
"Huh?"
"Itu loh, yang dikelas Alvin tadi, gue nanya lo dimana Alvin itu."
"Oh, emang napa?"
"Gpp sih, sensi amat deh. Yaudah deh gue duluan. Bye." Melambaikan tangannya.
Orang tersebut hanya menatap kepergian Anna dan tersenyum tipis.
-~-
"Telat. Kemana aja lo? Ngebucin mulu nih pastinya. Sampe bolos." Menatap Anna dengan tatapan kesalnya.
"Hehehe, sorry deh Kei. Gue habis diceramahin guru BK. Sini deh biar gue bantuin," ucap Anna sambil merebut balon dari tangan Keisa.
"Ngomong-ngomong lo dipanggil ke ruang osis. Katanya lo disuruh bantuin anak osis ngedekor lapangan."
"Huh? Dih gue gak mau. Males banget. Panas tau," protes Anna.
"Alvin yang suruh."
Anna langsung berdiri. "Gue pergi dulu." Anna berlari menuju ruang OSIS. Sesampainya disana dia melihat Alvin yang sedang berbicara dengan Lis.
"Hey, ngapain manggil aku?"
Alvin menoleh dan tersenyum. "Bantuin anak osis buat dekor lapangan. Ada beberapa anak osis yang gak masuk hari ini jadi aku panggil kamu. Gpp kan?"
"Gpp dong. Aku gak kayak cewek-cewek lain yang ngeluh cuma karna panas doang. Tenang aja," balas Anna yakin.
"Bagus deh kalau gitu. Kamu nanti bakal kerja sama Lis dan David ya. Soalnya nanti aku harus keliling kelas lain buat periksa hasil dekorasinya."
"Sip. Gampang kok. Yuk kak Lis." ajak Anna.
"Yaudah ya Vin sisanya lo yang urus, gue pergi dulu."
-~-
"Kalian bisa gak sih dekornya? Jelek banget," ujar David kesal.
"Mau gimana lagi. Daripada lo yang cuma marah-marah doang, gak bantuin sama sekali," ucap adek kelasnya.
David menatap tajam adek kelasnya. "Lo gak tau ya kalau gue wakil ketua osis? Jadi tugas gue disini buat periksa hasil kerja lo pada yang gak becus gini. Dan lo yang baru kelas 10 aja udah berani sama gue? Cari mati lo!"
Adek kelas itu hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Kali ini gue maafin lo. Cepet lanjutin semuanya!" teriak David.
"Gak usah pake teriak juga kali, emng mereka gak punya telinga," ucap Anna yang baru sampai dilapangan.
David membalikkan badannya dan menatap kesal Anna. "Bukan urusan lo. Lo kalau gak suka silahkan pergi," usir David.
"Oh ya? Kalau gitu gue permisi." Anna melangkahkan kakinya ingin meninggalkan lapangan. Namun tangannya ditahan oleh Lis.
"Dav, kamu gak boleh kek gitu. Anna disini buat bantuin kita."
"Terserah kamu," ucap David dingin meninggalkan Lis dan Anna.
"Kak, emang beneran kakak pacaran sama David? Kok sikapnya kek gitu sih?"
Lis menghela nafasnya. "Gue juga gak tau. Tiba-tiba aja dia kek gitu. Ngomong-ngomong lo gak usah panggil gue kakak. Panggil aja gue Lis."
"Ok. Yaudah kita kerjain aja tugas kita, gak usah mikirin si cowok songong itu."
Lis tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
-~-
David melangkahkan kakinya kesal menuju rooftop. Saat ini dia ingin meredakan amarahnya dulu.
"Mau kemana?" tanya Alvin yang tidak sengaja melihat David.
"Bukan urusan lo."
"Jelas itu urusan gue. Lo harusnya sekarang bantuin para anak osis bukannya malah keliaran gak jelas kek gini."
David menghentikan langkahnya. "Gak usah ikut campur. Urusin aja pacar lo sekalian pacar gue."
Alvin menatapnya heran. "Maksud lo apa huh? Ngapain gue harus ngurusin pacar lo juga? Itu pacar lo jadi lo yang ngurusin."
