
Perjalanan Ratih dan Angga tampak seru dan menyenangkan. Keduanya tak ragu untuk saling bertukar canda dan tawa. Bahkan terlihat dengan jelas, Ratih merasa nyaman di samping Angga. Ratih seperti kembali hidup untuk yang kedua kalinya.
Ratih menyimpan duka selama dua tahun untuk Lexa. Merelakan kebahagiaannya hilang hanya untuk menjaga Lexa. Tapi kini setelah Lexa tiada, Ratih mulai sanggup untuk menapaki lagi kehidupannya yang baru. Karena memang itulah yang Lexa kehendaki. Dan Ratih sedang berusaha mewujudkannya.
Perjalanan masih panjang, keduanya masih asyik bercengkerama dalam mobil. Tawa renyah mengisi ruangan mobil yang mereka kendarai. Menjadi saksi atas kebahagiaan yang sedang ingin mereka rengkuh.
*****
Terik matahari sudah sedikit bergeser dari khatulistiwa. Erick sedang berjalan menyusuri jalanan pulang ke arah rumahnya, sendiri. Berjalan tegak dengan tangan yang disembunyikan di saku celananya. Langkahnya begitu percaya diri. Mungkin semangatnya sudah terisi kembali karena senyum Lexa yang tadi dia lihat.
Erick tak merasa sepi dan kosong lagi. Wajahnya sumringah. Rasanya senyum Lexa adalah obat mujarab untuk hati Erick.
Jalanan lengang tak menyiutkan harinya yang sedang berbunga-bunga. Dalam pikirannya, dia tak perlu merasa khawatir lagi. Cukup pejamkan mata dan beri sinyal untuk Lexa, maka Erick akan kembali bersemangat menjadi sosok baru yang penuh gairah.
Rumah Erick sudah hampir terlihat. Dia pulang agak siang hari ini. Dia asyik membaca buku Lexa setelah pulang sekolah, sampai dia lupa waktu.
Belum sempat Erick masuk ke rumahnya, suara mobil yang menderu menghentikan langkahnya sejenak. Melirik mobil yang ternyata berhenti di samping rumahnya.
Erick mengamati mobil yang tampak tak asing untuknya. Sampai seseorang muncul dari balik pintu supir. Dan ternyata sosok pemilik mobil yang tak asing untuk Erick adalah dokter Angga.
"Om Angga!" Sapa Erick penuh semangat.
"Hai, Rick." Sambut Angga yang tak kalah semangat, menunjukkan wajah bahagia karena bertemu dengan Erick.
Tak berselang lama, Ratih pun ikut muncul dari balik pintu yang lain. Sama-sama ikut tersenyum ke arah Erick seperti yang dilakukan Angga.
"Tante Ratih!" Sapa Erick kemudian.
Dia langung lari menghampiri keduanya. Bersalaman dan berangkulan hangat penuh curahan rindu untuk keduanya.
"Apa kabar Om??" Ucap Erick dari dalam pelukan Angga.
"Baik. Kamu gimana? Rupanya sudah berangkat ke sekolah. Kerennya!" Jawab Angga yang melepas pelukannya untuk Erick dan memperhatikan Erick dengan seragamnya, dari atas sampai bawah.
"Keren emang!" Puji Angga lagi sambil mengacungkan dua jempolnya untuk penampilan Erick.
Erick hanya terkekeh mendengar pujian Angga. Sementara Ratih mengelus punggung Erick memberikan sentuhan hangat dan penuh rasa bangga karena Erick kembali bersekolah.
"Kok jam segini baru pulang?" Tanya Ratih sedikit heran, sambil melirik jam di tangannya.
Kepulangan Erick sedikit membawa rasa curiga untuk Ratih, karena Erick pulang melebihi waktu pulang sekolah.
"Oh ya, tante. Tadi Erick asyik membaca buku sampai lupa waktu." Balas Erick dengan senyum yang malu-malu.
"Oh......" Jawab Ratih lega.
Ratih akhirnya paham alasan Erick pulang terlambat karena membaca buku Lexa. Dia tak lagi curiga. Dalam pikiran Ratih, dia takut jika Erick membolos lagi.
"Sudah, Rick. Tinggal menunggu hasilnya saja. Mungkin satu atau dua minggu lagi." Papar Ratih.
"Tantemu baik-baik saja, Rick. Lihat wajahnya. Tidak ada rasa sakit terlihat. Dia pasti sangat sehat dan sangat bahagia." Ucap Angga.
Tatapan Ratih sedikit melotot ke arah Angga. Dia menangkap sinyal meledek dari ucapan Angga. Karena senyum yang Angga tunjukkan kepada Erick sedikit berbeda.
Erick terkekeh melihat keduanya. Ternyata orang dewasa jika sudah dilanda perasaan suka, tingkahnya akan sama seperti anak seusianya.
"Sudah, ayo masuk!" Kata Ratih agak kesal.
"Siap!!" Kata Angga dan Erick bersamaan.
Ratih melirik keduanya. Tapi Angga dan Erick ternyata sudah saling lirik terlebih dahulu. Mereka pasti tidak menyangka, kalau Angga dan Erick begitu kompak. Akhirnya mereka bertiga saling tersenyum lebar, mengakui kalau mereka memang kompak.
****
Ratih menghidangkan makanan kecil dan minuman dingin untuk kedua laki-laki yang sedang asyik mengobrol di taman belakang rumahnya. Ratih menyuguhkan air dingin dengan sirup jeruk dan makanan ringan berupa kue kering cokelat yang dia punya.
"Maaf, ya.. Belum ada makanan berat. Jadi seadanya dulu, ya?!" Ucap Ratih.
"Gak apa-apa tante. Erick juga masih belum lapar." Jawab Erick.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama nanti malam? Kak Martha sedang tidka tugas malam kan?!" Usul Angga.
"Gak sih, Om. Paling sore juga pulang." Balas Erick.
"Boleh. Nanti sampaikan Mamamu, Rick. Tante mengundang Mama untuk makan malam bersama disini." Ucap Ratih.
"Baik, tante." Jawab Erick sumringah.
"Ayo, diminum dulu." Imbuh Ratih.
Ketiganya pun asyik menyantap makanan dan minuman yang Ratih hidangkan, sembari mengobrol kesana-kemari mengakrabkan diri. Sepertinya sudah lama sekali mereka tidak saling menyapa seperti saat ini. Sungguh suasana yang sangat dirindukan.
Hari sudah mulai sore, tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Mereka masih asyik mengobrol.
"Ekh, sudah sore. Kita belum beli bahan makanan untuk makan malam." Ucap Ratih panik.
"Oh ya benar. OK, kita belanja sekarang" Ucap Angga sigap.
"Erick pulang dulu kalau gitu, tante. Mama mungkin sebentar lagi pulang. Nanti Erick sampaikan ke Mama kalau kita akan makan malam bersama." Ucap Erick.
Mereka pun berpamitan saling undur diri untuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Erick pergi terlebih dahulu pamit untuk pulang. Sementara Ratih izin untuk mandi kepada Angga agar dia merasa segar ketika berbelanja di pasar modern.
Tersisa Angga yang masih duduk asyik dengan sisa hidangan yang masih di atas meja. Menunggu Ratih membersihkan diri dan bersiap menjamu keluarga Martha di rumah Ratih untuk makan malam bersama.