Don't Leave Me

Don't Leave Me
Berita Tak Terduga



Ratih sedang menunggu Angga di depan sebuah ruangan. Suasananya cukup lengang. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang, dan beberapa perawat yang sedang bertugas di tempatnya masing-masing. Ada juga seorang cleaning service yang terlihat sedang membersihkan lantai di lorong tempat Ratih menunggu tepat di depan ruangan dokter Heryawan.


Wajahnya nampak gelisah dan tegang. Berkali-kali dia terlihat mengatur napas panjang untuk mengurangi ketegangan yang dia rasakan. Mata Ratih terlihat jelalatan mencari sosok yang ditunggu.


Belum lama dia duduk di ruang tunggu sebenarnya. Tapi karena merasa gelisah dan tak tenang, membuat Ratih seperti sudah menunggu berjam-jam, karena raut wajahnya tampak sedikit kesal.


Ratih membenturkan kepalanya sendiri ke tembok dengan perlahan. Mungkin dia berusaha menghilangkan ketegangan yang dia rasakan. Matanya terpejam sambil terus membuang napas. Jemarinya beradu, saling genggam. Ratih benar-benar dalam keadaan sangat tegang.


Tetapi tiba-tiba kepalanya sudah tak berasa membentur benda keras seperti tembok lagi. Rasanya seperti tertahan lembut. Mata Ratih langsung terbuka. Mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata sosok Angga sudah berdiri gagah di sampingnya. Menahan kepala Ratih dengan jemarinya agar tak membentur tembok lagi.


Angga datang dengan setelan jas putih. Kacamata yang melekat di wajahnya mempertegas bahwa dia memang seorang dokter. Angga terlihat mempesona. Pantas saja banyak perawat yang melirik ke arahnya.


Angga tersenyum menyapa Ratih.


"Maaf, membuat kamu menunggu." Ucap Angga lembut.


Kelembutan tutur Angga membuat Ratih terhipnotis. Muka kesal karena menunggu berubah berseri. Suara Angga bak angin semilir yang menghempaskan rasa gelisah yang sedari tadi bergelayut di hati Ratih.


"Ayo, kita temui dokter Heryawan!" Ajak Angga dengan menggandeng lembut tangan Ratih memasuki ruangan dokter yang dimaksud.


Tatapan para perawat pun tertuju pada mereka. Ratih yakin sekali, mereka pasti penasaran tentang dirinya dan juga Angga.


"Permisi, dok." Ucap Angga.


Kepalanya melongok terlebih dahulu ke dalam, memastikan dokter yang ada dalam ruangan itu ada.


"Oh, dokter Angga. Silahkan masuk. Saya sudah menunggu anda." Jawab sang dokter.


"Ayo, masuk!" Perintah Angga kepada Ratih.


"Silahkan duduk, dokter Angga dan juga Ibu Ratih." Kata sang dokter.


Angga dan Ratih pun menurut. Duduk bersebelahan di depan dokter Heryawan untuk mendengarkan apa yang akan dokter sampaikan perihal hasil tes Lexa kemarin.


"Begini, Bu Ratih. Kami telah melaksanakan beberapa tes kepada Lexa. Kami mengambil sampel darah, kemudian kami juga melakukan baseline dan pemeriksaan sel CD4 yang hasilnya sudah ada di tangan saya." Kata dokter Heryawan sambil menunjukkan amplop berwarna cokelat kepada Ratih dan Angga.


Ratih menarik napas panjang. Tangannya menjadi dingin dan berkeringat. Angga merasakan ketegangan Ratih, karena mereka tak melepaskan genggaman tangan mereka semenjak awal masuk ruangan tadi.


"Lalu bagaimana hasilnya, dok?" Tanya Angga penasaran.


Dokter melirik Ratih, melihat raut wajahnya menjadi pucat pasi.


"Apapun hasilnya, Bu Ratih. Saya harap anda sebagai keluarganya bisa lebih bersabar menghadapi Lexa. Dia benar-benar butuh seseorang yang kuat yang mampu menjaganya. Bukan hanya secara fisik tapi juga batin. Perasaan orang-orang seperti Lexa pasti lebih rentan. Jadi, kita harus benar-benar peduli." Tegas dokter Heryawan.


