangan Raihan kemudian dia memeluk Shica.
Shica yang merasa pergerakan suaminya terbangun.
"Hmm.. Aku harus bangun " kata Shica kemudian melepaskan pelukan Reynaldi dan beranjak menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Shica keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengenakan dress selutut berwarna biru navy.
Dia melihat Reynaldi dan Raihan masih tertidur pulas. Dia pun menghampiri mereka.
"Ini sudah pagi, kalian bangunlah" kata Shica sambil menarik selimut yang membungkus tubuh mereka.
Reynaldi malah meregangkan tubuhnya. Sementara Raihan malah bergulir dan menguap. Mereka juga malah bepelukan.
Reynaldi dan Raihan membuka matanya.
"Aaaa!! " mereka terkejut karena saling berpelukan. Mereka meloncat dari ranjang.
"Ih amit-amit " gerutu Raihan sambil mengusap sekujur tubuhnya.
"Ya ampun! Kenapa kau memelukku! " gerutu Reynaldi.
"Kau yang melakukannya " gerutu Raihan.
"Aku pikir kau Rastani " gerutu Reynaldi.
"Apa kau tidak bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan " gerutu Raihan.
"Kalian berdua, hentikan! Lebih baik sana pergi mandi" gerutu Shica.
"Aku akan menggunakan kamar mandimu" kata Reynaldi pada Shica kemudian memasuki kamar mandi di kamar itu.
Raihan memperhatikan Shica yang memoles wajahnya dengan bedak. Shica mendelik kesal pada Raihan.
"Apa yang kau lihat? Sana mandi" gerutu Shica.
"Iya.. Iya.. Galak banget sih " gerutu Raihan kemudian memasuki kamar mandi yang satunya.
Shica mendengus kesal kemudian melanjutkan memoles wajahnya dengan make up.
Benerapa menit kemudian, Reynaldi keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi milik Shica yang berwarna merah muda.
Shica yang melihat kekonyolan suaminya itu hanya memutar bola matanya.
Pintu kamar mandi yang satunya juga terbuka. Raihan keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya.
Raihan dan Reynaldi berdiri berhadapan di depan Shica.
"Wah.. Kotak diperutmu ada empat ya" kata Reynaldi sambil memperhatikan kotak-kotak keras di perut Raihan.
"Tentu saja.. Aku kapten voli.. Mana mungkin kapten voli memiliki tubuh yang jelek" gerutu Raihan.
Shica melirik Raihan dan Reynaldi bergantian.
Reynaldi melepaskan jubahnya. Dia hanya mengenakan boxer putih. Raihan melongo melihat perut Reynaldi.
"Roti sobekmu ada enam.. Banyak sekali " gerutu Raihan.
"Tentu saja.. Ini hanya dimiliki senior.. Makanya Shica menyukai kotak milikku" kata Reynaldi sambil melirik Shica. Raihan menoleh kearah Shica.
Sementara Shica sudah memerah kedua pipinya karena percakapan vulgar kedua pria tampan didepannya.
Raihan dan Reynaldi kembali saling pandang.
"Aku melatih tubuhku di gym terbaik dan ini hasilnya.. Aku memiliki tubuh seperti ini sejak usia lima belas tahun " kata Reynaldi dengan bangga.
"Meskipun roti sobekku hanya ada empat, aku ini kuat dan mampu melakukannya kapanpun" kata Reynaldi dengan bangganya.
"Aku apalagi.. Sudah berpengalaman dan aku juga kuat.. Aku mampu melakukannya semalaman penuh" kata Reynaldi.
Shica segera bangkit dari duduknya dengan kedua pipi memerah seperti kepiting rebus.
"Kalian berdua hentikan! Apa kalian tidak malu bicara vulgar didepan perempuan? Apanya yang kuat? " gerutu Shica.
Raihan dan Reynaldi menoleh kearah Shica kemudian mereka kembali saling pandang lalu kembali menatap Shica.
"Kami membicarakan melatih tubuh kami di gym" kata Raihan.
Wajah Shica semakin merah. Karena dia keliru. Dia sempat berpikir yang bukan-bukan.
"Wah sepertinya kau berpikir kearah lain ya? " goda Raihan sambil menghampiri Shica.
Shica mundur. "Oh jadi pikiranmu mulai nakal ya" goda Reynaldi sambil mendekati Shica juga. Shica semakin mundur.
"Tidak-tidak.. Lebih baik sekarang kalian pakai pakaian kalian! " gerutu Shica sambil mengibaskan tangannya kemudian berlalu keluar dari kamar.
Raihan dan Reynaldi tertawa kemudian mereka saling pandang lalu berhenti tertawa dan berdeham pelan.
"Ternyata Raihan pria yang menyenangkan.. Seandainya dia tidak mencintai Rastani, maka kami bisa menjadi teman baik" batin Reynaldi.
"Reynaldi asyik juga.. Pantas saja jika Shica mencintai dia dalam waktu yang cepat.. Seandainya kami teman baik" batin Raihan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? " gerutu Reynaldi.
"Aku tidak melihatmu" gerutu Raihan.
Mereka pun segera mencari pakaian mereka untuk di pakai.
Hai readers
Bagi yang mau pesan novel
"Psychopath Doctor" dan "The Beautiful Spy" bisa PC aku. Buruan ya, keburu kehabisan.
WA : 085524677955
By
Ucu Irna Marhamah