Don't Leave Me

Don't Leave Me
Janji Lexa



Dalam perjalanan pulang, Ratih tak pernah melepaskan rangkulannya ke tubuh Lexa. Seperti orang yang lama sekali tidak berjumpa, Ratih merangkulnya erat. Lexa pun membalas rangkulan Ratih. Dia benamkan tubuh kurusnya ke dalam rengkuhan Ratih yang menyayanginya.


"Maaf, tante... Sudah membuat tante khawatir." Ucap Lexa lirih.


Ratih menjawabnya dengan mengecup kening Lexa berkali-kali tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya.


Ketiganya sudah sampai di rumah, Lexa dituntun untuk segera masuk dan beristirahat. Tapi sebelumnya Ratih ingin Angga mengecek kondisi Lexa.


Angga mengambil perlengkapan medis yang dia bawa untuk mengecek suhu tubuh, tekanan darah, pupil, pemeriksaan jantung dan lain sebagainya. Setelah memastikan Lexa dalam kondisi sehat, Angga menyuruh Lexa untuk meminum satu tablet vitamin yang sengaja dia persiapkan dari kota. Lexa patuh meminumnya dan segera pergi untuk beristirahat di kamarnya.


Angga dan Ratih tak banyak bicara. Mereka hanya duduk berhadapan dengan bibir yang sama-sama terkunci. Makanan di meja makan pun sudah nampak dingin dan tak menggugah selera.


"Kamu ga mau makan?" Tanya Angga.


Ratih menggeleng.


"Lexa sudah pulang ke rumah, dia baik-baik saja. Makanlah. Tidak baik untuk kesehatanmu." Bujuk Angga.


"Aku tidak lapar, Ngga." Jawab Ratih dengan senyum kecil.


"Ratih... Boleh aku mengatakan sesuatu?" Tanya Angga.


Raut wajah Ratih sedikit berubah. Dia terlihat tegang.


"Aku... Masih ingin menemanimu dan Lexa seperti dulu." Tegas Angga.


Ratih sudah menduga Angga akan mengatakannya, tapi tetap saja membuat dia sedikit tidak nyaman.


"Aku masih ingin bersamamu, karena aku masih mencintaimu, Tih..." Ucap Angga dengan napas dalam.


Ratih menghela napas panjang, belum berani membalas pernyataan perasaan Angga.


"Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku harap kamu masih mau memikirkan perasaanku padamu, Ratih." Pinta Angga sedikit memelas.


Angga mencoba meraih tangan Ratih, dan Ratih tidak menolak.


"Aku ingin membuatmu bahagia." Ucapan Angga sedikit membuat Ratih goyah, sehingga tanpa sadar airmatanya keluar.


'Praang'


Suara dalam kamar Lexa mengganggu suasana yang terbangun antara Ratih dan Angga. Mereka segera berlari ke kamar Lexa. Mereka terkejut karena Lexa sudah terkulai di lantai bersama pecahan gelas yang mungkin tadi dia pecahkan. Ada darah segar mengalir dari hidung Lexa, yang membuat Ratih histeris.


Angga dengan sigap mengangkat tubuh Lexa ke ranjang. Melakukan pertolongan pertama dengan mengecek denyut nadi Lexa yang sedikit melemah. Kemudian berlari mengambil tas yang berisi perlengkapan dokter yang sudah dipersiapkan. Menghujam Lexa dengan suntikan di lengan kanannya. Ratih masih berusaha membangunkan Lexa sekuat tenaga, sedangkan Angga berusaha sekuat tenaga melakukan tindakan medis.


Malam semakin gelap, suasana kamar Lexa semakin mencekam. Hanya terdengar rintihan Ratih yang pilu membelah malam.


****


Selang infus sudah terpasang di lengan Lexa yang masih tertidur setelah sempat sadar dan hanya memanggil nama Ratih, kemudian terlelap lagi. Ratih masih setia menungguinya. Duduk di sebelah tubuh Lexa yang semakin memucat. Angga terlihat mengecek infus dan melihat pupil Lexa. Kemudian mencatat hasilnya di secarik kertas.


"Aku akan menghubungi Dr. Hermawan." Jelas Angga meminta izin menelpon teman dokternya kepada Ratih.


Ratih memandang Lexa lekat. Mata Ratih sayu dan sembab. Tak tidur semalaman rupanya. Dia cium tangan Lexa yang sudah semakin kurus, lalu meneteskan airmata.


****


Erick bergegas menyelesaikan sarapannya. Hari ini hari minggu. Dia bebas untuk melakukan aktifitas di rumah. Tapi dia akan lebih memilih beraktifitas dengan Lexa. Dia berencana mengajak Lexa jalan-jalan menyusuri komplek perumahan menikmati udara segar pagi ini.


"Mau kemana, Rick??" Tanya Martha sedikit menelisik.


"Erick mau ke rumah Lexa, Ma.." Jawab Erick santai.


"Mau apa??" Tanya Martha sedikit tidak sabar.


"Erick mau ajak Lexa jalan-jalan. Lexa pasti bosan di rumah saja, mumpung hari ini libur." Tegas Erick.


