
Kali ini David melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Anna terlonjak kaget dan mempererat genggamannya di seragam David.
"WOY, LO MAU MATI HUH?! GAK USAH AJAK-AJAK GUE!" teriak Anna kesal.
"Masih untung gue tolongin," ucap David pelan.
"EH ANAK KODOK. BERHENTI SEKARANG CEPATTT! GUE GAK MAU MATI, GUE MASIH BELUM NIKAH SAMA ALVIN!"
David menghentikan motornya. "Turun," ucap David malas.
"EH LO BENERAN TURUNIN GUE?! JAHAT BANGET SUMPAH!"
David menutup telinganya dan menatap sebal Anna. "Gak usah teriak lagi ****. Gue udah berhentiin motornya."
"Jadi lo beneran turunin gue?! Kejam, jahat, tega, gue gak bisa diginiin."
David menatap malas Anna. "Lo beneran gak mau turun? Yakin lo?"
"Yaiyalah. Mana mau gue diturunin. Cepet jalan lagi!"
"Emang mau kemana ****."
"Ke rumah gue dong ****. Lo kan tau rumah gue karna lo pernah ngantar Alvin ke rumah gue. Dasar ****."
David mengelus dadanya sabar. "Anna... ini udah nyampe rumah lo!"
Anna melongo bingung. Lalu dia menoleh ke arah rumahnya. "Aduh malu banget. **** lo Anna. ****," ucap Anna pelan. Dia langsung turun dari motor David dan berlari ingin memasuki rumahnya. Namun langkahnya terhenti karena panggilan David.
"Woy!"
Anah membalikkan badannya. "Apaan lagi sih?!"
"Ck, helm gue lo mau bawa pulang juga huh? Balikin sini."
Anna langsung memegang kepalanya. Ternyata memang helmnya masih terpakai. Dia langsung melepaskan helmnya dan memberikannya kepada David dan langsung berlari cepat memasuki rumahnya karena malu. David berdecak sebal dan melajukan motornya menuju rumahnya.
Didalam rumah Anna langsung berlari memasuki kamarnya tanpa melepas sepatunya. "Malu banget sumpah. Gimana kalau David cerita sama Alvin? Duh malu malu malu malu," ujar Anna memukul kepalanya pelan sambil rebahan di atas kasurnya. Karena kelelahan tanpa sadar Anna sudah tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
-~-
Sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar Anna yang membuatnya perlahan-lahan bangun dari tidurnya. Dia semalaman tidur menggunakan seragamnya dan tanpa makan malam sehingga membuatnya bangun lebih cepat untuk sarapan.
"Bi Inam, sarapannya udah siap?" tanya Anna setelah turun dari kamarnya.
"Udah non. Tumben non Anna bangun lebih pagi."
"Laper bi, semalam kan Anna gak makan malam. Eh bi btw mama sama papa gak pulang ya semalam?"
"Iya non. Semalam mereka telepon bilangnya bakal nginap di apartemen aja karena masih ada kerjaan."
Anna hanya menganggukkan kepalanya dan duduk di meja makan untuk menyantap sarapannya. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi. Anna memutuskan untuk mengechat pacarnya.
Alvin❤️
Vin.
Tumben kamu udah bangun. Ada apa?
Gpp, jangan lupa sarapan ya. ☺️
Hahaha, gak perlu diingetin aku juga ingat kok. Kamu juga ya.
Yaudah deh. Ngomong-ngomong nanti kamu jemput aku kan?
Iya dong. Pastinya.
😁 Ok. Kalau gitu aku siap-siap dulu ya. Bye 🥰
Bye 😘
Setelah menutup handphonenya, Anna langsung bersiap-siap sebelum Alvin datang menjemputnya. Setelah 30 menit, akhirnya Alvin datang menjemputnya. Alvin langsung melajukan motor sport nya menuju sekolah.
-~-
Anna mengandeng lengan kanan Alvin untuk memperlihatkan pada fans-fans Alvin bahwa Alvin miliknya. Para fans Alvin hanya menatap kesal Anna yang sengaja melakukannya.
"Tumben gandeng aku posesif gini."
"Gak salah dong. Kan kamu pacar aku."
"Kamu emang gak salah kok. Asalkan yang gandeng aku itu kamu, aku rela," ucap Alvin tersenyum manis dan mengacak-acak rambut Anna.