David mengepalkan tangannya dan menatap tajam Alvin. "Lo kira gue gak tau?"
"Harusnya gue yang bilang gitu sama lo!"
David tersenyum remeh. "Udahlah, males gue bahasnya. Mood gue tambah jelek gara-gara lo. Jadi jangan ganggu gue kecuali lo udah gak sayang sama nyawa lo." Melanjutkan langkahnya menuju rooftop.
Alvin menatap tajam kepergian David. "Tunggu aja tanggal mainnya."
-~-
Sesampainya di rooftop, David mengambil sebuah kotak di sudut yang terdapat banyak meja bekas. Dia membuka kotak itu dan mengambil sepuntung rokok dan korek api. Setelah itu dia duduk di kursi kayu panjang sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah tampannya. Dia menyalakan korek apinya.
"Janji ya nggak ngerokok lagi. Janji."
"Shit!" umpat David mematikan korek apinya dan meletakkan kembali rokoknya.
Dia membaringkan tubuhnya diatas kursi sambil menatap langit. "Kenapa lo buat gue jadi gini huh? Gue benci lo," ucap David tersenyum pahit lalu menutup matanya menikmati hembusan angin.
"Kamu kok ngerokok sih?" tanya gadis itu kesal.
"Emangnya kenapa?"
"Aku gak suka."
David membuang rokoknya dan mengelus pelan kepala gadis itu. "Yaudah. Kalau kamu nggak suka, aku bakal berhenti ngerokok."
Gadis itu tersenyum senang. "Janji ya nggak ngerokok lagi. Janji." Menyodorkan kelingkingnya.
"Janji."
David membuka matanya dan berdiri. Dia memutuskan untuk kembali ke lapangan untuk menyelesaikan tugasnya karena sekarang dia sudah merasa cukup tenang.
Sesampainya di lapangan, dia langsung memeriksa hasil kerja murid-murid lain disana.
David mendongakkan kepalanya ke atas. "Sekarang itu lo babu gue jadi jangan bertindak nggak sopan sama TUAN lo!" Menekankan kata tuan.
Anna mengabaikan ucapan David dan melanjutkan kegiatannya. Dia tidak mau pekerjaannya kacau hanya karna meladeni ucapan David.
"Woy, pasangnya ke kiri dikit! Bisa gak sih lo!" teriak David.
"Masih untung gue bantuin. Dasar kodok sakit jiwa." gumam Anna sebal sambil menggeserkan spanduknya ke kiri.
"Jangan banyak-banyak ****! Gue kan bilang dikit!"
Anna menghembuskan nafasnya dan menggeser kembali spanduknya ke kanan.
"Lo ngerti bahasa Indonesia gak sih?! KE KIRI DIKIT!"
Anna sudah tidak bisa menahan rasa kesal dan marahnya mulai turun dari tangga dan menghampiri David.
"Eh kodok, lo kalau bisa pasang aja sendiri sana!" bentak Anna jengkel.
"Gitu aja marah. Makanya kerja yang bener kalau gak mau di katain ****."
Anna mengepalkan tangannya dan menatap kesal David. Tiba-tiba David tersenyum remeh dan berjalan mendekati Anna. "Kalau lo mau gue baikin... gampang kok," ucapnya sambil memajukan kepalanya hingga hanya menyisakan jarak 10 cm antara wajahnya dan Anna, "lo putusin Alvin." David tersenyum sinis dan menatap tepat pada kedua bola mata Anna.
Anna dengan berani membalas tatapan David. "Nggak akan pernah!" balas Anna melangkahkan kakinya meninggalkan David.
-~-
Anna berjalan sambil memaki David dengan sumpah serapahnya. Tanpa disengaja seseorang menabraknya hingga jatuh.
"Woy, jalan pake mata dong!" teriak Anna kesal sambil bangun dari jatuhnya.
"Sorry." ucapnya.
Anna mendongakkan kepalanya dan mendelik kaget. "Lo lagi?!"
"Iya."
"Kenapa nabraknya lo terus sih."
"Gak tau."