"Ga usah, Nak. Lexa ga butuh hiburan, dia hanya butuh istirahat." Jelas Martha.


"Lexa juga perlu udara segar, Ma. Kemarin dia senang saat berjalan-jalan di dekat danau." Kata Erick tak mau kalah.


Erick terdiam. Dia berpikir, perkataan Ibunya pasti benar. Lexa juga tampak pucat kemarin. Apalagi saat hujan, Lexa terlihat tidak baik-baik saja. Erick akhirnya mengalah. Dia memutuskan untuk tinggal dalam kamar.


Dari kamarnya, Erick mengamati jendela kamar Lexa yang terbuka. Dia mencoba mencari wujud Lexa disana. Berharap dia muncul dengan senyum manisnya yang menawan. Tiba-tiba dadanya berdesir ketika mengingat Lexa. Erick jadi salah tingkah dan mulai gelisah. Dia melirik polybag daisy yang kemarin dia dapat dari istri pemilik kebun, lalu mencoba mengambilnya. Menatap takjub pada keindahan sang bunga dan kenangannya, lalu dengan sengaja Erick taruh di dekat jendelanya dan mulai mengambil segelas air untuk dia siramkan ke daisy cantik itu.


****


Waktu sudah sore, Erick masih tertidur pulas. Sampai tiba-tiba Martha membangunkannya dengan paksa.


"Mmmmm... Ada apa, Ma?" Keluh Erick yang masih ingin memejamkan matanya.


"Bangun, Rick! Bangun!" Kata Martha agak kesal, karena sudah sedari tadi dia membangunkan Erick tapi tak berhasil.


"Rick, bangun! Ayolah, Lexa akan dibawa ke rumah sakit! Kamu tidak mau menemuinya?" Ucap Martha sedikit membentak.


Erick langsung sadar.


"Apa, Ma?? Lexa mau dibawa kemana?" Tanya Erick penasaran.


"Lexa mau dibawa ke rumah sakit. Kondisinya menurun. Dia akan dibawa ke rumah sakit dekat sini. Mudah-mudahan dia bisa ditangani dengan baik di sana." Jawab Martha penuh harap.


Erick langsung mengambil langkah seribu menuruni ranjang dan segera keluar dari rumahnya menuju rumah Lexa.


Erick masih belum sadar sepenuhnya, tapi pikirannya sudah berjalan. Dia lari sekencangnya menuju rumah Lexa. Hatinya sedikit kacau, ada rasa khawatir juga dalam dirinya.


"Tante..." Dengan napas memburu, Erick menyapa Ratih yang sedang berbincang serius dengan Angga.


Ratih menoleh ke arah Erick, dia yakin Erick pasti mengkhawatirkan Lexa jadi dia minta izin kepada Martha untuk menyampaikan kepada Erick tentang kondisi Lexa.


Ratih menyuruh Erick masuk. Dia mempersilahkan Erick untuk menemui Lexa di kamarnya. Erick sedikit ragu melangkahkan kakinya yang tidak beralas kaki. Dia takut melihat kondisi Lexa. Tapi rasa ingin bertemu Lexa mengalahkan rasa takutnya.


Kini dia tepat di depan Lexa yang terbaring tak berdaya dengan selang infus di tangan. Mukanya terlihat lebih pucat. Tubuhnya juga terlihat kaku. Sungguh membuat hati Erick trenyuh. Kakinya bergetar mendekati tubuh Lexa. sedikit menelan ludah untuk menguasai dirinya sendiri. Perlahan mendekati Lexa, dan mencoba menyentuh tangan Lexa.


"Erick.." Suara lirih Lexa membuat Erick sadar.


Dengan ekspresi bingung, Erick mencoba mengukir senyum untuk Lexa.


"Aku ga mau ke rumah sakit." Pinta Lexa lirih bercampur airmata.


Erick terkejut, mempercepat langkahnya ke samping Lexa. Duduk di tepi ranjang tempat Lexa berbaring.


"Kenapa??" Tanya Erick lirih.


Lexa hanya menggeleng saja, tapi airmatanya tetap mengalir.


Secara tak sengaja atau mungkin naluri Erick yang muncul tiba-tiba langsung menyeka airmata Lexa yang berlinang.


"Aku ga mau mati di rumah sakit." Jelas Lexa dengan suara parau.


Erick kaget dengan pernyataan Lexa.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu hanya akan dirawat oleh dokter, habis itu kamu bisa langsung pulang." Jelas Erick mencoba untuk membujuk Lexa.


Lexa masih menggeleng.


"Aku janji, setelah kamu pulang ke rumah aku akan menemani kamu berpetualang lagi. Kamu mau aku temenin kemana?" Tanya Erick antusias.


Lexa hanya terdiam.


"Kalau aku tidak bisa pulang?" Tanya Lexa getir.


Erick mendadak kelu.


"Kamu yang harus janji sama aku. Kamu harus pulang lagi!" Kata Erick serius. Menatap Lexa dengan penuh harap agar Lexa mengabulkan permintaannya.


Dan Lexa hanya menghindari tatapan Erick yang membuat hatinya merasa sesak.