
Keluarga Shica telah menyiapkan semuanya untuk menyambut keluarga Raihan yang akan datang untuk berkunjung. Ratna sibuk mengawasi kinerja para pelayan.
Sementara Shica sedang mempersiapkan diri di kamar. Dan Ridan sedang berbicara pada para penjaga.
Terlihat berlebihan. Padahal hanya kunjungan biasa. Pernikahannya akan dilaksanakan tiga hari kemudian.
"Pernikahannya memang sederhana, tapi harus sempurna karena aku mau semuanya sempurna.. Tidak ada yang kurang.. Makanannya juga harus lezat karena keluarga menantuku adalah keluarga pecinta makanan" kata Ratna mengoceh sedari pagi sampai siang ini.
Setelah semuanya serasa sudah sempurna (menurut mata cantiknya), Ratna keluar dari mansion untuk menemui suaminya yang sedang berbicara dengan penjaga yang sudah mengabdi pada keluarga Mahali untuk menjaga rumah besar itu.
"Semuanya sudah beres.. Dan dimana menantu kita bersama keluarganya ya? " tanya Ratna.
"Mungkin mereka masih dalam perjalanan " kata Ridan.
Dua penjaga membuka gerbang besar rumah Mahali. Tatapan pasangan suami istri itu tertuju pada mobil mewah yang memasuki pelataran rumah besar mereka.
Ridan dan Ratna saling pandang. Ternyata bukan hanya satu mobil, melainkan ada tiga mobil.
Sepasang suami istri paruh baya keluar dari mobil pertama. Mereka berdua diikuti sepasang suami yang terlihat lebih muda bersama gadis manis bersama mereka.
"Assalamualaikum " kata Hariz.
Ratna dan Ridan saling pandang kemudian dengan gugup menjawab salam mereka. "Wa.. Wa'alaikum salam.. " jawab Ratna dan Ridan bersamaan.
Mereka berdua bingung kepada mereka yang datang dengan tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Jas mahal yang mereka pakai menunjukkan kelas yang mereka duduki. Namun Ridan dan Ratna tidak mengenali mereka. Tidak mengenali Hariz sebagai kliennya. Namun itu dulu. Sekarang perusahaannya dipegang Regar.
Sampai Raihan keluar dari mobil kedua. Mereka terkejut dengan penampilan Raihan yang 180° berbeda dari sebelumnya.
Jas hitam mengkilap yang dia pakai dan rambut tertata rapi membuatnya terlihat seperti seorang pangeran.
Dia sangat tampan.
Beberapa anggota keluarga lainnya keluar dari mobil ketiga.
Ridan baru menyadari kalau mobil kedua adalah mobil sport dan Raihan sendiri yang mengendarainya.
"Assalamualaikum.. Saya kemari bersama keluarga besar saya.. Maaf pasti merepotkan" kata Raihan dengan nada bicara yang masih sama seperti kemarin.
Ridan dan Ratna terkejut. "Maafkan kami juga karena telat, di jalan benar-benar macet.. Maklum Jakarta " kata Nadhira sambil tersenyum.
"Oh.. Begitu.. Emm.. Baiklah, mari masuk" kata Ratna yang tampak masih kebingungan.
Mereka pun duduk di ruang tamu dan berbincang hangat.
"Kau tampaknya tidak mengenaliku, Tuan Mahali? Bukankah kita sama-sama bekerja sama dengan perusahaan Adiwijaya? " tanya Hariz.
"Oh ya? Benarkah? Aku tentu mengenal anda, Tuan Abdurrachman.. Hanya saja aku tidak tahu bahwa ternyata Raihan adalah putramu" kata Ridan.
"Mana putrimu yang manis itu? Aku ingin menemuinya.. Dia sungguh gadis yang baik.. Kami pernah melihat gadis manismu itu menjemput Raihan ke sekolah waktu mereka SMA bersama kakaknya" kata Nadhira.
Ratna tersenyum kaku. "Dia bukalah seorang gadis lagi.. Dia pernah membangun rumah tangga, namun tidak bertahan lama.. Apa dia sudah menceritakan itu pada kalian? " tanya Ratna.
"Tentu kami tahu.. Status bukanlah suatu hal yang perlu di permasalahkan, bukan? Kami sudah bahagia setelah mengetahui Rastani berasal dari keluarga baik-baik " kata Nadhira.
"Iya.. Kami sangat menyayanginya.. Dia sangat baik, dia sudah membantu adik saya waktu SMA.. Dia yang menyadarkan adik saya.. Dia yang selalu memberikan semangat pada adik saya.. Dia menjadi seseorang yang berharga bagi hidup adik saya.. Itu sebabnya, adik saya, Raihan sangat mencintai Shica" kata Riska.
Ratna terlihat sedih. Dia bahkan tidak tahu kalau Shica melakukan semua itu di belakangnya.
"Kak Shica pernah menyelamatkan saya waktu saya hampir tenggelam di sebuah kolam ikan.. Kak Shica sangat baik.. Dia memiliki perasaan yang begitu halus.. Dia membelikan saya dua buah boneka karena melihat saya bermain dengan boneka yang sudah sangat usang.." kata Lala.
Ridan mencerna ucapan mereka semua satu-satu dan disaat yang bersamaan, hatinya merasa trenyuh.
"Dan.. Dengan penuh rasa peduli, Shica rela panas-panasan di terminal bersama saya berjualan nasi goreng.. " kata Raihan.
Ratna menutup matanya. Dia menjadi ingat lagi pada masa lalu tersebut.
".. Dia tidak peduli dengan statusnya sebagai gadis keturunan Mahali yang dia pikirkan adalah agar saya mau bersekolah tanpa bolos.. Dia begitu peduli.. Padahal saya bukanlah siapa-siapa baginya.. Saya hanya orang lain.. Bahkan saya pernah membully Shica waktu SMP, tapi dia tidak peduli.. Dia tetap memaksa saya untuk bersekolah.. " kata Raihan dengan ekspresi menerawang.
Terdengar ketukan high heels pada anak tangga. Pandangan mereka semua tertuju pada wanita cantik bergaun hitam panjang berkilauan menuruni anak tangga.
Raihan tersenyum.
Nadhira bangkit dari duduknya. Shica sampai di anak tangga terakhir. Kemudian Shica melangkahkan kakinya menghampiri Nadhira.
Nadhira menangkup wajah Shica. Shica mencium tangan Nadhira.
"Assalamualaikum "
"Wa'alaikum salam" jawab Nadhira.
"Duduklah di sampingku, sayang " kata Nadhira. Shica pun duduk di antara Hariz dan Nadhira.
Shica mencium tangan Hariz.
Mereka pun melanjutkan perbincangan.
By
Ucu Irna Marhamah