
"Enaknya kita masak apa?" Tanya Ratih yang sibuk melihat-lihat aneka bahan makanan di swalayan yang mereka kunjungi.
Angga terlihat berkeliling, memutar matanya berusaha menemukan ide untuk menjawab pertanyaan Ratih.
"Bagaimana kalau barbeque aja? Di teras belakang asyik kayaknya." Ungkap Angga.
Ratih melirik Angga, matanya berbinar. Tak sangka Angga menemukan ide yang sangat bagus untuk acara makan malam nanti.
"OK! Ya sudah, kita pilih daging sama beberapa sayuran. Kamu boleh pilih minuman dulu sana!" Suruh Ratih yang langsung dilaksanakan oleh Angga.
Mereka asyik berbelanja di sana, layaknya pasangan sesungguhnya yang sedang berbelanja untuk memenuhi kebutuhan di rumahnya.
Sesekali nampak Angga menggoda Ratih dengan memasukkan banyak barang yang tidak perlu bagi Ratih. Walaupun Ratih sudah menyuruh untuk meletakkan kembali barang tersebut, Angga sepertinya tak peduli dan membuat Ratih meninggalkan Angga.
Begitulah cara mereka berbelanja. Menghabiskan uang dan waktu untuk menjamu tamu spesial untuk mereka. Bukankah makan malam nanti akan menjadi luar biasa?
****
Martha baru saja memarkirkan mobilnya di garasi. Dia terlihat kelelahan. Tapi dari dalam rumah, Erick menyambut kedatangan Martha penuh semangat.
"Mama....." Sapa Erick yang langsung datang untuk menyalami Martha yang baru saja masuk rumah.
"Iya...." Balas Martha mengutas senyum menyambut tangan hangat Erick untuknya.
"Bagaimana sekolahmu?" Tanya Martha penasaran.
"Mmmmm.... Bagus. Sekolah Erick masih sama seperti dulu." Jawab Erick enteng.
"Kamu mengikuti pelajaran dengan baik bukan??" Tanya Martha menelisik.
"Iya donk, Ma. Erick memperhatikan penuh setiap pelajaran dari Bu Irma." Jawab Erick sambil mendorong tubuh Martha agar mengikutinya.
Martha dipersilahkan duduk oleh Erick di kursi dekat meja makan.
"Mama capek?!" Tanya Erick.
"Erick pijitin ya?" Rayu Erick.
Martha mengerutkan dahinya sambil memperhatikan Erick yang begitu perhatian kepadanya.
"Ada apa ini??? Tumben sekali." Ucap Martha.
"Apa yang tumben, Ma? Erick itu perhatian loh orangnya. Mama aja yang gak peka." Sindir Erick.
Erick dengan sigap mengambilkan air minum untuk sang Mama.
"Minum, Ma. Mama pasti capek." Kata Erick sambil menyuguhkan segelas air putih kepada Martha.
Baru saja Martha hendak meneguk segelas air yang Erick suguhkan, tiba-tiba Martha merasa tak enak hati.
"Tunggu, Rick. Mama penasaran. Kamu kenapa sih? Kok jadi manis gini sama Mama? Ada apa? Jangan-jangan kamu gak diterima di sekolah ya?!" Tuduh Martha.
"Ih, Mama ini. Pikirannya negatif sekali. Erick dan sekolah Erick, baik-baik saja, Ma. Tidak ada permusuhan diantara kita." Balas Erick sambil mengacungkan dua jari yang membentuk huruf V kepada Martha.
"Lalu ada apa ini? Mama yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Mama." Martha masih menelisik.
"Gak ada, Ma. Tapi...." Kata Erick sambil menodongkan air minum yang belum sempat Martha teguk.
Martha tak kuasa menolak. Dia meneguk segelas air yang ditodongkan kepadanya sampai habis. Ternyata Martha memang benar-benar haus setelah seharian bekerja.
"Nah..." Kata Erick puas.
Martha sedikit puas. Akhirnya dahaga dalam tenggorokannya hilang sudah.
"Ma, tante Ratih sudah pulang." Ucap Erick.
"Oh ya? Kapan? Mama mau segera menemuinya." Tegas Martha.
"Eits nanti dulu, Ma." Ucap Erick yang langsung mendudukkan Martha lagi di kursinya setelah tadi sempat ingin beranjak dan segera menemui Ratih.
"Tante Ratih lagi pergi sama Om Angga, Ma. Mereka mengundang kita untuk makan malam bersama dengan mereka." Jelas Erick.