Anna tersenyum dan membalas mengacak-acak rambut Alvin. Namun adegan romantis mereka tidak bertahan lama sampai suara David terdengar.
"Woy, mesra-mesraan jangan di koridor."
Anna menoleh ke arah David dan tersenyum remeh. "Bilang aja lo iri."
"Iri? Gak level iri sama kalian. Cih," ucap David melewati jalan antara Anna dan Alvin sehingga gandengan mereka terlepas.
Anna menatap kesal David sedangkan Alvin hanya memasang ekspresi datar.
"Udah Na, jangan ladenin dia."
Anna menganggukkan kepalanya dan mereka melanjutkan langkah mereka menuju kelasnya.
-~-
"Kei, lo tau gak kakaknya si Alvin itu?" tanya Anna setelah duduk di bangkunya.
"Tau dong. Siapa sih yang gak kenal dia. Emang kenapa?"
"Ngeselin banget sumpah deh dia. Pengen gue tabrak dia pake mobil bokap gue."
"Emang kenapa sih?"
Anna mulai menceritakan kejadian tadi sekaligus kejadian memalukannya kemarin.
"Jadi gitu. Ngomong-ngomong lo beneran pulang bareng David?!" teriak Keisa tercekat.
"Iya. Itu karna terpaksa. Papa gue sibuk kerja."
"Gila Na, gue mau gantiin lo dong. Enak banget lo diboncengin cogan sekolah."
"Enakan diboncengin Alvin. Eh terus ya masa si kodok suruh gue putusin Alvin. Aneh banget."
"Si kodok? Siapa?"
Anna menjawab malas. "David."
"Astaga Na, muka yang gantengnya udah kayak pangeran didongeng-dongeng lo samain sama kodok. Miris mata lo."
"Ish Kei bukan itu yang mau gue bahas."
"Iya-iya. Tadi lo bilang David suruh lo putusin Alvin?"
"Iya. Aneh kan? Gue gak tau lagi isi otaknya apa."
"Menurut pandangan gue ya Na, keknya si David suka sama lo deh."
Anna menatap tajam Keisa. "Gak lucu Kei. Gue ngomongnya serius tau."
Anna hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan Keisa. Dia memutuskan mengabaikan ucapan Keisa.
-~-
Istirahat kali ini Anna yang akan menemui Alvin ke kelasnya.
"Alvinnya ada gak?" tanya Anna pada salah satu teman sekelas Alvin.
"Alvin? Tadi dia pergi sama cewek."
"Huh? Siapa ceweknya?"
"Gak tau deh. Gak kenal. Lo tanya aja ntar."
Anna masih berdiri diam didepan kelas Alvin. Cewek? Siapa?
Anna menggelengkan kepalanya. "Udah jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Nanti gue tanyain langsung ke Alvin," ucap Anna pada dirinya sendiri dan melangkahkan kakinya kembali ke kelas karena mood makannya hilang.
Ditengah perjalanan kebetulan Anna melihat Alvin dengan seorang perempuan. Anna langsung menghampiri Alvin. "Vin," panggil Anna.
Alvin menoleh dan tersenyum ke arah Anna. "Maaf ya tadi aku gak jemput kamu."
Anna hanya memasang ekspresi datar dan melihat ke arah perempuan di samping Alvin. "Siapa?" tanya Anna dingin.
"Oh iya. Kenalin namanya Calista Bianca. Panggil aja Lis."
"Oh. Siapanya kamu?"
Alvin diam dan menatap lama Anna. Tiba-tiba dia tersenyum jahil. "Cemburu?"
"Nggak. Ngapain cemburu sama kamu. Ga ada untungnya."
"Dih. Yaudah kalau gitu aku sama dia aja," ucap Alvin ingin merangkaul Lis.
Anna langsung sigap menarik tangan Alvin dan menggandengnya. Matanya menatap tajam Alvin. Alvin hanya terkekeh melihat kelakuan pacarnya.
"Tenang aja. Dia udah punya pacar kok."
Anna masih diam tidak ingin membalas ucapan Alvin.
"Tanya aja kalau gak percaya. Lis kenalin diri lo ke dia deh. Dia kalau ngambek susah dibujuk," ujar Alvin.
Lis tersenyum ramah. "Kenalin nama gue Calista Bianca, panggil aja gue Lis. Gue udah punya pacar kok. Tenang aja. Pacar gue namanya David. Kakaknya Alvin," jelas Lis.