Ratih mengangguk yakin mendengar perkataan dari dokter yang merawat Lexa tersebut.


Perlahan tapi pasti, dokter membuka hasil tes Lexa di tangannya. Matanya bergerak menunjukkan sikap sedang membaca sebuah laporan. Kemudian menyerahkan kertas itu kepada Angga.


"Dari hasil lab, jelas sekali virus sudah menyebar ke seluruh tubuh Lexa. Dan..." Kata-kata dokter Heryawan terputus.


Lagi-lagi mengamati Ratih yang kini sudah meneteskan airmata. Sementara Angga terlihat meneliti setiap hasil catatan medis milik Lexa.


"Lexa sudah positif AIDS." Sambung dokter Heryawan.


Bak petir di siang bolong. Menggelegar dahsyat. Siap membawa badai petaka dalam diri Ratih dan Lexa. Airmata Ratih jatuh lagi. Matanya terpejam, menyelami perasaannya yang hancur. Hatinya sudah tak berbentuk lagi. Genggaman tangannya untuk Angga juga mengendur. Tubuhnya lunglai. Lemas tak berdaya.


Angga yang duduk di sampingnya tak kuasa menolong. Dia hanya menghela napas panjang. Angga seorang dokter jadi dia tahu betul bagaimana kondisi Lexa sekarang. Melihat Ratih yang tak berdaya membuatnya hilang tenaga. Dia meletakkan kertas diagnosa Lexa di meja.


"Saya harap anda kuat, Bu Ratih. Perlu saya tegaskan. Care-taker harus lebih kuat dari penderita. Anda harus lebih menjaga diri anda. Jaga kesehatan, jaga kebersihan, jaga asupan tubuh anda agar anda tetap bugar untuk menemani Lexa di masa terberatnya." Saran dokter Heryawan kepada Ratih.


Tetapi Ratih masih tidak bisa berbicara apapun. Bibirnya masih kelu. Dia hanya mendengar saran dokter saja.


Ratih bak tersengat listrik yang membuatnya mematung. Dia sibuk menyelami penderitaan batinnya sendiri, sampai dia lupa keadaan sekitar. Angga memahami kesulitan Ratih, maka dia memberikan Ratih ruang untuk sendiri di luar ruangan dokter Heryawan.


Ratih duduk sendiri di luar ruangan dokter Heryawan. Diam seribu bahasa. Sampai Angga menyadarkannya. Menawarkan Ratih sebotol air mineral untuknya.


"Minumlah!" Pinta Angga.


Ratih terlihat enggan menerima, tapi Angga memasang mode memaksa sehingga membuat Ratih tak bisa menolak.


Ratih meminum air mineral itu dengan baik, kemudian berusaha menguasai diri sendiri agar tak berlarut-larut dalam kesedihan yang hanya akan membuat Lexa menjadi semakin sedih. Angga masih mengamatinya. Dia memberikan tepukan kecil di pundak Ratih sebagai tanda penyemangat untuknya.


Seperti yang dokter Heryawan katakan, hari ini adalah awal dari masa terberat. Ratih harus lebih kuat dari Lexa, karena bagaimanapun Lexa masih bergantung padanya. Apa jadinya jika dia gontai? Lexa juga akan jatuh, dan lukanya akan semakin banyak.


Ratih menarik napas dalam dan mengeluarkannya dengan kasar. Mencoba menegakkan kepalanya yang terasa berat. Kemudian menatap Angga yakin.


"Ayo kita temui Lexa!" Ajak Ratih yakin.


Angga tersenyum dan mengangguk menuruti keinginan Ratih. Kali ini dia yang tidak bisa menolak.


Di sepanjang jalan Rumah Sakit menuju ruangan Lexa, tak ada satupun kata yang terucap dari mulut mereka. Ratih masih terlihat berusaha menguasai diri sendiri. Walaupun raut kesedihan tidak lepas darinya, tapi dia berusaha untuk tegar saat dihadapan Lexa. Sementara Angga, raut wajahnya terlihat sangat datar. Tapi tak juga dapat menghilangkan rasa sedih di hatinya. Angga menatap nanar ke depan. Hatinya sepertinya begitu terluka. Ada sesuatu yang rasanya tertahan di dalam hatinya.


