
Ratih dan Angga sudah sampai kembali ke tempat kos yang akan di huni oleh Ratih malam ini. Mereka telah mengisi perut mereka yang kosong dengan nasi goreng.
Angga ingin segera pamit meninggalkan Ratih di kos agar bisa beristirahat.
"Aku pamit, ya... Besok saya antar kamu pulang." Tegas Angga.
Ratih sudah tidak bisa mengelak, karena dia belajar dari pengalaman. Sekeras apapun dia menolak ajakan Angga, nyatanya Angga tetap saja berhasil membawa Ratih ikut bersamanya.
"Hati-hati. Terimakasih untuk hari ini." Ucap Ratih tulus.
Angga tersenyum. Dia nampak tak ingin pergi dari hadapan Ratih. Angga menatap Ratih penuh cinta, membuat Ratih jadi salah tingkah karena tatapan Angga.
Angga mulai beranjak, tapi bukan untuk pergi meninggalkan Ratih. Angga malah melangkah maju mendekat ke arah Ratih. Dan Ratih seperti tak bisa bergerak. Dia hanya diam saat Angga menuju ke arahnya.
Semakin dekat Angga ke arahnya, membuat Ratih seperti terlena. Apalagi saat Angga mendekap tubuhnya dalam tubuh Angga yang hangat. Ratih semakin terhanyut oleh suasana, hingga tanpa sadar Ratih membalas pelukan Angga untuknya. Mereka pun sama-sama merasakan manisnya berbalas rasa.
Lama mereka saling dekap mencurahkan perasaan mereka. Sampai akhirnya Angga sedikit merenggangkan pelukannya dan mulai menatap wajah Ratih di bawah sinar lampu yang temaram. Merasakan detak jantung Ratih yang terasa berdegup kencang. Apalagi Angga bisa merasakan harum rambut Ratih. Napasnya juga berbaur dengan napas Ratih yang terdengar sesak dan tak beraturan.
Perlahan Angga mulai mendekatkan wajahnya ke arah Ratih. Ratih sedikit mundur menjauh dari Angga, tapi dekapan Angga terlalu kencang untuknya hingga dia tak kuasa untuk menghindar dari Angga dan perasannya.
Wajah Angga yang benar-benar ada di hadapannya sekarang membuat hati Ratih berdebar hebat karenanya. Ratih sedikit menelan ludahnya kasar. Dia benar-benar dibuat tidak berkutik oleh Angga dan sikapnya.
Angga memberanikan diri untuk mengecup bibir Ratih yang sungguh menawan di matanya. Apalagi Ratih sudah mau membuka hatinya untuk menerimanya lagi. Sehingga tidak ada yang bisa menghentikan Angga untuk membuktikan besarnya perasaan yang ada di hatinya untuk Ratih.
Belum sempat bibir keduanya bertemu, sebuah sorot lampu kendaraan yang hendak masuk ke tempat kos Ratih membuyarkan hasrat Angga.
Keduanya langsung melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Menata pakaian, rambut, dan entah apalagi yang mereka rapikan agar terlihat biasa saja. Tapi yang tidak bisa ditutupi adalah warna merah di pipi mereka masing-masing.
"Permisi.." Sapa orang yang berkendara dengan motor masuk ke dalam barisan kos-kosan yang Ratih tempati.
Ratih dan Angga mengangguk ramah membalas sapa sang pengendara motor, sembari mengatur napas mereka masing-masing. Si pengendara motor adalah pemilik kamar kos di sebelah kamar Ratih.
Si pengendara terlihat masih muda. Tubuhnya tinggi dan wajahnya juga tampan untuk usianya. Angga selalu mengamatinya, saat dia memarkirkan motor dan melepas helmnya.
"Baru masuk hari ini ya, Mas?" Sapa pengendara motor kepada Angga.
Angga tersenyum dan mengangguk ke arah pengendara motor.
"Saya masuk dulu, Mas, Mba." Sapa si pemuda hangat.
Angga dan Ratih mengangguk mengizinkan pemuda itu untuk beristirahat.
Angga melirik Ratih yang matanya terlihat mengikuti arah pemuda itu masuk ke dalam kamar kosnya. Angga pun memberi isyarat kepada Ratih agar kembali sadar, kalau Angga ada di dekatnya.
Ratih pun menoleh ke arah Angga. Menunjukkan ekspresi biasa saja, padahal Angga sudah menunjukkan muka kesal dan cemburu.
"Apa aku harus menginap disini??" Celoteh Angga.
"Hah??" Ratih terkejut mendengar pernyataan Angga.
"Kenapa? Kan kita sudah pernah tinggal satu rumah?!" Jelas Angga dengan bangga.
Ratih reflek mengangkat tangannya dan memukul lengan Angga dengan keras.
"Aww...." Keluh Angga.
