Don't Leave Me

Don't Leave Me
105




Adegan dewasa anak-anak harap menjauh





Tiba saatnya Reynaldi dan Shica ke Perancis. Mereka berpamitan pada Olivia.



Shica merasa sangat bahagia karena dia bisa merasakan hangatnya keluarga.



Setelah sampai di mansion Reynaldi yang ada di Perancis, mereka di sambut oleh para pelayan termasuk Zack.



"Selamat datang Tuan dan Nyonya Adiwijaya" sapa Zack.



"Terimakasih " kata Reynaldi.



Mereka pun memasuki mansion. Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti terakhir kali mereka meninggalkan mansion.



Tiba-tiba, Shica memeluk lengan Reynaldi. Reynaldi menoleh kearah Shica. Dia tersenyum dengan tingkah manja Shica yang tidak seperti biasanya.



"Terimakasih kau benar-benar telah membuatku bahagia" kata Shica.



Reynaldi tersenyum. "Aku senang jika kau bahagia" kata Reynaldi. Kedua pipi Shica merona.



"Ini sudah malam, ayo kita harus istirahat " kata Reynaldi. Mereka pun memasuki kamar.



"Aku harus mandi.. Rasanya gerah sekali " kata Reynaldi kemudian memasuki kamar mandi.



Selesai mandi, Reynaldi kembali ke kamar dengan hanya menggunakan boxer.



Dia terkejut mendapati Shica duduk di tepi ranjang dengan memakai lingerie merah menggoda. Reynaldi terpaku melihat Shica yang berani memakai pakaian seperti itu tidak seperti biasanya.



Shica tersenyum manis. Dia bangkit dari ranjang dan menghampiri Reynaldi.



Shica menyentuh pipi Reynaldi. Tangan yang satunya lagi menyentuh dada kekar Reynaldi.



Reynaldi menarik pinggang Shica agar lebih merapat padanya.



"Kau mau menggodaku? " tanya Reynaldi. Shica tersenyum nakal. Dia menatap dalam manik sapphire  milik Reynaldi.



"Aku siap.. Aku akan melayanimu.. Memberikanmu tubuhku.. Aku menyadarinya.. Aku mencintaimu.. Aku mencintaimu Reynaldi Alexander Adiwijaya" kata Shica.



Reynaldi terbelalak. "Apa? Tapi.. Sejak kapan? " tanya Reynaldi.



"Sejak malam pertama kita, dimana kau tidak jadi menyentuhku.. Kau memakaikan kembali pakaian itu padaku yang sudah setengah telanjang.. Kau bilang kau tidak akan menyentuhku sebelum aku benar-benar siap.. Kau sungguh laki-laki yang baik.. Aku telat menyadari itu.. Tapi aku sama sekali tidak menyesal menikah denganmu " kata Shica.



Reynaldi tersenyum bahagia. Dia membelai lembut rambut Shica. "Apa kau yakin? Lalu bagaimana dengan Raihan? Apa kau sudah melupakan dia begitu saja? " tanya Reynaldi.



Shica tersenyum. "Dia kenangan lamaku.. Dia sudah mendapatkan hatiku sejak lama.. Dia telah membawanya sampai-sampai ada ruang kosong disini.. " kata Shica sambil menuntun tangan Reynaldi menuju dadanya.



".. Aku sudah tidak punya hati karena dia mengambilnya.. Yang ada tinggalah ruang kosong.. Dan ruang kosong itu kini telah diisi olehmu.. Kau yang mengisi ruang kosong ini.. Kau yang selalu bersamaku" kata Shica.



Reynaldi tersenyum. Shica mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir Reynaldi.



Reynaldi membalas ciuman istrinya. Dia memeluk erat Shica. Mereka pun melepaskan ciuman mereka. Mereka saling menatap.



"Aku sangat mencintai dirimu.. Aku mencintaimu" kata Reynaldi. Shica menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Reynaldi merangkak dan mengambil posisi diatas tubuh Shica.



Sejenak mereka saling menatap. Reynaldi membelai lembut pipi Shica. Kemudian dia mencium leher Shica.



Shica merinding. Dia memeluk kepala Reynaldi. Reynaldi menghisap leher Shica.



Shica melenguh pelan. Terpampanglah tanda kepemilikan yang Reynaldi buat.



Reynaldi mengusap paha mulus Shica. Shica meremas rambut Reynaldi yang masih mencumbu lehernya.




Reynaldi tersenyum geli. Bukan hal sulit bagi Reynaldi dalam membangkitkan gairah lawan mainnya. Dia sudah berpengalaman dalam hal itu.



Namun, dia tidak pernah bermain lembut pada wanita-wanita penghiburnya dulu. Dia akan bermain kasar dan melakukannya dalam waktu yang sangat lama.



Siapapun akan bosan dan trauma. Namun tidak bagi sebagian wanita.



Reynaldi menarik tali lingerie yang terikat di tengkuk Shica. Tali lingerie Shica pun terlepas. Reynaldi bisa dengan jelas melihat bagian atas tubuh Shica terekspos.



Kedua pipi Shica memerah. Untuk yang kedua kalinya Reynaldi melihatnya setengah telanjang.



Shica menutup wajahnya dengan kedua tangan.



"Kenapa? " tanya Reynaldi.



"Aku malu" kata Shica.



Reynaldi tersenyum dan mencium leher Shica. Membuat perut Shica semakin merasa meledak-ledak.



Reynaldi bisa mendengar detak jantung Shica yang bergemuruh didalam sana.



Dia merasa beruntung karena menjadi yang pertama. Dia harus memperlakukan Shica dengan lembut agar Shica tidak trauma nantinya.



Shica merasakan sesuatu yang menekan perutnya. Dia menatap Reynaldi.



"Apa itu? " tanya Shica dengan polosnya.



Reynaldi tertawa kecil mendengar pertanyaan konyol istrinya itu.



"Apa kau benar-benar tidak tahu? " tanya Reynaldi.



"Aldi.. Apa tidak sakit? " tanya Shica yang terlihat cemas.



"Tentu saja tidak.. Jika sakit, kenapa ada profesi wanita penghibur " jawab Reynaldi.



"Berjanjilah ini tidak akan sakit" kata Shica.



"Aku berjanji.. Mungkin hanya sedikit sakit" kata Reynaldi. Baru saja Reynaldi akan menurunkan lingerie Shica sepenuhnya, namun ponselnya berdering.



Reynaldi mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya kemudian mengangkat panggilan tersebut. Shica memperhatikan suaminya.



"Halo? Iya"



"..."



"Emm.. Baiklah.. Saat ini juga aku akan kesana" kata Reynaldi kemudian bangkit dari ranjang. Dia memakai pakaiannya.



Shica memperhatikan Reynaldi. "Kau mau kemana ?" tanya Shica.



"Ada urusan mendadak di kantor.. Besok sore aku akan pulang.. Maafkan aku" kata Reynaldi kemudian mengecup lembut bibir Shica dan berlalu.



Shica menatap punggung Reynaldi yang kemudian menghilang di balik pintu kamar.



By



Ucu Irna Marhamah



Follow ig : ucu_irna_marhamah


WA : 0855-2467-7955