****


Siang yang terik. Cahaya matahari begitu panas di luar ruangan. Sinarnya begitu kuning menyapa rerumputan taman kecil di samping kamar Lexa. Tapi gemericik air masih terasa, sedikit mengalirkan suasana segar siang itu.


Lexa sedang berbaring di ranjangnya. Dia sudah makan siang dan meminum obatnya dengan baik. Tinggal menunggu Ratih datang menyapanya. Suasana kamarnya tak terasa begitu tersengat panas seperti di luar, karena AC sudah dia nyalakan.


Suasananya sungguh sepi, dia hanya ditemani gemericik air dari luar ruangan. Hingga tanpa sadar dirinya menjadi tersihir hawa kantuk yang mulai menyapa. Terlelap dalam tidur siangnya yang nyaman.


****


Ratih yang sudah sampai di ruangan Lexa sejak tadi, tak tega membangunkan Lexa yang nyaman di dunia mimpi. Dia hanya duduk ditemani Angga yang masih setia menjaganya. Mereka duduk dalam diam. Termenung dengan pikirannya masing-masing.


Tanpa sadar Ratih sudah mulai bercucuran airmata, dan mulai sesenggukan. Walau lirih tapi Angga yang berada tepat di sampingnya mendengar rintihan pilu Ratih.


Angga yang sudah tidak bisa membendung perasaannya dengan sigap merengkuh tubuh Ratih ke dalam pelukannya. Dia rangkul tubun wanitanya itu penuh kasih sayang. Perasaan yang dalam untuk Ratih berada di puncak kesadarannya. Rindu yang sudah di ubun-ubun akhirnya terobati sudah. Dia peluk Ratih dengan perasaan yang dalam.


Ratih tak kuasa menolak. Dia memang butuh seseorang untuk menenangkannya. Dan beruntungnya dia, orang tersebut adalah Angga. Sosok laki-laki yang juga dia rindukan. Sama halnya dengan Angga, Ratih pun seperti menanggalkan beban rindu hatinya. Hatinya sangat lega sekarang, karena Angga berada dekat dengannya.


Mereka berpelukan erat. Seperti tak mau terlepaskan. Menumpahkan segala hasrat rindu mereka hari itu juga. Menepis jarak terjal yang memisahkan mereka.


Angga sedikit mengendurkan pelukannya. Meraih raut wajah Ratih untuk dia nikmati ayunya. Wajah ayu yang selalu menghantuinya. Wajah ayu yang selalu mengisi mimpinya. Wajah ayu yang selalu lekat dalam ingatannya.


Ratih memang ayu dengan mata sendu kecokelatan. Hidungnya mancung, dengan bibir tipis. Pipinya mulus. Rambut lurus sebahu. Dengan perawakan tinggi dan sedikit berisi. Tidak kurus seperti Lexa.


Angga menatapnya hangat. Menyeka setiap airmata yang jatuh di pipi Ratih dengan lembut. Ratih pun merasakan kelembutan sikap Angga yang lama tidak dia rasakan. Sebesar apapun Ratih menolak kehadiran Angga, tetap saja tidak bisa memungkiri bahwa hatinya masih penuh dengan perasaan cinta kepadanya.


Ratih memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut Angga di pipinya. Angga terharu, melihat Ratih yang juga dia rasakan masih mencintainya. Dengan lembut dia kecup kening Ratih. Mengirim sinyal cinta yang berbalas. Ratih sampai tak kuasa menjatuhkan airmata bahagianya lagi.


Ratih mengeratkan pelukannya ke tubuh Angga, seperti tak mau kehilangannya lagi. Angga membalasnya dengan cara yang berbeda. Raut wajah Ratih yang tepat berada di depannya, membuat dia bahagia. Dia beranikan diri untuk menautkan bibirnya di bibir Ratih. Lembut dan hangat. Ratih tak menolak, dia menerima perlakuan Angga dengan baik. Membalas Angga dengan hangat dan lembut juga. Dan berakhir dengan sebuah pelukan bahagia.