
Reynaldi duduk dikursi kebesarannya. Dia menghela napas berat. Memikirkan foto dirinya bersama wanita penghibur yang dikirim seseorang pada Shica.
"Siapa yang melakukannya? Apa mungkin jalang-jalang itu? " gumam Reynaldi.
"Ah, itu tidak mungkin.. Mereka jelas tahu bahayanya bermasalah dengan diriku" gumam Reynaldi lagi.
"Hmm.. Apa mungkin musuhku? " gumam Reynaldi.
Pintu ruangannya diketuk. Reynaldi menoleh kearah pintu kemudian dia memasukkan foto-foto yang tidak senonoh itu kedalam amplop coklat.
"Masuk" kata Reynaldi.
Seorang pria berambut pirang itu memasuki ruangan. Dia tersenyum kearah Reynaldi kemudian membungkukkan badannya.
"Halo Tuan, apa kabar? " sapa pria itu.
"Joshua? " gumam Reynaldi.
"Iya, Tuan" jawab pria yang tak lain adalah Joshua.
"Hmm.. Duduk" kata Reynaldi.
Joshua pun duduk berhadapan dengan Reynaldi.
"Apa urusanmu di Amerika sudah selesai? Sehingga kau sudah bisa kembali? " tanya Reynaldi.
Joshua hanya tersenyum. "Urusanku disana tidaklah terlalu berharga.. Aku hanya berlibur disana " jawab Joshua.
"Hmm.. Ya aku bisa melihatnya " jawab Reynaldi.
Sunyi..
"Emm.. Boleh aku bertanya sesuatu yang pribadi? " tanya Joshua.
"Hmm.. Ya.. " jawab Reynaldi.
"Apa.. Tuan dan wanita yang bernama Rastani itu benar-benar menikah? " tanya Joshua.
"Iya.. Tentu saja " jawab Reynaldi.
"Syukurlah.. Tapi kudengar dia disini" kata Joshua.
Reynaldi terkejut dan menatap Joshua. "Dia disini? Sialan! " geram Reynaldi.
"Pantas saja.. Waktu di kapal pesiar, aku mencium gerakannya. Dia menemui Rastani.. Berani sekali dia" geram Reynaldi dengan tangannya terkepal kuat.
"Apa? Pria itu menemui Rastani? Kenapa anda tidak menghabisi pria itu saja? " tanya Joshua.
Reynaldi terlihat sedih. "Jika aku menghabisinya, maka.. Akan menyakiti Rastani" gumam Reynaldi.
Joshua terlihat sedih. Dia menatap kedua manik sapphire milik Reynaldi yang memancarkan Cinta dan luka yang bersamaan.
"Rastani begitu berarti bagi anda.. Tapi, jika anda membiarkan pria itu hidup, maka dia tidak akan berhenti untuk berupaya mendapatkan Rastani" kata Joshua.
"Jika aku tidak mampu memutuskan urat nadinya, maka aku akan membangun Benteng yang menjadi penghalang antara mereka" kata Reynaldi penuh keyakinan.
"Jika saya boleh bicara, anda begitu baik dan penuh tanggung jawab.. Nyonya Rastani sangat beruntung mendapatkan Cinta anda " kata Joshua.
"Sayang sekali dia tidak menyadarinya" kata Reynaldi sambil membayangkan wajah Shica.
"Oh ya.. Aku punya tugas untukmu, cari dan selidiki siapa yang mengirimkan foto-foto ini padaku.. Setelah kau mendapatkan orangnya, langsung seret kepadaku dalam keadaan hidup" kata Reynaldi sambil memberikan sebuah amplop coklat berisikan foto-fotonya.
"Aku rasa, pria sialan itu yang mengirimkannya pada Shica untuk menghancurkan hubungan kami.." kata Reynaldi.
"Iya.. Baiklah.. Saya akan berusaha" kata Joshua.
Reynaldi mengangguk.
Joshua bangkit dari duduknya kemudian membungkukkan badannya dan berlalu.
Reynaldi menautkan alisnya kesal. "Kenapa kau yang harus pertama kali bertemu dengan Rastani.. Kenapa kau yang mendapatkan hatinya.. Kenapa kau yang selalu menjadi penghalang diantara kami.. " gumam Reynaldi.