"Sakit...! Kenapa? Kamu dari tadi memperhatikan cowok itu terus. Kan aku masih ada disini. Jangan-jangan kalau aku sudah pulang, kamu mau main ke kamar kosnya terus ngajak kenalan lagi??" Telisik Angga.
Ratih melotot heran. Dan sekali lagi lengan Angga menerima tepukan kasar dari Ratih dan membuat Angga teriak kesakitan lagi.
"Tuh kan, kamu malah lebih mementingkan perasaan tetangga kos mu!" Keluh Angga lagi.
"Angga!" Ucap Ratih yang hampir saja memukul lengan Angga lagi.
Kali ini dengan sigap menahan tangan Ratih agar tidak memukul lengannya lagi. Angga malah menarik tangannya untuk mendekat ke arah Angga. Sehingga Ratih masuk lagi ke dalam dekapan Angga.
"Ngga! Ada orang. Malu.." Bisik Ratih.
"Kalau gitu kita masuk aja!" Bisik Angga lagi.
"Ihhhh" Ucap Ratih kesal.
Angga hanya terkekeh senang. Menggoda Ratih adalah hal yang menyenangkan untuknya.
"Iya, aku pulang. Kamu istirahat. Besok aku antar! OK?!" Jelas Angga.
Ratih mengangguk pasti sambil mengembangkan senyum termanisnya untuk Angga.
Mereka bertatapan sebentar. Kemudian Angga mengelus lembut rambut Ratih. Angga mengambil napas panjang.
"Terimakasih... Sudah mau bersamaku hari ini. Aku masih berharap, selamanya akan terus seperti ini." Ungkap Angga.
Ratih tertunduk malu mendengar perkataan Angga yang begitu dalam untuknya. Angga dengan lembut mengecup kening Ratih penuh rasa sayang dan cinta yang sudah sangat lama tertanam di lubuk hatinya, dan Ratih pasti bisa merasakan besarnya rasa itu lewat kecupan Angga yang dia nikmati.
Mereka seperti terhubung dalam satu ikatan yang sudah Tuhan atur. Tinggal menunggu hari baik dan berita baik juga, agar rasa sayang yang sudah ada tidak usah ditutupi dan dihindari lagi.
Dan malam ini adalah malam yang penuh kebahagiaan untuk Ratih dan Angga. Di bawah sinar rembulan di langit malam yang seperti ikut berbahagia untuk mereka.
*****
Martha sedang asyik di dapur memanggang roti dan memasak air untuk dia jadikan teh dan kopi pagi ini. Dia terlihat fokus dengan aktifitasnya, sampai kedatangan Erick di meja makan saja dia tidak rasakan.
Air yang Martha masak sudah mendidih. Martha langsung menuangkannya ke dalam gelas yang sudah dia isi dengan kopi dan teh celup. Bau kopi hitam dan teh hijau langsung menyeruak di ruang makan Martha, baunya harum dan menggunggah selera. Roti yang dia panggang juga sudah matang. Dia menatanya dengan baik di piring makan. Satu roti dengan isian selai kacang untuk Erick dan satu lagi roti panggang dengan isian selai cokelat untuk dirinya.
"Ma...." Sapa Erick yang sudah lama menantinya di meja makan.
"Iya...." Jawab Martha yang masih asyik mengaduk kopinya.
"Ma... Lihat sini!" Ucap Erick agak kesal karena masih tidak diperhatikan oleh Martha.
Martha pun akhirnya menoleh ke arah Erick yang sepertinya tidak sabar ingin segera sarapan, pikirnya. Begitu Martha menoleh ke arah anak bujangnya, Martha agak terkesima dengan penampilan Erick pagi ini.
Erick berpakaian rapi dengan seragam putih abu-abu yang dia kenakan. Martha sampai tak kuasa membuka mulutnya karena terpana dengan dandanan Erick.
"Rick...." Ucap Martha masih tak percaya.
Erick tersenyum kecil. Dia agak malu karena tatapan Martha, dia juga malu karena sudah lama sekali dia tidak memakai pakaian yang dia kenakan hari ini
"Kamu tampan sekali hari ini." Ucap Martha yang langsung menghampirinya.
Matanya terlihat berkaca-kaca melihat Erick. Martha langsung saja memeluknya dengan erat. Seorang Ibu akhirnya sampai pada rasa harunya, melihat sang anak mengabulkan permintaannya.
"Terimakasih, sayang. Mama tahu kamu pasti bisa membuat keputusan yang baik. Mama yakin, kamu akan menjadi anak yang lebih bijaksana kali ini." Doa Martha sambil menitikkan airmata.
"Terimakasih juga, Ma. Mama selalu mendukung Erick. Mama adalah Mama yang terbaik. Erick bangga punya orang tua seperti Mama." Balas Erick sambil mengeratkan dekapannya.
Akhirnya, segala harapan yang dipendam dalam doa sudah terwujud. Tuhan selalu baik. Tuhan tahu kapan waktu yang tepat untuk menunjukkan Kuasa-Nya.