"Kita datang kan, Ma? Erick ingin makan malam sama Om Angga dan tante Ratih." Harap Erick.
"Tuh kan?! Kamu kalau mendadak jadi anak manis, pasti ada maunya." Ungkap Martha yang membuat Erick terkekeh.
"Baiklah, kita akan datang untuk makan malam bersama mereka. Tapi Mama mau mandi dulu. Gerah." Ujar Martha yang langsung berdiri dan memilih berlalu meninggalkan Erick yang tersenyum puas.
****
Langit sore sudah berubah menjadi gelap. Dihiasi sinar rembulan yang tak terhalang mendung. Bintang-bintang pun tak kalah ingin muncul merayakan sinarnya yang menawan. Berjejer di antara langit malam, dan berkelap-kelip di angkasa menunjukkan sinarnya yang mengagumkan.
Angga sedang bersama Erick, memanggang daging sapi bagian dalam yang tadi Martha beli di swalayan. Menu spesial untuk orang-orang yang spesial tentunya sementara Ratih dan Martha sibuk menata meja makan yang tadi sudah dikeluarkan ke teras belakang rumah Ratih oleh Angga dan Erick.
Martha dan Ratih kompak menata meja sedemikan rupa. Membuat suasana makan malam ala restoran bintang lima, dengan hiasan lilin-lilin yang begitu anggun. Keduanya tampak rukun menata meja, tapi berbeda dengan Angga dan Erick yang sedikit kisruh.
"Om, itu dibalik dagingnya nanti gosong!" Kata Erick menggerutu.
"Gak, Rick. Ini belum matang. Jangan dibalik dulu." Kilah Angga.
"Sudah, Om! Ayo dibalik, nanti gosong! Tuh, baunya aja sudah gosong!" Ucap Erick sedikit kesal.
"Masa sih??" Ucap Angga yang langsung segera membalik daging yang dia masak.
"Tuh kan?! Apa Erick bilang!" keluh Erick.
"Oh iya..." Jawab Angga enteng, tak merasa bersalah karena merusak daging kualitas bagus dengan kelalaiannya saat memasak.
"Sudah Erick saja, Om! Nanti gosong semua dagingnya, nanti Erick makan apa?!" Keluh Erick lagi.
Angga tertawa terbahak-bahak. Dia memang tidak jago memasak, dia hanya jago menulis resep. Tapi Erick sudah terlatih memasak karena Martha.
Erick yang sering kali ditinggal Martha yang harus bekerja di luar kota, sudah membekalinya dengan keterampilan memasak. Walaupun belum dikatakan bisa pandai memasak, tapi Erick lumayan mumpuni untuk berkerja di dapur.
"Sudah matang belum?" Tanya Martha sedikit berteriak. Karena tempat Erick dan Angga agak jauh dari tempatnya.
"Belum, Kak." Jawab Angga yang suaranya tak kalah tinggi dari Martha.
"Cepatlah, mejanya sudah siap. Kita juga sudah lapar!" Imbuh Ratih.
"OK!" Jawab Angga yang langsung menata piring untuk menaruh beberapa daging yang sudah matang.
"Ini satu lagi, Om." Kata Erick yang menaruh satu daging panggang terakhir untuk dihidangkan.
"Wah...!" Ucap Angga dengan ekspresi takjub.
Tak salah dia memberikan Erick kesempatan untuk memanggang daging, karena daging yang dipanggang Erick semua terlihat lezat dan menggugah selera.
"Dagingnya sudah siap!" Pamer Angga kepada Ratih dan Martha yang tengah asyik bercengkerama di meja makan.
"Wah... Kelihatan enak sekali." Puji Martha.
"Mmmm... Baunya enak. Bikin tambah lapar." Puji Ratih menyusul.
"Kalau gitu, ayo kita makan." Ujar Angga yang langsung meletakkan daging di meja dan segera memilih tempat duduk untuk dirinya sendiri.
"Rick. Ayo makan!" Seru Angga.
"Iya..." Sahut Erick yang berlari kecil menghampiri ketiga orang dewasa yang akan bersantap bersamanya.
"Ayo, Rick. Pimpin doa dulu." Ucap Martha.
"Iya, Ma." Jawab Erick.
Keempatnya menundukkan kepala berdiam diri sejenak mengungkapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa atas segala limpahan nikmat yang sudah diberikan kepada mereka.
"Ayo makan!!" Seru Erick yang sudah tak sabar ingin mengisi perutnya, setelah selesai memimpin doa.
"Mari makan." Seru ketiga orang dewasa saling bersahutan.