"Sekarang aku yang akan membangun penghalang antara kalian.. " gumam Reynaldi.
"Lihat saja.. Apa kau mampu meruntuhkan penghalang yang kubuat.. Raihan Alfarizi Mulya Abdurrachman? " gumam Reynaldi sambil menyeringai.
"Hmm.. Kau tampan sekali.. Pangeran Adiwijaya.. Atau aku yang melukisnya terlalu Bagus? " gumam Shica. Kedua pipinya memerah kemudian dia tertawa.
Terdengar suara langkah ketukan pentofel pada lantai memasuki ruangan dimana Shica berada.
Ternyata Reynaldi. Shica menoleh. Reynaldi tersenyum pada Shica. Shica juga tersenyum pada Reynaldi.
"Lihatlah.. Ini wajahmu.. Tampan sekali bukan? Tentu saja.. Aku yang membuatnya " kata Shica dengan bangganya.
Reynaldi tersenyum. "Kau membuatnya tanpa harus menatapku secara langsung? " tanya Reynaldi sambil mengambil kertas itu dan melihatnya.
"Keren bukan? " tanya Shica.
Reynaldi tersenyum. Namun senyumannya pudar. "Tunggu! Kenapa hidungku bisa sebesar ini? " gerutu Reynaldi.
Shica tertawa. "Itu sesuai aslinya. Bukankah hidungmu memang seperti itu? " kata Shica sambil tertawa lepas.
Reynaldi melirik kesal pada Shica. "Tidak-tidak.. Aku tidak suka sketsa jelek ini.. " gerutu Reynaldi sambil memberikan kertas itu pada Shica.
"Kau menyebalkan sekali tidak mau menerima sketsa buatanku, asal kau tahu, aku membuatnya dengan susah payah.. " Shica mendengus dan berlalu kesal.
Reynaldi tertawa. Kemudian dia menyusul Shica ke kamarnya.
Shica tengkurap di ranjang. Reynaldi duduk di tepi ranjang kemudian dia mengusap lembut punggung istrinya.
"Ini Bagus sekali.. Terimakasih yaa.. " kata Reynaldi.
"Pembohong " gerutu Shica.
"Aku hanya bercanda tadi.. Jangan marah sayang " kata Reynaldi.
Shica berbalik dan duduk kemudian menatap Reynaldi. "Kau bersungguh-sungguh? " tanya Shica.
Reynaldi mengangguk. Shica tersenyum. Reynaldi memeluk Shica.
"Aku mencintaimu " kata Reynaldi.
"Aku sudah tahu" gerutu Shica.
Reynaldi melepaskan pelukannya kemudian menatap Shica.
"Seharusnya jawabanmu, aku mencintaimu juga" kata Reynaldi. Shica hanya tersenyum mendengar ucapan Reynaldi.
Reynaldi mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Shica.
Mereka saling menatap. "Apa kita bisa melanjutkannya sekarang? " tanya Reynaldi.
Kedua pipi Shica merona. "Tapi.. " Shica tidak melanjutkan kata-katanya karena Reynaldi membungkamnya dengan kecupan hangatnya.
Reynaldi menindih Shica. Ciuman Reynaldi turun ke leher Shica. Shica meremas rambut Reynaldi.Reynaldi meraih tali dress punggung Shica.
"Tunggu-tunggu.. Kita tidak bisa melanjutkan ini" kata Shica yang membuat Reynaldi menghentikan aksinya seketika dia mendongkak menatap istrinya.
"Kenapa? " tanya Reynaldi.
"Aku sedang.. bulanan" jawab Shica.
"Apa?! " Reynaldi terkejut.
"Maaf.. " kata Shica.
Reynaldi pun merebahkan tubuhnya ke samping Shica. Kegiatan malamnya selalu gagal.
"Kita bisa melakukannya minggu depan" kata Shica sambil mengecup pipi Reynaldi kemudian merebahkan tubuhnya di samping Reynaldi.
"Ku pastikan jika saat itu telah tiba, kita akan melakukannya sepanjang malam tanpa istirahat " gerutu Reynaldi.
Skakmat
By
Ucu Irna Marhamah
WA : 0855-2467-7956
IG : @ ucu_irna_marhamah