Mendengar ucapan Lis, Anna melongo kaget. "Pacarnya si kodok?" tanya Anna kelepasan.
"Kodok?" tanya Alvin dan Lis bersamaan.
"Eh eh bu-bukan. Maksud gue lo beneran pacarnya David Linford?"
Lis terkekeh. "Iya gue beneran pacarnya David Linford."
Anna heran. Kalau Lis emang pacarnya David. Kenapa David selalu minta gue buat putus dari Alvin sedangkan dia udah punya pacar? Btw, jadi dia kakak ipar gue dong. Duh, sikap buruk gue udah diliat dia dong. Batin Anna.
Anna tersenyum ramah pada Lis. "Maaf ya kak tadi sikap gue kurang bersahabat."
"Gpp kok. Wajar lo kayak gitu. Ngomong-ngomong gue duluan ya, masih banyak urusan. Thank's Vin bantuannya," ucap Lis melangkahkan kakinya meninggal Alvin dan Anna.
Anna berdehem. "Ehmm. Ke kelas yuk udah hampir bel."
"Yuk, kamu udah makan tadi?" tanya Alvin sambil merangkul Anna.
"Belum. Gpp deh masih tahan kok."
"Dih kebiasaan. Nggak sekarang kita ke kantin. Gak ada penolakan."
"Jadi bolos nih? Yakin? Aku gak mau nilai kamu turun nanti karna bolos. Kita balik ke kelas aja."
"Nggak. Kesehatan kamu lebih penting sekarang." Alvin menggenggam tangan Anna dan membawa Anna menuju kantin.
Mendengar jawaban Alvin membuat Anna tersipu malu. Dia bisa merasakan pipinya panas dan sudah dapat dipastikan pipinya memerah. Jika Alvin selalu perhatian dengannya seperti ini, mana mungkin Anna meminta putus darinya. Omongan David sangat tidak masuk akal menurut Anna.
-~-
"Darimana?" tanya David pada Lis yang baru memasuki kelas.
"Ngurus-ngurus buat acara fetival sekolah kita."
"Sama siapa?"
"Tadi minta bantuan Alvin."
"Oh." David lanjut memainkan gamenya yang sempat tertunda.
"Dav,.. kamu kenal Anna gak? Pacarnya Alvin."
"Kenal."
"Cantikan aku atau dia?"
David menghentikan gamenya lalu menatap Lis sebentar dan kembali fokus pada gamenya. "Gak ada."
"Ishh kejam banget kamu. Udah ah, ngambek aku."
"Terserah." jawab David dingin.
"Kamu akhir-akhir ini cuek banget sama aku. Emang aku ada salah apa sama kamu?"
David mengalihkan pandangannya pada Lis. "Menurut kamu?"
Lis menggelengkan kepalanya. "Gak ada."
"Kalau gitu berarti gak ada yang salah," ucap David beranjak pergi meninggalkan Lis yang menatapnya bingung.
-~-
"Mending lo nyerah aja. Bentar lagi dia bakal tau," ucapnya sambil tersenyum remeh.
"Gue gak bakal nyerah. Lo sendiri gak usah ikut campur."
"Ck, udah gue bilanginkan? Lo tunggu aja alurnya gimana." Melangkahkan kakinya pergi menuju kelasnya.
-~-
Saat ini Anna sedang sibuk diceramahi oleh guru BK nya. Alasannya? Yup, bolos. Sebenarnya Alvin juga ikut diceramahi, namun karena Alvin ketua OSIS jadi dia sedang sibuk mengurusi persiapan untuk festival sekolah.
"Jadi, ingat jangan diulangi lagi. Selain itu celana training kamu juga bakal saya sita terus kalau kamu masih memakainya ke sekolah."
Anna hanya menganggukkan kepalanya malas. "Udah selesaikan pak? Saya permisi ya, kelas saya juga sibuk sekarang. Bye pak, sampai ketemu lagi," ucap Anna sambil melambaikan tangannya meninggalkan Pak Toni yang memijat kepalanya karena melihat kelakuan muridnya yang satu ini.
Anna berlari cepat memasuki kelasnya karena dia tidak mau ketinggalan mendekor kelas. Namun tidak sengaja Anna menabrak seorang murid hingga terjatuh.
"Sorry ya, soalnya gue buru-buru." ucap Anna membantu murid yang ditabraknya.
"Gpp."
Anna mengernyitkan dahinya. "Loh, bukannya lo yang tadi ya?"