Anna menghembuskan nafasnya. "Ngomong-ngomong nama lo apa? Dari tadi ketemu lo tapi gue masih belum tau nama lo."
"Rio."
"Rio? Nama panjangnya?"
"Rionard Bert."
Anna menganggukkan kepalanya. "Kalau gitu gue panggil lo Rio aja ya. Lo bisa panggil gue Anna."
"Ok."
"Dari tadi jawabnya dikit amat. Yaudah deh gue duluan." Anna melangkahkan kakinya menuju ruang OSIS.
Rio menatap Anna dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba dia tersenyum sinis. "Mulai." ucapnya.
-~-
"Vin, aku izin pulang ya. Udah sore," ucap Anna saat masuk ke ruang OSIS.
"Yaudah kamu pulang duluan aja ya. Maaf aku nggak bisa anterin kamu, urusan aku masih banyak."
Anna tersenyum. "Gpp kok, aku bisa naik bus. Kamu jangan lupa makan dan jangan terlalu kecapekan ya."
"Iya tenang aja. Kamu hati-hati dijalan ya." Mengelus kepala Anna pelan.
"Ok. Aku pergi dulu. Bye." Melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya menuju kelas untuk mengambil tasnya.
Sesampainya di depan kelas, Anna melihat Keisa sedang berbicara dengan seseorang.
"Kei, lo belum pulang?" tanya Anna melangkahkan kakinya menuju bangkunya.
Keisa menoleh. "Belum Na, gue tadi ada sedikit urusan mendadak. Sekarang baru mau pulang."
Anna hanya ber-oh ria dan menatap orang yang sedang berbicara dengan Keisa tadi. Dia mengernyitkan dahinya. "Rio?"
"Lo kenal Rio?" tanya Keisa heran.
"Iya. Gue tadi gak sengaja nabrak dia."
"Oh kalau gitu kita pergi duluan ya. Bye," ucap Keisa langsung menarik Rio keluar dari kelas.
Anna hanya menatap heran mereka berdua dan mengedikkan bahunya acuh. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju halte.
-~-
Anna memasuki rumahnya dan melepas sepatunya. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar dengan perlahan karena merasa lelah. Begitu sampai di kamar, Anna langsung membaringkan tubuhnya dikasur. Tatapannya tidak sengaja menatap jaket biru dongker yang sudah terlipat rapi diatas meja belajarnya.
"Duh, gue lupa balikkin jaketnya." Menepuk jidatnya.
Anna berdiri dan mengambil jaket itu. "Kenapa sih lo nyebelin banget? Pengen gue setrikain muka lo biar gak songong lagi," ucapnya pada jaket yang dipegangnya.
Anna memutuskan untuk mandi dan mengganti seragamnya dengan piyama. Setelah itu dia turun menuju meja makan.
"Bi, papa sama mama nggak pulang lagi ya?"
"Iya non. Mereka masih sibuk katanya."
Anna menghembuskan nafasnya pasrah dan menyantap makanan yang sudah disajikan dimeja makan.
Sebenarnya Anna berharap untuk merasakan makan bersama keluarganya. Namun orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka sangat jarang berada di rumah seperti saat ini. Sehingga Anna sudah terbiasa makan sendiri dan ditinggal sendirian di rumah yang besar ini.
Setelah menghabiskan makanannya, Anna langsung naik menuju kamarnya. Dia merasa energinya terkuras habis hari ini karena mendekor lapangan. Namun hal yang paling membuat energinya habis yaitu berdebat dengan David.
Anna menghela nafasnya dan menatap foto yang berada dimeja belajarnya. Fotonya bersama seseorang. Anna mengambil foto itu dan berbaring di atas kasur sambil menatap fotonya.
"Udah 2 tahun semenjak lo ninggalin gue tanpa kabar. Lo baik-baik aja kan? Gue harap lo bahagia sekarang ditempat baru lo," ucapnya sambil menatap langit-langit kamarnya dan mulai menutup matanya. Setetes air mata jatuh membasahi wajah cantiknya.
"Kapan gue bakal ketemu lo lagi? Kapan?" lirih Anna dan memeluk fotonya hingga tertidur.